Dinodai Putri Juragan Kaya
Novel "Dinodai Putri Juragan Kaya"
Kisah ini terjadi ketika aku masih usia 18 tahun. Aku yang baru saja lulus SMA bingung mau kemana, melanjutkan Kuliah nggak mungkin sebab Bapakku sudah satu tahun yang lalu meninggal. Sedangkan Ibuku hanya penjual nasi bungkus di kampus dan kedua kakakku pergi entah bagaimana kabarnya.
Sebab sejak pamitan mau merantau ke Pulau luar jawa nggak pernah ada kabar bahkan sampai Bapak meninggalpun juga nggak tahu. Adik perempuanku yang masih kelas dua SMP juga membutuhkan biaya.
Akhirnya aku hanya bisa main-main saja sebab meski aku anak laki-laki satu-satunya aku mau kerja masih belum kuat dan takut untuk pergi merantau tanpa ada yang mengajak.
Suatu ketika ada saudara Bapakku yang datang dengan seorang tamu laki-laki. Kata pamanku dia membutuhkan orang yang mau menjaga rumahnya dan merawat taman. Setelah aku berpikir panjang aku akhirnya mau dengan mempertimbangkan keadaan Ibuku.
Berangkatlah aku ke kota tepatnya di perumahan daerah kampus. Aku terkagum-kagum dengan rumah juragan baruku ini, disamping rumahnya besar halamannya juga luas. Juraganku sebut saja namanya Pak Suyanto, Ia Jajaran pengusaha kaya raya,
Ia mempunyai dua Anak Perempuan yang satu baru saja berkeluarga dan yang bungsu kelas 3 SMA namanya Puspita Sari, usianya kira-kira 18 tahun. Sedangkan istrinya membuka usaha sebuah toko busana yang juga terbilang sukses di kota tersebut, dan masih ada satu pembantu perempuan Pak Suyanto namanya Bik Asiyah usianya kira-kira 27 tahun.
Teman Puspita Sari banyak sekali setiap malam minggu selalu datang kerumah kadang pulang sampai larut malam, hingga aku tak bisa tidur sebab harus nunggu teman Non Puspita Sari pulang untuk mengunci gerbang, kadang juga bergadang sampai pukul 04.00.
Mungkin kacapekan atau memang ngantuk usai bergadang malam minggu, yang jelas pagi itu kamar Non Puspita Sari masih terkunci dari dalam. Aku nggak peduli sebab bagiku bukan tugasku untuk membuka kamar Non Puspita Sari, aku hanya ditugasi jaga rumah ketika Pak Suyanto dan Istrinya Pergi kerja dan merawat tamannya saja.
Pagi itu Pak Suyanto dan Istrinya pamitan mau keluar kota, katanya baru pulang minggu malam sehingga dirumah itu tinggal aku, Bik Asiyah dan Non Puspita Sari. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 tapi Non Puspita Sari masih belum bangun juga dan Bik Asiyah sudah selesai memasak.
“Jono, aku mau belanja tolong pintu gerbang dikunci.”
“Iya Bik!” jawabku sambil menyiram tanaman didepan rumah. Setelah Bik Asiyah pergi aku mengunci pintu gerbang.
Setelah selesai menyiram taman yang memang cukup luas aku bermaksud mematikan kran yang ada di belakang. Sesampai didepan kamar mandi aku mendengar ada suara air berkecipung kulihat kamar Non Puspita Sari sedikit terbuka berarti yang mandi Non Puspita Sari.
Tiba-tiba timbul niat untuk mengintip. Aku mencoba mengintip dari lubang kunci, ternyata tubuh Non Puspita Sari mulus dan su5unya sangat kenyal, kuamati terus saat Non Puspita Sari menyiramkan air ke tubuhnya, dengan perasaan berdegap aku masih belum beranjak dari tempatku semula.
Baru pertama ini aku melihat tubuh perempuan tanpa tertutup sehelai benang. Sambil terus mengintip, tanganku juga memegangi p3n1sku yang memang sudah tegang, kulihat Non Puspita Sari membasuh sabun keseluruh badannya aku nggak melewatkan begitu saja sambil tanganku terus memegangi p3n1s.
Aku cepat-cepat pergi, sebab Non Puspita Sari sudah selesai mandinya namun karena gugup aku langsung masuk ke kamar WC yang memang berada berdampingan dengan kamar mandi, disitu aku sembunyi sambil terus memegangi p3n1sku yang dari tadi masih tegang.
Cukup lama aku di dalam kamar WC sambil terus membayangkan yang baru saja kulihat, sambil terus merasakan nikmat aku tidak tahu kalau Bik Asiyah berada didepanku. Aku baru sadar saat Bik Asiyah menegurku,
“Ayo.. ngapain kamu.”
Aku terkejut cepat-cepat kututup resleting celanaku, betapa malunya aku.
“Ng.. nggak Bik..” kataku sambil cepat-cepat keluat dari kamar WC. Sialan aku lupa ngunci pintunnya, gerutuku sambil cepat-cepat pergi.
Esoknya usai aku menyiram taman, aku bermaksud ke belakang untuk mematikan kran, tapi karena ada Bik Asiyah mencuci kuurungkan niat itu.
“Kenapa kok kembali?” tanya Bik Asiyah.
“Ah.. enggak Bik..” jawabku sambil terus ngeloyor pergi.
“Lho kok nggak kenapa? Sini saja nemani Bibik mencuci, lagian kerjaanmu kan sudah selesai, bantu saya menyiramkan air ke baju yang akan dibilas,” pinta Bik Asiyah.
Akhirnya akupun menuruti permintaan Bik Asiyah. Entah sengaja memancing atau memang kebiasaan Bik Asiyah setiap mencuci baju selalu menaikkan jaritnya diatas lutut, melihat pemandangan seperti itu, jantungku berdegap begitu cepat
“Begitu putihnya paha Bik Asiyah ini” pikirku, lalu bayanganku mulai nakal dan berimajinasi untuk bisa mengelus-ngelus paha putih Bik Asiyah.
“Heh! kenapa melihat begitu!” pertanyaan Bik Asiyah membuyarkan lamunanku
“Eh.. ngg.. nggak Bik” jawabku dengan gugup.
“Sebentar Bik, aku mau buang air besar” kataku, lalu aku segera masuk kedalam WC, tapi kali ini aku tak lupa untuk mengunci pintunya.
Didalam WC aku hanya bisa membayangkan paha mulus Bik Asiyah sambil memegangi p3n1sku yang memang sudah menegang cuma waktu itu aku nggak merasakan apa-apa, cuma p3n1s ini tegang saja. Akhirnya aku keluar dan kulihat Bik Asiyah masih asik dengan cucianya.
“Ngapain kamu tadi didalam Jon?” tanya Bik Asiyah.
“Ah.. nggak Bik cuma buang air besar saja kok,” jawabku sambil menyiramkan air pada cuciannya Bik Asiyah.
“Ah yang bener? Aku tahu kok, aku tadi sempat menguntit kamu, aku penasaran jangan-jangan kamu melakukan seperti kemarin ee..nggak taunya benar,” kata Bik Asiyah
“Hah..? jadi Bibik mengintip aku?” tanyaku sambil menunduk malu.
Tanpa banyak bicara aku langsung pergi.
“Lho.. kok pergi?, sini Jon belum selesai nyucinya, tenang saja Jon aku nggak akan cerita kepada siapa-siapa, kamu nggak usah malu sama Bibik ” panggil Bik Asiyah.
Kuurungkan niatku untuk pergi.
“Ngomong-ngomong gimana rasanya saat kamu melakukan seperti tadi Jon?” tanya Bik Asiyah.
“Ah nggak Bik,”jawabku sambil malu-malu.
“Nggak gimana?” tanya Bik Asiyah seolah-olah mau menyelidiki aku.
“Nggak usah diteruskan Bik aku malu.”
“Malu sama siapa? Lha wong disini cuma kamu sama aku kok, Non Puspita Sari juga sekolah, Pak kerja?” kata Bik Asiyah.
“Iya malu sama Bibik, sebab Bibik sudah tahu milikku,” jawabku.
“Oalaah gitu aja kok malu, sebelum tahu milikmu aku sudah pernah tahu sebelumnya milik mantan suamiku dulu, enak ya?”
“Apanya Bik?” tanyaku
“Iya rasanya to..?” gurau Bik Asiyah tanpa memperdulikan aku yang bingung dan malu padanya.
“Sini kamu..” kata Bik Asiyah sambil menyuruhku untuk mendekat, tiba-tiba tangan tangan Bik Asiyah memegang p3n1sku.
“Jangan Bik..!!” sergahku sambil berusaha meronta, namun karena pegangannya kuat rasanya sakit kalau terus kupaksakan untuk meronta.
Dan akhirnya terjadi pergumulan dengan bik aisyah yang sangat lama.
Esoknya setiap isi rumah menjalankan aktivitasnya, aku selalu melakukan adegan ini dengan Bik Asiyah. Saat itu hari Sabtu, kami nggak nyangka kalau Non Puspita Sari pulang pagi. Saat kami tengah asyik melakukan kuda-kudaan dengan Bik Asiyah, Non Puspita Sari memergoki kami.
” Hah? Apa yang kalian lakukan! Kurang ajar! Awas nanti tak laporkan pada papa dan mama, kalian!”
Melihat Non Puspita Sari kami gugup bingung, “Jangan Non.. ampuni kami Non,” rengek Bik Asiyah.
“Jangan laporkan kami pada tuan, Non.”
Akupun juga takut kalau sampai dipecat, akhirnya kami menangis di depan Non Puspita Sari, mungkin Non Puspita Sari iba juga melihat rengekan kami berdua.
“Iya sudah jangan diulangi lagi Bik!!” bentak Non Puspita Sari.
“Iy.. iya Non,” jawab kami berdua.
Esoknya seperti biasa Non Puspita Sari selalu bangun siang kalau hari minggu, saat itu Bik Asiyah juga sedang belanja sedang Pak Beny dan Istrinya ke Gereja, saat aku meyirami taman, dari belakang kudengar Non Puspita Sari memanggilku,
“Joon!! Cepat sini!!” teriaknya.
“Iya Non,” akupun bergegas kebelakang tapi aku tidak menemukan Non Puspita Sari.
“Non.. Non Puspita Sari,” panggilku sambil mencari Non Puspita Sari.
“Tolong ambilkan handuk dikamarku! Aku tadi lupa nggak membawa,” teriak Non Puspita Sari yang ternyata berada di dalam kamar mandi.
“Iya Non.”
Akupun pergi mengambilkan handuk dikamarnya, setelah kuambilkan handuknya “Ini Non handuknya,” kataku sambil menunggu diluar. Ngocoks.com
“Mana cepat..”
“Iya Non, tapi..”
“Tapi apa!! Pintunya dikunci..”
Aku bingung gimana cara memberikan handuk ini pada Non Puspita Sari yang ada didalam? Belum sempat aku berpikir, tiba-tiba kamar mandi terbuka. Aku terkejut hampir tidak percaya Non Puspita Sari telanjang bulat didepanku.
“Mana handuknya,” pinta Non Puspita Sari.
“I.. ini Non,” kuberikan handuk itu pada Non Puspita Sari.
“Kamu sudah mandi?” tanya Non Puspita Sari sambil mengambil handuk yang kuberikan.
“Be..belum Non.”
“Kalau belum, ya.. sini sekalian mandi bareng sama aku,” kata Non Puspita Sari.
Belum sempat aku terkejut akan ucapan Non Puspita Sari, tiba-tiba aku sudah berada dalam satu kamar mandi dengan Non Puspita Sari, aku hanya bengong ketika Non Puspita Sari melucuti kancing bajuku dan membuka celanaku, aku baru sadar ketika Non Puspita Sari memegang milikku yang berharga.
“Non..,” sergahku.
“Sudah ikuti saja perintahku, kalau tidak mau kulaporkan perbuatanmu dengan Bik Asiyah pada papa,” ancamnya.
Selanjutnya.............
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/09/dinodai-putri-juragan-kaya.html
Aku nggak bisa berbuat banyak, sebagai lelaki normal tentu perbuatan Non Puspita Sari mengundang birahiku, sambil tangan Non Puspita Sari bergerilya di bawah perut, bibirnya mencium bibirku, akupun membalasnya dengan ciuman yang lembut. Lalu kuciumi buah dada Non Puspita Sari yang singsat dan padat. Non Puspita Sari mend3s4h, “Augh..”
Kuciumi, lalu aku tertuju pada selakangan Non Puspita Sari, kulihat bukit kecil diantara paha Non Puspita Sari yang ditumbuhi bulu-bulu halus, belum begitu lebat aku coba untuk memegangnya. Non Puspita Sari diam saja, lalu aku arahkan bibirku diantara selakangan Non Puspita Sari.
“Sebentar Jon..,” kata Non Puspita Sari, lalu Non Puspita Sari mengambil posisi duduk dilantai kamar mandi yang memang cukup luas dengan kaki dilebarkan, ternyata Non Puspita Sari memberi kelaluasaan padaku untuk terus menciumi gundukan sintalnya.
Melihat kesempatan itu tak kusia-siakan, aku langsung melumat gundukan sintalnya kumainkan lidahku didalm gundukan sintalnya.
“Augh.. Jon.. Jon,” erangan Non Puspita Sari, aku merasakan ada cairan yang mengalir dari dalam gundukan sintal Non Puspita Sari. Melihat erangan Non Puspita Sari kulepaskan ciuman bibirku pada gundukan sintal Non Puspita Sari, seperti yang diajarkan Bik Asiyah kumasukkan jemari tanganku pada gundukan sintal Non Puspita Sari. Non Puspita Sari semakin mend3s4h, “Ugh Jon.. terus Jon..,” d3s4h Non Puspita Sari. Lalu kuarahkan p3n1sku pada gundukan sintal Non Puspita Sari.
Bless.. bless.. Batangku dengan mudah masuk kedalam gundukan sintal Non Puspita Sari, ternyata Non Puspita Sari sudah nggak perawan, kata Bik Asiyah seorang dikatakan perawan kalau pertama kali melakukan hubungan intim dengan lelaki dari gundukan sintalnya mengeluarkan darah, sedang saat kumasukkan p3n1sku ke dalam gundukan sintal Non Puspita Sari tidak kutemukan darah.
Kutarik, kumasukkan lagi p3n1sku seperti yang pernah kulakukan pada Bik Asiyah sebelumnya. “Non.. aku.. mau keluar Non.”
“Keluarkan saja didalam Jon..”
“Aggh.. Non.”
“Jon.. terus Jon..”
Saat aku sudah mulai mau keluar, kubenamkan seluruh batang p3n1sku kedalam gundukan sintal Non Puspita Sari, lalu gerkkanku semakin cepat dan cepat.
“Ough.. terus.. Jon..”
Kulihat Non Puspita Sari menikmati gerakanku sambil memegangi rambutku, tiba-tiba kurasakan ada cairan hangat menyemprot ke p3n1sku saat itu juga aku juga merasakan ada yang keluar dari p3n1sku nikmat rasanya. Kami berdua masih terus berangkulan keringat tubuh kami bersatu, lalu Non Puspita Sari menciumku.
“Terima kasih Jon kamu hebat,” bisik Non Puspita Sari.
“Tapi aku takut Non,” kataku.
“Apa yang kamu takutkan, aku puas, kamu jangan takut, aku nggak akan bilang sama papa” kata Non Puspita Sari. Lalu kami mandi bersama-sama dengan tawa dan gurauan kepuasan.
Sejak saat itu setiap hari aku harus melayani dua wanita, kalau di rumah hanya ada aku dan Bik Asiyah, maka aku melakukannya dengan Bik Asiyah. Sedang setiap Minggu aku harus melayani Non Puspita Sari, bahkan kalau malam hari semua sudah tidur, tak jarang Non Puspita Sari mencariku di luar rumah tempat aku jaga dan di situ kami melakukannya.