Desahan Suami Tetangga
Novel "Desahan Suami Tetangga"
Aku duduk termangu di depan jendela dapur sembari menunggui air yang sedang kudidihkan. Tetapi tiba-tiba saja ....
"Oh ... Emmm ....!"
Aku mendengar suara-suara aneh. Suara seorang wanita yang sedang mendesah. Padahal setahuku rumah ini hanya berdampingan dengan satu rumah, itu pun rumah yang tak berpenghuni. Dan rumah itu terletak tepat di samping dapur yang tengah kusinggahi ini. Selebihnya, rumah ini jauh dari rumah-rumah yang lain.
Aku pun melongok ke jendela. Aku sedikit bergidik ketika kulihat tak ada siapa-siapa di antara semak-semak gelap di hadapanku. Semak-semak yang menghubungkan antara rumah ini dengan rumah tak berpenghuni tersebut.
"Ah, pasti kucing jaman now yang lagi dikawinin sama kucing lain," ucapku sembari hampir kutinggalkan ambang jendela yang tengah kusinggahi.
"Achhh ....!"
Suara itu masih terdengar bahkan semakin keras. Maka aku pun kembali mengedarkan pandanganku ke arah suasana malam dari jendela dapurku. Tetapi tiba-tiba saja ....
Clappp ....
Lampu rumah kosong di hadapanku tiba-tiba menyala. Memperlihatkan dua sosok di dalamnya yang sedang melakukan perjumbuan di belakang jendela rumah tersebut. Jendela terbuka yang berhadap-hadapan langsung dengan jendela dapur rumahku.
Aku berpikir, apakah mereka pasangan muda-mudi yang tak punya duit untuk pergi ke hotel? Maka menyelinap masuk ke rumah tak perpenghuni tersebut?
"Ohhh ... Terus, sayang!" ucap si wanita sambil membungkuk dan meletakkan kedua siku tangannya di jendela. Sedang si laki-laki, ia berdiri di belakangnya. Ia terus bergerak maju mundur sembari tangannya melakukan kesibukan lain terhadap tubuh si wanita di hadapannya.
Melihat aksi kedua orang tersebut, bukannya pergi, aku malah dengan serius memperhatikannya kayak lagi nonton sinetron ikan terbang di televisi.
"Ohhh ... Ahhhh ....!" Si wanita terus mendesah. Ia sepertinya begitu menikmati permainan dari si laki-laki.
"Uhhh ....!" Tiba-tiba bibirku ikut bersuara. Sepertinya aku ikut terbawa dengan pemandangan yang tengah kusaksikan. Pergulatan nikmat yang jarang kudapatkan dari Mas Abraham, Suamiku. Pergulatan yang memang rutin kami lakukan, tetapi aku jarang sekali mendapatkan puncak kenikmatan darinya.
Tiba-tiba sang laki-laki melihat ke arahku. Ia sepertinya menyadari keberadaanku.
Ia sama sekali tak malu atau pun takut karena ada seseorang yang tengah memergokinya. Malahan, ia terlihat melemparkan senyum ke arahku. Tetapi masih sambil membuat si wanita melenguh nikmat di hadapannya.
"Ada apa?" Si laki-laki berbicara denganku tanpa suara, hanya dengan bahasa bibir.
"Ada apa apanya?" Aku pun sama, menjawab pertanyaannya dengan bahasa bibir juga.
"Mbaknya kepingin, ya? Sini, gabung sama kami!"
"Apa!" Aku terkejut dengan kalimat dari bibir laki-laki tersebut. Maka secepatnya aku pun menutup jendela rapat-rapat. Entah karena marah dengan ucapan ketidaksopanannya dia, atau aku sedang malu karena apa yang tengah kurasakan rupanya diketahui olehnya.
"Aubi!" Suara teriakan tiba-tiba terdengar. Suara Mas Abraham yang kini sosoknya nampak masuk ke dalam ruangan dapur.
"Ya, Mas?" balasku sembari membalikkan badanku jadi berposisi membelakangi jendela yang sudah tertutup.
"Mana kopiku, hah! Ditungguin nggak nongol-nongol!"
"Ah ... Maaf, Mas. Ini baru mau aku buat!"
"Cepetan! Kamu lelet, ya! Dasar istri tak berguna!" maki Mas Abraham. Kebiasaan yang sering ia lakukan terhadapku jika aku sedikit saja melakukan kesalahan sekecil apapun di hadapannya. Makian yang kadang membuatku sakit hati, namun kemudian aku akan begitu mudah memaafkannya begitu saja.
***
Keesokan harinya ....
"Aubi!" teriak Mas Abraham dari ruangan depan. Aku yang tengah berkutat dengan cucian piring kini berlari terbirit-birit untuk menghampirinya.
"Ya, Mas?" ucapku setelah sampai di hadapannya.
"Dokumen-dokumenku yang itu kenapa nggak kamu masukin juga ke dalam tasku, hah?"
"Dokomen yang mana, Mas?"
"Yang itu. Yang ada gambar Desi Ratnasari, sama Lidia Kandau nya." Mas Abraham menujuk beberapa buku tipis di atas meja di hadapannya.
"Itu, kan, TTS, Mas. Bukan dokumen penting."
"Itu menurutku penting, tauk!" umpat Mas Abraham.
"Baik, Mas, akan segera aku masukin." Aku segera memungut beberapa TTS yang dimaksud Mas Abraham tersebut sembari membatin, "apa jangan-jangan suamiku sebenarnya nggak kerja di kantor, ya? Tetapi jadi seorang tukang cukur bawah pohon yang kalau lagi nggak ada pelanggan, sibuk ngisi TTS sampai ketiduran."
Ting ... Tong ....
Suara bel pintu berbunyi. Aku hampir meninggalkan kegiatanku yang semula demi ingin membukakan pintu untuk tamu yang datang di pagi buta seperti sekarang ini.
"Biar aku saja yang buka! Kamu urusin saja TTS-TTSku!" cegah Mas Abraham. Ia pun segera menghampiri pintu. Segera melaksanakan apa yang baru saja ia kemukakan.
"Selamat pagi! Maaf mengganggu waktunya!" sapa tamu yang kini berada tepat di hadapan Mas Abraham. Tamu yang terdiri dari satu orang laki-laki dan satu orang perempuan.
"Ya, selamat pagi!" jawab Suamiku.
"Perkenalkan, kami adalah tetangga baru di samping rumah. Saya Eril, dan ini Tika Istri saya," ucap si tamu laki-laki.
"Maksudnya rumah kosong di sebelah?"
"Betul, Mas."
Mendengar perbincangan tersebut, aku yang semula tengah sibuk dengan kegiatanku langsung otomatis menengok ke arah si kedua tamu yang datang.
Selanjutnya ......
Full part 1-18
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/desahan-suami-tetangga.html
Benar, laki-laki itu adalah laki-laki yang semalam. Laki-laki yang tengah bercinta dengan seorang perempuan.
"Tetapi tunggu!" Aku tercekat.
"Bukankah wanita yang ada di sampingnya tersebut tak sama dengan wanita semalam. Jelas-jelas aku melihat wanita yang semalam berambut panjang dan sedikit bergelombang, sedang yang sekarang berambut pendek di atas bahu. Wajah dari keduanya pun terlihat berbeda, yang semalam tak ada tahi lalat di bawah bibir seperti yang sekarang," batinku sedikit terheran dengan apa yang kusaksikan.
"Ini, kami membawa bingkisan makanan sebagai tanda perkenalkan kami," ucap si wanita bernama Tika tersebut sembari menyodorkan bingkisan kepada Mas Abraham.
"Makanan?"
"Iya, Mas."
Mas Abraham refleks langsung mengendus-endus bingkisan yang sudah berada di tangannya seperti babi. Suatu kebiasaan jika dia dihadapankan dengan makanan seperti sekarang ini.
"Mari silahkan masuk!" ucap Mas Abraham kepada mereka.
"Ah, lain kali saja. Kami pasti mengganggu di jam sibuk seperti sekarang ini."
"Tentu saja tidak. Saya masih ada waktu, kok, sebelum berangkat ke kantor."
Tika dan laki-laki bernama Eril itu pun nampak berisyarat satu sama lain. Sepertinya mereka akhirnya setuju dengan tawaran Mas Abraham.
"Mari silahkan duduk!" titah Mas Abraham. Maka Tika dan Eril pun segera terduduk di sofa ruang tamu kami.
Sesaat Eril nampak melihat ke arahku, dan aku pun refleks melihat ke arahnya. Tiba-tiba ia tersenyum kecil. Senyuman sedikit menyeringai, sama seperti senyuman yang ia tunjukkan semalam. Senyuman yang membuatku seketika begitu canggung.
"Aubi, ambilkan minum, gih, untuk kedua tetangga baru kita!" perintah Mas Abraham terhadapku, membuyarkan kecanggunganku yang baru saja.
"Baik, Mas." Aku pun segera beranjak. Segera melenggang menuju ke dapur. Segera membuatkan dua cangkir teh yang kemudian langsung kubawa ke depan ke hadapan kedua tamu tersebut.
"Perkenalkan juga, namaku Abraham, dan dia istriku Aubi," ucap Mas Abraham begitu aku ikut duduk bersama mereka.
"Kalian pasangan baru, ya?" lanjut Mas Abraham melemparkan pertanyaan untuk Tika dan Eril.
"Benar, Mas. Kalau Mas Abraham dan Mbak Aubi sendiri?" Eril balik bertanya.
"Kami sudah lama menikah, sudah hampir lima tahun."
"Lalu anak-anak? Mereka sedang sekolah, kah?" Tika terlihat celingukan mencari jejak anak kecil di rumah ini.
"Kami belum dikaruniai," jawab Mas Abraham dengan ekspresi wajah yang begitu sendu. Maka Tika dan Eril pun langsung tampak tak enak hati karena baru saja mengungkit masalah tersebut.
"Mas Abraham kerja di mana?" Tika berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku kerja di bank swasta. Kalau kalian?"
"Aku kerja jadi guru di SMU Awokawok. Sedang Eril, dia pelukis. Rencana mau buka galeri di rumah."
"Jadi kamu seniman?" Tatapan Mas Abraham tertuju ke arah Eril.
"Iya, Mas."
"Pantas, ya, tatonya banyak."
"Hehehe." Eril hanya tersenyum sembari menutup kedua tangannya yang memang dipenuhi oleh tato dengan melepas gulungan lengan bajunya.
"Bukannya Mas Abra juga tatoan?" bisikku tepat di telinga suamiku.
"Kalau punyakku bukan tato, Bodoh!"
"Lalu apaan, yang bertebaran di punggungnya Mas Abra?"
"Panu."
Aku hanya manggut-manggut mendengar jawaban suamiku.
"Kalau Mbak Aubi kerja di mana?" Kali ini pertanyaan Tika tertuju ke arahku. Hampir aku ingin menjawabnya, tetapi Mas Abraham sudah lebih dulu melakukannya.
"Dia tidak bekerja. Dia hanya seorang ibu rumah tangga. Gadis yang tak pintar sepertinya, rasanya tak cocok untuk bekerja di manapun. Makanya, dia kusuruh di rumah saja. Cukup melayaniku, dan aku saja yang akan mencukupi semua kebutuhan keluarga," terang Mas Abraham.
Ya, sedari dulu aku memang tak boleh bekerja oleh Mas Abraham. Selain katanya aku adalah gadis yang bodoh, ia melarangku juga karena ia ingin membatasi pergaulanku. Setelah aku menikah dengannya, aku tak boleh ke mana-mana tanpa seizinnya. Aku tak boleh bergaul, tak boleh bertemu dengan teman, atau sekedar jalan-jalan melepas penat. Kalaupun keluar rumah, aku harus bersamanya. Dia akan selalu menemaniku.
Sejauh ini peraturannya tersebut tak begitu berat untukku. Pikirku, asal dia bisa membahagiakanku, aku akan benar-benar patuh dan mengabdi padanya. Mengingat aku adalah seorang yatim piatu sedari kecil, jadi bila ada seseorang yang mau menanggung hidupku seperti dirinya, aku sudah begitu bersyukur luar biasa.
"Yasudah, kami pamit dulu, ya, Mas, Mbak. Kami takut mengganggu kegiatannya Mas Abraham dan Mbak Aubi. Lagi pula, kami juga masih harus menata rumah. Soalnya masih berantakan banget," ucap Eril beberapa saat kemudian saat kami semua sudah lumayan mengobrol puas.
"Baiklah. Apakah kalian perlu bantuan?"
"Tak perlu, Mas!" ucap kompak Eril dan Tika.
Tika dan Mas Abraham segera beranjak dari tempat duduk, begitu pun denganku. Sedang Eril, ia malah kembali terduduk kala handphone di saku bajunya nampak bergetar.
"Wah, Mas Abraham suka pelihara ikan juga, ya?" Perhatian Tika nampak tertuju pada beberapa akuarium berisi koleksi ikan milik Mas Abraham.
"Iya, aku suka memelihara ikan."
"Aku juga sama, lho, Mas."
"Benarkah?"
"Iya."
"Kamu mau melihat koleksi ikan-ikanku."
"Boleh."
Mas Abraham dan Tika pun berjalan ke arah aquarium-aquarium besar yang terletak di pojok ruangan. Sedang aku hanya berdiri mematung di tempat semula. Berdiri di antara sofa yang masih diduduki oleh Eril yang kini tengah sibuk membalas pesan seseorang di handphonenya.
Aku sekilas memperhatikannya. Tetapi kemudian ...
Deg ....
Aku tiba-tiba mengingat kejadian semalam. Mengingat ia yang tengah bercinta dengan seorang wanita. Ia yang terlihat begitu mahir dalam menyenangkan seorang wanita.
Setttt ....
Eril tiba-tiba mendongak ke arahku. Maka aku cepat-cepat mengalihkan perhatianku dengan berniat pergi dari hadapannya untuk menyusul Mas Abraham. Tetapi naas, tiba-tiba dengkul kakiku malah menyenggol cangkir berisi teh mirip Eril yang tinggal separuh. Maka teh tersebut pun tumpah begitu saja tepat mengenai pangkuan Eril.
Krompyang ...
Cangkir pun menggelinding ke bawah hingga menimbulkan suara yang sedikit gaduh. Suara yang menyebabkan perhatian Mas Abraham dan Tika kembali ke arah sofa. Tepatnya ke arah aku dan Eril.
"Aubi!" Teriakan Mas Abraham melengking.
"Apa yang kamu lakukan, hah! Cerobong sekali, sih, kamu! Selalu saja bikin ulah!" maki Mas Abraham sembari ia berjalan ke arahku.
"Lihatlah, celananya Eril jadi basah kuyup katak gitu! Tanggung jawab, kamu!"
"Iya, Mas," jawabku dengan suara bergetar karena makian Mas Abraham. Makian yang sering sekali keluar dari mulutnya. Makian yang tak hanya membuatku sakit hati, melainkan juga sangat malu sekali. Karena ia melakukannya tepat di hadapan orang lain. Apalagi orang yang masih begitu asing seperti mereka. Alhasil, mereka pun seperti terkejut dengan perlakuan Mas Abraham terhadapku.
"Aku tak apa-apa, kok, Mas. Sampai rumah aku bisa langsung ganti celana!" ucap Eril berusaha meredakan amarah Mas Abraham.
"Biarkan saja istriku bertanggung jawab, Eril. Biar dia kapok. Dia memang sering ceroboh seperti itu. Ayo cepat, Aubi! Bersihkan celananya si Eril!"
"Iya, Mas," jawabku.
Aku cepat-cepat mengambil beberapa lembar tisu sebelum kemudian aku terduduk di hadapan Eril. Duduk di lantai, sedang ia masih duduk di sofa seperti sebelumnya. Aku pun dengan gerakan cepat mengusap-usap pangkuan Eril yang basah dengan tisue yang kupegang. Usapan yang tak sadar semakin mengarah ke selangkangannya.
Sretttt ....
Aku menyentuh sesuatu.