Godaan Terlarang Adik Ipar

Novel "Godaan Terlarang Adik Ipar"

Raka adalah suami yang setia, tapi segalanya berubah saat adik iparnya, Lita—gadis 21 tahun yang baru lulus kuliah—tinggal di rumah mereka sementara. Tubuh Lita yang molek, gaun tipis yang selalu “tak sengaja” memperlihatkan pahanya, dan tatapan nakalnya membuat Raka berada di ambang batas. Godaan yang manis, terlarang, dan membakar. Satu kesalahan kecil, dan nafsu akan menghancurkan segalanya.

Malam itu hujan deras mengguyur Jakarta. Raka baru saja pulang dari kantor ketika pintu depan terbuka. Istriku, Dina, menyambut adiknya dengan pelukan hangat.

“Lita! Akhirnya kamu datang juga,” kata Dina senang.

Aku berdiri di belakang, mencoba tersenyum sopan. Tapi mataku langsung tertuju pada Lita yang berdiri di ambang pintu. Rambutnya basah menempel di leher jenjangnya. Kaos oversized yang dia pakai basah kuyup, menempel ketat di dada montoknya. Putingnya samar-samar terlihat karena tak memakai bra.

“Bang Raka… lama nggak ketemu,” katanya manja, memelukku sekilas. Aroma sabun mandi dan tubuh hangatnya langsung menyerbu indraku. Pelukannya sedikit lebih lama dari seharusnya, dan aku merasakan dada kenyalnya menekan perutku.

Malam itu, Dina harus lembur mendadak karena proyek besar. Dia pamit sambil mencium pipiku.

“Jagain Lita ya, Sayang. Jangan biarin dia keluyuran malam-malam.”

Aku hanya mengangguk. Tak kusangka, kata-kata itu akan jadi awal dari kehancuran.

Jam 11 malam. Aku tak bisa tidur. Keluar kamar untuk ambil air, kulihat lampu dapur masih menyala.

Lita berdiri di depan kulkas, memakai hanya kaos panjang oversized yang panjangnya sampai paha. Saat dia membungkuk mengambil botol air, kaosnya naik, memperlihatkan bokong bulatnya yang hanya tertutup celana dalam hitam tipis.

“Bang… haus ya?” tanyanya tanpa menoleh, seolah tahu aku sudah berdiri di belakangnya sejak tadi.

Suara itu lembut, tapi ada nada menggoda.

Aku mendekat untuk ambil gelas. Tubuh kami hampir bersentuhan. Aroma tubuhnya lagi-lagi menyerbu.

“Bang Raka… kok diam aja? Biasanya suka cerewet,” katanya sambil menoleh. Bibirnya basah karena baru minum air. Matanya menatapku lekat, turun ke bibirku, lalu ke dada.

“Lita… kamu sudah besar ya sekarang,” kataku tanpa sadar.

Dia tersenyum kecil, menggigit bibir bawahnya. “Besar di mana, Bang?”

Pertanyaan itu polos di permukaan, tapi nada suaranya jelas mengundang.

Tiba-tiba ia berbalik sepenuhnya, dada montoknya hampir menyentuh dadaku. “Dina bilang Bang Raka lagi sibuk kerja. Capek ya? Biar Lita pijitin…”

Tangannya sudah naik ke bahuku, meremas pelan. Jari-jarinya panas.

Aku mundur selangkah. “Lita, kamu adik ipar aku.”

“Dan Bang Raka suami kakak aku,” balasnya cepat, tersenyum nakal. “Tapi… kita kan cuma di rumah berdua malam ini.”

Aku mencoba kabur ke kamar, tapi Lita mengikutiku. Di depan pintu kamar utama, dia menahan lenganku.

“Bang… aku basah,” bisiknya.

Aku kaget. “Hujan tadi—”

“Bukan hujan, Bang,” katanya sambil menarik tanganku turun. Dia memandu jariku ke celana dalamnya. Panas. Lembab. Basah sekali.

“Sejak aku liat Bang Raka di depan pintu tadi… aku udah basah gini.”

Nafsu yang kutahan sejak tadi meledak. Aku mendorongnya ke dinding, menciumnya kasar. Lidah kami saling menari, liar dan lapar. Tanganku merem4s dada Lita yang besar dan kenyal, memilin put1ngnya yang sudah mengeras.

“Ahh… Bang… kasar banget,” erangnya, tapi justru dia mendesak pinggulnya ke arahku.

Aku mengangkat kaosnya, menyu$u put1ngnya rakus. Lita mendesah keras, tangannya merem4s rambutku, menekanku lebih dalam.

“Masukin… Bang… aku udah nggak tahan,” pintanya sambil menggoyang pinggulnya.

Lanjut.....

https://dramaranjang.blogspot.com/2026/05/godaan-terlarang-adik-ipar.html

Aku menurunkan celanaku. K0nt0lku sudah keras banget, ujungnya basah oleh precum. Aku mengges3kkannya di celah basah Lita, lalu mendorong masuk perlahan

“Uhh… besar banget, Bang…” erangnya, matanya terpejam penuh kenikmatan.


Aku mulai menggenjotnya di dinding. Setiap hantaman membuat dada Lita bergoyang-goyang. Suara basah percintaan kami bercampur dengan erangan dan desahan.


“Lebih keras, Bang… aku milik Bang Raka malam ini…”


Aku membalik tubuhnya, membungkukannya, dan memasukinya dari belakang. Bokongnya yang montok bergoyang setiap aku menghantam dalam-dalam. Tanganku meraih rambutnya, menarik pelan sambil terus menggoyang.


Lita mencapai klimaks duluan, tubuhnya gemetar hebat, cairannya membasahi pahaku. Aku tak tahan lagi. Dengan beberapa hantaman kuat, aku menyemburkan mani panas di dalamnya.


Kami terjatuh ke lantai, napas tersengal.


Lita menatapku dengan senyum puas, jarinya mengusap cairan yang menetes dari vaginanya, lalu menjilatnya sambil menatap mataku.


“Ini baru malam pertama, Bang… masih banyak malam depan.”

posted under |
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda