Menodai Para Istri Teman

Novel " Menodai Para Istri Teman"

Perkenalkan, namaku Dio, 21 tahun asal kota. Tubuhku tidak tinggi, hanya 166 cm, berkulit agak gelap, dan mengenakan kacamata. Bisa dibilang Aku adalah remaja super biasa yang penampilannya tidak terlalu menonjol. Meski begitu Aku juga tidak sepenuhnya buruk, beberapa orang menyebutku manis dan ya, berbeda dengan kutu buku lain yang biasanya tidak terlalu memerhatikan tubuh, Aku cukup aktif berolahraga. Oleh karena itu pula, badanku cukup berotot walau tidak sampai six pack.

Mungkin karena pergaulan atau apa. Sampai usia 21 saat ini, Aku masihlah perjaka. , bukan dalam artian tidak pernah berhubungan badan dengan perempuan lain saja, lebih dari itu, sampai kuliah sekali pun, Aku tak pernah melakukan masturbasi. Bukan karena tak tahu. Aku sudah beberapa kali menonton film p*rno, kutu buku yang sering mengubek internet sepertiku tentu sudah tak asing dengan konten 18+. Bahkan bisa dibilang, Aku cukup paham banyak tentang dunia s*ks. Aku juga sadar kalau Aku menyukai wanita dan sering terangsang dan tegang tiap kali melihat wanita seksi. Namun entah mengapa, p*nisku selalu terasa ngilu tiap kali Aku mencoba melakukan masturbasi. Alih-alih ejakulasi, yang ada malah merasa nyeri.

Saat ini Aku adalah mahasiswa semester enam di kampus swasta ternama di kota J. Aku tinggal di rumah peninggalan Kakek Nenek bersama keluarga kecilku. Namun pengalamanku beberapa kali menggauli istri teman-temanku. 

“Mau singgah dulu gak ke rumah?” Tanya Harun, satu-satunya teman dekat lelaki yang ku punya di kampus, kepadaku. Aku sedang menumpang di mobilnya saat itu.

“Enggak deh, nanti jauh muternya.” jawabku sopan.

“Gapapa sih, sore nanti kita mau sekalian keluar kok,” kali ini dibalas oleh Elma, istri Harun yang sedang duduk di kursi depan.

“Boleh deh kalau gitu, sekalian main PS juga,” jawabku. Bersamaan dengan itu, mobil pun menuju ke rumah Harun, 15 menit dari kampus.

Oh ya, Harun dan Elma memang adalah sepasang suami istri. Mereka berpacaran sejak SMA, dan baru ketahuan Elma mengandung anak mereka sesaat setelah kelulusan. Akhirnya mereka pun dinikahkan dan memilih untuk gap-year selama setahun selagi menunggu Elma melahirkan. Usia mereka setahun lebih tua dariku. Mereka datang dari sebuah kota di Kalimantan. Begitu anaknya lahir, mereka bertiga pun dipindahkan ke kota ini sekalian berkuliah. Di rumah mereka memiliki babysitter yang merawat Maura, anak mereka tiap pagi saat mereka kuliah. Ya, mereka memang anak orang kaya, Bapak Harun adalah pejabat di daerahnya, sedangkan Bapak Elma ialah pejabat di perusahaan tambang di sana.

Sekilas tentang Harun dan Elma. Harun memiliki kulit putih dan tinggi yang kurang lebih sama sepertiku. Dia cenderung lebih cerewet dibandingkan diriku. Berbeda denganku, dia memiliki banyak teman di kampus. Hanya saja beberapa waktu belakangan Ia lebih senang bermain denganku saja, katanya anak-anak tongkrongannya terlalu sering memorotinya dan bahkan sempat ingin menjadikan rumahnya sebagai basecamp. Sesekali Ia mengantar jemputku ke kampus meski sebenarnya Aku memiliki motor sendiri.

Sedangkan Elma ialah perempuan berjilbab yang cukup modis. Dari luar, tubuhnya terlihat kurus, entah bagaimana aslinya, mengingat baru setahun lebih sejak Ia melahirkan. Payudaranya berukuran sedang, setidaknya masih terlihat timbul dari balik pakaian sopannya. Aku bisa akrab dengannya tentu karena Harun. Aku tak pernah ngobrol banyak dengannya jika tak ada Harun. Padahal bisa dibilang Kita memiliki beberapa kesamaan. Elma dan Aku sama-sama agak pendiam. Dan selain itu Kami juga sama-sama cerdas di kelas. Semester lalu, IP sempurnaku ialah yang tertinggi di kelas, sedangkan Elma ialah pemilik nilai tertinggi kedua dengan IP 3,95. Tingginya sekitar 155 cm.

Setelah tiba di rumah mereka, Aku pun langsung duduk mengambil air putih di dapur. Saking seringnya Aku ke sini, mereka tak lagi memperlakukanku sebagai tamu. Aku pun langsung kembali ke ruang depan untuk menghampiri Harun yang telah menyalakan PS. Elma sudah tak lagi kelihatan, mungkin sedang menjaga Maura yang babysitter-nya baru pulang begitu Kami datang.

“Aku tamatin ini dulu ya Yo?” tanya Harun selagi memilih suatu game.

“Iya, Aku nontonin aja dulu.”

Harun pun mulai bermain dan keasyikan. Awalnya Ia masih menimpali obrolanku, namun setelah beberapa kali karakternya mati, Harun semakin seru sendiri dan hanya fokus pada game di depannya. Makin lama menunggu, perlahan mataku terasa agak berat. Wajar, mengingat Aku sudah bangun dari subuh dan sempat jogging sejauh 6 km tadi pagi.

“Kamu ngantuk Yo?” tanyanya, begitu melihatku menguap.

“Iya nih, Aku tidur sini ya?”

“Tidur di kamar Maura aja sana. Ada kasur kok, sekalian bisa nyalain AC. Maura juga lagi di kamarku kok sekarang.”

“Aku ga ikutan ngegame dulu ya kalau gitu?”

“Halah santai, Aku juga masih belum bakal tamat kayaknya sampai sore,” jawabnya, bersamaan dengan itu Aku pun berjalan menuju kamar Maura.

Aku membuka pintu kamar Maura dalam keadaan mengantuk. Anehnya begitu membuka pintu, dinginnya AC langsung menghujam wajahku.

“Bukannya ga ada orang ya?” gumamku. Gumaman yang langsung saja terjawab begitu mataku menatap ke arah kasur di sisi kiri ruangan. Pemandangan yang membuatku terkejut.

Elma, sedang tertidur menyamping bersama Maura. Badannya menyamping ke kiri menghadap Maura, dengan tangan kanan yang terangkat ke atas, tepat di atas kepala anaknya tersebut. Kedua kakinya sedikit melebar membuat celana pendeknya sedikit tersingkap sampai ke pangkal pahanya. Posisi tidur yang seksi. Namun bukan itulah yang membuatku terkejut. Melainkan di tengah tidurnya itu Elma tidak mengenakan baju sama sekali, menampilkan payudaranya yang menjolor ke samping. Lingkaran areolanya nampak besar dan berwarna kecoklatan tua. Terlihat puting payudaranya yang kecil namun tegak benar-benar terekspos. Perutnya nampak sedikit berlemak namun berukuran kecil. Maura dengan damainya terlelap di sebelah Elma. Mungkin Ia sedang menyusui sebelum ketiduran. Entahlah, apa pun itu, ini adalah pertama kalinya Aku melihat payud*ra. Payud*ra yang sangat indah, milik seorang wanita dengan wajah yang tak kalah indahnya.

Pada saat yang bersamaan pen*sku memberontak tak karuan dari balik celanaku. Nafasku mulai tak teratur. Ini ialah kali pertama Aku melihat payudara milik seorang wanita dewasa. Aku bahkan tak pernah melihat payudara Mamaku sepanjang Aku bisa mengingat. Di tengah udara AC yang begitu membekukan, tetes keringat mulai meluncur dari dahiku. Aku yang sudah telanjur menutup pintu sekarang mulai kebingungan. Meski tak berbuat salah sedikit pun, dadaku mulai merasa deg-degan, takut Elma terbangun dan melihatku sedang di sini. Di sisi lain, Aku benar-benar terangsang oleh pemandangan di depanku. Tidak pernah sebelumnya Aku merasa seterangsang ini, samar-samar Aku merasakan perasaan aneh menjuluri seluruh tubuhku, entah gatal? Kebas? Rasanya aneh.

Namun ketakutan tetap mendominasi pikiranku. Aku harus meninggalkan kamar ini. Sambil masih terus menatap Elma, aku melangkah mundur menuju pintu.

Kekkkk” Oh sialan. Kakiku yang baru berjalan satu langkah mundur menginjak mainan bebek dan membuatnya berbunyi nyaring. Sialnya Aku, suara itu benar-benar membuat Elma terbangun. Tepat di saat yang bersamaan mata Kami saling beradu. Mataku yang sedang ketakutan menatap matanya yang belum sepenuhnya menyatu dengan realita.

“Yo?” ucapnya pelan.

“E—Elma.” jawabku grogi.

Di saat bersamaan, Elma mulai menunduk dan menyadari tubuh bagian atasnya yang sedang tak berbusana.

“Ma—maaf El. Aku tadi disuruh Harun tidur di sini karena dikir…”

“Sssttt.” jawabnya, menyuruhku untuk diam.

“Jangan sampai Maura bangun, pegal Aku buat dia tidur tadi,” ucapnya setengah berbisik.

Aku pun mengangguk. Sepertinya tak ada masalah, Aku pun melangkahkan kakiku lagi bersiap untuk meninggalkan ruangan.

“Yo.”

Elma memanggilku lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih dekat. Benar saja, begitu membalik badan, Dia sudah berdiri tepat di hadapanku. Nampak semakin jelaslah payud*ra Ibu muda di hadapanku ini. Payud*ranya yang tadi sedikit menyamping kala berbaring kini nampak menonjol ke depan di hadapanku. Payudaranya masih separuh kencang, juga separuh kendor menunjukkan bahwa Ia masih aktif menyusui. Tubuhnya begitu dekat di hadapanku. Rambutnya yang sebagian berwarna hitam, sebagian dipirang abu-abu tergerai dengan sedikit berantakan. Wajahnya tak menampilkan ekspresi. Dia bahkan jauh lebih cantik dari jarak sedekat ini.

“Jangan keluar, nanti Harun nanyain. Dikiranya nanti ada apa-apa kalau Kamu mendadak ga jadi tidur.”

“I—iya El,” jawabku pelan. Kini Ia melangkah kembali ke arah kasur sambil menarik lenganku tanpa tenaga. Aku ikut berjalan bersamanya. Ku tatap punggungnya yang tidak ditutupi kain, samar terlihat bulatan payudaranya bergerak naik turun saat Ia melangkah.

Kini Kami berdua duduk di kasur. Ia duduk di sampingku tetap tanpa mengenakan atasan. Sedangkan Aku perlahan sudah bisa mengontrol rasa takutku. Entah hilang ke mana rasa kantukku tadi.

“Kamu natap t*ketku mulu Yo.”

Kini Aku mengalihkan mataku menatap ke arah wajahnya. Ku tatap matanya dalam-dalam. Bibirnya agak manyun seakan Ia tidak suka dilihat, tapi di sisi lain payudaranya juga tetap dibiarkan menghadap tubuhku. Tiba-tiba saja Aku merasa begitu tertarik padanya.

“Aku ga sengaja tadi.”

“Aku tahu kok.”

“Badanmu bagus El,” Entah dari mana asalnya keberanianku untuk berucap seperti itu. Iya hanya tersenyum kaku mendengar pujianku. Ingin ku tampar saja wajahku yang tak tahu diri ini. Mana mau Elma, perempuan kaya raya dan cerdas yang sudah bersuami ini digoda oleh perjaka pas-pasan kayak diriku ini. Keheningan panjang pun memenuhi seluruh ruangan.

“Aku memang lebih suka lepas baju sekalian kalau menyusui.”

Aku hanya membalas dengan anggukan. Entah mengapa suasananya menjadi sangat canggung. Memang tak cocok bila dua orang yang begitu pendiam dihadapkan dalam situasi yang begitu ganjil semacam ini.

“Emang ga kedinginan?” tanyaku berbasa-basi.

“Tadinya pakai selimut sih, hanya terkibas pas lagi tidur,” ucapnya sembari menunjuk selimut bayi yang sudah berhamburan di dekat dinding.

Selanjutnya... Full ⬇️⬇️

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/03/menodai-para-istri-teman.html








“Belum pernah ada cowok selain Harun yang pernah lihat toketku Yo.” Katanya dengan nada suara yang masih sama pelannya. Ucapannya itu membuatku terkejut. Sejak tadi mendapatiku memerhatikan tubuhnya tak sekali pun Elma mencoba menutupi payudaranya dengan tangan, bahkan sampai saat ini Ia sama sekali tak terlihat seperti ingin mengenakan pakaiannya. Tingkah lakunya seakan menunjukkan bahwa Ia telah begitu terbiasa dengan keadaan seperti ini. Tidak ku sangka ternyata Aku adalah lelaki pertama selain suaminya yang melihat payudaranya secara bebas.

“Maaf El.”

“Gak perlu minta maaf. Emang badanku beneran bagus ya Yo?”

Pertanyaan itu membuat mataku kembali memerhatikan payudara dan perutnya. Perutnya yang kurus memiliki dua garis lipatan lemak, samar-samar lekukan tubuhnya masih terlihat. Puting payudaranya begitu keras. Sepertinya lebih keras daripada sebelum duduk tadi. Apakah dia merasa terangsang?

“Bagus banget El. Aku ga pernah berani ngebayangin Kamu telanjang sebelumnya, ga pernah bayangin bakal terangsang lihat tubuhmu karena Kamu istri teman Aku, tapi ternyata begitu lihat aslinya, Aku malah sangat terangsang. Bagi Aku, tubuh Kamu jauh lebih seksi dibandingkan artis film porno yang Aku pernah nonton.”

Jawabanku membuat Elma tertawa kecil. “Kok artis porno, memangnya Kamu belum pernah lihat toket sebelumnya?” Pertanyaan itu membuat wajahku memerah.

“Beneran ga pernah ya… Kamu senang gak kalau toketku jadi pengalaman pertamamu?”

“Se—senang El.” ucapku dengan masih memerah.

“Kalau memang begitu Kamu ku bolehin megang Yo.” ucapnya sambil menarik tangan kiriku menuju payudara kanannya.

Inilah sentuhan pertamaku dengan payudara. Kulitnya terasa begitu kenyal. Payudara yang berdiri tegak itu ku remas pelan. Jariku mulai menyentuh tiap inchi payudaranya dengan perlahan, berputar di sekitar areolanya, lalu kemudian meremasnya sekali lagi. Tiap kali meremas, Aku merasakan putingnya yang tegak seperti menusuk garis telapak tanganku.

“Aaah….” ucapnya pelan, ku lihat mata Elma menjadi sayu.

Desahannnya membuatku lebih berani. Kini kembali ku mainkan jariku menyentuh sekitar areolanya. Sampai kemudian Aku tak sanggup lagi. Putingnya yang tegak berdiri sangatlah menggoda, dengan sedikit nakal Aku sentil puting itu dengan telunjukku membuat Elma mengerang lebih kencang. Erangannya cukup nyaring, sampai-sampai jariku sempat berhenti sejenak.

“Lanjut Yo,” jawabnya sambil menarik tangan kananku untuk menyentuh payudara kirinya.

Jemariku dengan gagah memilin kedua putingnya, membuat Elma semakin tak karuan. Tangan kirinya diletakkan di atas dipan, sedangkan tangan kanannya sedang memencet vaginanya dari luar celana.

“Aahh… enak banget toketku.”

Kini erangannya makin tak teratur. Ku gunakan sedikit tenagaku untuk membaringkan tubuhnya. Kini Elma telah terbaring di bawah kaki Maura. Ibu muda yang dikenal kalem dan anggun itu kini terlihat begitu binal di hadapanku. Elma yang sehari-hari tak pernah nampak terlepas dari jilbab sopan kini dengan sukarela menyerahkan tubuhnya untuk ku sentuh. Melihat hal itu, reaksi tubuhku juga makin tak karuan. Penisku yang tadi sempat mulai mengendor kembali mengeras, lebih keras dari sebelumnya. Tanpa ku sadari, mulutku juga mengeluarkan erangan halus. Padahal belum ada sentuhan langsung ke tubuhku.

Ku dekatkan mulutku ke payudara Elma, lalu mulai menjilatnya perlahan. Dari kiri ke kanan, kiri ke kanan, begitu seterusnya. Ternyata jilatanku berhasil membuat Elma semakin terangsang. Kini kedua kakinya telah dilingkarkan ke atas pinggangku. Membuat pakaianku sedikit tersingkap. Elma mengarahkan tangannya menyentuh perutku.

“Bagus banget perutmu, ah ngentot, ahhhh… terus jilat toketku.” Tak ku sangka, lisan Elma ternyata begitu liar kala sedang terangsang.

Aroma bayi masih tercium jelas dari payudara kanannya, Aku pun memilih payudara itu untuk ku kulum dan ku sedot. Slurrp, tarikku kencang.

“Ah ngentot, Ahhh… hebat banget cowok macho ahhh… kayak Kamu Yo, badanmu bagus banget kayak model.” kini tangannya coba meraih gundukan di celanaku.

Ucapannya itu membuatku semakin di atas angin. Ku tengok pergerakan tangan kanannya semakin kencang, ternyata benar, Ia sudah menyingkap celananya. Kini jari tengahnya sedang keluar masuk di dalam vaginanya.

“Ah tonjolan kontolmu gede Yo.”

“Vaginamu enak El?” tanyaku sambil mencopot bibirku dari payudaranya, kedua tanganku masih bebas memilin kedua payudaranya. Aku perlahan mengecup bibirnya pelan. Tangannya sudah menarik zip dari retsletingku.

“Enak Yo, aahhhh… ini ku ahhhh…. colok-colok saking enaknya Yo.”

Sekali lagi ku kecup bibirnya. Namun ternyata kecupanku membuat Elma sadar bahwa Aku sebenarnya tak tahu cara melakukan ciuman yang benar.

“Pake lidahnya Yo. Bu–buka aahhhh mulut,”

Aku pun menuruti perintahnya, Aku membuka bibirku sambil menjulurkan sedikit lidah. Elma langsung menyambut ciumanku dengan mengangkat kepalanya sedikit. Itu adalah ciuman pertamaku. Rasanya sangat intim, Aku bisa merasakan gairah dan aroma tubuh Elma melalui air liurnya. Tubuhnya semakin menegang, ku rasa gerakan di tangan kanannya semakin mengencang. Suara jemari yang menghantam vagina terdengar begitu jelas. Erangan Elma semakin tak karuan, ucapannya makin binal dari sebelumnya.

“Yo… Ahhh.”

“Elma, Kamu seksi banget.”

“Ahhhh ya Yo, Aku seksi… Aku seksi kan?”

“Iya El, Kamu seksi El,” sambil menurunkan kembali lidahku menjilat puting payudaranya.

“Ahhhh, iya Yo, di situ Yo! Ah toketku. Aku… Aku… Ahhh mau pipis.”

Ucapnya diikuti erangan panjang, jemarinya mencolok vaginanya jauh lebih kencang seakan menggunakan semua tenaganya yang tersisa. Tangannya yang sudah hampir membuka celana dalamku langsung ditariknya untuk berpegangan erat pada lenganku. Kini badannya semakin mengencang, tetes-tetes air susu telah keluar dari payudaranya. Tetesan air susu mengalir lebih deras dari payudaranya.

“Yo… ahhh… Aku pi…pis…” erangnya kencang, kini wajah dan dada, bahkan sekujur tubuhnya telah dipenuhi butir keringat. Elma benar-benar pipis, dengan kaki yang mengejan, serbuan cairan keluar dari vaginanya. Membasahi celana pendek dan celana dalamnya yang hanya disingkap saja, menyerbu sisi lutut celana jinsku, dan melayang jauh menyentuh lantai. Kepala Elma menegang ke atas, dengan kedua tangan yang memeluk lenganku erat. Sungguh pemandangan yang indah.

posted under |
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda