Api Terlarang Adik Ipar

 Api Terlarang Adik Ipar

Andre sedang duduk di teras rumah mewahnya sore itu, menikmati kopi hitam sambil melihat matahari mulai condong ke barat. Baru saja ia menyelesaikan proyek apartemen mewah di kawasan metropolitan, tubuhnya terasa lelah tapi pikirannya segar. Di usia 28 tahun, Andre sudah memiliki segalanya kekayaan, ketampanan, dan kekuatan fisik yang luar biasa, termasuk yang telah mengubah takdir banyak perempuan.

Tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Sebuah mobil kecil berhenti, dan keluarlah seorang perempuan cantik yang membuat Andre tersenyum tipis. Namanya Rara, 24 tahun, adik ipar Andre dari kakak perempuannya yang sudah menikah dan tinggal di luar negeri. Rara kuliah semester akhir jurusan psikologi, tubuhnya tinggi langsing dengan lekuk yang mematikan bu4h dad4 sedang tapi kencang dan proporsional, pinggang ramping, pinggul yang indah, kulit putih mulus, rambut cokelat panjang bergelombang, dan wajah oval dengan mata besar yang ekspresif. Rara adalah tipe gadis modern, aktif di kampus, tapi di balik itu ia masih perawan dan sering merasa penasaran dengan dunia dewasa.

“Bang Andre! Aku kangen!” seru Rara sambil berlari kecil memeluk Andre erat. Pelukan itu agak lama, dada Rara menempel di dada bidang Andre.

Andre membalas pelukan dengan lembut, mencium kening Rara. “Rara tumben datang sendiri. Kakakmu mana?”

“Kakak lagi di Singapura sama suaminya. Aku bosan di kosan, boleh menginap di sini beberapa hari? Please Bang…” pinta Rara dengan mata memohon, bibirnya manyun lucu.

“Tentu saja boleh. Rumah ini juga rumahmu,” jawab Andre hangat.

Malam pertama berlalu biasa. Rara membantu memasak makan malam bersama Lina (pembantu yang sudah hamil anak Andre). Mereka bertiga makan sambil tertawa. Tapi Andre tak bisa bohong sejak Rara beranjak dewasa, ia selalu merasa ada tarikan aneh terhadap adik iparnya ini. Rara juga sering melirik Andre diam-diam, terutama saat pria itu hanya memakai kaos tanpa lengan yang memperlihatkan otot lengannya.

Hari kedua, hujan deras sejak pagi. Rara mengenakan tank top tipis dan celana pendek rumah, rambutnya diikat asal. Ia membantu Andre merapikan dokumen di ruang kerja. Saat membungkuk, tank top-nya agak longgar, memperlihatkan belahan bu4h dad4 yang putih dan kencang.

Andre menelan ludah. “Rara, kamu sudah besar ya sekarang. Kuliahnya lancar?”

“Iya Bang. Tapi kadang aku bingung soal hubungan. Aku belum pernah pacaran serius. Takut salah pilih,” jawab Rara sambil duduk di sofa dekat Andre.

Obrolan mereka semakin dalam. Rara menceritakan betapa ia sering merasa kesepian, betapa teman-temannya sudah banyak yang berpengalaman, sementara ia masih menyimpan keperawanannya karena ingin yang spesial. Andre mendengarkan dengan sabar, tangannya sesekali menyentuh lengan Rara sebagai bentuk dukungan kakak ipar.

“Bang Andre selalu terlihat kuat dan tenang. Aku iri sama kakakku yang dulu bisa dapat Bang Andre… eh, maksudnya dulu sebelum kakak menikah dengan orang lain,” kata Rara malu-malu, pipinya merona.

Andre tersenyum lembut. “Kamu juga akan menemukan yang terbaik, Rara. Kamu cantik, pintar, dan murni.”

Sore harinya, listrik padam karena badai. Rumah menjadi temaram, hanya diterangi lilin dan lampu emergency. Rara takut gelap, ia mendekat ke Andre yang duduk di ruang keluarga. “Bang… aku takut. Boleh dekat sini?”

Andre merangkul bahu Rara. Pelan tapi pasti, pelukan itu semakin erat. Bau shampoo Rara yang segar dan kehangatan tubuhnya membuat Andre sulit mengontrol diri. Rara mendongak, mata mereka bertemu lama.

“Bang Andre… aku tahu ini salah. Tapi… aku sudah lama suka sama Bang. Bukan sebagai kakak ipar, tapi sebagai pria,” bisik Rara dengan suara gemetar.

Andre mengusap pipi Rara dengan ibu jarinya. “Rara… ini berbahaya. Kamu adik iparku. Tapi aku juga tidak bisa bohong, aku juga merasa ada sesuatu yang kuat saat dekat denganmu.”

Suasana semakin panas. Andre mendekatkan wajahnya perlahan, memberi Rara waktu untuk mundur. Rara justru memejamkan mata. Ciuman pertama mereka terjadi dengan sangat lembut. Bibir Andre menyentuh bibir Rara seperti menyentuh kelopak mawar. Ciuman itu lambat, penuh kasih, lidah mereka baru bertemu setelah hampir satu menit, menari dengan gerakan halus dan romantis.

Lanjut...

https://dramaranjang.blogspot.com/2026/05/api-terlarang-adik-ipar.html

Tangan Andre membelai punggung Rara, membuka tank top-nya perlahan. Rara hanya memakai bra sport tipis. Andre melepasnya dengan hormat. Bu4h dad4 Rara yang kencang terpapar, p3ntilnya kecil dan pink sudah mengeras. Andre menunduk, menciumnya dengan penuh kasih sayang, lidah berputar pelan, mengisap lembut tanpa tergesa.

“Ahh… Bang… rasanya aneh tapi enak sekali…” desah Rara, tangannya meremas rambut Andre.

Andre membawa Rara ke kamar utama. Ia membaringkan gadis itu di tempat tidur king size dengan seprai putih bersih. Dengan sabar ia mencium setiap inci tubuh Rara — leher jenjang, tulang selangka, perut rata, hingga paha dalam yang mulus. Saat lidah Andre menyentuh kli5tor1s Rara untuk pertama kali, gadis itu menggeliat hebat, pinggulnya terangkat.

“Bang… di situ… pelan Bang… ahh… aku basah sekali…” erang Rara malu-malu.

Andre menjilat dengan penuh kasih, lidahnya melingkar halus, kadang menjulur ke dalam v4gin4 yang masih sangat sempit dan perawan. Jarinya masuk perlahan, hanya satu jari dulu, bergerak menggoda titik sensitif. Rara mencapai orgasme pertama dengan tubuh kejang, cairannya keluar membasahi mulut Andre. Ia menangis karena kenikmatan yang baru pertama kali dirasakannya.

Setelah Rara tenang, Andre berdiri melepas semua pakaiannya. P3nisnya yang sudah mengeras sempurna hingga 23 cm berdiri gagah di depan Rara. Gadis itu terkejut, matanya membulat.

“Bang… itu… terlalu besar… apakah bisa masuk?” tanyanya cemas tapi penuh rasa ingin tahu.

Andre naik ke atas, mencium bibir Rara dalam-dalam. “Kita akan sangat pelan, Sayang. Bang akan buat kamu nyaman. Ini pertama kali kamu, Bang janji akan penuh kasih sayang. Kalau sakit, langsung bilang ya.”

Ia menggosokkan kepala p3nisnya yang besar di bibir m3m3k Rara yang licin berkali-kali, menekan kli5tor1s gadis itu hingga Rara mendesah terus-menerus. “Masuklah Bang… aku mau jadi milik Bang Andre… meski ini dosa besar…”

Andre mendorong sangat perlahan. Kepala p3nisnya masuk sedikit, meregangkan v4gin4 perawan Rara. Rara mengerang panjang, “Ahhhhh… sakit Bang… tapi… jangan berhenti… pelan ya…”

“Bagus sekali, Rara… kamu hebat… rileks… tarik napas dalam-dalam, cintaku,” bisik Andre romantis sambil berhenti, mencium bibir, leher, dan bu4h dad4 Rara berulang kali. Ia mendorong lagi perlahan, senti demi senti. Darah tipis keluar sebagai tanda keperawanan Rara hilang. Andre terus berbisik kata-kata manis, memuji betapa sempit dan hangatnya Rara, betapa ia mencintai dan menghargainya.

Setelah hampir seluruh 23 cm masuk, Rara merasa perutnya penuh sekali. Andre mulai bergerak sangat pelan, ritme naik turun yang lembut. Setiap dorongan disertai ciuman dan pujian. Rara mulai merasakan kenikmatan, pinggulnya ikut bergerak pelan.

“Lebih dalam Bang… ahh… sekarang enak… aku suka rasanya penuh oleh Bang Andre…”

Mereka berganti posisi perlahan. Andre duduk di tepi tempat tidur, Rara di pangkuannya. Gadis itu naik turun pelan, bu4h dad4nya bergoyang indah. Andre mengulum p3ntilnya sambil memegang pinggul Rara membantunya bergerak. Kemudian posisi doggy, Andre dari belakang memegang pinggul ramping Rara, menghunjam lebih dalam sambil tangannya meraih ke depan memainkan kli5tor1s.

Setelah hampir dua jam penuh foreplay dan permainan lembut yang intens, Andre membaringkan Rara kembali ke posisi misionaris. Kaki Rara direnggangkan lebar di atas bahunya. P3nisnya keluar masuk hampir seluruh panjang dengan ritme yang semakin kuat.

“Rara… Bang mau keluar di dalam. Bolehkah? Bang ingin hamili kamu, ingin kamu mengandung anak Bang,” bisik Andre parau di telinga Rara sambil terus bergerak.

Rara memeluk leher Andre sangat erat, kakinya melingkar kuat, air matanya keluar karena kenikmatan luar biasa. “Isi aku Bang… hamili adik iparmu ini… aku mau hamil anak Bang Andre… keluarkan semuanya di dalam rahimku… tolong… aku milikmu sepenuhnya!”

Andre menghunjam dalam-dalam dengan kuat dan cepat. Rara menjerit orgasme hebat berulang kali, v4gin4nya berkontraksi kuat memijat p3nis Andre. Akhirnya Andre mengerang panjang, tubuhnya mengejang hebat. Air maninya yang sangat banyak dan kental menyembur deras ke dalam rahim Rara. Semburan demi semburan kuat, memenuhi rahim gadis itu hingga meluber keluar dari sela v4gin4 yang meregang lebar.

Mereka berpelukan lama sekali, keringat bercampur, napas tersengal. Andre masih tertanam dalam, mencium wajah Rara penuh kasih sayang berulang kali — kening, mata, hidung, bibir, dan leher.

“Kamu sekarang milik Bang selamanya, Rara. Apa pun yang terjadi, Bang akan lindungi kamu,” bisik Andre lembut.

Dua setengah bulan kemudian, Rara datang ke kamar Andre dengan test pack di tangan. Dua garis merah tebal. Ia menangis dalam pelukan Andre, campuran bahagia dan takut. Andre memeluknya erat, mencium keningnya, dan berjanji akan mengatur segalanya agar Rara dan anak mereka terlindungi.

posted under |
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda