Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri

 

Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part  1: Kedatangan Pembantu Dari Desa


Dikampung pelosok desa terpencil yang jauh hiruk gemerlapnya kota, para keluarga dan tetangga menyebut aku anita, gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari uang. Aku beruntung sekali mendapatkan majikan yang baik, keduanya sangat-sangat baik. Umurku baru dua puluh tahun saat mulai bekerja di rumah Bu Maya dan Pak Risman.


Sejak awal melihat Pak Risman aku langsung jatuh hati kepada laki-laki beristri itu. Dia tampan, ramah, baik, perhatian kepada semua orang. Meski usia kami terpaut sangat jauh karena Pak Risman sudah berumur hampir empat puluh tahunan tapi aku tetap jatuh hati padanya sebab wajahnya masih tetap tampan diusianya.


Aku sering mencari-cari perhatian kepada Pak Risman namun dia tidak pernah menggubrisku.


Pernah suatu kali aku sengaja memakai pakaian dengan kerah baju yang lumayan rendah dan jika aku menundukkan tubuhku maka orang yang ada di depanku bisa melihat dengan jelas sebagian gunung kembarku yang lumayan besar dan menantang ini, namun Pak Risman hanya memalingkan wajahnya seraya berkata bahwa aku harus berpakaian dengan lebih layak.


Kala itu Bu Maya sedang pergi keluar kota dan keadaan rumah sedang sepi-sepinya karena Ilham dan Dinda sudah tidur, hanya ada Pak Risman yang belum tidur karena sedang menonton televisi.


KuberAnitakan diri duduk di atas karpet tepat di sebelah kaki Pak Risman yang sedang duduk di atas sofa.


Aku berbasa-basi meminta ijin untuk ikut menonton televisi. "Pak aku boleh kan ikut menonton televisi?!" tanyaku.


Pak Risman mengangguk. "Boleh An. Tapi jangan kemalaman, besok bangun pagi-pagi bantu-bantu Bi Ijah masak!"


"Baik Pak! Tenang saja aku tidak akan kemalaman kok nontonnya!" jawabku sambil nyengir ke arah Pak Risman yang sedang fokus melihat layar televisi. Sengaja tubuhku kudekatkan lebih dekat lagi ke arah Pak Risman dan gunung kembarku yang sangat aku banggakan bisa menempel ke kaki kiri Pak Risman.


Reaksi Pak Risman hanya diam, ini adalah lampu hijau bagiku.


Kuputarkan tubuhku melihat ke arah Pak Risman dengan tangan yang kini mulai kuberAnitakan menyentuh kaki bagian atas Pak Risman, hanya menumpang saja, namun bobot tubuhku sengaja kusenderkan ke arah kaki Pak Risman dan membuat gunung kembarku yang sangat aku banggakan menempel dengan erat di kaki kiri Pak Risman.


Pak Risman sedikit kaget dengan perilakuku, namun aku mengira itu hanyalah reaksi biasa dari seorang laki-laki.


"An, kamu jangan nempel-nempel gini!" ucapnya gugup.


Yes, aku bersorak dalam hati, sepertinya Pak Risman gugup karena adik kecilnya sudah mulai tegang dan berdiri.


"Pak, Ibu Maya lama banget ya tidak pulang-pulang?!" tanyaku mulai membuka pembicaraan yang lebih privasi.


"Tiga hari lagi Maya pulang kok!" jawabnya.


Kini aku semakin menekankan gunung kembarku ke arah kakinya dan Pak Risman hanya mematung saja, mungkin dia grogi.


"Pak, Bapak kan sudah ditinggal Bu Maya hampir satu bulan! Bapak pasti tidak ada yang melayAnita kalau malam-malam!" ucapku dengan suara menggoda.


"Maksud kamu apa An?!" tanyanya.


"Maksud aku itu..." aku mulai memberAnitakan diri untuk menggerakkan tanganku menyusuri kaki bagian atasnya dan kini sudah sampai paha dan sebentar lagi akan sampai ke bagian adik kecilnya Pak Risman. "Aku siap melayAnita kalau Pak Risman butuh!" jelasku memberitahukan Anitat baikku.


Brukk


Tubuhku terjatuh ke atas lantai karena Pak Risman langsung mendorong jatuh tubuhku ke arah belakang.


"Kamu pembantu kurang ajar ya An! BerAnita sekali menggoda majikanmu sendiri waktu istrinya tidak ada!" hardiknya marah.


Aku langsung kaget dan takut karena Pak Risman malah marah besar.


Aku bergegas bersujud di bawah kakinya. "Maaf Pak! Tadi aku tidak bermaksud!" ucapku ketakutan. Aku takut kalau dipecat dari rumah ini.


"Tidak bermaksud bagaimana hah?! Sudah jelas sekali kalau kau itu memang berAnitat menggodaku! Sekarang kemasi barang-barangmu! Dan besok pagi segera pergi dari rumah ini! Kamu saya pecat!" ucap Pak Risman marah.


Aku semakin menunduk wajahku dan kepalaku. Aku tidak mau dipecat.


Aku mulai memutar otak agar aku tidak jadi dipecat. Aku mulai bersandiwara menangis sesenggukan dan bilang pada Pak Risman kalau orangtuaku di kampung sakit-sakitan.


"Pak jangan pecat saya! Kalau bapak pecat saya nanti orangtua saya di kampung makan apa? Ibuku yang sakit juga nanti tidak bisa berobat!" aku menangis sejadi-jadinya agar Pak Risman luluh.


"Saya mohon Pak, jangan pecat saya! Saya tadi khilaf, saya janji tidak akan mengulanginya lagi! Saya juga akan berpakaian dengan rapi dan pantas!" rayuku dengan air mata buayaku yang berlinang-linang.


Pak Risman yang memang pada dasarnya orang baik sepertinya mulai luluh.


"Ya sudah. Aku maafkan kali ini, tapi jangan diulangi kembali!" pesannya.


Pak Risman langsung pergi dari ruang tengah dan masuk ke kamarnya sendiri.


Fiyuh, aku menghembuskan napas lega karena tidak jadi dipecat Pak Risman.


Aku menyeka dengan kasar air mata buayaku. "Tidak sia-sia kemampuan aktingku ternyata, hahaha" tawaku pelan.


Setelah tahu bahwa Pak Risman tidak bisa dirayu, aku mulai menjaga sikapku dan tidak pernah berAnita menggodanya kembali.


Aku kini berusaha dengan keras agar bisa disayang kembali oleh Pak Risman dan semakin diaayang oleh Bu Maya.


Aku semakin rajin bekerja dan selalu melakukan pekerjaan dengan baik dan yang terpenting aku tidak menggoda-goda lagi Pak Risman.


Suatu hari aku menemukan situs cara jitu membuat orang yang kita taksir jatuh cinta kepada kita.


Di ulasan situs itu banyak sekali akun yang memuji kinerja pemilik situs itu yang berhasil membuat para kliennya puas karena tujuannya dan keinginannya tercapai.


Mulai dari mendapatkan hati pujaan hati, penglaris, dan lain-lain.


Aku mulai memberAnitakan diri untuk menghubungi nomor telepon yang tertera di situs itu. Aku menanyakan berapa tarif untuk membuat lawan jenis yang aku sukai jatuh cinta kepadaku.


Aku bengong saat mendengar biayanya yang sangat mahal yaitu sekitar sepuluh jutaan untuk kelas yang paling rendah dan lima puluh jutaan untuk kelas yang paling tinggi.


Aku yang memang pada dasarnya tidak punya uang sebanyak itu mengurungkan Anitatku untuk memakai jasa paranormal di situs itu.


Aku mulai menelusuri situs lain dan tanya kesana kemari tentang dukun yang paling hebat dalam membantuku menaklukkan hati Pak Risman.


Aku akhirnya menemukan dukun yang lumayan murah dan hasilnya zonk.


Pak Risman masih belum ada tanda-tanda menyukaiku.


Aku mulai mencari dukun lain dan hasilnya sama-sama zonk.


Aku akhirnya menyerah karena aku tidak mungkin bisa menggunakan jasa dukun yang mahal karena uang gajiku tidak pernah bersisa setiap bulannya karena aku tergolong orang yang suka berpenampilan seperti orang kaya jika sedang keluar dari rumah majikanku.


***

Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part  2: Keluarga Harmonis


Aku adalah tipe orang yang suka menghambur-hamburkan uang.


Namanya juga baru bisa menghasilkan uang sendiri, aku beli hape yang lumayan canggih, yang bisa dipakai untuk main media sosial seperti kawan-kawan di kampungku yang keadaan ekominya lebih baik dari keluargaku.


Aku juga memang sudah terbiasa dari jaman SMP selalu berpenampilan bak seperti anak orang kaya sampai-sampai kedua orangtuaku hutang sana sini untuk memenuhi semua permintaanku.


Aku sih bodo amat, mereka mau kepusingan gara-gara punya hutang banyak di sana-sini itu bukan urusanku. Urusanku hanyalah aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan.


Setelah bekerja pun aku belum pernah mengirimkan uang sepeser pun kepada kedua orangtuaku karena semua uang gajiku aku pakai untuk membeli pakaian bagus, makan di restoran bareng teman-teman lainnya yang punya hobi sama sepertiku, kadang kita juga jalan-jalan ke tempat liburan jika mendapatkan ijin dari semua majikan kita.


Followerku di akun media sosialku sudah banyak bahkan mencapai ribuan follower karena aku kerap memposting semua aktivitas jalan-jalanku atau makanan di restoran yang kerap aku nikmati sebulan sekali bersama teman-temanku.


Selama setahun kerja di rumah Bu Maya dan Pak Risman, aku telah berhasil menjadi pembantu kesayangan mereka kembali.


Setiap mereka pergi berlibur pun aku selalu diajaknya karena mereka memang pada dasarnya baik ingin pembantunya juga ikut jalan-jalan.


Suatu hari Bu Maya dan Pak Risman sepakat dengan tetangganya yang rumahnya ada di sebelah rumah mereka untuk pergi berlibur bersama karena kebetulan Bu Maya sedang mempunyai cuti kerja yang lumayan lama.


Kami pergi berlibur di villa puncak milik keluarganya Pak Pardi. Hanya aku satu-satunya pembantu yang ikut serta dalam liburan itu, meski begitu semua pekerjaan tidak diserahkan kepadaku karena di villa ada tukang bersih-bersihnya sendiri. Selain itu juga Bu Maya dan Bu Elsa selalu membantu jika sedang masak-masak atau bakar-bakar.


Malam itu aku sedang duduk di kursi makan di ruang dapur di villa mewah itu. Tiba-tiba ada Pak Pardi yang memasuki ruang dapur.


"Kamu lagi apa An?" tanyanya.


"Lagi duduk saja Pak sambil minum teh!" jawabku.


"Lagi kedinginan ya?!" tanyanya lagi.


"Iya Pak!" jawabku sambil tersenyum.


Pak Pardi mulai menyeduh teh juga dan ikut duduk di kursi meja makan.


"An!" panggilnya.


"Iya Pak!" jawabku.


"Bapak juga lagi kedinginan nih!" ucapnya.


Aku hanya memandang Pak Pardi yang umurnya sudah lima puluh tahun lebih dengan pandangan sedikit gimana gitu. "Namanya juga dipuncak Pak! Ya pasti dingin hahaha" tawaku kaku. Andai saja yang sedang di hadapanku ini Pak Risman, aku pasti sudah kesenengan setengah mati.


"Itu hape kamu An?" tanya Pak Pardi saat melihat hape milikku tergeletak di atas meja.


"Iya Pak!" jawabku.


"Kalau bapak kasih hape baru yang lebih bagus dari itu kamu mau tidak?!" tawarnya.


"Ya kalau dikasih pasti aku mau lah Pak!" jawabku semangat.


"Bapak bisa sih kasih kamu hape keluaran terbaru sekaligus uang tiga puluh juta tapi ada syaratnya!"


"Syaratnya apaan Pak?!" tanyaku bersemangat.


"Tidur sama Bapak!" jawabnya tanpa tedeng aling-aling.


Aku terdiam karena persyaratan yang diajukan oleh Pak Pardi. Aku mulai memikirkan tawarannya, apakah aku harus mengambilnya atau tidak.


Tapi hape keluaran baru itu harganya sampai belasan juta, belum lagi uang yang dia tawarkan, uang itu bisa untuk aku pakai belanja dan buat nyewa dukun untuk menaklukkan hati Pak Risman.


"Kok kamu diam An? Gimana kamu mau tidak?" tanyanya mengulang. "Oh iya, kamu masih perawan kan?!" tanyanya memastikan.


"Iya Pak!" aku mengangguk.


"Baguslah kalau begitu! Aku tidak rugi kalau menawarkan uang sebesar itu!"


Aku masih terdiam.


"Kok masih diam?!" tanyanya lagi. "Uangnya kurang ya?! Kalau gitu Bapak tambahin sepuluh juta deh!" tawarnya lagi.


Aku semakin berbinar-binar mendengar tawaran Pak Pardi yang menggiurkan, empat puluh juta plus hape keluaran terbaru bisa didapatkan secara instan dalam waktu singkat.


"Iya Pak aku mau!" jawabku.


Pak Pardi langsung tersenyum senang. "Ayo ikut Bapak sekarang!" ajaknya mulai menarik tanganku.


"Pak jangan narik-narik takut ada yang lihat!" tegurku.


"Oh iya Bapak lupa!" ucapnya. "Kalau gitu Bapak tunggu kamu di ruangan kamar paling belakang ya!"


"Apa aman Pak kalau sekarang ngelakuinnya?!" tanyaku sedikit ragu takut ketahuan oleh penghuni di villa ini.


"Tenang saja! Istri Bapak sudah tidur, lagipula Bapak kan memang sering pisah ranjang sama Istri Bapak! Dia sudah jarang mau layAnitan Bapak lagi!" jelasnya.


"Oh baiklah kalau begitu, aku bakalan nyusulin Bapak ke kamar belakang!"


Pak Pardi berjalan lebih dulu ke kamar paling belakang yang jaraknya lumayan jauh dari kamar lainnya karena area tempat itu sepertinya jarang disinggahi.


Aku mulai membuka pintu dan Pak Pardi sudah menungguku, aku memasuki ruang kamar itu.


"Pintunya kunci An!" perintahnya.


Aku menuruti perintahnya. Pintu sudah terkunci, kini Pak Pardi memanggilku dengan gerakan tangannya agar mendekat. "Sini An!" panggilnya.


Aku berjalan mendekat dan duduk di sebelah Pak Pardi.


"Boleh Bapak mulai!" bisiknya.


Aku hanya mengangguk.


Pak Pardi mendorong tubuhku ke atas kasur di kamar itu dan dia menggagahiku dan menjadi orang pertama yang menikmati tubuhku.


Dia tersenyum senang setelah berhasil menikmati tubuhku, aku hanya bisa berbaring saja di atas kasur.


"Besok sepulang dari liburan Bapak kasih ya hadiahnya!" janjinya.


"Jangan sampai lupa ya Pak!" seru Anita.


"Kalau Bapak ingin lagi, kamu mau kan melayAnita Bapak?!" tanyanya.


"Kalau dibayar sih aku mau! Tapi harus lihat jadwal dulu soalnya tidak bisa pergi seenaknya tanpa ijin dari Bu Maya atau Pak Risman!"


"Tenang saja! Pasti Bapak bayar kok! Oh iya pelayanan kamu luar biasa An! Banyak-banyak belajar lagi ya! Biar bisa muasin Bapak! Kalau Bapak puas dengan pelayanan kamu, nanti Bapak kasih bonus!"


"Iya Pak!" jawabku. "Tapi sekarang Bapak harus foto dulu sama aku! Biar Bapak tidak ingkar janji! Kalau aku tidak punya pegangan, ntar kalau Bapak ingkar, aku tidak bisa nuntut!"


"Ya sudah ayo kita foto dulu!" Pak Pardi setuju saja.


Anita dan Pak Pardi yang belum mengenakan pakaian mulai berpose, bahkan mereka berfotonya dengan pose mesra agar bisa dijadikan bukti kalau-kalau Pak Pardi ingkar janji.


Setelah selesai berfoto Anita turun dari ranjang dan mulai mengenakan pakaiannya kembali.


"An kamu jangan dulu pergi!" cegah Pak Pardi yang masih ingin berduaan dengan Anita.


"Maaf Pak, tapi aku takut kalau Bu Maya mendatangi kamarku dan menemukan aku tidak ada di kamar!" sahutku. "Aku takut dia berpikir macam-macam!"


***


Selanjutnya....... 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part   3: Goncangan Keluarga


Aku meninggalkan ruang kamar belakang dan kembali masuk ke dalam kamarku, untunglah aku mendapatkan kamar sendiri.


Aku segera merebahkan tubuhku di atas kasur, aku sungguh tidak sabar menerima uang dan hape baru yang dijanjikan oleh Pak Pardi.


Sepulang dari liburan di villa aku ditelepon oleh Pak Pardi yang ingin memberikan hadiah yang sudah dia janjikan. Dia memintaku untuk datang ke rumahnya di jam-jam saat anak-anaknya masih kuliah dan istrinya sedang pergi kumpul-kumpul dengan teman-teman sosialitanya.


Aku juga yang sudah selesai menyelesaikan tugasku langsung otewe ke rumah Pak Pardi.


Aku kaget saat ditanyai oleh Bi Ijah mau kemana, untunglah Pak Pardi mengirimkan Hendri dan membuatnya berpura-pura untuk mengajakku jalan.


Untungnya Bi Ijah tidak melarangku karena semua tugas telah aku selesaikan, tapi dia minta agar aku jangan terlalu lama keluarnya. Aku mengiyakannya.


Hendri yang memang ditugaskan oleh Pak Pardi membawaku menggunakan motornya ke rumah sebelah yang menjadi tempat bekerjanya.


"Masuk saja!" ucapnya. "Sudah ditunggu Pak Pardi tuh!"


Aku mengangguk mengiyakan dan segera bergegas masuk ke dalam rumah untuk mendapatkan hadiah yang telah Pak Pardi janjikan.


Pak Pardi memberikan apa yang sudah dia janjikan dan siang itu dia langsung minta dilayAnita kembali di atas ranjang, aku mengiyakan tapi aku cukup kecewa karena uang bayaranku hanya dua juta saja.


Dia bilang kalau kemarin karena aku masih perawan, nah kalau yang hari ini dan seterusnya akan dipatok tarif dua juta perlayanan. Aku mengangguk saja karena dua juta juga sudah banyak bagiku. Kalau aku sering dipakai, maka uang yang aku dapatkan akan berlipat ganda.


Pak Pardi tidak pernah memakai pengaman saat berhubungan denganku, dan aku mengkonsumsi pil kontrasepsi agar tidak hamil. Meski Pak Pardi sudah tidak muda lagi, tapi aku takut kalau aku hamil anaknya.


Setelah mendapatkan uang yang banyak dari Pak Pardi, aku langsung menghubungi jasa layanan dukun sakti yang tarifnya mahal.


Aku memilih untuk menyewa yang harga sepuluh juta saja dan hasilnya memuaskan, Pak Risman tidak marah lagi ketika aku mengenakan pakaian yang membentuk tubuh, biasanya dia langsung marah-marah.


Pak Risman juga mulai curi-curi pandang ke arahku saat aku sedang lewat atau sedang main dengan Ilham.


Hari yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba. Maya si*lan itu akhirnya dinas lagi keluar kota selama dua minggu.


Setiap malam aku selalu mengenakan pakaian yang seksi dan mondar-mandir di depan Pak Risman yang sedang makan atau nonton televisi.


Namun s*al, Pak Risman malah memilih untuk segera masuk ke dalam ruangan kamar.


Sudah seminggu aku gagal menggoda Pak Risman dan aku nekat menggunakan obat per*ngs*ng namun lagi-lagi Pak Risman bisa mengatasinya dan memilih mengunci diri di dalam kamar.


Aku tidak kecewa kalau reaksi Pak Risman seperti itu, setidaknya tidak seperti dulu, dulu dia langsung marah dan memecatku, tapi sekarang dia hanya memilih menghindar, yang artinya pel*t dari dukun itu bekerja.


Esok harinya aku berkonsultasi dengan dukun yang aku pakai jasanya, dia bilang kalau Risman memang sulit untuk ditaklukkan, dia akhirnya memberikan sebuah obat perangs*ng yang sudah dijampi-jampi agar Risman takluk.


Malam harinya aku beraksi, aku membakar sesuatu yang diberikan oleh dukun yang aku sewa jasanya dan mengedarkan semua asap itu keseluruhan ruangan.


Ilham yang biasanya tidur jam setengah delapan malam, pukul setengah tujuh sudah terlelap, begitu pula Dinda. Anak itu juga memilih tidur lebih cepat bersama dengan Ilham.


Pak Risman pulang dari toko pukul delapan malam, aku menyambutnya dengan pakaian yang menerawang dan memperlihatkan gunung kembarku yang sengaja tidak aku pakaikan dalaman.


Reaksi Risman tidak marah, dia malah mulai berkeringat dan berkali-kali melihat ke arah gunung kembarku yang hanya terhalang kain transparan.


Aku senang dengan keadaan ini.


Risman melangkah kakinya ke dapur karena dia ingin makan malam, aku segera menawarkan diri untuk menghangatkan makanan.


Risman berkali-kali menelan ludahnya, biasanya dia akan langsung masuk ke dalam ruang kamarnya, tapi kali ini tidak, dia masih bertahan di ruangan dapur.


Aku meletakan makanan untuk Risman dan sekaligus mengambilkan minuman untuk Risman, dengan hati-hati aku memasukkan obat per*ngs*ng yang sudah dijampi-jampi dan meletakkan bungkus kosongnya sembarangan.


Risman makan dengan tidak fokus karena aku memilih duduk di hadapannya.


Risman akhirnya meminum air yang sudah aku campur obat.


Risman sudah selesai makan dan dia memilih untuk menonton televisi di ruang tengah.


Aku mengikuti langkah kaki Risman namun tidak mendekatinya, aku melihatnya dari kejauhan.


Risman duduk di sofa itu dan dia mulai tidak tenang, mungkin obatnya sudah bereaksi, aku deg-degan, apakah Risman akan masuk lagi ke dalam kamar. Ternyata tidak, dia masih duduk gelisah di sofa.


KeberAnitaan diri mendekat ke arah Risman. "Bapak kenapa?" tanyaku dengan suara menggoda.


"Tidak apa-apa!" jawabnya.


Aku mulai berjalan lebih dekat lagi dan kini aku duduk dipangkuan Risman dan reaksi Risman, dia tidak marah sama sekali, dia malah langsung mendorong tubuhku ke atas sofa dan mulai melepaskan semua pakaiannya dan mulai melepaskan pakaianku juga.


Saat dia akan memasukan si kecilnya, dia tiba-tiba bangkit dan mengambil pengaman yang ada di saku celananya dan segera memakai pengaman itu.


Aku heran, sungguh Risman ini sulit untuk ditaklukkan, sekalinya ditaklukkan, dia masih sempat-sempatnya pakai pengaman.


Pergulatan panas kami telah selesai. Risman dan aku sedang tiduran di atas sofa setelah lelah saling memuaskan.


Aku sungguh bahagia karena akhirnya aku bisa mendapatkan Risman, laki-laki yang sudah berhasil mencuri hatiku saat pertama kali aku tiba di rumah ini.


Malam masih panjang dan kami melakukannya lagi untuk kedua kalinya dan lagi-lagi Risman memakai pengaman. Si*lan.


Setelah malam yang menggairahkan itu, aku semakin rajin meminta sesuatu kepada dukun langgananku agar membuat Risman semakin jatuh cinta padaku.


Hasilnya sangat memuaskan, sampai sekarang Risman masih sering meminta jatah kepadaku, bahkan mulai memberikan barang-barang berharga dan juga uang.


Sekarang misiku adalah untuk hamil anak Risman dan membuat Risman bercerai dengan Maya si*lan itu agar aku bisa menjadi satu-satunya istri sahnya Risman.


***


Selanjutnya....... 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part   4: Menemukan Tespek


Sore itu Maya yang sudah pulang dari kantor segera bergegas masuk ke dalam rumah karena mobil yang mengangkut sampah sebentar lagi sampai di depan rumahnya.


Maya melihat bahwa sampah-sampah di rumahnya belum dikeluarkan oleh Bi Ijah dan Anita.


"Haish... kayaknya mereka lupa keluarin sampah deh!" rutuk Maya sembari memasukan sampah-sampah yang ada di semua tong sampah ke dalam plastik hitam besar.


Sampai di ruang dapur, Maya mengangkat plastik yang ada di dalam tong sampah dapur, namun naas tangannya tergelincir dan membuat plastik yang berisi sampah itu berserakan di atas lantai.


Maya bergegas memunguti sampai yang berceceran itu, namun gerakan tangannya tiba-tiba terhenti saat kedua mata Maya melihat ada sebuah tespek tergeletak di antara sampah-sampah itu.


"Tespek" gumamnya


Maya mengambil tespek itu dan melihat ada dua garis warna merah tercetak disana.


"Tespek siapa ini?!" Maya bertanya-tanya dalam hati.


"Kalau punya Bi Ijah tidak mungkin!" sangkal Maya. "Bi Ijah kan sudah tidak bisa hamil lagi. Selain itu Bi Ijah tidak mungkin membuang tespek di tong sampah rumah ini. Dia kan pulang pergi!" Maya mulai berpikir kembali. "Ataukah ini punya Anita?!" Maya kini mulai mencurigai Anita pembantu muda di rumah ini yang merangkap sebagai pengurus Kakek Anwar yang sudah lanjut usia.


Tiiit tiit tiit


Suara klakson mobil pengangkut sampah mengklakson rumah Maya karena tidak ada kantung sampah di depan rumah ini.


"Mobilnya sudah dateng!" Maya bergegas mengambil plastik setengah kiloan dan memasukan tespek itu ke dalam plastik setengah kiloan itu sebelum memasukannya ke saku jasnya.


Semua sampah yang berserakan segera dipunguti oleh Maya tanpa rasa jijik karena dia sedang diburu waktu.


Maya segera berlarian keluar rumah sambil membawa dua kantong plastik besar sampah dengan sedikit kepayahan karena bobotnya lumayan berat.


"Ini Pak!" Maya menyerahkan kantong plastik sampah itu ke petugas yang bertugas mengambil sampah di komplek ini.


"Loh kok malah Ibu yang keluarin sampahnya?!" tanya petugas sampah itu yang usianya sekitar dua puluh limaan.


"Lagi tidak ada orang di rumah!" jawab Maya. "Bi Ijah kayaknya tadi siang kelupaan tidak mengeluarkan sampah keluar rumah!" lanjut Maya.


"Lah kalau Anita kemana?!" petugas muda itu yang bernama Indro melongok ke sana ke sini mencari keberadaan Anita.


"Kurang tahu kalau Anita!" jawab Maya. "Mungkin dia lagi nganterin anak saya main ke rumah tetangga sebelah!" ucap Maya mengira-ngira


"Oh. Kalau gitu permisi!" petugas itu segera melanjutkan tugasnya.


"Makasih ya sudah ditungguin" ucap Maya sedikit berteriak karena dia tadi lupa mengucapkan kata terimakasih sudah ditungguin oleh petugas itu.


Besok adalah hari libur panjang, jika hari ini sampah di rumah Maya tidak segera di keluarkan, maka akan sangat menumpuk setelah tiga hari ke depan, karena para petugas itu libur di tanggal merah.


Maya masuk kembali ke rumahnya, dia langsung mencuci tangan begitu sampai di ruang dapur.


Pikiran Maya melayang memikirkan tentang tespek di saku jasnya.


Maya masuk ke dalam ruang kamarnya, lalu menyimpan tespek itu di tempat yang aman dan langsung mengunci laci itu.


Maya membersihkan dirinya di kamar mandi dengan perasaan yang tidak tenang karena tespek yang Maya yakini adalah milik Anita.


"Sebenarnya siapa yang sudah berAnita-berAnitanya menghamili pembantuku?!" gumam Maya bertanya-tanya saat air shower mengguyur tubuhnya.


"Bisa-bisanya aku kecolongan seperti ini!" kesal Maya yang tidak menyangka dirinya bisa kecolongan dan tidak bisa menjaga pembantu termudanya dengan baik.


"Padahal orang tua Anita sudah menitipkan Anita padaku!" Maya menerawang satu tahun yang lalu saat dia dan keluarganya main ke kampung halaman Anita, pembantu yang sudah bekerja selama dua tahun di rumahnya namun sudah Maya anggap seperti adik sendiri.


"Jika mereka bertanya(tentang kehamilan Anita), aku harus jawab apa?!" Maya pusing memikirkan hal ini.


"Kira-kira laki-laki bejat mana yang telah menodai Anita?!" kepal Maya sambil sedikit memukul tembok di depannya dengan kepalan tangannya.


"Apa Indro?!" Maya tahu bahwa Indro naksir kepada Anita, dan Anita pun sering malu-malu saat digoda oleh Indro.


"Ataukah Hendri satpam rumah sebelah?!" Maya kini mengarahkan tuduhannya kepada Hendri satpam rumah sebelah yang dulu pernah minta ijin mengajak Anita pergi ke pasar malam. "Sepertinya Hendri!" putus Maya saat dirinya ingat bahwa Anita kerap berteleponan dengan Hendri, satpam rumah sebelah.


"Tapi bisa jadi juga Risman suamiku!" gumam Maya yang tidak ingin melewatkan satu pun tersangka yang kemungkinan adalah pelaku sesungguhnya.


***


Maya sedang menyapu halaman rumah depan karena berdebu.


Maya ini orangnya tidak tahan jika melihat ada sesuatu yang kotor, makanya dia turun tangan menyapu halaman rumahnya.


Mobil Risman memasuki gerbang pintu rumah ini, mobil itu terhenti di tempat parkir, anak kedua Maya dan Risman yang masih kecil sekitar usia 6 tahunan keluar dari dalam mobil dibantu oleh kakak perempuannya yang sudah berusia tiga belas tahun.


Anita pembantu termuda di rumah ini juga keluar dari dalam mobil itu disusul oleh Risman.


"Kalian habis dari mana?" tanya Maya yang sudah mendekat ke arah tempat parkir.


"Kami habis dari tempat hiburan, Ma!" jawab Ilham anak kedua mereka yang paling bungsu.


"Permisi, Bu!" Anita memilih untuk segera pergi dari tempat parkir karena hari sudah sore dan sudah saatnya Kakek Anwar makan malam.


"Iya!" Maya mengangguk dan membiarkan Anita berlalu dari tempat ini.


Maya ingin sekali langsung menanyai Anita tentang tespek yang dia temukan, namun setelah dipikir-pikir dia memilih mengurungkan Anitatnya.


Maya ingin menyelidikinya sendiri saja, jika ditodong dan bertanya langsung, Anita bisa mengelak dengan berbagai alasan, seperti tespek itu bukan punya dia dan bla bla bla.


"Sore sayang!" sapa Risman yang langsung memeluk Maya dari belakang.


Maya tersenyum ke arah Risman yang saat ini sedang memeluknya.


"Kenapa kalian semua tinggalin Mama?!" rajuk Maya yang tidak terima tidak diajak ke tempat hiburan bersama mereka semua.


"Mama kan belum pulang! Kalau nungguin Mama pulang kerja, tempatnya keburu tutup, Ma!" sahut Ilham.


"Maaf ya!" Risman mengecup pipi kanan Maya di depan kedua anaknya.


"Hiss" desis Maya. "Jangan terlalu mesra di depan anak-anak, Mas!" pinta Maya.


"Lha kenapa?!" Risman mempertanyakan


"Takut tidak baik bagi tumbuh kembang mereka! Tolong lepas pelukanmu juga!" ucap Maya sambil melepaskan pelukannya Risman dari tubuhnya.


"Kan bukan adegan uhuk-uhuk, yank!" timpal Risman


"Ah tetap saja!" sahut Maya yang merasa kalau kemesraan yang terlalu berlebihan bisa berdampak buruk bagi anak-anak mereka.


Tiba-tiba Maya baru menyadari bahwa aroma tubuh suaminya agak aneh, aroma tubuhnya seperti orang baru selesai mandi.


"Mas kamu abis mandi ya?"


"Hah!" Risman kaget dan langsung gugup mendapatkan pertanyaan seperti itu.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part  5: Menyahut Bersamaan


Tiba-tiba Maya baru menyadari bahwa aroma tubuh suaminya agak aneh, aroma tubuhnya seperti orang baru selesai mandi.


"Mas kamu abis mandi ya?"


"Hah!" Risman kaget dan langsung gugup mendapatkan pertanyaan seperti itu.


"Aroma tubuh kamu seger kaya baru abis mandi, ada aroma-aroma sabun gitu!" jelas Maya


"Tidak ah" Risman mencium aroma tubuhnya sendiri ke arah lengan bagian kiri dan kanan dekat ketiak. "Aroma keringet gini kok! Asem malahan" cengir Risman yang wajahnya sudah tenang kembali tidak segugup tadi atau lebih tepatnya mencoba untuk menenangkan dirinya.


Kening Maya mengernyit, Maya mulai mengendus-endus tubuh Risman, mulai dari leher bagian kanan kiri, dada, dan sampai ke bagian perut bagian atas.


Risman yang sedang di endus-endus badannya oleh Maya hanya bisa menahan napasnya karena gugup.


Kening Maya berkali-kali mengernyit karena aroma tubuh Risman memang ada aroma keringat tapi itu hanya di area tubuh yang tertutup baju kaosnya, sedangkan di bagian tubuh yang terbuka hanya ada aroma sabun khas orang baru selesai mandi.


Maya juga mulai bertanya-tanya dalam hatinya, aroma sabun yang menempel di tubuh suaminya bukan aroma sabun yang ada di rumah.


"Bau keringat kan?!" tanya Risman yang mirip seperti penggiringan opini agar Maya menyetujui ucapannya.


Maya mengangguk kecil meski di dalam hatinya dia masih ragu, tapi dia tidak mau membuat masalah kecil ini semakin panjang, lagi pula Risman kan baru saja pulang dari tempat hiburan dengan anak-anaknya, mana mungkin Risman berAnita macam-macam.


"Yuk kita masuk ke dalam!" ajak Risman menggandeng tangan Maya menyusul anak-anak mereka yang sudah duluan masuk ke dalam rumah. Maya manut saja ditarik masuk oleh Risman.


"Sayang tolong buatin aku kopi dong!" pinta Risman saat mereka sudah masuk ke dalam rumah.


Risman saat ini sedang bersandar di sofa ruang keluarga bergabung dengan anak-anaknya langsung menonton televisi setelah pulang dari tempat hiburan.


"Oke" angguk Maya.


Maya mengalihkan pandangannya ke arah Ilham anak bungsunya yang sedang meniru gerakan tokoh kartun pahlawan kesukaannya. "Kalau Adek mau dibuatin apa sama Mama?" tanya Maya pada si bungsu tampannya


"Pengen susu coklat, Ma!" jawab Ilham


"Kalau Kakak mau dibuatin apa?" kini Maya beralih bertanya ke arah Dinda anak tertuanya


"Es jeruk aja, Ma!" sahut Dinda yang kepalanya masih tertunduk ke arah layar HP-nya


"Oke" Maya menggangguk mengerti dan berjalan menuju dapur.


Di dapur ada Anita pembantu muda di rumah ini yang memang menginap di rumah ini.


Anita sedang membuat bubur untuk Kakek Anwar, dia mengaduk-aduk bubur di dalam panci.


Maya memasuki area dapur dan saat melewati tubuh Anita yang sedang berdiri di depan kompor, Maya mencium aroma sabun yang sama seperti aroma milik Risman suaminya.


Deg, hati Maya tidak tenang setelah mencium aroma tubuh Anita meski hanya selewat. Dia takut kalau orang yang menghamili Anita adalah Risman suaminya sendiri.


Maya sedikit melamun saat mengambil cangkir dan gelas-gelas di rak piring.


'Kenapa aroma Anita mirip seperti aroma tubuh Mas Risman?' batin Maya bertanya-tanya.


'Tidak mungkin' Maya menggeleng kepalanya kuat-kuat. 'Mas Risman tidak mungkin selingkuh!' yakin Maya dalam hati. 'Di luaran sana banyak wAnitata cantik yang mengejar Mas Risman tapi tidak pernah digubris olehnya' Maya mencoba mengingat-ingat bukti kesetiaan Risman kepada dirinya.


Maya dan Risman berpacaran sejak SMP sampai mereka lulus kuliah dan selama itu pula Risman tidak pernah berselingkuh. Setiap ada wAnitata yang mendekatinya, Risman selalu menanggapi mereka dengan dingin dan ketus.


"Sayang!" panggil Risman yang sedang berjalan ke ruang dapur.


"Iya!" sahut Maya dan Anita bersamaan.


Maya dan Anita saling berpandangan, sedangkan Risman langsung terhenti dari langkahnya.


"Kenapa kamu ikut menyahut, An?" tanya Maya dengan wajahnya yang tidak bersahabat


"Itu eu... eu..." Anita gugup dan bingung mau menjawab apa


Detak jantung Maya mulai berdetak kencang karena rasa marah dan tegang mendengar jawaban Anita pembantu termudanya itu.


Risman yang memantung di tempatnya juga deg-degan.


"Itu apa An?" tuntut Maya meminta jawaban yang jelas


"Itu eu" Anita masih belum bisa memberikan jawaban karena dia belum menemukan alasan yang tepat.


"Anita mungkin salah dengar sayang!" celetuk Risman


"Ah iya betul! Tadi saya salah dengar Bu! Saya kira Bapak lagi manggil saya" sahut Anita ikut membenarkan pendapat Risman


"Tapi dari kata Anita ke kata sayang itu jauh lho?" pojok Maya yang masih belum mempercayai alasan Anita


"Sudahlah sayang! Mungkin Anita sedang tidak konsentrasi jadinya pas ada suara yang manggil dia langsung nyaut" bela Risman mencoba menyelamatkan Anita dari pojokan Maya Istrinya.


Perkataan Risman memang ada benarnya juga, Maya juga terkadang suka menyahut ketika sedang tidak konsentrasi saat ada orang yang memanggil.


"Oh iya kopi buat aku mana, sayang?" tanya Risman mencoba mengalihkan arah pembicaraan.


"Eh" Maya tersadar bahwa minuman pesanan Risman dan anak-anaknya belum dia buat karena dia terlalu sibuk dengan lamunan dan dugaannya.


"Kamu dari tadi ngapain sih, yank?" tanya Risman yang terkekeh melihat Maya yang belum membuat satu pun minuman yang Risman dan anak-anaknya pesan.


Risman berjalan mendekat ke arah Maya.


"Aku lagi banyak pikiran, Mas!" jawab Maya yang sedang bergegas mengambil bubuk kopi di sebuah toples.


"Pasti banyak masalah ya di kerjaan kamu?!" tebak Risman


"Hmm" angguk Maya


Risman telah sampai di samping Maya, dia langsung mengelus sayang rambut Maya yang sedang membuat kopi untuknya.


"Kamu jangan terlalu stres ya sayang" kali ini Risman mengecup sayang puncak kepala Maya.


Anita yang sedang mengambil mangkuk untuk tempat wadah bubur yang sedang dia buat mengeram cemburu saat Risman sedang bermesraan dengan Maya.


Mangkuk yang Anita pegang sengaja dia lepaskan dari genggaman tangannya karena dia sangat tidak tahan melihat kemesraan Risman dan Maya.


Prang


Mangkuk itu meluncur jatuh ke atas lantai keramik rumah ini.


"Aaaa" Anita berpura-pura berteriak saat mangkuk itu jatuh


Maya dan Risman menoleh ke arah Anita saat mendengar suara mangkuk pecah dan Anita yang berteriak.


"Maaf Bu!" ucap Anita dengan wajah menyesalnya. "Tangan aku tadi tiba-tiba sakit, jadi tidak sengaja menjatuhkan mangkuk ini" ucap Anita dengan suara bergetar sambil memunguti pecahan mangkuk.


Hebat sekali akting Anita sampai-sampai membuat Maya yang tadi sempat ketus kepadanya kini malah berjalan mendekat ke arah Anita dan membantu memunguti pecahan mangkuk yang sedang Anita punguti.


Swus


Aroma sabun dari tubuh Anita tercium kembali dan tercium jelas di hidung Maya dengan jarak yang begitu dekat.


"An, kamu habis mandi ya?" tanya Maya sambil menatap ke arah Anita yang kita mematung mendengar pertanyaan Maya.


Risman yang ada di belakang Maya juga ikut mematung.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part    6: Minta Jatah


Aroma sabun dari tubuh Anita tercium kembali dan tercium jelas di hidung Maya dengan jarak yang begitu dekat.


"An, kamu habis mandi ya?" tanya Maya sambil menatap ke arah Anita yang kita mematung mendengar pertanyaan Maya.


Risman yang ada di belakang Maya juga ikut mematung.


"Tidak Bu!" jawab Anita tenang. Dia tidak mau mengulangi kesalahannya seperti tadi, gugup dalam menjawab pertanyaan Maya.


"Kok aroma kamu kayak orang habis mandi?" cecar Maya.


"Iya kah?" Anita mulai menciumi tubuhnya sendiri. "Oh mungkin efek bau parfum kali, Bu!" lanjut Anita beralasan.


"Kayaknya tidak ada aroma parfum seperti ini!" sahut Maya.


Anita mengumpat dalam hati. 'Maya si*lan. Cerewet banget sih jadi orang'


"Ada kok Bu!" timpal Maya sambil tersenyum. "Ibu kan seringnya pakai parfum mahal, jadi Ibu tidak tahu ada aroma parfum seperti yang aku pakai!"


"Tidak ah, ini aromanya bukan aroma parfum kok. Ini aromanya khas aroma orang yang baru mandi!" Maya tetap bersikeras.


'Maya si*lan!' umpat Anita lagi. Namun di permukaan Anita tersenyum mAnitas ke arah Maya. 'Ayo An cari jalan supaya Nenek lampir ini tidak nanya-nanya lagi' Dalam waktu yang singkat itu Anita memiliki sebuah ide.


"Aw" ringis Anita sengaja mengiris tangannya dengan ujung-ujung tajam mangkuk yang dia pegang.


Maya yang memang baik hati, kaget saat melihat tangan Anita berdarah karena terluka oleh pecahan mangkuk.


Maya memegangi tangan Anita dan segera mengambil tisu dan menutup luka itu dengan tisu agar darah terserap oleh tisu itu.


"Kamu pegangin dulu ya! Ibu mau ambil kotak dulu!" Maya bergegas berdiri untuk mengambil kotak obat.


"Sayang!" panggil Risman menghentikan langkah Maya.


Maya menoleh.


"Kamu tidak usah mengurusi Anita! Dia sudah besar! Dia bisa mengobati dirinya sendiri! Salah siapa dia ceroboh kaya gitu!" ucap Risman dengan nada suara sinisnya sambil melirik ke arah Anita.


Anita menundukkan kepalanya karena sedih mendengar perkataan Risman.


Maya terdiam melihat kejadian ini. Dia kaget melihat Risman bersikap sinis kepada Anita. Kini hatinya mulai ragu dan mulai hilang rasa curiganya kepada Risman. Maya kini yakin bahwa Risman suaminya bukanlah orang yang menghamili Anita pembantu mudanya.


"Kamu buatin aku kopi aja, sayang!" perintah Risman. "Dan kamu Anita, sana obati lukamu sendiri!" sarkas Risman yang dalam nada bicaranya tidak ada kelembutan sedikit pun.


"Baik, Pak!" jawab Anita lirih.


Anita mulai bangkit dari posisi jongkoknya, kakinya mulai ia langkahkan menuju lemari kotak obat.


"Jangan lupa nanti selesai ngobatin tanganmu, itu pecahan mangkuk dibersihkan!" perintah Risman.


Kini Risman mulai melihat ke arah Maya lagi. "Sini sayang!" panggilnya. "Lanjutin buat kopi! Aku sudah kangen pengen minum kopi buatan kamu!" rajuk Risman manja.


Maya mengangguk.


Maya kini sudah kembali mendekati Risman dan melanjutkan membuat minuman untuk Risman dan anak-anaknya dengan posisi tubuhnya sedang dipeluk oleh Risman dari belakang.


"Geli, Mas!" Maya kegelian karena Risman beberapa kali mengecup leher Maya. "Jangan kaya gitu ah! Malu dilihat Anita!" bisik Maya.


"Biarin aja yank! Kalau pembantu tahu diri mah bakalan langsung pergi dari ruangan ini!" sahut Risman berbisik.


"Ah" kaget Maya yang telinganya digigit oleh Risman.


Bukk


Maya menyikut tubuh Risman karena telah menggigit telinganya. "Kamu apa-apaan sih, Mas! Masih ada Anita di ruangan ini! Malu tahu!" seru Maya berbisik.


Anita yang sedang mengobati luka di tangannya di ruangan ini sebal melihat pemandangan kemesraan antara Maya dan Risman.


Risman tiba-tiba menoleh ke arahnya, Anita cemberut. "Anita kamu ngapain di situ? Sana pindah tempat!" seru Risman dengan nada tidak bersahabatnya namun salah satu matanya mengedip ke arah Anita. Maya yang membelakangi Risman tidak melihat hal ini.


"Baik, Pak!" Anita pergi dengan perasaan kesal dari ruangan itu sambil membawa kotak obat.


"Hiss" desis Maya. "Kamu jangan jahat-jahat gitu dong sama Anita! Meski dia pembantu kita tapi dia juga manusia!" nasehat Maya agar Risman tidak terlalu kejam kepada Anita.


"Iya sayang!" jawab Risman lembut. "Aku akan baik sama Anita!" lanjut Risman. 'Aku akan mencintai Anita dan menyayangi Anita seperti aku mencintai dan menyayangimu ya, Maya!' lanjut Risman lagi dalam hati.


"Janji ya!" pinta Maya.


"Iya, Mas janji!" senyum Risman lalu lelaki itu mencium puncak kepala Maya.


Maya kembali melanjutkan kegiatannya.


"Sayang, nanti malam Mas minta jatah ya!" bisik Risman.


"Gimana nanti aja ya!" sahut Maya.


"Lah kok gitu?" Risman merajuk manja.


"Lah kita kan tidak tahu, kalau nanti malam Ilham pengen tidur bareng kita gimana?"


"Kita tungguin Ilham sampai tidur pulas, yank!" bisik Risman. "Tapi nanti malem aku pengen mainnya di dalam mobil ya!" pinta Risman.


"Hah!" Maya kaget mendengar hal itu.


Risman adalah laki-laki yang suka berfantasi liar dan ingin mempraktekkannya di duAnita nyata. Untung saja Maya istrinya tidak keberatan dengan semua fantasi liar suaminya asalkan masih di batas normal.


"Mas lagi pengen rasain fantasi main di mobil, yank!" bisik Risman. "Kita sudah lama banget lho tidak main di dalam mobil! Apalagi di tangga, kita tidak bisa main di tangga sudah lebih dari setahun lamanya!"


"Masalahnya kan rumah tidak pernah sepi, Mas!" jawab Maya berbisik. "Kalau sepi sih aku tidak keberatan, Mas!"


"Libur sekolah semester depan, anak-anak suruh main ke rumah Ibu dan Ayah kamu ya di kampung!"


"Terus Anita?"


"Anita juga pulangin dulu ke kampung, kita kasih dia liburan selama dua minggu!"


"Haish" desis Maya. Kini jemari Maya mencubit perut Risman. "Kamu itu dari dulu tidak ada berubahnya ya, Mas!"


Risman hanya tertawa renyah.


Anita mengepalkan tangannya di balik tembok. Dia ternyata mengintip Risman dan Maya di ruang dapur.


Minuman yang dibuat oleh Maya sudah jadi. Risman dan Maya mulai meninggalkan ruang dapur dengan nampan minuman yang dibawa oleh Maya, sedang Risman mengYonor dari belakang.


Anita yang masih mengintip segera bergegas pergi dari sana takut ketahuan kalau dia sedang mengintip.


"Nanti malam kasih Mas jatah ya!" bisik Risman yang saat ini sedang mengYonori Maya.


"Jangan bahas kaya gitu Mas! Takut anak-anak denger!" Maya bersemu merah karena malu.


"Iyain dulu ya!" pinta Risman.


"Iya, iya!" sahut Maya dengan pipinya yang sudah memanas.


"Yes!" seru Risman kegirangan mendapatkan jawabann iya dari istrinya.


Maya tersenyum malu-malu mendengar suara Risman yang sedang kegirangan itu.


Maya dan Risman sudah sampai di ruang tengah di mana anak-anaknya sedang menonton televisi.


"Ini susu coklat buat adek! Dan ini buat kakak!" Maya meletakan minuman untuk anak-anaknya. Sedangkan kopi buat Risman sudah diambil oleh Risman sendiri.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part   7: Anita Berhati Busuk


Keluarga kecil Maya masih ada di ruang tengah sedang menonton televisi.


"Kak!" panggil Maya kepada Dinda anak tertuanya.


Dinda tidak menoleh.


"Kak Dinda!" ulang Maya memanggil anak tertuanya.


Maya kini mulai mendekati anaknya dan menepuk pelan pundak Dinda.


"Kak!" panggilnya lagi.


"Eh iya, Ma!" Dinda terperanjat kaget setelah ditepuk pundaknya oleh Maya.


Maya tersenyum. "Kakak sudah ngerjain PR hari ini belum?" tanya Maya.


Dinda menepuk keningnya. "Aduh, Kakak lupa Ma!" Dinda baru ingat bahwa hari ini dia ada PR matematika dan besok harus dikumpulkan meski besok tidak ada jam pelajaran matematika. "Tunggu sebentar ya Ma!" Dinda meletakkan HP-nya di atas sofa dan gadis muda yang masih berusia tiga belas tahun itu segera berlari menuju kamarnya untuk mengambil buku PR-nya.


Pandangan mata Maya tiba-tiba tertarik ke layar HP anaknya yang sedang tergeletak di sofa. Ada pesan masuk dari sebuah nomor yang diberi nama DAnita. Pesan dari DAnita terpampang di layar utama tapi hanya sebagian saja.


"Yank, kamu besok jadi ke tempat Dita kan?! Kalau jadi aku titip..." isi pesan DAnita tidak terbaca lagi karena di layar utama notifikasi pesan tidak akan ditampilkan secara utuh.


"Ma!" Dinda sudah kembali ke ruang tengah dengan buku di tangannya.


Maya mengalihkan pandangannya dari layar HP ke arah Dinda anaknya dan tersenyum.


Dinda sudah duduk kembali namun kali ini dia duduk di atas karpet agar memudahkannya menulis di atas meja ruang tengah.


Dinda dengan segera membuka lembaran bukunya. "Ini Ma PR-nya!" tunjuk Dinda.


Maya melongok melihat PR anak perempuannya itu, banyak angka-angka yang tertulis di setiap nomor, namanya juga matematika ya sudah pasti banyak angka di setiap nomor soalnya, kecuali kalau soal bercerita.


"Dinda tidak paham sama yang soal ini, Ma!" tunjuk Dinda ke soal nomor tiga.


"Kamu tidak pahamnya di mananya sayang?" tanya Maya.


"Dinda kan kerjain soalnya ya, Ma! Tapi jawaban Dinda selalu salah, padahal Dinda sudah cek, jawaban Dinda bener kok, sesuai sama di coret-coretan Dinda!"


"Gimana sayang coba ulangi!" pinta Maya yang tidak bisa mendengar dengan jelas penjelasan dari Dinda karena anak bungsunya sedang heboh meniru gerakan dan gaya bicara tokoh kesukaannya.


Dinda pun mengulanginya lagi namun Maya belum bisa mendengar dengan jelas karena Ilham semakin heboh.


"Dek, jangan terlalu keras dong ngomongnya!" kesal Dinda kepada Ilham.


Ilham yang sedang asyik dengan kegiatannya tidak menggubris ucapan Dinda.


Dinda yang tidak digubris mulai bergerak untuk mendekati Ilham dan memarahinya lebih keras.


"Sudah Kak!" larang Maya. "Kita pindah tempat saja ya!" ajak Maya menyarankan bahwa mereka saja yang pindah tempat daripada mengganggu kesenangan Ilham yang memang di usianya sedang seru-serunya meniru dan heboh saat menonton acara kesukaannya.


"Baiklah!" Dinda setuju dan tidak jadi memarahi Ilham.


"Mas, aku ke kamar Dinda dulu ya!" pamit Maya kepada Risman.


Risman mengangguk mengiyakan. "Iya!" jawab Risman.


Dinda dan Maya berjalan meninggalkan ruang tengah dan menuju ruang kamar Dinda. HP Dinda yang tadi tergeletak pun diambil oleh sang empunya dan ikut dibawa ke ruang kamarnya.


Risman melihat kepergian Maya, kedua pandangan matanya tetap mengikuti Maya dan Dinda sampai mereka berdua benar-benar masuk ke dalam kamar Dinda.


Setelah merasa aman, Risman bangkit dari duduknya lalu menghampiri Ilham.


"Dek, kalau nanti Mama tanya Papa kemana? Kamu jawab Papa lagi jawab telepon penting ya!" pesan Risman kepada Ilham.


"Baik, Pah!" jawab anak kecil yang masih polos itu


Risman tahu bahwa Maya setiap kali membantu Dinda dalam mengerjakan PR-nya akan lama berada di dalam kamar anak perempuannya itu karena Maya akan menemAnita Dinda belajar mata pelajaran yang lainnya lagi.


Risman mulai berjalan menuju ruang dapur karena dia yakin kalau Anita pasti sudah berada di ruang itu. Dan benar saja saat ini Anita sedang membersihkan pecahan mangkuk yang berserakan di atas lantai dapur.


"Sayang!" seru Risman.


Anita menoleh lalu kedua matanya langsung berkaca-kaca melihat kedatangan Risman.


Risman ikut jongkok dan menggenggam tangan Anita. "Maafin Mas ya! Mas tadi terpaksa berbuat seperti itu karena Maya sedang curiga karena kita memiliki aroma sabun yang sama! Kamu mau kan maafin Mas?!" pinta Risman.


"Iya!" Anita mengangguk lalu dia langsung memeluk Risman. "Mas tahu tidak?! Aku tadi sedih banget pas Mas Risman ketus dan sinis sama aku!" Anita mulai terisak. Anita memang pintar bersandiwara dan membuat orang yang saat ini sedang dipeluknya merasa sangat bersalah.


"Mas minta maaf banget ya sayang!" Risman mengelus rambut Anita dengan sayang.


"Mas, nanti malem Mas datang ya ke kamarku! Aku mau ngasih tahu sesuatu!"


"Kalau nanti malam Mas tidak bisa!" tolak Risman.


"Kenapa?" Anita mendongakkan wajahnya dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Mas harus yakinkan Maya supaya dia tidak curiga lagi sama kita berdua!"


'Kalau curiga dan kita ketahuan malahan bagus dong! Nanti Nenek lampir itu pasti bakalan minta cerai dan aku akan bisa menjadi istri sahnya Mas Risman!' batin Anita. 'Aku tidak sabar menanti Nenek lampir itu tahu tentang hubungan antara aku dengan Mas Risman!' lanjut Anita membatin. 'Tapi kalau aku yang blak-blakan ngasih tahu pasti Mas Risman bakalan marah sama aku! Mudah-mudahan tespekku yang aku sengaja buang di tong sampah dapur ditemukan oleh Nenek lampir itu!'


Anita pembantu muda di rumah ini memang sengaja meletakan tespek miliknya ke dalam tong sampah dapur. Dia juga dengan sengaja melarang Bi Ijah yang akan membuang sampah dengan dalih bahwa Anita saja yang akan membuangnya. Namun alih-alih membuang sampah itu, Anita malah sengaja membiarkannya dan mengatur agar Maya yang membuangnya sendiri, sehingga Maya bisa menemukan tespek yang sengaja dia buang ke tong sampah dapur.


Anita memang sengaja sore tadi membujuk Ilham agar pergi ke taman hiburan, tapi tidak disangka Dinda juga ingin ikut, tapi untunglah Dinda saat sampai di taman hiburan anak itu pamit pergi karena harus bertemu dengan teman perempuannya yang sedang membeli buku di mall itu.


Saat ini Risman yang memunguti pecahan mangkuk itu sedangkan Anita sedang duduk mAnitas di kursi meja makan.


Anita sepertinya lupa dengan tugasnya mengantarkan makan malam untuk Kakek Anwar. Atau mungkin Anita tidak lupa namun dia dengan sengaja tidak segera mengantarkan makan malam untuk Kakek Anwar karena gadis yang sudah tidak perawan itu ingin bermesraan dengan Risman di taman belakang yang aman dari jangkauan CCTV rumah ini.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part    8: Risman Nackal PHP


Warning : Bagi yang belum cukup umur segera menjauh. Kalau tetap nekat mendekat dan baca tanggung dosanya sendiri dan akibatnya sendiri ok😏


Hari sudah mulai gelap karena adzan maghrib sudah berkumandang. Semua orang yang ada di rumah keluarga kecil Maya memang tidak ada satu pun yang melaksanakan sholat karena mereka memang bisa dibilang bukan orang yang taat agama sebab sedari kecil baik Maya dan Risman tidak dibiasakan oleh kedua orangtua mereka dekat dengan Tuhan mereka.


Maya masih ada di ruangan kamar Dinda sedang membantu anak perempuannya mengerjakan PR matematika.


"Ma, yang ini gimana ngerjainnya?" tanya Dinda yang tidak mengerti. "Dinda selalu salah jawabannya meski Dinda menghitungnya dengan tepat!" adu Dinda dengan wajah cemberut.


"Coba Mama lihat coretan-coretan kamu!" pinta Maya. Dinda menggeserkan bukunya ke hadapan Maya. "Mama coba periksa ya di mana letak kesalahan kakak ngerjainnya!" Maya memeriksa coret-coretan milik Dinda. "Ketemu!" seru Maya.


Dinda langsung mendekat. "Di mana salahnya Ma?" tanya Dinda dengan segera.


"Ini di sini nih!" tunjuk Maya. "Harusnya kakak kerjain dulu yang ada di dalam kurung, nah setelah kakak dapat hasil dari angka-angka di dalam kurung, baru kakak kerjakan yang berada di luar dalam kurung. Nih kayak gini nih!" Maya mulai meraih pulpen dan menunjukan cara yang benar. Dinda mengamati dengan serius.


Di ruangan kamar Kakek Anwar, laki-laki renta itu yang tidak bisa apa-apa lagi dan hanya bisa terbaring di atas ranjang hanya bisa menahan rasa laparnya.


"Maya! Maya!" panggil Kakek Anwar lirih. "Ayah lapar Maya!" keluhnya kepada orang yang bisa dipastikan tidak akan bisa mendengar suaranya saat ini.


"Maya!" panggilnya lagi dengan suara yang lirih.


Kakek Anwar adalah Ayah kandung dari Risman, Ibu Risman sudah lama meninggal dan hanya tinggal Ayah Risman seorang yang belum meninggalkan duAnita ini.


Kakek Anwar yang statusnya adalah Ayah Risman tapi dia lebih sering menyebut nama Maya dibandingkan dengan nama anaknya karena Maya lebih perhatian kepada dirinya dibandingkan anak lelakinya.


Kakek Anwar sangat bersyukur mempunyai menantu yang baik seperti Maya, yang selalu memperhatikannya dan mengurusnya disela-sela kesibukannya sebagai Ibu rumah tangga dan wAnitata karir.


"Maya!" lirihnya lagi.


Di lain tempat orang yang bertanggungjawab untuk memberikan dan menyuapi kakek Anwar makanan sedang bermesraan dengan anak laki-laki tua itu.


Risman dan Anita sedang duduk di atas rerumputan di taman belakang. Kepala Anita disenderkan ke bahu Risman.


"Mas, aku belum puas!" ucap Anita manja.


"Belum puas apa sayang?" tanya Risman.


"Belum puas digoyang kamu Mas!" Anita kini mulai meraba si kecilnya Risman. Tangan Risman langsung memindahkan tangan Anita. "Kenapa?" Anita mendongakkan wajahnya menatap ke arah Risman.


"Mas takut kalau si kecil bangun!" jawab Risman.


"Kalau bangun malah bagus Mas! Nanti Anita manjain si kecilnya Mas Risman!" jawab Anita yang mulai mengecupi leher Risman.


Risman mulai menjauhkan tubuhnya dari tubuh Anita. "Di sini?!" tanya Risman. "Di taman ini?!" Risman memastikan.


"Di kamar aku Mas!" jawab Anita.


"Kamu gila!" ucap Risman. " Maya lagi di rumah! Kalau dia tidak sengaja lihat aku keluar dari kamar kamu, habislah aku!" Risman tidak setuju dengan kemauan Anita yang mengajaknya main ahem-ahem di dalam kamar pembantu muda itu. "Tapi kalau kamu mau main di sini! Mas mau kok dipuasin sama kamu!" bisik Risman yang mulai mendekatkan tubuhnya kembali.


"Sekarang Mas yang gila!" sahut Anita. "Kalau satpam rumah ini keliling habislah kita!" jelas Anita.


"Dia tidak akan keliling di jam-jam seperti ini!" sangkal Risman. "Gimana mau tidak?!" tawar Risman.


"Tapi di sini aman kan dari jangkauan CCTV?"


"Tenang, di sini aman kok! Tempat ini kan titik buta CCTV di taman belakang ini!" jelas Risman.


"Berarti aman ya!"


"Iya, aman banget!" angguk Risman.


"Mas kenapa tidak nonaktifkan semua CCTV di luar rumah ini seperti semua CCTV di dalam rumah?!"


"Karena ini demi keamanan sayang!" jawab Risman. "Takut ada perampok atau pencuri masuk ke rumah ini, makanya CCTV-nya tidak Mas nonaktifkan!" jelas Risman.


"Oh" Anita mengangguk-angguk. Gadis muda itu kini mulai mendekati Risman kembali. "Ayo Mas katanya kita mau main ahem-ahem!" ajak Anita yang tangannya mulai meraba dada Risman. "Aku masih belum puas nih! Tadi pagi biasanya kita main pas Bi Ijah ke pasar malah ada Dinda dan Ilham yang pulangnya lebih cepat dari sekolah mereka! Pas sore ke taman hiburan, Dinda juga ikut, jadi kita tidak bisa lama-lama di hotelnya! Kita lanjutin yang tadi sore yuk Mas!" bisik Anita yang kini sudah menaiki tubuh Risman.


"Ayo!" jawab Risman setuju.


Anita langsung menyerang bibir Risman dengan ganas dan Risman juga mengimbangi serangan Anita.


Tangan Anita mulai melepaskan pakaiannya sendiri, lalu melucuti pakaiannya Risman.


Anita sudah sangat bergairah dan sudah tidak sabar untuk dimasuki oleh Risman kembali.


Tangan Anita mulai turun, kali ini dia membuka kancing celana jeans yang dikenakan Risman dan menurunkan ret sleting lawan mainnya.


Bukk


Tiba-tiba tubuh Anita didorong menjauh dari tubuh Risman.


"Kenapa tiba-tiba dorong aku Mas?" tanya Anita.


"Maaf An! Aku baru ingat kalau malam ini aku akan main bersama Maya agar Maya tidak curiga!" jelas Risman yang mulai memakai pakaiannya kembali.


Anita yang sedang tidak memakai apa-apa memandang kesal ke arah Risman. "Mas Risman PHP!" ucapnya kesal.


"Maaf ya sayang! Mas janji besok kita main sampai puas ya!" janji Risman.


Anita yang memang sedang menginginkan dipuaskan oleh Risman hanya manyun cemberut karena dia harus meredam kembali gairah yang sudah sangat berkobar.


"Terserah Mas saja!" ketus Anita yang langsung memunguti pakaiannya dan segera memakainya kembali.


"Mas minta maaf banget ya!" Risman yang sudah selesai berpakaian mendekati Anita yang saat ini sedang mengancingkan kancing bajunya satu persatu. Anita mengusir Risman dengan gerakan bahunya menandakan bahwa dia sangat marah dan kesal. "Kamu jangan marah ya! Besok Mas beliin perhiasan mau tidak?!" rayu Risman.


"Oke! Aku tunggu perhiasannya ya besok!" jawab Anita yang wajahnya masih cemberut.


"Oke! Kalau gitu Mas masuk ke rumah dulu ya!" pamit Risman.


"Iya Mas silakan! Aku mau ke mini market depan komplek boleh kan Mas! Mau nyari yang adem-adem dulu! Terus juga lagi pengen makan sate juga!" ijin Anita.


"Iya boleh!" jawab Risman.


Anita menengadahkan tangannya. "Minta uangnya dong Mas!"


Risman yang kebetulan memang masih mengantungi dompetnya langsung mengeluarkan dompet itu dari saku celananya dan memberikan beberapa lembar saratus ribuan untuk Anita.


"Makasih Mas Risman sayang!" Anita mencium pipi Risman karena senang diberikan uang oleh lelaki itu.


"Hati-hati!" pesan Risman.


"Beres!"


Anita dan Risman berpisah dan berjalan menuju tujuan mereka masing-masing.


"Ck" decak seseorang yang sedang mengintip di balik tanaman hias yang lumayan rimbun.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part   9: Pengintip Itu Ternyata


Risman bergabung kembali dengan Ilham yang masih berada di ruang tengah.


Di ruang tengah belum ada tanda-tanda kehadiran Maya yang membuat hati Risman tenang.


"Dek, Mama tadi sudah keluar belum dari ruang kamar Kakak?" tanya Risman pada anak laki-lakinya.


"Belum, Pah!" jawab Ilham.


Risman mengangguk-angguk. 'Syukurlah Maya belum keluar dari kamar Dinda!' batin Risman lega.


Risman mulai duduk mendekati Ilham yang kini tengah anteng duduk dan fokus menonton televisi.


"Dek, dek!" panggil Risman berbisik.


"Iya kenapa Pah?" Ilham melihat Risman dengan pandangan lugunya.


"Mm nanti kalau Mama nanya-nanya ke Adek tentang kegiatan Adek di taman hiburan, bilang sama Mama kalau Papa dan Mba Anita nemenin Adek main terus ya!" pinta Risman berbisik.


"Lha kenapa Adek harus bohong Pah? Kan kenyataannya Adek mainnya sendirian di taman hiburan dan hanya diawasi sama penjaga tempat hiburan yang sudah Papa titipin!" Ilham memandang Risman dengan tatapan bertanya-tanya.


"Sudah, Adek jawab saja sesuai permintaan Papa! Nanti Adek, Papa beliin semua mainan yang Adek mau dan Papa bebasin Adek makan permen dan es krim sepuas Adek! Gimana? Mau kan?!" bisik Risman memberikan tawaran yang sangat menggiurkan mengingat Ilham sangat dibatasi oleh Maya dalam mengkonsumsi yang mAnitas-mAnitas terutama es krim.


"Mau mau mau!" jawab Ilham bersemangat dengan pandangan mata yang berbinar karena sangat senang.


"Kalau Adek mau berarti Adek harus jawab apa kalau ditanya-tanya sama Mama?" Risman mulai melatih Ilham agar menjawab pertanyaan sesuai dengan permintaannya.


"Adek harus jawab kalau Papa dan Mba Anita nemenin Adek terus pas main di taman hiburan!" jawab Ilham penuh semangat.


"Bagus!" Risman mengacungkan satu jempol. "Anak Papa kok pinter banget ya!" puji Risman sambil memeluk anak laki-lakinya dan mengecupi puncak kepala Ilham berkali-kali.


***


Anita yang sebentar lagi akan lewat di depan pos satpam Pak Yono dikode oleh Pak Yono dengan batuk-batuk buatannya.


"Uhuk uhuk uhuk" Pak Yono mulai batuk-batuk saat Anita sudah mulai terlihat.


"Uhuk uhuk uhuk" Pak Yono mengode Anita kembali agar Anita melihat ke arahnya, ke arah laki-laki tua yang umurnya sudah lima puluh tahunan.


Anita yang semakin dekat dengan pintu gerbang khusus untuk lewat kendaraan kecil seperti motor atau orang yang tidak membawa kendaraan mulai melihat ke arahnya Pak Yono yang wajahnya sedang tersenyum mesum kepadanya, bahkan matanya Pak Yono berkali-kali terfokus ke arah gunung kembar Anita yang menjulang ke depan seolah menantang siapa saja agar bisa menaklukkannya.


"Apaan sih dari tadi batuk-batuk ga jelas kaya gitu!" sinis Anita.


"Jangan sinis-sinis dong An!" sahut Pak Yono.


Anita hanya memutar kedua bola matanya malas. Anita melanjutkan langkahnya lagi menuju pintu gerbang.


"An, kamu mau kemana?" tanya Pak Yono yang kecewa ternyata Anita bukan sedang datang kepadanya.


"Aku mau kemana itu bukan urusan Pak Yono!" jawab Anita ketus.


"An kalau kamu saat ini butuh bantuan, Bapak siap kok untuk membantu kamu!" 'Dalam meredakan gairah kamu yang tadi tidak jadi dipuaskan Pak Risman' lanjut Pak Yono yang meneruskan perkataannya di dalam hatinya.


"Aku tidak butuh bantuan Pak Yono! Lagipula aku tidak sedang butuh bantuan kok!" sinis Anita yang mulai berlalu dari hadapan Pak Yono dan menutup pintu gerbang dengan keras.


"Ya, siapa tahu kamu perlu bantuan An!" teriak Pak Yono kepada Anita yang sudah menghilang di balik pintu.


Anita masih bisa mendengar dengan jelas perkataan Pak Yono yang diteriakkan kepadanya. "Itu tua bangka ngapain sih sok genit-genit sama aku! Nyebelin banget sumpah!" gumam Anita mengeluhkan sikap Pak Yono yang genit kepada dirinya.


Di pos satpam Pak Yono kecewa berat karena tidak jadi dapat durian runtuh kali ini. "Kirain si Anita datang ke sini mau minta tolong dipuasin, eh ternyata cuma lewat dan malah melengos saja keluar rumah!" gumam Pak Yono yang kecewa. "Aku benar-benar tidak menyangka ternyata Pak Risman yang dikenal setia dan sangat mencintai Bu Maya bisa main serong juga di belakang, hahaha!" Pak Yono terkikik mengetahui hal ini. "Tapi wajar sih kalau tergoda, si Anita wajahnya lumayan, terus badannya beuh mantap banget!" liur Pak Yono menetes saat membayangkan tubuh polos Anita yang beberapa menit yang lalu bisa dia nikmati oleh indera penglihatannya di taman belakang.


Pak Yono meraih HP di saku celananya lalu memutar kembali video yang tadi sempat dia rekam di taman belakang. "Haish gambarnya burem banget!" keluh Pak Yono saat melihat video hasil rekamannya jelek sekali. "Coba saja aku punya HP bagus yang bisa dipakai buat merekam di pencahayaan yang remang-remang sekalipun dan hasilnya jernih. Aku pasti bisa dapat uang banyak dari video ini dan kalau beruntung bisa ikut menikmati tubuh Anita yang aduhai itu! Sluurp" lagi-lagi liur Pak Yono menetes.


Pak Yono adalah orang yang berdecak kecewa saat Risman dan Anita tidak jadi main ahem-ahem di taman belakang rumah. Pak Yono yang tangannya kotor setelah makan bekal yang dia bawa dari rumah di pos satpamnya ingin mencuci tangan, tapi karena air keran di bagian depan rumah sedang rusak jadi dia berjalan ke arah taman belakang karena dia taman belakang ada keran air juga.


Pak Yono tidak berAnita cuci tangan di dalam rumah karena dia tidak enak saja jika masuk ke dalam rumah sebab tugasnya hanya menjaga area luar rumah ini, selain itu dia juga hanya berjaga dari jam setengah enam sore sampai pagi, pukul enam pagi dia pulang ke rumahnya.


Pak Yono tidak sengaja melihat Anita dan Risman sedang berjalan ke arah taman belakang. Dia langsung menyembunyikan dirinya dan melupakan Anitat awalnya pergi ke taman belakang.


Pak Yono terus mengawasi Anita dan Risman yang sedang bermesraan duduk di atas rumput yang membuat tubuh mereka terhalang jika dilihat dari dalam rumah atau balkon rumah karena di belakang tubuh Risman dan Anita ada tanaman bunga yang sangat rapat mengelilingi tepi tembok teras belakang, selain itu pohon besar juga tumbuh di dekat area itu membuat mereka aman dan tidak akan terlihat jika dilihat dari atas. Hanya Pak Yono saja yang bisa melihat dengan jelas kelakuan Anita yang sedang menggoda Risman dengan tangan nakalnya yang beberapa kali memegang si kecilnya Risman.


Pak Yono yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini langsung menyalakan rekaman video di HP-nya dan merekam Anita dan Risman yang sedang berciuman sambil melepaskan semua pakaian mereka kecuali Risman yang masih memakai celana karena tidak berhasil dilepaskan oleh Anita.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part  10: Anita Oh Anita


Anita bukannya pergi ke mini market, dia malah pergi ke rumah sebelah yang dijaga oleh seorang satpam bernama Hendri.


"Hendri!" panggil Anita lirih. "Hendri!" ulang Anita memanggil satpam muda yang pernah ijin kepada Maya untuk mengajak Anita ke pasar malam.


Satpam muda itu menoleh setelah dipanggil dua kali oleh Anita. "Eh An, akhirnya kamu datang juga!" Hendri mulai berjalan mendekati pintu pagar untuk membukakan pintu itu untuk Anita. "Ayo masuk!" Hendri mempersilakan Anita untuk masuk.


Anita masuk ke dalam dan pintu pagar itu ditutup kembali oleh Hendri. "Hen, di rumah lagi tidak ada orang kan?!" tanya Anita memastikan.


"Aman An!" jawab Hendri.


"Mereka lagi kemana? Tumben malam-malam rumah bisa dalam keadaan kosong?!" tanya Anita penasaran.


"Nyonya sama anak-anaknya sedang pergi jalan-jalan dan belanja ke Hongkong!" jawab Hendri. "Sudah jangan kelamaan di sini! Ayo masuk, ada yang sudah tidak tahan dipuasin kamu tuh!" senyum Hendri mengode dan menaik-naikan alisnya menggoda Anita.


"Kamu apaan sih!" Anita senyum malu-malu ke arah Hendri. Anita manut saja saat tangan kirinya di tarik oleh Hendri untuk masuk ke dalam rumah majikannya itu yang lumayan besar.


***


Di dalam kamar anak perempuannya, Maya yang sudah selesai membantu anak perempuannya belajar mulai bertanya dengan hati-hati mengenai DAnita kepada Dinda.


"Kak!" panggil Maya.


"Iya kenapa Ma!" jawab Dinda yang saat ini sedang membereskan buku-buku pelajaran dan sekaligus memasukkan buku-buku pelajaran yang besok akan diajarkan.


"Kamu sudah punya pacar ya?!" tanya Maya hati-hati.


Dinda terhenti dari aktivitasnya. "Kenapa Mama tanya gitu?" Dinda memandang ke arah Maya yang saat ini sedang duduk di ranjangnya.


"Mama pengen tahu saja Kak!" jawab Maya sambil tersenyum.


"Kalau Dinda jujur, Mama marah tidak?!" Dinda menundukkan kepalanya dengan jemari yang saling bertautan karena gugup.


"Mama lebih suka kalau Kakak jujur sama Mama!" Maya meraih tangan Dinda dan menggenggam hangat tangan anak perempuannya.


Dinda yang awalnya menunduk kini menegakkan kembali wajahnya dan memandang ke arah Maya yang masih tersenyum hangat.


"Kakak sudah punya pacar ya?!" tanya Maya sekali lagi.


Dinda mengangguk. "Maaf ya Ma! Kakak kemaren tidak langsung memberitahu Mama bahwa Kakak sudah punya pacar!" Dinda akhirnya memilih jujur kepada Maya.


"Iya tidak apa-apa sayang! Tapi lain kali jangan diumpetin ya!" Maya mengelus sayang rambut Dinda dan menarik Dinda agar duduk di sampingnya.


"Makasih ya Ma karena tidak marah ke Dinda!"


Maya hanya tersenyum.


"Dinda tahu bahwa Mama ingin Dinda jangan dulu berpacaran karena umur Dinda baru tiga belas tahun. Tapi Dinda kesepian Ma!" kedua mata Dinda mulai berkaca-kaca. "Mama tahun ini sering banget pergi keluar kota! Dinda kesepian tidak ada teman untuk ngobrol di rumah! Dinda juga kesepian kalau hari libur pas Mama lagi di luar kota!" Dinda mulai meneteskan air matanya. "Dinda tahu Mama keluar kota itu untuk kerja, untuk bahagiain Dinda dan Adek. Tapi Dinda tetap merasa sedih dan kesepian Ma! Makanya Dinda terima ajakan temen Dinda pas dia minta Dinda jadi pacarnya!" jelas Dinda.


Maya memeluk anaknya yang sedang menangis. "Maafin Mama ya sayang!" Maya sangat sedih mengetahui hal ini. Ternyata Dinda sangat kesepian jika dia sedang bekerja keluar kota.


"Ma, kalau Mama bisa mengajukan sebuah permohonan ke kantor tempat Mama kerja, tolong dong ajuin Mama agar tidak perlu bekerja keluar kota lagi! Dinda beneran tidak suka kalau Mama jauh-jauh dari Dinda!"


Maya hanya terdiam karena dia tidak bisa mengajukan sebuah permohonan seperti itu kantor tempat dia bekerja. Mungkin usaha toko Maya dan Risman yang sudah mempunyai beberapa cabang di kota ini sudah sangat cukup membiayai kehidupan mereka, tapi keadaan keuangan mereka belum kuat. Maya hanya ingin mempunyai simpanan uang jaga-jaga agar jika toko mereka kenapa-napa, hidup mereka tidak langsung jatuh sekaligus seperti jaman dulu, jaman-jamannya Dinda masih berusia lima bulan.


Maya dan Risman pernah mengalami titik terendah dalam hidup mereka saat usia pernikahan mereka baru satu tahun lebih dan itulah yang membuat Maya masih bekerja hingga saat ini karena hanya Maya yang bisa menghasilkan uang. Sedangkan Risman meski sama-sama lulusan strata satu tapi Risman seringnya tidak bertahan lama bekerja di sebuah perusahaan.


Toko yang sekarang sudah memiliki beberapa cabang di kota ini juga dimodali oleh Maya dan Risman hanya mengelolanya sampai sebesar ini.


***


Maya keluar dari dalam kamar Dinda dan mendapati Risman sedang menggendong Ilham.


"Ilham sudah tidur Mas?!"


"Iya! Dia ketiduran tadi pas nonton televisi!" jawab Risman berbisik. "Mas pindahin Ilham ke kamar dia dulu ya!" pamit Risman.


Maya hanya mengangguk.


Risman melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya Ilham, sedangkan Maya berjalan menuju ruang kamar Kakek Anwar. Seharusnya Maya sepulang kerja langsung ke ruang kamar Kakek Anwar tapi dia disibukkan dengan sampah-sampah yang belum dikeluarkan oleh Anita ataupun Bi Ijah.


Krieut


Maya membuka pintu kamar Kakek Anwar. "Maya masuk ya Yah!" seru Maya dari balik pintu.


"Ayah!" pekik Maya kaget saat melihat Kakek Anwar sedang menangis. "Ayah kenapa?!" tanya Maya seraya berjalan mendekati Kakek Anwar.


"Ayah lapar, Tan!" jawab Kakek Anwar lirih.


"Sebentar ya!" Maya bergegas menuju dapur untuk mengambilkan makanan untuk Kakek Anwar.


"Si Anita kemana sih? Kenapa ceroboh sekali dia sampai-sampai Ayah Anwar kelaparan. Awas saja dia kalau ketemu nanti aku marahin!" keluh Maya yang sangat kesal kepada Anita karena telah menelantarkan Kakek Anwar.


Maya mengambil mangkuk dan bubur di dalam panci yang sudah dingin. Jika keadaan Kakek Anwar tidak sedang kelaparan mungkin Maya akan menghangatkan bubur di dalam panci itu, namun saat ini Kakek Anwar sudah sangat kelaparan mengingat jadwal makan malamnya itu pukul lima sore tapi sudah jam delapan malam Anita belum menyuapkan satu sendok makanan pun untuk Kakek Anwar.


Di ruang kamar Ilham, Risman sedang membaringkan tubuh anaknya lalu menyelimutinya. "Adek memang anak paling pintar!" tangan Risman mengelus kepala Ilham. "Tahu saja nanti malam Papa sama Mama mau bercocok tanam. Dengan tidur cepatnya kamu maka Papa sama Mama bisa cepat-cepat senang-senangnya tanpa menunggu larut malam!" Risman mengecup kening anak lelakinya yang sedang tidur. "Met bobok ya nak! Moga kamu mimpi indah!" bisik Risman yang tidak mungkin di dengar anaknya karena Ilham sudah tertidur dengan sangat lelap.


"Sekarang waktunya tutup pintu garasi!" ucap Risman pada dirinya sendiri.


Risman melangkahkan kakinya dengan riang menuju garasi rumahnya sambil bersiul-siul senang.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part    11: Anita Yang Licik


Warning : Anak dibawah umur dilarang mendekat.


Kalau tetep nekat tanggung sendiri akibatnya dan dosanya.


Risman yang sudah berada di garasi rumahnya dihampiri oleh Pak Yono karena Risman terlihat kesusahan menutup pintu garasi.


"Saya bantu ya Pak!" seru Pak Yono yang langsung ikut menarik pintu garasi itu.


Risman dan Pak Yono mulai menarik pintu itu namun pintu garasi tidak kunjung bisa digerakkan.


"Lho kok susah banget ya!" celetuk Risman.


"Mungkin macet kali Pak! Kan sudah lama pintu ini tidak digunakan (ditutup)" sahut Pak Yono.


"Iya kayaknya! Aduh bisa gagal total nih!" timpal Risman yang keceplosan.


"Gagal total? Gagal total apanya Pak?!" Pak Yono penasaran.


"Gagal total pintunya tidak bisa ditutup Ko!" jawab Risman berbohong dan tidak menceritakan yang sebenarnya bahwa nanti malam dia dan Maya akan main ahem-ahem di dalam mobil.


"Oh" Pak Yono mengangguk-angguk dan langsung mempercayai karena jawaban Risman yang sangat alami.


Mereka berdua mulai mencoba menarik pintu garasi lagi namun masih macet.


"Pak mending kasih minyak dulu Pak! Biar lancar! Ini mah kayaknya karatannya sudah terlalu parah!" saran Pak Yono.


"Iya deh!" Risman setuju dan mulai mengambil pelumas di tempat perkakasnya yang berada di pojok bagian dalam garasi mobil.


Risman dibantu Pak Yono melumuri setiap bagian besi yang akan dilewati oleh pintu geser itu.


"Pak, kenapa sih kok di rumah ini garasinya dipasangin pintu? Bukannya sudah aman ya?! Rumah ini kan punya pintu gerbang!" Pak Yono merasa heran saat mendapati rumah ini memiliki pintu di garasinya, sedangkan area rumah ini sudah diamankan oleh pagar dan pintu pagar yang tinggi menjulang.


"Biar tidak banyak dedaunan kering saja yang masuk! Biar tidak banyak debu juga dari luar yang terbawa angin masuk ke dalam garasi!" jawab Risman lancar.


Sebenarnya awal Anitat pembuatan pintu garasi memang ditujukan untuk hobi dan fantasi liar Risman yang suka bermain di dalam mobil, supaya tidak ada yang melihat dan tidak ketahuan oleh pekerjanya maka Risman memasangi garasi dengan pintu.


Pintu garasi telah berhasil ditutup. Risman dan Pak Yono kini terpisah oleh pintu garasi itu, Risman berada di dalam dan Pak Yono berada di luar karena saat menutup pintu, mereka berdua berada di sisi yang berlawanan.


"Makasih ya Ko!" seru Risman dari dalam garasinya.


"Iya Pak, sama-sama!" jawab Pak Yono.


***


Di lain tempat, Anita pembantu muda di rumah Maya dan Risman tengah diehem-ehem oleh seorang lelaki di rumah besar sebelah rumah Maya dan Risman.


"Seperti biasa, kamu memang luar biasa An!" puji lelaki itu.


"Kamu juga sama luar biasanya! Dari dulu tidak berubah keperkasaannya!" sahut Anita.


"Kalau sama Risman masih perkasaan siapa?"


"Dua-duanya sama perkasanya!"


"Tapi tidak sehebat aku kan?!"


"Sama hebatnya!"


"Lagi yuk An!" ajak lelaki itu meminta tambah kepada Anita untuk ehem-ehem ronde kedua.


"Tapi jangan terlalu keras kayak tadi! Aku lagi hamil!" sahut Anita.


"Kamu lagi hamil An?!" laki-laki itu langsung duduk tegak. Tangannya menyentuh perut Anita. "Kira-kira ini anaknya siapa ya?!" tanyanya penasaran. "Anakku atau Risman?!" lelaki itu bertanya-tanya.


"Entahlah anak siapa! Tapi yang mau aku percayai ini anak Risman! Karena aku ingin menikah dengan Risman!" sahut Anita.


"Kenapa kamu lebih milih Risman sih dibandingkan aku?! Kamu setiap aku ajak nikah selalu nolak!"


"Karna Risman jauh lebih ganteng daripada kamu!" jawab Anita jujur.


"Tapi ganteng pun percuma! Toh Risman cuma dapat bekasanku saja! Hahaha" tawanya menggelegar.


"Kamu juga pakai bekasan Risman!" timpal Anita balik.


"Tapi kan aku yang perawAnitan kamu An!" ucap lelaki itu yang mulai menaiki tubuh Anita kembali. "Risman marah tidak pas tahu kamu sudah tidak perawan?!"


"Dia hanya nanya kenapa aku sudah tidak perawan! Aku jawab saja kalau aku diperk*sa!"


"Diperk*sa apa diperk*sa nih?!" lelaki itu memainkan kedua alisnya. "Bukannya dulu kamu sukarela ya menyerahkannya setelah aku iming-imingi uang dan hape bagus?!"


"Masa aku jawab jujur kayak gitu ke Risman?!"


"Hahaha" laki-laki hanya tertawa. "Oh iya, kamu sama Risman kalau main suka pakai pengaman tidak?!" tanyanya penasaran.


"Iya, suka pakai pengaman! Pas hari pertama juga dipakai sama Risman, dia pakai pengaman! Tapi bulan kemarin-kemarin dia dua kali tidak pakai pengaman karena pengamannya aku buang sewaktu dia lengah!" jawab Anita. "Aku kan pengen hamil anak dia! Masa dia pakai pengaman terus." kesal Anita. "Aku buang saja pengamannya ke tong sampah pas kita lagi mau main di motel!" Anita sangat kesal jika mengingat hal itu.


"Berarti cuma aku saja dong yang nikmatin kamu tanpa pakai pengaman?!"


"Kalau aku minta kamu pakai pengaman, memangnya Bapak mau?!" tanya Anita yang keceplosan memanggil Bapak kepada laki-laki yang saat ini ada di atas tubuhnya.


"Jangan panggil aku Bapak!" tegur laki-laki itu yang sangat tidak suka dipanggil Bapak oleh Anita. "Kelihatannya tua banget kalau dipanggil Bapak!" keluhnya.


'Nyatanya kan sudah tua! Sudah berumur lima puluh tahunan ke atas kan!' batin Anita mencemooh.


"Maaf, aku tadi keceplosan sayang!" Anita berusaha meredamkan rasa kesal laki-laki di atas tubuhnya. "Aku kebiasaan manggil Risman Bapak sih kalau lagi ada orang lain di rumah mereka! Jadinya kebawa-bawa deh kesini!" tangan Anita mulai menjelajahi dada laki-laki di atas tubuhnya. Jemarinya dia mainkan di dada laki-laki itu. "Ayang Pardi jangan marah ya!" rayu Anita.


"Iya, aku tidak akan marah!" sahutnya. "Yuk kita lanjutin ronde kedua!" ajaknya yang langsung menyosor Anita.


Anita menghentikan gerakan Pardi. "Dibayarnya dua kali lipat kan?!" Anita memastikan bayaran yang akan dia terima kali ini dua kali lipat.


"Sudah tenang saja! Itu mah gampang!" Pardi langsung menyosor lagi ke arah Anita, namun lagi-lagi Anita menahannya. "Apalagi?!" kesalnya.


"Tolong beliin obat pereda nyeri menstruasi sama sate di depan pintu masuk kompleks dulu dong yang!" pinta Anita.


"Kenapa kamu beli obat kayak gitu?! Bukannya kamu lagi hamil?!" tanya Pardi penasaran.


"Aku lupa belum ngasih makan tua bangka di rumah itu! Otomatis nanti pas pulang ke rumah dan tidak kasih alasan yang tepat bisa kena damprat si Nenek Lampir (Maya)" jawab Anita.


"Oh!" Pardi mengangguk mengerti. Dia langsung turun dari tubuh Anita dan mengambil HP-nya untuk menghubungi Hendri.


Sambungan telepon telah terhubung dan sudah diangkat oleh Hendri.


"Hen, beliin sate sama obat pereda nyeri haid ya!" perintah Pardi.


"Oke bos!" jawab Hendri dari seberang telepon.


Pardi langsung mematikan sambungan teleponnya setelah berhasil memberikan perintah kepada Hendri.


Dengan gesit tubuh Pardi langsung menaiki tubuh Anita kembali. "Sekarang sudah bisa dimulaikan?!" tanyanya. Dan Anita hanya mengangguk mengiyakan.


***


--------------------------------------------------------


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part   12: Mesranya Risman Maya


Maya saat ini sedang menyuapi Kakek Anwar yang sedang kelaparan.


"Pelan-pelan Yah!" ucap Anita saat Kakek Anwar langsung menelan bubur dingin di mangkuknya.


"Aaa" Maya menyuapkan kembali bubur yang ada di dalam mangkuk.


Risman yang telah selesai menutup pintu garasi mendatangi Maya yang sedang ada di ruang kamar Ayahnya.


"Sayang!" panggil Risman.


Maya menoleh. "Eh Mas Risman!"


"Kamu lagi apa?"


"Lagi nyuapin Ayah!"


"Lho bukannya itu tugasnya Anita ya?!" Risman mulai menarik kursi dan mendekatkan ke arah ranjang dan duduk tepat di sebelah Maya.


"Dia belum nyuapin Ayah! Kayaknya dia lupa! Malah sekarang dia ngilang entah kemana!" jawab Maya yang masih fokus menyuapi Kakek Anwar.


"Kurang ajar banget sih si Anita!" Risman kesal karena Anita tidak melakukan pekerjaannya dengan benar.


"Nanti juga mau aku marahin si Anita!" Maya memberitahu Anitatnya.


"Iya marahin saja yang, biar si Anita tidak melunjak!" Risman terlihat sangat kesal sekali.


Sesaat mereka terdiam. Maya kembali fokus menyuapi Kakek Anwar dan Risman mulai memijat kedua kaki Kakek Anwar.


"Enak, Yah?!" tanya Risman kepada Kakek Anwar.


Kakek Anwar mengangguk mengiyakan.


Risman memijati kedua kaki Kakek Anwar sampai semua makanan yang disuapkan oleh Maya telah habis tak bersisa.


"Tan!" panggil Kakek Anwar yang sudah selesai makan.


"Iya Yah!" jawab satu-satunya wAnitata di ruangan ini.


"Kamu jangan sering pergi-pergi ya! Ayah kesepian kalau tidak ada kamu!" pinta Kakek Anwar.


"Maya usahakan ya Yah! Tapi Maya tidak bisa janji karena Maya hanyalah seorang bawahan di kantor!"


"Ayah senang kalau Maya ada di rumah! Kamu selalu perhatian sama Ayah, bahkan Risman juga mau datang menemui Ayah kalau kamu ada di sini!" ujar Kakek Anwar yang memang tidak ada Anitat menyindir Risman yang jarang berkunjung ke kamarnya jika tidak ada Maya di ruang kamarnya.


Risman hanya diam karena ucapan Kakek Anwar memang benar adanya.


"Maya pijitin tangannya ya Yah!" Maya mencoba mengalihkan pembicaraan karena dia bingung harus menjawab apa.


"Tan, Ayah kangen banget sama kamu! Sudah lama kita tidak ketemu!" ucap Kakek Anwar yang saat ini sedang dipijiti oleh anak dan menantunya.


"Hahaha" Maya tertawa reyah. "Padahal Maya setiap hari sebelum berangkat kerja sama sepulang kerja selalu tengokin Ayah lho! Tapi Ayah sudah tidur saja pas Maya pulang. Kalau pas Maya berangkat kerja, Ayah masih tidur!"


"Entahlah Tan! Ayah juga heran kok sekarang Ayah mudah banget tertidur ya! Biasanya dulu Ayah tidurnya selalu nunggu kamu pulang kerja dulu baru setelah itu tidur, dan kalau pagi, Ayah selalu bangun cepat karena ingin melihat kamu sebelum kamu berangkat kerja!"


"Mungkin Ayah lagi kecapekan kali!"


"Ayah selalu terbaring di ranjang Tan, mana mungkin kecapekan!"


"Hahaha!" Maya tertawa reyah lagi. "Oh iya ya!" Maya baru menyadarinya.


Kakek Anwar juga ikut tertawa.


"Oh iya, besok Maya libur tiga hari! Jum'at sampai Minggu! Maya mau ajak Ayah jalan-jalan! Mau kan?!" tanya Maya.


"Mau!" Kakek Anwar tersenyum senang. Dia sudah lama sekali tidak keluar dari dalam rumah. Bahkan saat Maya sedang sibuk bekerja, dia tidak pernah keluar kamar karena Anita ataupun Risman tidak pernah mengajaknya keluar kamar.


"Ayah mau liburan kemana hm?!" tanya Maya dengan senyum mAnitasnya.


"Ayah mau ke pantai! Ayah pengen lihat laut Tan!"


"Oke, besok kita ke pantai ya Yah!" Maya menyanggupi.


"Makasih ya Tan!"


"Iya sama-sama Yah!" Maya tersenyum lembut. "Sekarang Ayah tidur ya!" pinta Maya. Kakek Anwar mengangguk dan tidak butuh waktu lama dia telah terlelap dan menjelajahi alam mimpinya.


Maya dan Risman memutuskan keluar dari dalam ruang kamar Kakek Anwar.


Tangan Risman langsung menggenggam tangan Maya. Maya tersenyum.


"Sayang makasih ya karena kamu sudah baik banget kepada Ayahku!"


"Itu sudah sepatutnya aku lakukan Mas! Ayah Anwar juga kan sudah menjadi Ayahku!" jawab Maya.


Risman menghentikan langkahnya dan membuat Maya juga terhenti dari langkahnya.


"Kenapa Mas?!"


Tangan Risman meraih tangan Maya yang satu lagi dan kini dia menggenggam kedua tangan Maya.


"Mas beruntung banget punya Istri yang baik seperti kamu Tan! Mas harap hubungan kita bisa langgeng ya sampai kakek nenek!"


"Aamiin" jawab Maya.


Risman mengecup kening Maya.


***


Pergulatan panas Anita dan Pak Pardi telah mencapai puncaknya. Lagi-lagi Pak Pardi mengeluarkannya di dalam seperti biasanya.


"Mas, kamu gimana sih?! Aku bilang kan jangan keras-keras mainnya! Kok masih ganas saja mainnya!" omel Anita yang sedang kelelahan di sebelah tubuh laki-laki tua itu.


"Abisnya Mas terlalu bersemangat sih sayang!"


Anita cemberut.


"Nanti Mas kasih bonus deh!" rayu laki-laki tua itu.


"Harus kasih bonus ya!"


"Beres pokoknya!" jawab Pak Pardi.


Kini tangan Pak Pardi meraba perut Anita. "Ini anak siapa ya?! Apakah anakku?!"


"Anaknya Mas Risman!" jawab Anita cepat.


"Tapi kemungkinan besar Anakku lho An!" seru Pak Pardi. "Nih ya! Risman sering pakai pengaman, sedangkan aku tidak pernah pakai pengaman! Kalau ini anakku, kamu nikahnya sama aku saja ya! Nanti kamu aku beliin rumah yang mewah!"


"Tapi bulan kemarin Mas Risman dua kali tidak pakai pengaman! Jadi ini anaknya Mas Risman titik! Kalau ini ternyata bukan anak Mas Risman, aku tetap mau nikahnya sama Mas Risman dan menjadikan anak ini menjadi anaknya Mas Risman!" Anita memang tergila-gila dengan Risman, jadi meskipun anak di perutnya ada kemungkinan bukan anaknya Risman, tapi Anita hanya akan meminta pertanggungjawaban Risman seorang.


"Ya sudah tidak apa-apa! Asalkan setelah kamu menikah dengan Risman, Mas tetap dapat jatah kamu ya!"


"Tidak janji ya Mas!" jawab Anita.


Anita mau dipakai oleh Pak Pardi karena dia membutuhkan uang untuk menyewa dukun sakti agar Risman tetap jatuh cinta kepadanya.


Jika Anita sudah menjadi Istrinya Risman kemungkinan besar Anita tidak memerlukan uang lagi dari Pak Pardi karena dia pasti akan mendapatkan jatah uang dari Risman setiap bulan.


"Ya sudah kalau gitu Mas akan bocorkan hubungan kita kepada Risman kalau kamu tidak mau melayAnita Mas lagi!" ancam Pardi. "Mas punya lho rekaman video kita yang lagi berhubungan!"


Anita kaget karena baru mengetahui bahwa Pak Pardi diam-diam merekam aktivitas mereka berdua.


"Kok Mas gitu sih! Kenapa tidak minta ijin dulu sama aku!" Anita kesal.


"Buat apa minta ijin!" sahut Pak Pardi. "Jadi kamu tidak boleh menolak ajakanku oke! Ini juga aku masih baik sama kamu karena aku tetap kasih bayaran buat kamu!"


Anita menghembuskan kasar napasnya yang sedang kesal.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part   13: Mobil Bergoyang


Anita sangat kesal dengan kenyataan yang ada. Ingin rasanya Anita membunuh laki-laki tua yang ada di sebelahnya ini, tapi apalah daya, dia tidak ingin masuk penjara.


Anita bangkit dari rebahannya namun dihentikan oleh Pak Pardi. "Sayang, kamu pulangnya besok saja ya!" pMayaya.


"Aku harus pulang sekarang!" Anita tetap bergegas turun dari atas ranjang.


"Ayolah! Sesekali kamu menginap di sini! Mumpung Istriku sedang pergi keluar negeri!"


"Aku takut dipecat oleh Bu Maya jika tidak segera pulang!"


"Dia tidak akan memecat kamu! Kamu kasih alasan saja kalau kamu pingsan di perjalanan ke supermarket! Nanti biar pacar Hendri pura-pura anterin kamu pulang ke rumah Risman biar mereka percaya!"


"Baiklah kalau begitu!" Anita memilih untuk menginap karena dia sebenarnya sudah sangat lelah setelah dipakai oleh Pak Pardi sebanyak dua kali.


Stamina Pak Pardi masih sangat perkasa meski dia sudah tua. Anita saja sering kewalahan menghadapi Pak Pardi yang hasratnya meluap-luap.


Di rumah Maya dan Risman, sepasang suami istri itu melupakan keberadaan Anita yang belum kunjung pulang.


Maya sebenarnya ingin mengecek ke ruang kamar Anita namun langsung dicegah oleh Risman yang ingin segera mengajaknya bermain di garasi mobil rumahnya.


"Aku harus mengecek ruang kamar Anita dulu Mas!"


"Tidak usah sayang! Mending kamu mandi dulu gih! Biar nanti kita nyaman pas mainnya!" Risman mulai kumat mesumnya.


"Ya ampun Mas! Kamu belum lupa juga dengan permintaanmu yang tadi sore Mas!" Maya tidak menyangka bahwa Risman akan menagihnya kembali.


"Sana cepet mandi dulu! Mas tunggu di dalam mobil ya!" bisik Risman.


"Dasar!" Maya tertawa melihat kelakuan suaminya.


Rasa takut Maya tadi sore kini benar-benar menguap karena Risman ingin bermain dengannya malam ini. Namun yang tidak Maya ketahui adalah Risman tadi sore hanya main sebentar dengan Anita sehingga energinya belum terkuras habis.


Maya yang tadi sore sudah mandi mulai mandi kembali karena dia memang sudah cukup berkeringat setelah membantu anak perempuannya belajar dan mengurus Kakek Anwar.


Maya memang terbiasa mandi terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan dengan Risman karena dia memang lebih nyaman jika melakukan hal itu dengan tubuh yang bersih.


***


Maya sudah selesai mandi dan dia langsung menuju ke garasi mobil di rumahnya.


Risman yang melihat kedatangan Maya langsung tersenyum ke arah Istrinya dan keluar dari dalam mobil.


"Cepet sini yang!" pMayaya.


Maya mendekat ke arah Risman yang sudah berdiri di luar mobil.


"Ayo yank kamu masuk duluan!" perintah Risman. Maya manut saja.


Risman pun menyusul Maya masuk ke dalam mobil.


"Mas kamu tidak lupa bawa pengaman kan?!" tanya Maya.


"Mas tidak bawa sayang! Mas pengen punya baby lagi! Kamu tidak keberatan kan?!"


"Iya!" Maya mengangguk setuju. "Aku juga sebenarnya pengen punya baby lagi!"


Risman tersenyum, lalu mulai mendekatkan tubuhnya ke arah Maya.


***


Di ruang kamarnya Dinda. Gadis muda itu yang tadi telah terlelap tidur terbangun karena ada suara dering pesan yang masuk ke hapenya.


Pesan itu dari DAnita pacarnya Dinda.


Dinda membuka pesan dari nomor DAnita yang ternyata sudah ada dua pesan.


Dinda membulatkan kedua matanya saat melihat pesan pertama DAnita.


"Yank, kamu besok jadi ke tempat Dita kan?! Kalau jadi aku titip k*ndom dari Gilang buat Dita! Kata Gilang buat jaga-jaga kalau-kalau pas Gilang ke rumah Dita lupa bawa k*ndom!"


"Mama tadi baca tidak ya pesan ini?!" Dinda mulai gusar. Dia takut kalau Maya membaca pesan yang dikirim oleh DAnita.


Dinda mulai membaca pesan kedua.


"Sayang kenapa kamu tidak balas pesanku?!"


Dinda langsung membalas pesan dari DAnita. "Maaf Dan, tadi aku lagi belajar! Oh iya masalah k*ndom Dita maksudnya itu barang yang tadi tidak sengaja kebawa sama aku kah?!" tanya Dinda memastikan.


"Iya sayang! Aku titip sekalian ya! Tolong kasihkan ke Dita!"


"Aku tidak janji ya! Besok aku entah jadi ke rumah Dita, entah tidak! Soalnya besok hari libur! Kalau Mama aku libur kerja kemungkinan besar kami bakalan jalan-jalan keluar!" balas Dinda.


"Ya sudah kalau gitu!"


Dinda memilih untuk tidak membalas pesan DAnita.


Hapenya dia letakan lagi di atas meja di samping ranjangnya.


Teman-teman Dinda memang sudah terperosok dalam pergaulan bebas meski usia mereka masih sangatlah muda.


Dinda meskipun berteman dengan mereka tapi Dinda masih terjaga karena dia baru saja mempunyai pacar di saat teman-temannya sudah sering bergonta-ganti pacar.


Meskipun Dinda memiliki paras yang cantik namun dia lebih sering menghabiskan waktunya untuk membaca buku.


Selain itu DAnita juga yang statusnya masih menjadi pacar baru Dinda, belum berAnita meminta hal aneh-aneh kepada Dinda di saat mereka sedang hanya berdua saja.


Sudah sering Dinda dan DAnita jalan berdua saat Maya sedang tidak ada di rumah karena Dinda bisa dengan mudah mendapatkan ijin dari Risman.


Namun mereka berdua hanya jalan ke mall, ke perpustakaan atau toko buku.


"Bungkusan punya DAnita tadi di mana ya?!" Dinda mulai mencari-cari keberadaan bungkusan k*ndom titipan Gilang kepada DAnita yang tidak sengaja terbawa oleh Dinda.


Dinda tidak menemukan bungkusan k*ndom itu. Di semua laci tidak ada dan Dinda baru ingat bahwa bungkusan itu tertinggal di mobil Ayahnya.


"Aduh! Aku tadi lupa bawa bungkusan milik DAnita dari dalam mobil Papa!" Dinda menepuk keningnya. "Aku harus segera mengambil bungkusan itu! Kalau keburu ketemu sama Mama atau Papa duluan, aku bisa habis meski itu bukan milikku!"


Dinda bergegas keluar dari dalam ruang kamarnya dan mulai berjalan menuju ke garasi rumahnya.


Dinda membuka pintu yang terhubung dengan garasi mobil dengan hati-hati takut Maya dan Risman memergokinya dan kemungkinan akan mengecek bungkusan yang nanti akan dibawa oleh Dinda.


Dinda telah berhasil memasuki garasi mobilnya. Pandangan mata Dinda langsung menangkap mobil Ayahnya sedang bergoyang-goyang.


"Kenapa mobil Papa bergoyang-goyang seperti itu?!" tanyanya penasaran. "Apakah ada hantu?!" Dinda mengernyitkan kening. "Ah mana mungkin itu hantu!" Dinda menepis jauh-jauh perihal hantu dari pikirannya.


Dinda mulai mendekati mobil Risman yang sedang bergoyang-goyang.


Dinda mengintip ke dalam mobil melalui kaca jendela di sebelah kiri mobil itu.


Kedua matanya membulat saat melihat adegan dewasa di dalam mobil itu.


'Itukan Papa sama Mama!' batin Dinda yang bisa mengenali dengan jelas orang yang ada di dalam mobil Risman.


Kini kedua telinga Dinda mendengar suara des*han Maya dan Risman yang sedang menikmati pergulatan panas mereka.


Maya dan Risman tidak menyadari keberadaan Dinda yang tengah mengintip di salah satu jendela kaca mobil.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part   14: Masih Mobil Bergoyang


Dinda sudah kembali ke ruang kamarnya dengan wajah yang memerah karena tidak sengaja melihat adegan dewasa yang sedang dilakukan oleh Maya dan Risman di dalam mobil.


"Lupakan Dinda! Jangan diinget-inget!"


Dinda langsung meluncur ke arah kasur empuknya dan memutuskan tidur meski pikirannya masih dibayang-bayangi oleh adegan dewasa yang tadi dia lihat.


Dinda memang masih berusia tiga belas tahun, tapi dia sudah mengetahui tentang hal tabu seperti itu.


Dinda sedang diliputi rasa pAnitak, rasa tidak tenang, rasa risau, dan entah rasa apalagi yang tidak dia mengerti saat ini membuatnya lupa tujuan awalnya datang ke ruang garasi mobil di rumah ini.


Dinda hanya berharap kalau k*ndom yang tidak sengaja terbawa olehnya tidak ditemukan oleh kedua orangtuanya.


***


Maya dan Risman yang sedang memadu cinta masih menikmati setiap detik aktivitas mereka di dalam mobil itu tanpa perasaan was-was ada orang lain yang sedang mengintipnya.


Mereka sangat yakin tidak ada satu pun orang yang tahu tentang kebiasaan aneh mereka berdua yang suka melakukan aktivitas yang begitu menggairahkan di dalam mobil atau tempat lainnya.


Risman sangat menikmati kegiatan panasnya dengan Maya seorang wAnitata yang sudah memiliki dua anak.


Entah kenapa sensasi dan perasaan yang Risman dapatkan saat melakukan hubungan suami-istri dengan Maya begitu berbeda dengan Anita pembantu di rumah ini.


Perasaannya dan sensasinya saat melakukannya dengan Maya jauh lebih nikmat dan jauh lebih lepas seolah batinnya tidak terpaksa saat melakukan aktivitas itu.


Risman tidak tahu pasti kenapa dia merasakan ada sensasi dan perasaan yang berbeda.


Jika bersama dengan Anita, kadang di dalam relung hatinya selalu muncul sedikit rasa keterpaksaan dan rasa bersalah dalam waktu bersamaan. Belum lagi kadang ada rasa marah juga yang timbul meski hanya secuil saja di sela-sela kegiatan panasnya dengan Anita.


Saat ini Risman sangat bersemangat, memacu dirinya dengan kekuatan penuh dan berusaha yang terbaik untuk memuaskan Istrinya yang sedang berada dalam kendalinnya.


Beberapa saat kemudian mobil Risman yang dijadikan saksi bisu aktivitas panas mereka hari ini telah berhenti bergoyang dan kedua orang di dalamnya sedang berbaring saling berdempetan karena kelelahan dengan sisa-sisa keringat yang masih menetes.


Mereka belum terpejam, mereka masih terjaga dengan senyum yang mengembang.


"Kamu tidak minum obat kuat kan Mas?" celetuk Maya yang kini masih terlihat kelelahan.


"Mas tidak pernah minum obat seperti itu sayang!" jawab Risman.


"Mas kuat banget dan tahan lama mirip pelembut pakaian yang suka diiklankan di televisi!"


"Hahaha" Risman tertawa reyah mendengar candaan Maya. "Kalau Multo kan tahan sampai tujuh hari sayang! Kalau si kecilnya Mas kan tidak sampai tujuh hari berdirinya! Hahaha" Risman kembali tertawa renyah. Maya pun ikut tertawa mendengar penuturan Risman.


Setelah tawa reda, kini di dalam ruangan mobil itu hening.


"Ma~s" ucap Maya manja membuka percakapan kembali.


"Iya sayang!" jawab Risman.


"Kalau benih yang hari ini kamu tanam tumbuh, kamu maunya gender apa?"


"Apa aja sayang! Cowok boleh! Cewek pun boleh! Apalagi kalau kembar sepasang, Mas bakalan seneng banget!" sahut Risman.


"Kamu mau lagi tidak Mas?!" tawar Maya.


"Kalau ditawari Mas tidak akan menolak!" jawab Risman yang mulai bangkit dari posisi rebahannya dengan semangat empat lima.


Maya tersenyum dan mereka mengulang kembali kegiatan panas itu dan menyebabkan mobil kembali bergoyang.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part  15: Semi Introgasi


Risman dan Maya yang sudah puas bermain di dalam mobil terlelap tidur karena lelah. Mereka berdua masih belum berpakaian dengan benar.


Pagi menjelang dan sepasang suami istri itu kelabakan karena bangun kesiangan dan belum pindah ke kamar tidur mereka.


"Mas bangun Mas!" Maya mengguncangkan tubuh Risman yang masih terlelap tidur di sampingnya.


"Nghh" lenguh Risman yang merasa terganggu dengan guncangan yang ditimbulkan oleh tangan Maya.


"Mas bangun! Sudah siang!" Maya berkata dengan pAnitak dan sedang tergesa memakai pakaiannya yang tadi malam dilepaskan oleh Risman.


Risman mengerjap kaget dan langsung terbangun dari tidurnya karena cahaya matahari sudah mulai menyusup melalui lubang-lubang ventilasi udara.


"Ayo cepat pakai baju kamu Mas!" perintah Maya. "Nanti keburu Bi Ijah datang dan menyapu ruangan ini!" seru Maya pAnitak. "Aku tidak rela ya kalau belalai kamu dilihat sama wAnitata lain selain aku!"


"Iya iya!" Risman segera memunguti pakaiannya dan mulai memakainya satu persatu.


Kini sepasang suami-istri itu telah selesai berpakaian dan segera keluar dari dalam mobil.


"Ayo Mas kita cepetan masuk ke dalam rumah!" ajak Maya kepada Risman yang berjalan sedikit di belakangnya.


Krieut


Pintu yang menghubungkan rumah dan ruang garasi mobil di rumah ini terbuka oleh Bi Ijah.


"Aaa!" jerit Maya kaget saat melihat Bi Ijah muncul dari balik pintu.


"Aaa!" Bi Ijah juga ikut berteriak kaget karena Maya berteriak. "Ih si Ibu sama si Bapak, dari tadi Bibi ketuk-ketuk pintu kamar kalian karena sarapan sudah matang tapi tidak ada jawaban! Kirain masih pada tidur! Eh ternyata sudah pada bangun ya!"


"Iya, hehe" tawa Maya dan Risman kaku.


"Omong-omong, Bapak sama Ibu tumben bener pagi-pagi sudah ada di garasi?!" Bi Ijah keheranan melihat majikannya sudah ada di ruang garasi sepagi ini.


"Kami habis itu euu..." Risman bingung mau memberikan alasan apa yang sekiranya masuk akal karena dia tidak mungkin mengaku dengan jujur bahwa dirinya dan Maya baru bangun tidur di dalam mobil setelah tadi malam puas bersenang-senang.


Bi Ijah mengerutkan keningnya melihat Risman sulit menjelaskan.


"Kami habis nyari anting-antingku Bi!" sergah Maya mencoba menyelamatkan dirinya dan Risman agar tidak ketahuan oleh Bi Ijah bahwa mereka tadi malam habis melakukan kegiatan panas di dalam mobil.


"Oh" Bi Ijah hanya mengangguk paham.


"Kalau begitu kami masuk rumah dulu ya Bi!" pamit Risman yang langsung menggeret Maya untuk segera masuk ke dalam rumah.


"Oh iya iya silakan!" Bi Ijah manggut-manggut dengan wajah yang sedikit keheranan namun sekejap kemudian dia menggelengkan kepalanya karena merasa geli dengan tingkah suami-istri tersebut.


Selepas kepergian Risman dan Maya, Bi Ijah merasa aneh karena pintu garasi tidak biasanya ditutup.


"Tumben pintu garasi ditutup?!" Bi Ijah keheranan. "Kalau tidak salah sudah berbulan-bulan lamanya pintu garasi ini tidak digunakan! Kok tumben ya pintu garasinya ditutup! Hm" Bi Ijah berpikir sejenak. "Lha kenapa aku malah mikirin hal tidak penting seperti ini ya?! Mending nyapu saja lah!"


Bi Ijah mulai membuka pintu garasi yang tertutup dan dengan langkah lebarnya Bi Ijah mulai berjalan ke arah pojok bagian dalam dan mulai menyapu ruang garasi itu yang memang sudah menjadi kebiasaannya menyapu semua ruangan di pagi hari.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part  16: Dinda Masih Merona


Maya dan Risman tergesa kembali ke ruang kamar mereka karena mereka belum mandi wajib.


Jalan yang mereka lalui harus melewati pintu kamar Dinda terlebih dahulu baru bisa sampai di tempat tujuan.


Dinda yang sudah bangun dan ingin segera mengambil bungkusan yang berisi k*ndom di dalam mobil Risman segera berjalan menuju pintu kamarnya dan langsung membukanya.


Dinda kaget saat mendapati Ayah dan Ibunya baru saja akan lewat di depan ruang kamarnya. Kedua pipinya langsung memerah kembali karena bayang-bayang adegan panas Maya dan Risman kembali berputar di otaknya bak kaset rusak yang menayangkan adegan panas itu berulangkali, bahkan lengkap dengan suara d*sahan Maya dan Risman yang sedang menikmati percintaan panas mereka di dalam mobil.


"Pagi Kak!" sapa Maya dan Risman.


Maya dan Risman bersikap biasa saja karena mereka tidak mengetahui bahwa Dinda tadi malam memergoki aktivitas panas mereka di dalam mobil tanpa diketahui oleh kedua tersangka itu.


"Pagi, Ma, Pa!" sapa balik Dinda dengan suara yang cukup terbata.


Maya dan Risman menyadari kedua pipi Dinda memerah.


"Kak, pipi kamu kenapa merah?!" tanya Risman penasaran.


"Aku kegerahan, Pah!" jawab Dinda cepat. "Aku cari angin dulu ya!" kilah Dinda yang ingin cepat-cepat pergi dari hadapan kedua orangtuanya.


Dinda bergegas berjalan sedikit berlari meninggalkan kedua orangtuanya tanpa mendapatkan jawaban terlebih dahulu dari mereka.


Kini Risman melihat ke arah Maya dengan pandangan bingung. "Sayang, Dinda kenapa ya kok sikapnya kayak gitu?!"


"Dia kayaknya malu?!"


"Malu kenapa?!" dahi Risman mengernyit.


"Dia ketahuan punya pacar tadi malam!"


"Apa?!" Risman kaget mengetahui hal ini.


"Kok kamu kaget Mas?! Harusnya kan kamu jauh lebih tahu daripada aku yang sering keluar kota!"


"Aku beneran tidak tahu sayang. Makanya aku kaget!"


"Masa tidak ada tanda-tanda yang ditemukan Mas?!"


"Beneran tidak ada!" jawab Risman cepat. "Oh iya pacar Dinda namanya siapa sayang?" tanya Risman penasaran.


"DAnita!"


"Oh DAnita!" Risman langsung mengenali pemuda yang dimaksud.


"Kamu kenal DAnita, Mas?!" tanya Maya menyelidik.


"Lumayan. Anaknya baik kok! Dia kadang suka main kesini bareng Dita dan teman-teman Dinda yang lainnya! Lebih tepatnya sih bukan main tapi mampir sebentar!" jelas Risman.


"Jadi si DAnita DAnita itu pernah ke rumah kita?!"


"Iya! Tapi bukan ngapel! Dia hanya main biasa saja bersama teman-temannya mengajak Dinda main keluar!"


"Terus kamu ngijinin Dinda ikut main sama mereka?!" Maya mulai melotot karena dia tidak pernah diberitahu soal ini oleh Risman.


"Iya aku ijinin! Lagipula mereka kan mainnya ramai-ramai!" kilah Risman.


"Iya, ijinnya ramai-ramai tapi dilapangannya kan siapa yang tahu?! Bisa saja mereka berpencar jalan sepasang-sepasang!" Maya mulai kesal.


"Tenang saja sayang! Toh mereka tidak macam-macam!" Risman mencoba menenangkan Maya.


Maya memang tipe orangtua yang sangat menjaga anak gadisnya dan tidak dengan mudah memberikan ijin kepada Dinda untuk jalan keluar dengan teman-temannya jika tidak ada pengawasan langsung dari orang yang dia percayai.


Biasanya Maya menyewa anak laki-laki Bi Ijah untuk ikut dalam perjalanan Dinda bersama dengan teman-temannya.


Randi adalah anak yang baik dan juga berprestasi di sekolahnya yang juga satu angkatan dan satu sekolah dengan Dinda.


Maya sangat mempercayakan keselamatan anaknya kepada Randi meski mereka berdua terlihat tidak akur.


***


 


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part    17: Anita Perlu Digaruk


Pak Pardi masih ingin dimanja oleh Anita di ruang kamar mandinya.


Anita yang diiming-imingi uang bonusan melayAnita Pak Pardi dengan senyum mAnitasnya. Selain itu Anita juga masih ingat kalau Pak Pardi mempunyai rekaman video panas mereka berdua, jadi Anita tidak ingin gegabah menyinggung perasaan laki-laki tua yang sedang dia layAnita di dalam ruang kamar mandi ini.


Untungnya di ruang kamar mandi Anita hanya diminta untuk membantu Pak Pardi mandi dan menyabuni area-area tertentu yang tidak terjangkau oleh Pak Pardi.


Anita juga harus menahan kesal saat tangan nakal Pak Pardi menyentuh beberapa bagian tubuhnya saat dia menemAnita Pak Pardi mandi.


"An tolong sabunin sosisku dong!" pinta Pak Pardi mesum.


"Tidak mau ah! Nanti kalau ujung-ujungnya berdiri aku harus tanggungjawab lagi buat nidurin sosis kamu!" jawab Anita menolak. "Aku sudah capek tadi malam digoyang sampai dua kali sama kamu! Apa kamu masih belum puas?!" tanya Anita.


"Belum!" Pak Pardi tersenyum mesum.


"Tapi aku tidak mau!" tegas Anita menolak.


"Ya sudah kalau gitu!" Pak Pardi memilih untuk tidak memaksa Anita karena tadi malam Anita memang sudah terlalu capek melayAnitanya. Apalagi tadi malam dia meminta Anita untuk mengambil alih kendali. Jadi bisa dipastikan betapa capeknya gadis muda itu.


***


Anita dan Pak Pardi telah rapi berpakaian. Tiba-tiba ada telepon masuk dari Istrinya Pak Pardi dan meminta laki-laki tua itu untuk datang ke Hongkong menyusulnya karena ada teman lama mereka yang akan menikahkan anaknya.


Pak Pardi tidak bisa membantah istrinya dan hanya bisa mengiyakannya.


Anita dititipkan kepada Hendri yang masih berjaga di pos satpam karena pacar Hendri belum datang untuk mengantarkan Anita ke rumah Maya dan Risman agar kedua majikan Anita percaya bahwa Anita sedang sakit dan terpaksa menginap di rumah pacarnya Hendri yang nantinya akan mengaku menjadi teman Anita.


"Hen! Aku titip kesayanganku ya!"


"Siap Bos!" jawab Hendri sigap.


"Aku berangkat!"


"Hati-hati di jalan Bos!" Hendri mengangguk sopan memberi hormat kepada Bosnya.


Setelah kepergian Pak Pardi. Anita dan Hendri duduk di kursi pos satpam.


"Hen, pacar kamu masih lama tidak?"


"Katanya pukul delapan dia akan sampai ke rumah ini!" Hendri mulai menyesap kopinya untuk menghilangkan ngantuknya.


Harusnya dia segera pulang pukul enam pagi, tapi karena harus menemAnita Anita sampai pacarnya datang, Hendri terpaksa berada lebih lama di pos ini.


"Hen, menurut kamu aku cantik tidak sih?!"


"Cantik!" jawab Hendri singkat sambil menganggukkan kepalanya.


Tangan Anita mulai meraba paha Hendri, laki-laki yang saat ini sedang digoda oleh Anita hanya bisa menegang.


Anita memang sedikit menaruh rasa tertarik kepada Hendri yang wajahnya memang tampan. Meski Risman jauh lebih dia sukai tapi Anita penasaran ingin merasakan sensasi berhubungan dengan Hendri si satpam tampan di komplek ini.


Anita mulai mendekat ke arah Hendri dan menggerakkan wajah Hendri agar menatapnya.


Mereka berdua saling bertatap-tatapan, Anita dengan perlahan mendekat ke arah pemuda tampan itu dan mulai mencium bibir pemuda di depannya.


Hendri yang memang sedikit menaruh hati kepada Anita meski awalnya menampiknya keras-keras mulai terlena dan membalas ciuman Anita.


Tangan pemuda itu mulai bergerilya menelusuri setiap jengkal tubuh bagian atas Anita yang tercetak jelas oleh kaus ketatnya.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part    18: Anita Benar-Benar Minta Digaruk


Ciuman Anita dan Hendri begitu panas dan menuntut. Untuk sesaat mereka melepaskan tautan bibir mereka.


Pandangan kedua mata mereka kini diliputi oleh kabut ghairah.


"Masih ada waktu sekitar satu jam setengah lagi sebelum pacarmu datang!" ucap Anita.


Hendri hanya menyimak sambil memandang ke arah Anita.


"Kamu mau tidak Hen kalau kita main sebentar?!" tawar Anita yang kedua tangannya mulai merambat ke arah baju seragam Hendri dan membuka kancing itu satu persatu.


"Boleh!" jawab Hendri.


Hendri bangkit dari duduknya begitu pun Anita.


Tangan Hendri menggeser bangku yang tadi mereka duduki agar lebih menempel ke dinding ruang pos satpam.


Tangan Hendri kini meraih koran bekas yang ada di pos ini dan dengan cepat menatanya di atas permukaan keramik lantai itu.


"Kita mainnya disini?!"


"Iya An! Kalau kita ke dalam nanti ketahuan sama Pak Pardi! Kalau di pos kan aman dari jangkauan CCTV!"


"Oh"


"Sini duduk!" pinta Hendri agar Anita segera duduk.


Anita menurut dan dengan patuh duduk.


"Buka pakaian kamu An! Aku juga akan buka sendiri pakaianku!" perintah Hendri. "Aku tidak mau ada yang curiga, jadi kerapian baju harus diutamakan!" jelas Hendri.


Anita tersenyum dan takjub dengan Hendri yang sangat teliti.


Mereka melepaskan seluruh pakaian mereka dan menaruhnya di atas bangku.


Kini baik Hendri maupun Anita saling mendekat dan melanjutkan aktivitas mereka yang tadi sempat terhenti.


Tubuh Anita kini sudah roboh dan punggungnya menempel di atas koran yang diletakkan di atas keramik lantai pos ini.


Suara d*sahan mulai terdengar meski tidak terlalu lantang karena mereka tidak bisa lepas menyuarakannya.


Hendri begitu pandai melakukannya seolah-olah dia memang sudah terbiasa dengan hal ini.


Kini mereka berpindah posisi, sekarang Anita yang berada di atas tubuh Hendri dan gilirannya untuk memuaskan orang yang ada di bawah tubuhnya.


Kegiatan panas mereka telah selesai dan Hendri tersenyum senang sambil melihat ke arah Anita yang sama-sama tersenyum senang.


"Bagaimana kamu puas tidak An?!"


"Puas banget!" jawab Anita yang ikut melihat ke arah Hendri. "Ternyata seperti ini ya rasanya main dengan laki-laki muda yang tampan!"


"Enak ya!"


"Hu'um" Anita mengangguk.


"Kamu juga nikmat banget An! Pantesan saja Pak Pardi selalu minta dilayAnita kamu!"


"Dibandingkan sama pacar kamu, enakan mana? Aku atau dia?!"


"Sama enaknya, cuma entah kenapa rasanya lebih greget sama kamu!"


"Kalau aku mau lagi! Kamu mau tidak melayAnita?!" tawar Anita menawarkan kesempatan-kesempatan berikutnya.


"Boleh!"


"Nanti aku hubungi kalau sudah ada waktu yang tepat!"


"Iya"


Hendri meraih kotak tisu di atas meja dan memberikannya juga kepada Anita.


"Lap keringat kamu An!" titahnya.


Anita menurut dan mengambil beberapa lembar dan mulai mengelap tubuhnya yang sudah berkeringat.


Mereka berdua kembali berpakaian setelah tubuh mereka kering dan keringat yang masih keluar setelah berpakaian mereka lap menggunakan lembar-lembar tisu yang masih banyak di dalam kotak putih itu.


Anita dan Hendri belum kembali duduk di atas bangku, mereka masih duduk di atas koran yang sudah kusut di beberapa tempat setelah dipakai menjadi alas percintaan panas mereka.


Di luar pintu pagar rumah Pak Pardi, Pak Yono sedang tersenyum senang sambil memeluk hapenya dan dia kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part  19: Rekam Video Huwot


Pak Yono merasa heran karena Anita tidak kunjung pulang setelah kepergian wAnitata itu tadi malam.


Pak Yono bertanya-tanya sebenarnya kemana pembantu muda idamannya itu yang selama ini selalu menjadi obyek fantasinya kala sedang berada di dalam kamar mandi rumahnya saat sang istri tidak bisa melayAnita.


Sedari awal kedatangan Anita di rumah ini, Pak Yono memang suka memperhatikan tubuh Anita yang sangat aduhai dan menggoda iman tersebut.


Dia selalu bertanya-tanya dan membayangkan seindah apa tubuh Anita tanpa balutan kain-kain menyebalkan yang selalu menutupi tubuh indahnya.


Kemarin sore Pak Yono sangat beruntung karena bisa secara langsung melihat dan menikmati tubuh p*los Anita di taman belakang dengan kedua matanya.


Pak Yono pagi ini pulang dengan tidak bersemangat karena belum melihat pembantu muda idamannya sebelum pulang ke rumah.


Pak Yono berjalan kaki karena kemarin motor bututnya dipinjam anaknya dan dia akan dijemput di depan pintu masuk komplek ini.


Pada saat Pak Yono melewati rumah Pak Pardi, dia tidak sengaja melihat ke arah pos satpam Hendri karena dia sering bertegur sapa dengan satpam yang berjaga di kala siang hari yaitu Firman.


Tapi kali ini Pak Yono tercekat dan mengurungkan Anitatnya menyapa Firman karena ternyata Firman belum datang berjaga dan yang ada di pos satpam itu malah Anita dan Hendri.


'Itukan Anita'


Pak Yono sempat melihat keduanya berciuman dan dia langsung bersembunyi saat mereka berdua saling melepaskan diri.


Pak Yono masih mengamati dari balik tempat sembunyinya.


Anita dan Hendri kini berdiri dan Hendri terlihat memindahkan sesuatu.


Hendri lalu terlihat mengambil kertas koran di atas meja dan menunduk yang membuatnya tidak terlihat karena terhalang oleh dinding yang tingginya tidak sampai semeter itu.


'Mereka mau ngapain?!' batin Pak Yono bertanya-tanya.


Kini Anita ikut menunduk dan membuatnya tidak terlihat juga.


Dengan hati-hati Pak Yono mendekat ke arah pintu gerbang yang ternyata lupa belum dikunci kembali dan masih sedikit terbuka.


Dia mulai menyelinap masuk ke area rumah Pak Pardi.


Pak Yono bersembunyi dibalik dinding pos satpam dan mengintip dengan hati-hati apa yang sedang dilakukan oleh Anita dan Hendri.


Kedua matanya membulat saat melihat Anita dan Hendri sedang menanggalkan pakaian mereka.


'Wah kayaknya tontonan bagus nih!' batin Pak Yono bersorak.


Laki-laki itu segera mengeluarkan hape miliknya dan merekam aktivitas Anita dan Hendri dengan hape jadulnya yang masih bisa menangkap gambar dengan jelas karena saat ini adalah siang hari.


Wajah Hendri dan Anita tertangkap jelas di kamera hapenya.


Semua gaya percintaan mereka pun di rekam dengan jelas oleh Pak Yono termasuk suara d*sahan mereka berdua yang membuat pyton Pak Yono ikut berdiri.


Pak Yono buru-buru pergi dari tempatnya saat ini saat Anita dan Hendri telah selesai saling memuaskan.


Dengan sangat hati-hati dia keluar dari area rumah Pak Pardi dengan senyum mengembang di wajahnya.


Dia segera berjalan dengan alami melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.


Di dalam hati Pak Yono bersorak senang.


'Akhirnya aku punya kartu truf yang bisa digunakan untuk mengancam Anita' bibir Pak Yono tersenyum senang.


'Aku tidak sabar menunjukkan video ini kepada Anita dan mengancam gadis cantik itu agar mau melayAnitaku' batinnya senang.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part  20: Pengakuan Kepada Risman


Anita diantar pulang oleh Nina pacar Hendri.


Sesuai dengan prediksi Anita, dia disidang oleh Maya yang didampingi oleh Risman.


Untungnya Pak Pardi sudah mengatur segalanya sehingga Anita tidak jadi dipecat oleh Maya.


Maya yang pada dasarnya adalah wAnitata yang baik memaafkan Anita dan malah memapah Anita agar selamat sampai di ruang kamarnya.


Nina yang bertugas berpura-pura menjadi teman Anita yang kemarin malam tidak sengaja menemukan Anita pingsan di jalan pamit undur diri.


Ya. Pak Pardi memang merancang seolah-olah Anita pingsan di jalan pas perjalanan pulang dari mini market dan ditemukan oleh Nina dan ditampung dulu di rumah Nina yang katanya dekat sini padahal kenyataannya rumahnya cukup jauh dari sini.


Risman yang merasa cemas dengan keadaan kekasih gelapnya itu segera berjalan menyusul Anita dan Maya.


Anita saat ini sedang direbahkan oleh Maya dan dengan lembut Maya menyelimutinya.


"Lain kali kalau kamu lagi sakit perut karena haid, kamu minta tolong saja sama Pak Yono untuk dibelikan obat sama dia! Jangan nekat kayak tadi malam ya! Untung ada Nina yang nemuin kamu, coba kalau tidak ada! Kamu bisa tambah parah keadaannya!"


"Iya Bu!" jawab Anita selirih mungkin supaya kelihatan kalau dia benar-benar sakit.


"Ibu ambilin kamu air hangat ya!"


"Tidak usah Bu! Aku hanya perlu istirahat saja kok!" cegah Anita yang tidak ingin Maya datang kepadanya karena dia sudah sangat muak melihat wajah Maya.


"Ya sudah kalau gitu Ibu tinggal ya!" pamit Maya.


"Iya Bu!"


Maya pergi dari ruang kamar Anita dan Risman yang sedang bersembunyi di dekat sana langsung mengendap-endap memasuki ruang kamar Anita dan menutup pelan pintu kamar kekasih gelapnya.


Anita langsung duduk dan memeluk tubuh Risman saat laki-laki itu sudah duduk di ranjang tidur Anita.


"Mas" ucap Anita manja.


"Kamu kenapa tidak telepon aku buat jemput kamu?! Kalau kamu merasa sakit di perut dan sudah mulai pusing harusnya telepon aku!" omel Risman pelan.


"Aku tidak bawa hape Mas!"


"Kok tumben kamu haidnya sakit sampai pingsan?!"


"Aku bukan haid Mas! Aku sebenarnya hamil!" bisik Anita.


"Hamil!" Risman kaget mendengar kenyataan ini.


"Iya Mas, aku hamil! Aku sekarang mengandung anak Mas Risman!" tangan Anita mengelus perutnya sendiri.


"Tapi aku selalu pakai k*ndom! Kenapa kamu bisa hamil?!"


"Mas lupa ya waktu kita main di motel bulan lalu?! Mas kan tidak pakai k*ndom dua kali!"


"Masa langsung jadi?!" Risman tidak percaya bahwa Anita langsung hamil.


"Ya mana aku tahu Mas!"


"Kamu sudah cek kandungan?!"


"Belum Mas! Tapi sudah di cek pake tespack dan positif! Tapi kemarin aku tidak sengaja ngebuang tespack itu Mas!"


"Ya sudah, nanti kalau ada kesempatan kita cek ke dokter kandungan!" putus Risman.


"Iya Mas!"


***


Semua perlengkapan liburan ke pantai telah siap.


Maya, Risman, Dinda, Ilham dan Pak Anwar berangkat liburan dan akan menginap dua malam di hotel dekat pantai.


Dinda dan Ilham senang karena akhirnya mereka semua bisa berlibur bersama setelah sekian lama mereka ditinggal Ibunya kerja keluar kota melulu yang menyebabkan jarang sekali liburan bersama.


Jika Maya sedang berada di rumah, wAnitata itu hanya akan tetap bertahan di rumah dan tidur sepanjang hari karena lelah.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part   21: Pak Yono Kehausan


Malam hari di rumah Maya dan Risman sepi karena sang empunya rumah ini sedang berlibur ke pantai.


Di rumah ini hanya ada Anita dan Pak Yono satpam yang menjaga rumah ini.


Bi Ijah telah lama pulang karena tugasnya memang hanya sampai sore.


Pak Yono mengunci pintu gerbang dan segera masuk ke dalam rumah dan langsung berjalan mencari-cari keberadaan Anita.


"Pak Yono ngapain masuk rumah!" tegur Anita ketus.


"Eh Anita cantik!" sapa Pak Yono dengan pandangan matanya yang melihat dari atas ke bawah.


"Sana cepat keluar!" usir Anita.


"Kenapa aku harus keluar?! Aku kan mau senang-senang sama kamu di atas ranjang! Slurp" Pak Yono hampir meneteskan air liurnya saat pikirannya sudah membayangkan aktivitas panas mereka berdua yang kemungkinan akan segera terjadi.


"Kurang ajar!" Anita mulai naik pitam. "Jaga ya mulutmu! Aku adukan kamu besok ke Pak Risman biar dipecat!" ancam Anita.


"Adukan saja sana!" cengir Pak Yono. "Nanti aku adukan balik kamu ke Pak Risman!"


"Aku tidak takut!" tantang Anita. "Lagipula aku tidak punya salah apapun!"


"Kamu yakin An?!" tanya Pak Yono menggoda dan tubuhnya semakin mendekati Anita.


Anita tidak gentar dan tetap berada di tempatnya.


"Aku punya video kamu lagi skidipapap sama Hendri lho di pos satpam rumah Pak Pardi!" Alis Pak Yono naik turun menggoda Anita.


Kedua bola mata Anita melolot kaget.


Pak Yono kini mengeluarkan hapenya dan memutar rekaman video yang tadi pagi dia rekam.


Anita langsung merebut hape itu dari tangan Pak Yono dan langsung menghapus file video mes*m itu.


"Hahaha" Pak Yono malah tertawa saat file video itu dihapus. "Hapus saja An! Aku masih punya kopiannya kok di rumah!"


Anita kesal bukan main.


"An, kalau Pak Risman tahu kamu skidipapap sama Hendri kira-kira kamu diapain ya sama Pak Risman?! Hm" Pak Yono memegang dagunya sendiri seraya berpikir. "Kayaknya kamu langsung diputusin dan dipecat dari rumah ini! Hahaha"


Anita tidak mau hal itu terjadi. Kalau video itu sampai ke tangan Risman bisa-bisa dia tidak bisa mendesak Risman agar menikahi dengannya. Dan yang paling penting Risman akan meragukan anak dalam kandungannya, apakah anak Risman atau anak dari laki-laki lain.


"Maumu apa?!" tanya Anita pada akhirnya karena dia tidak ingin Risman tahu tentang video panas itu.


"Gampang saja! Aku hanya ingin skidipapap sama kamu An!" pinta Pak Yono.


Anita memutar bola matanya malas. "Minta yang lain saja! Uang atau apa!" tawar Anita.


"Aku tidak mau uang An! Aku maunya skidipapap sama kamu!" cengir Pak Yono.


Anita menghembuskan napas kasar. Dia pusing dengan keadaan saat ini.


"Ya sudah besok saja! Aku sudah terlalu lelah!"


"Tapi aku maunya sekarang An! Kalau kamu tidak mau melayAnitaku malam ini, aku akan mengirim videonya malam ini juga ke Pak Risman!" ancam Pak Yono.


"Ya sudah, ayo!" Anita memilih mengalah dan membawa Pak Yono untuk masuk ke dalam ruangan kamarnya.


"Asik!" Pak Yono tersenyum senang.


Sesampainya di dalam kamar, Pak Yono memegangi lehernya seperti orang kehausan.


"An, tolong ambilkan aku air minum dong! Kok tiba-tiba haus ya!" seru Pak Yono.


"Ambil saja sendiri!" sahut Anita ketus.


"Oke. Aku ambil sendiri tapi aku lapor-"


"Iya iya aku ambilkan!" potong Anita dan segera bergegas ke dapur mengambil air minum untuk Pak Yono.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part   22: Bi Ijah Hanya Diam


Pak Yono yang hanya tinggal seorang diri di dalam kamar Anita mulai mencari posisi yang bagus agar hapenya bisa merekam dengan jelas aktivitas yang nantinya akan dia lakukan dengan Anita.


Pak Yono akhirnya menemukan tempat yang cocok dan menaruh hapenya di tempat itu dan sedikit menghalangi tubuh hape itu agar tidak ketahuan oleh Anita bahwa hapenya sedang merekam.


Anita masuk ke dalam kamar dan memberikan air minum untuk Pak Yono.


"Nih minum!"


"Makasih ya Anita cantik!"


Anita tetap memasang wajah cemberutnya.


Pak Yono mereguk air minum itu hingga habis setengahnya.


"An, ayo kita mulai!" ajak Pak Yono yang sudah tidak sabar dan kini sudah melepaskan pakaiannya sendiri dengan terburu-buru.


Anita membuka pakaiannya dengan lambat-lambat karena dia memang enggan untuk melayAnita Pak Yono yang tidak dia sukai. Selain itu Pak Yono juga tidak mungkin membayarnya seperti Pak Pardi.


"Kamu kok lambat banget sih! Ayo dong cepetan! Aku sudah tidak sabar nih!" seru Pak Yono bersemangat.


Pak Yono langsung meraih Anita dan mendorongnya ke atas kasur meski wAnitata itu belum selesai melepaskan semua pakaiannya.


Dengan kasar Pak Yono membuka baju Anita dan membuat kancing-kancing baju tidur Anita ada yang sampai terlepas.


Pak Yono langsung melahap Anita dan menikmatinya secara nyata bukan hanya di khayalan saja.


Suara d*sahan Anita dan suara peraduan mereka terdengar begitu nyaring karena Anita tidak menutup pintu ruang kamarnya karena rumah ini memang sedang sepi.


Bi Ijah diantar oleh Randi kembali ke rumah Maya dan Risman karena hapenya tertinggal di ruang kamar Anita saat dia numpang mencharger hapenya.


"Kamu tunggu di sini saja! Ibu masuk sendiri saja!"


"Iya Bu!" jawab Randi.


Bi Ijah merasa aneh karena di pos satpam tidak ada Pak Yono. "Pak Yono kemana ya?!"


Akhirnya Bi Ijah yang mempunyai kunci cadangan pintu gerbang membuka gembok kunci di pintu itu.


Dia melangkahkan kakinya memasuki rumah Maya dan Risman melalui pintu dapur karena kamar Anita lumayan dekat dengan ruang dapur.


Langkah kaki Bi Ijah semakin dekat dengan kamar Anita dan telinga Bi Ijah mulai mendengar suara Anita yang sedang mend*sah.


Bi Ijah dengan hati-hati melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu yang terbuka.


Bi Ijah membulatkan matanya saat mengintip ruang kamar Anita dari balik dinding. Tangan Bi Ijah langsung menutup mulutnya agar tidak bersuara.


'Ya ampun Ko! Kok kamu tega benar menyelingkuhi Yu Sri'


'Si Anita juga, murahan banget! Mau maunya jadi selingkuhan Yono!' batin Bi Ijah. 'Padahal si Anita cantik! Trus juga yang naksir dia ganteng-ganteng! Kok bisa-bisanya malah nyantol sama Yono' Bi Ijah geleng-geleng kepala.


Bi Ijah segera keluar dari dalam rumah dengan wajah yang pucat.


"Ibu kenapa?!" tanya Randi.


"Tidak apa-apa!"


"Mana hapenya Bu?!"


"Hapenya tidak bisa diambil malam ini Ran! Anita kayaknya sudah tidur!" bohong Bi Ijah. "Kamu tidak apa-apa kan kalau mengerjakan tugasnya ditunda dulu!"


"Iya Bu tidak apa-apa!" jawab Randi. "Nanti Randi pinjem hape bang Jali saja! Pasti dia mau minjemin kok!" ujar Randi yang berAnitat meminjam hape pemilik konter pulsa dekat rumahnya.


"Ya sudah kalau gitu ayo kita pulang"


Randi mengangguk patuh.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part   23: Masih Sempatnya Pas Majikan Sudah Pulang.


Hari Minggu akhirnya tiba.


Maya dan keluarga kecilnya pulang dari acara liburan mereka.


Maya membeli oleh-oleh untuk Bi Ijah, Anita, dan Pak Yono.


Semua orang senang mendapatkan oleh-oleh yang Maya bawakan.


Baik Risman, Dinda, Ilham, dan Kakek Anwar sudah masuk ke kamarnya masing-masing karena lelah setelah menempuh perjalanan jauh.


Maya saat ini sedang berada di dapur karena Risman meminta dibuatkan kopi oleh Maya.


Bi Ijah yang seharusnya sudah pulang tapi dia masih bertahan di ruangan dapur.


Bi Ijah terlihat resah seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Bi, Bibi mau ngomong sesuatu ya sama aku?!" tanya Maya yang bisa membaca gestur tubuh pembantunya yang telah lama bekerja kepadanya.


"Itu, Bu, mm..." Bi Ijah ragu untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa kemarin malam sabtu Pak Yono dan Anita berzina di rumah ini.


"Itu apa Bi?!" tanya Maya.


"Itu Bu, mm..." lidah Bi Ijah kelu. Dia tidak sanggup menceritakan hal yang sesungguhnya.


Maya berhenti dari aktivitasnya dan kini memandang Bi Ijah dengan lekat.


"Besok saya mau ijin tidak masuk kerja Bu!" Bi Ijah malah mengeluarkan kalimat berbeda dan tidak sesuai dengan tujuan awalnya.


"Oh... iya boleh kok! Sudah lama Bi Ijah juga tidak pernah libur kan! Aku ijinkan Bi!" Maya dengan mudah memberikan ijin.


"Kalau begitu saya permisi ya Bu!" Bi Ijah pamit.


"Iya Bi! Hati-hati di jalan!"


Bi Ijah melangkah keluar sambil memukul mulutnya karena malah salah mengeluarkan kalimat.


Sebenarnya Bi Ijah memang tipe orang yang tidak suka mengadu, makanya ketika dihadapkan dengan kasus seperti ini, dia ragu untuk mengatakan yang sesungguhnya.


"Aw!"


Terdengar suara pekikan seorang wAnitata.


Bi Ijah mulai berjalan menuju sumber suara dan menemukan Pak Yono dan Anita sedang duduk berdua di rerumputan yang tempo hari dijadikan tempat bermesraan Anita dengan Risman.


"Sakit tahu!" ketus Anita.


"Ya maaf!" cengir Pak Yono. "Ayo lanjutkan lagi!"


"Tapi jangan gigit lid*h aku lagi!"


"Iya, iya!"


Pak Yono mulai mencium Anita kembali dengan salah satu tangannya yang menelusup masuk ke dalam kaus yang dikenakan oleh Anita.


"Mereka berdua benar-benar! Bisa-bisanya pacaran di saat majikan mereka sedang ada di rumah!" gumam Bi Ijah.


Bi Ijah mulai merekam kejadian di taman belakang itu agar suatu saat nanti saat dirinya berAnita mengatakan yang sesungguhnya kepada Maya, dia mempunyai bukti yang kuat dan tidak akan dituduh sebagai pembohong.


Setelah mendapatkan bukti yang cukup, Bi Ijah berlalu dari tempat itu karena tidak tahan melihat aktivitas Pak Yono dan Anita yang sedang bermesraan di taman belakang ini.


Selepas kepergian Bi Ijah, Pak Yono menyudahi aksinya.


"Makasih ya Anita cantik!"


Anita diam saja dan hanya membenahi pakaiannya yang telah acak-acakan karena ulah tangan jahil Pak Yono.


"Nanti malam kira-kira Pak Risman ke tempat kamu tidak?! Kalau dia tidak ke tempat kamu, kamu kirim pesan ke aku ya! Aku pengen skidipapap lagi sama kamu An! Aku sudah kangen pengen dipuasin lagi sama kamu An!"


"Lihat nanti saja!"


"Oke. Aku tunggu kabar baiknya!"


Pak Yono beranjak dari tempatnya dan mulai membenarkan pakaiannya agar rapi kembali.


"Aku duluan ya! Kamu keluarnya nanti kalau aku kira-kira sudah sampai di pos jagaku!"


Anita mengangguk


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part  24: Keluar Kota Lagi


Maya sedang rebahan di ruang kamarnya bersama dengan Risman.


"Tidak terasa ya Mas, usia pernikahan kita sudah hampir lima belas tahun!"


Risman tersenyum. "Iya sayang! Perasaan baru kemarin kita menikah, eh tahu-tahu sudah mau punya anak tiga!" Risman tidak sadar keceplosan.


Di alam bawah sadar Risman laki-laki itu tahu bahwa sebentar lagi dirinya akan mempunyai anak yang ketiga yaitu anaknya dari Anita.


"Sudah mau tiga?!" Maya melotot ke arah Risman. "Maksud Mas apa?!"


Perasaan takut di dalam hati Maya mulai timbul kembali. Maya tahu bahwa saat ini Anita sedang hamil dan perkataan Risman yang sebelumnya seperti memberikan pertanda bahwa anak yang dikandung Anita adalah anak dari laki-laki di sebelahnya.


Risman mengerjap kaget saat menyadari ucapannya baru saja.


"Ayo jawab Mas maksud kamu apa?!" tegas Maya yang ingin segera mendapatkan sebuah jawaban pasti dari Risman.


"Kita kan lagi dalam program nambah anak sayang!" Risman tersenyum alami. "Kamu masih ingatkan permintaan aku pas malam jum'at?! Itu lho waktu kita main di dalam mobil?!" Risman mencoba mengingatkan Maya tentang ucapannya yang ingin punya anak lagi. "Nah dengan Mas berkata sudah mau punya anak tiga itu seperti sebuah do'a sayang! Supaya kita beneran mendapatkan anak yang ketiga!" Risman menutup kalimatnya dengan senyum mAnitasnya.


Maya menghembuskan napas lega. "Oh, iya aku masih ingat Mas?!"


"Dasar kamu ini!" Risman mencubit hidung Maya dengan gemas.


Kring Kring Kring


Dering hape Maya berbunyi, ada telepon masuk ke nomornya.


Maya segera mengambil hapenya dan mengangkatnya.


"Halo!"


"Halo Tan! Besok kamu pergi keluar kota lagi ya! Tolong kamu urus tentang kerjasama perusahaan kita dengan perusahaannya Tuan Aston!" perintah atasannya Maya dari seberang telepon.


"Lagi?!" Maya tidak percaya bahwa dia akan mendapatkan tugas seperti ini lagi. Tugasnya itu hanyalah mengecek situasi di cabang-cabang kota lainnya, bukan menangAnita tugas-tugas seperti ini.


"Mau gimana lagi! Tuan Aston maunya hanya kamu yang menangAnita kerjasama perusahaannya dan perusahaan kita!" jelas atasan Maya.


"Tap-"


"Besok pagi-pagi kamu harus segera ke bandara oke!"


Tut tut tut


Sambungan telepon itu langsung diputus secara sepihak.


"Humph" Maya kesal dengan atasannya yang seenaknya memerintahkannya mengerjakan tugas-tugas yang bukan bagiannya.


"Kenapa sayang?!" tanya Risman.


"Biasa! Aku disuruh menangAnita proyek kerjasama dengan perusahaan asing!"


"Bukankah tugas kamu itu untuk mengecek kondisi pabrik yang tersebar di seluruh Nusantara?!" Risman mengerutkan kening. "Kok kamu disuruh untuk menangAnita masalah kerjasama sih?!"


"Mana kutahu Mas! Aku saja heran!" kesal Maya.


Drrt drrt drrt


Pesan masuk ke hape Maya.


"Besok pukul sembilan pagi jadwal penerbanganmu! Jangan sampai telat! Usahakan berangkat lebih awal!"


Maya menatap pesan itu dengan sebal.


"Pesan dari siapa?!" tanya Risman.


"Dari Bosku!"


"Kamu kok kelihatan tidak senang sayang?! Biasanya kalau pekerja lain mendapatkan tugas seperti ini akan senang karena dia sangat dibutuhkan di perusahaan tempat dia bekerja!"


"Aku tidak senang saja Mas!" sahut Maya. "Sudahlah mending kita tidur saja Mas!" putus Maya.


Maya langsung menarik selimutnya dan memejamkan kedua matanya. Sedangkan Risman tersenyum senang karena mulai besok sampai beberapa hari ke depan dia bisa bebas berinteraksi dengan Anita di rumah ini ketika malam telah menjelang.


***


Selanjutnya.......  25: Bukan Serangga Tapi Pak Yono


Risman melirik ke arah Maya yang sudah terlelap tidur.


Perlahan Risman bangun dari tidurnya dan mulai menuruni ranjang dengan penuh kehati-hatian takut Maya terbangun.


Risman mengendap-endap meninggalkan ruang kamarnya untuk menuju ke ruang kamar Anita pembantu muda di rumahnya.


Krieut


Pintu kamar Anita terbuka dan Anita langsung menghambur memeluk Risman.


"Mas Risman lama banget liburannya!" keluh Anita.


"Maaf ya sayang! Maya pengen lama liburannya jadi Mas tidak bisa menolak!" Risman mengelus punggung Anita.


"Kenapa tidak ajak aku juga Mas?!" rengek Anita.


"Mas tidak bisa sayang! Kan Maya pengennya hanya berlibur bersama keluarga saja!"


"Tapi aku juga sudah jadi keluarga kamu Mas! Aku hamil anak kamu Mas!"


"Iya iya sayang! Maaf ya!" Risman hanya bisa mengalah dan meminta maaf.


"Mas kapan kamu nikahin aku!" tagih Anita yang ingin diresmikan hubungannya dengan Risman.


"Nikah?!" tanya Risman tidak percaya.


"Iya Mas! Anak di dalam kandunganku kan butuh Ayah dan juga status! Apa kamu tidak kasihan kalau anak kita lahir tanpa adanya status yang jelas?!"


"Tapi Mas tidak yakin Maya akan setuju!" Risman merasa ragu.


"Kalau Maya tidak setuju dengan pernikahan kita, mending kamu ceraikan saja Mas!" perintah Anita.


"Ceraikan." ulang Risman dengan suara pelan sembari menerawang.


"Iya Mas! Ceraikan saja!"


"Mas pikir-pikir dulu ya!" putus Risman.


"Jangan kelamaan mikirnya! Pokoknya minggu depan kita harus nikah titik! Maya setuju atau tidak pokoknya kita harus menikah!" paksa Anita yang tidak mau tahu.


Risman hanya diam karena hal ini sangat sulit bagi dirinya.


Di dalam ruang kamar Maya dan Risman. Maya terbangun dan menyadari bahwa Risman tidak ada di tempatnya.


"Mas Risman kemana ya?!" Maya bertanya-tanya. "Ah mungkin dia lagi haus!" putus Maya yang tidak mau ambil pusing.


Maya meraih hapenya dan ada 59 pemberitahuan panggilan dan pesan dari nomor yang diblokir oleh Maya.


"Apaan sih ini orang!" kesal Maya.


Drrt drrt drrt


Ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal.


"Tan, jika kamu menerima cintaku, besok pakailah cincin yang aku berikan! Namun jika kamu menolakku kembalikan cincin itu kepadaku karena itu cincin warisan dari nenek moyangku!"


Maya mengernyit. "Cincin?! Bukankah cincin itu tidak aku terima! Aku kembalikan lagi kan pada dia!" gumam Maya.


Pesan masuk dari nomor tidak dikenal masuk lagi ke nomor Maya.


"Aku taruh cincin itu di tas hitammu sewaktu kamu lengah saat kita bertemu di Bali! Aku harap jawabanmu tidak mengecewakan aku lagi!"


Maya kesal membaca pesan itu. "Dasar kepala batu! Dari dulu tidak pernah berubah wataknya!" umpat Maya.


"Besok saja lah aku cari cincinnya! Toh semua barang-barang di dalam tas itu tidak pernah aku otak-atik!"


Maya meletakan hapenya kembali dan memilih melanjutkan tidurnya kembali.


Di dalam kamar Anita, Risman sedang mencumbu mesra pembantunya yang sudah beberapa hari ini tidak dia jamah.


Mata Risman awas sekali. "Ini tanda apa An?" tanya Risman dengan raut wajah marahnya.


"Tanda apa Mas?!"


"Ini merah-merah di leher kamu!" tunjuk Risman.


'Yono s*alan' umpat Anita dalam hati.


"Itu kayaknya digigit serangga Mas! Tadi gatal banget jadi aku garuk-garuk eh malah jadi merah!" kilah Anita menjelaskan.


"Kamu sedang tidak berbohong kan?!" selidik Risman.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part   26: Anita Kurang Ajar


Flashback


"Ahh" d*sah Anita saat lehernya dihisap oleh Pak Yono.


Pak Yono sengaja menghisap leher Anita karena dia ingin memberi tanda kepemilikan ke tubuh gadis muda itu tanpa peduli kedepannya akan berakibat seperti apa.


Anita lemas tubuhnya dan hanya bisa pasrah saja dihisap oleh Pak Yono.


Kesadaran Anita seolah lenyap untuk sesaat ketika tubuhnya sedang dijamah oleh Pak Yono di taman belakang.


Flashback end


Risman sedang mencumbu tubuh Anita namun kedua matanya menemukan tanda merah di leher Anita.


"Ini tanda apa An?" tanya Risman dengan raut wajah marahnya.


"Tanda apa Mas?!"


"Ini merah-merah di leher kamu!" tunjuk Risman.


'Yono s*alan' umpat Anita dalam hati.


"Itu kayaknya digigit serangga Mas! Tadi gatal banget jadi aku garuk-garuk eh malah jadi merah!" kilah Anita menjelaskan.


"Kamu sedang tidak berbohong kan?!" selidik Risman.


"Mana mungkin aku berbohong Mas?!" jawab Anita sealami mungkin.


Risman mengamati raut wajah Anita dan tidak menemukan kebohongan di dalam ekspresi wAnitata itu.


Risman tersenyum lalu kembali melanjutkan aksinya.


"Ahh" pekik Anita saat Risman menggigit lehernya.


"Pelan-pelan sayang! Kalau Maya dengar kita tamat!" tegur Risman.


"Kamu nakal sih!" sahut Anita.


"Hahaha" Risman tertawa dan Anita juga ikut tertawa.


"Ayo Mas lanjutkan!" pinta Anita. "Aku sudah kangen tahu sama si kecil kamu!"


"Memangnya kamu sudah siap?!"


"Sudah!" angguk Anita. "Ayo Mas! Masukin saja cepat!" seru Anita tidak sabaran.


"Sebentar ya! Mas pakai k*ndom dulu!"


Anita kesal melihat Risman lagi-lagi menggunakan pengaman. "Mas kenapa sih pakai pengaman terus?!" tanya Anita sebal.


"Sudah kebiasaan sayang! Maya kan tidak cocok tubuhnya kalau KB jadi Mas yang mengalah!"


"Ya sudahlah terserah!" Anita memilih mengakhiri pembahasan itu karena nama Maya disebut-sebut. Anita paling benci mendengar nama Maya. "Ayo Mas cepet masukin saja!" pinta Anita tidak sabaran.


Risman mengangguk patuh.


***


Keesokan harinya, Risman sudah berangkat kerja. Dinda dan Ilham sudah berangkat sekolah. Hanya Maya saja yang masih berada di rumah ini karena sedang bersiap-siap untuk dinas keluar kota kembali.


Di ruangan dapur Anita sedang membuat kopi pesanan Maya karena pagi ini Maya merasa sangat ngantuk sekali.


Anita dengan ogah-ogahan membuatkan kopi untuk Maya. "Males banget sumpah buatin kopi buat si Nenek lampir!" gumam Anita. "Harusnya yang buat kopi tuh Bi Ijah, eh dia malah tidak masuk hari ini!" keluh Anita.


Anita mel*dahi kopi yang akan disajikan kepada Maya. "Minum tuh l*dahku!" tawa Anita sinis.


Anita mengantarkan kopi untuk Maya ke ruang tengah karena Maya sudah selesai merapikan semua keperluannya dan saat ini sedang duduk senderan di kursi sofa itu.


"Silakan diminum Bu!" senyum Anita mAnitas sekali saat menyajikan kopi itu kehadapan Maya.


"Makasih ya An!"


"Iya sama-sama Bu!"


Anita berlalu dari ruang tengah itu dan Maya belum ada Anitatan untuk meminum kopi buatan Anita.


Maya kini mengeluarkan kotak cincin yang telah diberikan oleh laki-laki keras kepala itu yang terus-menerus mengejar-ngejar Maya meski Maya sudah berkeluarga.


Tangan kanan Maya memegangi kotak cincin itu sedangkan tangan kirinya mulai dia ulurkan untuk mengambil cangkir kopi yang telah Anita l*dahi.


Cangkir kopi itu terangkat dan mulai di dekatkan ke arah mulut Maya.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part  27: Bungkusan


Tangan Maya terulur dan mengambil cangkir kopi yang telah dil*dahi oleh Anita.


"Aw" tangan kiri Maya tiba-tiba tergelincir dan membuat cangkir kopi yang dia pegang jatuh ke atas karpet ruang tengah.


"Aw sakit!" ringis Maya.


Seketika kotak cincin yang dipegang oleh tangan kanan Maya dia letakkan di atas meja ruang tengah. Tangan itu kini memegangi tangan sebelah kiri yang kemungkinan salah urat.


Bulir air mata Maya mulai merembes keluar. "Aw" ringisnya lagi.


Secara perlahan Maya mulai meluruskan lengan kirinya yang sedang menekuk itu.


"Sakit banget!"


Setelah beberapa saat lengan kiri Maya telah normal kembali. Maya bernapas lega meski kedua pipinya telah basah oleh air mata.


"Kenapa tanganku tiba-tiba kram?!" gumam Maya. "Perasaan kemarin aku tidak mengerjakan hal yang berat-berat dan suhu juga sedang tidak dingin!" Maya merasa aneh. "Ah sudahlah mending aku buat kopi! Waktu semakin mepet!" putus Maya seraya bangkit dari duduknya dan mulai melangkah kedu kakinya ke arah dapur.


Maya saat ini sedang mengambil gelas lalu meletakkan gelas itu di atas meja.


"Ini bungkusan apa?!" tangan Maya meraih bungkusan kertas yang ada di meja itu.


Maya perlahan membuka kertas pembungkus itu yang hanya berupa lipatan.


"Ini bubuk apa?!" tanya Maya saat mendapati ada bubuk di dalam kertas itu. "Apa ini obat?!" Maya bertanya-tanya.


Maya segera mengambil kantung plastik setengah kiloan dan memasukan kertas pembungkus yang berisi bubuk putih yang kemungkinan adalah obat, tapi entah obat apa, yang bisa Maya lakukan saat ini adalah mengamankan hal-hal yang mencurigakan.


Kini Maya beralih ke tong sampah di dapur ini dan dia menemukan ada beberapa kertas pembungkus serupa yang telah kosong isinya berada di dalam tong sampah itu dan bercampur dengan sampah lainnya.


Maya segera mengeluarkan hapenya dan memotret semua kertas-kertas itu.


"Ada sesuatu yang tidak beres!" duga Maya. "Aku harus menyelidikinya!"


Maya memasukkan plastik yang telah dia ikat ke dalam saku jasnya.


Kini Maya mulai melanjutkan membuat kopi untuk dirinya sendiri dan meminumnya di ruang dapur.


Tin Tin Tin Tin


Terdengar suara klakson dari arah luar.


"Sepertinya itu Alex!"


Maya bergegas bangun dari duduknya dan meneguk habis kopi yang masih tersisa di dalam cangkirnya.


Langkah Maya sedikit berlari dan tangannya langsung menyambar kedua tasnya yang ada di atas sofa ruang tengah dan tanpa sadar meninggalkan kotak cincin yang seharusnya dia bawa hari ini ke Bali.


Di depan rumah Maya sudah terparkir mobil mewah milik Alex.


"Lama sekali kamu Tan!" tegur Alex. "Cepat masuk!" perintahnya yang disertai gerakan kepala.


"Lebay kamu Lex!" cibir Maya seraya masuk ke dalam mobil mewah itu.


Mobil mewah itu langsung meluncur menuju bandara.


"Lex bisa tidak kalau urusan seperti ini jangan selalu dilimpahkan kepadaku!" protes Maya.


"Aston maunya kamu Tan! Aku mana mungkin bisa nolak! Dia investor penting untuk perusahaan Ayahku!" jawab Alex yang tetap fokus menyetir.


"Ya ya ya! Dari dulu Aston selalu menjadi orang penting!" sahut Maya kesal.


"Apakah dia masih belum menyerah terhadapmu Tan?!"


"Belum!" jawab Maya pendek.


"Woaaa... sebenarnya kau pakai susuk apa Tan sampai Aston tergila-gila padamu?!"


"Susuk tali pocongmu!" jawab Maya kesal dan langsung mencubit perut Alex dengan sekuat-kuatnya.


"Aw" teriak Alex kesakitan.


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part    28: Anita Mulai Muak


Anita saat ini sedang menyuapi Kakek Anwar bubur yang sudah dia campur dengan obat tidur.


Anita tidak mau direpotkan oleh orang tua yang saat ini sedang dia suapi.


'Iya bagus! Terus makan bubur ini dan tidurlah' batin Anita sambil tersenyum.


Kakek Anwar melahap bubur itu dengan ogah-ogahan.


"Kakek ayo makan lagi!" ucap Anita lemah lembut.


Kakek Anwar menggeleng. "Aku tidak mau makan lagi!"


"Ya!" bentak Anita. "Ayo makan cepat dan tidurlah sepanjang hari!" paksa Anita yang terus menjejalkan bubur itu ke mulut kakek Anwar.


Anita sudah lepas kontrol emosinya yang sedari dulu bisa dia kendalikan dengan baik. Dia sudah muak mengurusi orang tua di hadapannya ini.


"Kenapa kau tidak cepat mati saja hah!" bentak Anita.


Akal pikiran Anita saat ini sedang hilang entah kemana. Bisa-bisanya dia berlaku kasar kepada Kakek Anwar yang statusnya adalah Ayah biologisnya Risman dan mertuanya Maya.


"Pembantu kurang ajar kau!" omel Kakek Anwar. "Akan aku adukan sikap kurang ajarmu ini pada Maya!" ancam Kakek Anwar.


"Adukan saja jika kau bisa tua bangka!" Anita mengeram benci. "Buka mulutmu tua bangka!" Anita sekuat tenaga membuka mulut Kakek Anwar dan memasukkan semua bubur yang dia bawa.


Kakek Anwar dengan mudah dikalahkan oleh Anita dan sekarang laki-laki tua itu sudah terlelap tidur.


"Nanti sore aku tidak boleh telat memberi makan tua bangka ini! Supaya dia tidak bisa mengadu ke Nenek Lampir itu!" tekad Anita.


Anita keluar dari dalam ruang kamar Kakek Anwar dan berjalan menuju ruang dapur dan melemparkan mangkuk itu begitu saja ke tempat pencucian piring.


Kini kepala Anita mulai ditengokan ke kanan dan ke kiri. "Nenek Lampir itu sudah berangkat belum ya?!" bertanya-tanya dan mulai melangkahkan kakinya mengecek satu persatu ruangan di rumah ini dan tidak menemukan keberadaan Maya.


"Bagus!" Anita tersenyum senang saat tidak mendapati Maya di rumah ini. Dia mulai meraih hape dia sakunya dan menelepon Risman.


"Mas!" panggil Anita.


"Maya sudah berangkat! Cepat pulang Mas! Bukankah kita mau pergi ke dokter kandungan mengecek kondisi anak kita!"


"Baik! Mas segara pulang ya!" sahut Risman dari seberang telepon.


"Cepetan ya Mas!"


"Iya!"


Sambungan telepon itu pun diakhiri.


"Sekarang saatnya ganti pakaian dengan pakaian yang bagus!" Anita berlalu menuju ruang kamarnya dengan senyum mengembang sembari mengelus-elus perutnya yang masih rata.


***


Di halaman depan rumah Maya dan Risman berkumpul beberapa pengendara sepeda motor.


Dinda turun dari motor DAnita dan segera membuka pintu gerbang rumah ini.


Drrrt


Pintu gerbang itu berhasil dibuka oleh Dinda dan semua teman-temannya memasuki halaman rumahnya.


"Ini beneran tidak apa-apa kalau kita main ke rumah kamu?!" tanya DAnita.


"Tenang saja! Mama lagi dinas keluar kota!" sahut Dinda menenangkan.


Semua siswa sekolah menengah pertama itu mulai masuk ke dalam rumah dan duduk-duduk di ruang tamu pada awalnya.


Tapi Dita dan pacaranya yang penasaran dengan rumah Dinda mulai menjelajahi rumah Dinda dan merambah masuk ke ruang tengah.


Mereka berdua langsung duduk di atas sofa dan mengambil remote untuk menyalakan televisi.


"Sayang! Aku bantuin Dinda bentar ya! Kasian kalau dia nyiapin minum sendirian saja!" pamit Dita yang bergegas bangkit dari duduknya menyusul Dinda ke ruang dapur.


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part    29: Risman Tidak Sayang Anak Kah?


Kini hanya tinggal Gilang seorang yang berada di depan televisi. Pandangan matanya tidak sengaja melihat kotak cincin yang tidak sengaja ditinggalkan oleh Maya.


Tangan Gilang terulur dan mengambil kotak cincin itu dan membukanya.


Kedua mata Gilang langsung melotot karena melihat permata yang menghiasi cincin itu begitu besar.


Gilang langsung menutup kotak cincin itu dan kepalanya menengok ke kanan kiri untuk memantau situasi, dirasa situasi aman, Gilang langsung memasukkan kotak cincin itu ke dalam tasnya.


"Rejeki nomplok!" gumam Gilang.


Di luar rumah, mobil Risman mulai memasuki halaman rumah ini dan dengan langkah santainya dia masuk ke dalam rumah.


Risman kaget saat mendapati ada teman-temannya Dinda sedang main ke rumah ini.


"Pagi Om!" sapa mereka.


"Pagi juga!" balas Risman. "Kalian kenapa ada di sini?! Bukannya belum waktunya jam pulang sekolah ya?!" tanya Risman.


"Guru kami ada rapat penting! Jadi kami dipulangkan lebih awal Om!" Jawab Ken.


"Oh!"


Saat ini Risman pusing bagaimana caranya mengajak Anita keluar tanpa diketahui oleh Dinda dan teman-temannya.


Anita yang baru keluar dari dalam kamarnya kaget saat melihat Dita melintas, untungnya Dita tidak melihat ke arah Anita.


"Kenapa ada temannya anak si*lan itu!" umpat Anita pelan.


Anita segera masuk kembali ke dalam ruang kamarnya karena takut ketahuan sedang memakai baju bermerek yang harganya jutaan.


Risman dan Anita bertukar pesan.


"Mas, ada Dinda di rumah bagaimana ini?!" tanya Anita.


"Mas sudah tahu!" balas Risman.


"Mas sudah sampai rumah?!"


"Iya, baru saja sampai! Tapi Mas kaget pas lihat ada temen-temennya Dinda!"


"Mas cepat usir mereka bagaimanapun caranya! Hari ini kita harus segera periksakan kandunganku ke dokter! Aku merasa perutku tidak enak!"


"Iya! Mas akan segera usir mereka bagaimanapun caranya! Kamu tenang saja!"


"Semoga berhasil Mas!" balas Anita.


Risman tersenyum ke arah teman-teman Dinda yang duduk bersama dengannya di ruang tamu.


"Kalian apa tidak merasa bosan?!" Risman mulai membuka percakapan.


"Bosan kenapa Om?!" tanya Gilang yang sudah ikut bergabung dengan teman-temannya di ruang tamu.


"Main di rumah?! Dulu waktu Om seumuran kalian, jika pulang cepat pasti bakalan main ke tempat wisata atau mall terdekat!" jawab Risman.


"Sebenarnya sih tadi kami ada Anitatan pengen ke pantai bareng teman-teman tapi Dinda tidak mau karena tidak mungkin mendapatkan ijin!" papar DAnita.


"Kenapa Dinda mikirnya begitu?!" selidik Risman.


"Pantai kan jauh Om! Memakan waktu satu jam untuk sampai ke sana!" jelas DAnita. "Dinda bilang pasti tidak akan diijinkan! Ya makanya kami jadi mainnya ke rumah Dinda saja!"


"Kata siapa tidak diijinkan?! Om ngijinin kok! Yang penting hati-hati saja!"


"Beneran Om?!" seru DAnita tampak senang mendengar berita ini.


"Tentu saja!" yakin Risman.


"Kalau begitu aku minta ijin ajak Dinda jalan-jalan ke pantai bareng teman-teman ya Om?!" DAnita meminta ijin secara resmi.


"Iya, Om ijinkan!" jawab Risman.


"Makasih ya Om!" DAnita menjabat tangan Risman.


Dinda dan Dita membawa minuman dan makanan ringan di atas nampan ke ruang tamu.


"Papa serius ijinin Dinda main ke pantai?!" tanya Dinda memastikan.


"Iya Kak!" jawab Risman mantap. "Tapi kamu jangan bilang sama Mama! Ntar yang ada kita berdua dimarahin sama Mama!"


"Tenang Pah! Kakak tidak akan bilang sama Mama kok!" Dinda tersenyum senang. "Makasih ya Pah!"


"Iya sama-sama!"


***


Selanjutnya....... Part 1-40 

https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/pembantu-cantik-menjadi-permaisuri.html


Novel " Pembantu Cantik Menjadi Permaisuri"


Part   30: U-turn


Risman dan teman-teman anaknya sedang bercengkrama sambil menghabiskan suguhan yang telah dihidangkan oleh Dinda.


DAnita mengirim pesan kepada Dinda. "Yank, jangan lupa bawa k*ndom titipan Gilang! Anaknya sudah nanyain tuh!"


Drrt drrt drrt


Hape Dinda bergetar, Dinda langsung memiringkan hapenya agar Risman tidak bisa membaca pesan dari DAnita.


Posisi Dinda dan Risman saat ini sedang duduk bersebelahan.


"Iya!" balas Dinda.


Dinda bangkit dari duduknya dengan alami sehingga tidak menarik perhatian yang lainnya termasuk Ayahnya sendirian.


Dinda berjalan masuk ke dalam kamarnya dan mengambil bungkusan k*ndom yang tiga hari tidak sengaja terbawa olehnya.


K*ndom itu Dinda masukan ke dalam tasnya dan dia keluar lagi dari dalam kamarnya.


Teman-teman yang lainnya kini sudah berada di luar rumah karena sudah saatnya mereka berangkat ke tempat tujuan mereka yaitu pantai.


Semuanya sudah memakai baju bebas dengan bawahan celana dan rok biru seragam SMP mereka.


"Om kami berangkat ya Om!" pamit mereka semua.


"Iya, hati-hati di jalan ya!" pesan Risman.


"Beres Om!"


"Siap Om"


"Dan, Om titip Dinda ya!"


"Oke Om!" sahut DAnita.


Anak-anak remaja SMP itu mulai meninggalkan halaman rumah ini dengan motor mereka masing-masing.


Anak-anak itu memang belum cukup umur untuk membawa kendaraan sendiri, namun apa daya orang tua mereka tidak membatasi anaknya sehingga sudah lumrah di kalangan masyarakat anak-anak seumuran mereka membawa kendaraan sendiri.


Anita keluar dari dalam rumah dan kini berdiri di sebelah Risman.


"Eh sayangnya Mas sudah keluar!" ujar Risman saat melihat kehadiran Anita di sebelahnya."Baru saja mau Mas panggil sudah nongol saja! Hahaha" tawa Risman renyah.


Anita langsung melendot manja. "Mas ayo kita segera berangkat!"


"Iya ayo!" sahut Risman.


Risman dan Anita berjalan ke arah mobil Risman dan masuk ke dalam kendaraan itu.


Risman dan Anita lupa tidak mengunci pintu rumah ini. Bahkan mereka dengan teledornya tidak menutup kembali pintu gerbang yang masih terbuka lebar.


***


Maya dan Alex sedang dalam perjalanan kembali ke rumah Maya karena Maya baru menyadari bahwa dia lupa membawa cincin milik Aston.


"Kok kamu minta putar balik sih Tan?" tanya Alex penasaran.


"Cincin Aston ketinggalan! Ntar kalau tidak dibalikin dikira aku lagi kasih kesempatan!" dengkus Maya.


"Ya tidak apa-apa kali! Aston kan tampan, mapan, dan yang paling penting cinta setengah hidup sama kamu Tan!"


"Tapi aku tidak mau Lex! Aku itu sudah berumah tangga! Sudah punya suami dan anak-anak!"


"Oh iya, aku penasaran sama Risman! Kok kamu bisa tahan pacaran sama dia lama banget sih Tan? Padahal dulu waktu jaman masih sekolah dan kuliah banyak yang ngejar-ngejar kamu!"


"Risman itu orangnya baik, pengertian, dan yang paling penting dia setia!" Maya tersenyum ketika terkenang dengan masa mudanya saat masih pacaran dengan Risman.


"Setiap tikungan ada ya Tan!" canda Alex.


"Sembarangan!"


Plak


Maya menggeplak lengan Alex.


"Hahaha" Alex malah tertawa.


Maya dan Alex sudah berteman sejak mereka masih sekolah dasar, sehingga meskipun Alex adalah atasan Maya, mereka terkadang masih berinteraksi seperti teman pada umumnya.


"Lex gimana sama istri kamu?! Sudah ketemu titik terang belum?!" tanya Maya yang penasaran dengan nasib rumah tangga teman kecilnya ini yang sedang diujung tanduk.


***


 

posted under |
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda