Keberuntungan Tukang Service
Novel "Keberuntungan Tukang Service"
Rina baru saja pulang kerja pukul 8 malam. Apartemen tipe studio di kawasan itu terasa pengap. AC sentral mati total sejak dua hari lalu. Udara Jakarta yang lembab membuatnya gerah dan lelah.
Ia membuka aplikasi servis rumah dan memesan teknisi AC. Jam 09.15 malam, pintu diketuk.
"Malam, Bu. Saya Andi dari service AC."
Pria itu berdiri di depan pintu dengan kaos polo biru tua yang agak ketat di dada dan lengan, celana cargo hitam, dan tas perkakas. Tinggi, kulit sawo matang, rambut pendek acak-acakan karena helm, dan ada bekas minyak kecil di lengan bawahnya. Usia sekitar 32 tahun.
Rina mengangguk. "Masuk, Mas. AC-nya mati total."
Andi bekerja dengan tenang. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali bertanya teknis. Rina duduk di sofa sambil melihat pria itu naik ke tangga, otot lengannya menegang saat membuka cover AC. Ada sesuatu yang maskulin dan tenang dari cara kerjanya.
"Kompresornya masih bagus, Bu. Cuma ada yang bocor di pipa freon. Bisa diperbaiki malam ini."
Selesai jam 10.45. Rina membayar dan memberi tip.
"Terima kasih, Mas Andi."
Andi tersenyum tipis.
"Kalau ada masalah lagi, langsung hubungi saya saja. Nomor saya ada di struk."
Lima hari kemudian, kran air di dapur bocor parah. Rina kembali menghubungi nomor Andi.
Kali ini Andi datang siang hari, Sabtu. Ia memakai kaos hitam polos yang sudah agak usang. Keringat menempel di lehernya karena panas.
Rina memakai tank top longgar dan celana pendek rumah. Ia sadar Andi sempat melirik sekilas ke kakinya yang putih, tapi langsung mengalihkan pandangan dengan sopan.
Sambil bekerja, mereka mulai mengobrol ringan.
"Anda tinggal sendiri, Bu?" tanya Andi.
"Iya. Baru cerai enam bulan lalu," jawab Rina jujur.
Andi mengangguk pelan. "Berat ya sendirian."
Percakapan mengalir pelan. Andi ternyata bukan hanya teknisi biasa. Dulu ia sempat kuliah teknik mesin tapi berhenti di tengah jalan karena biaya. Sekarang ia punya tim kecil servis rumah.
Selesai memperbaiki, Andi mencuci tangan di wastafel. Rina memberinya air dingin. Saat Andi minum, Rina memperhatikan gerakan tenggorokannya yang naik turun. Ada desir kecil yang muncul di perutnya.
Dua minggu berikutnya, Andi datang lagi karena lampu kamar mandi sering kedip dan stop kontak longgar. Kunjungan yang seharusnya sekali jadi tiga kali karena Rina sengaja mencari alasan kecil.
Setiap kali Andi datang, ia selalu sopan, rapi, dan tidak genit. Tapi tatapannya mulai berbeda. Lebih lama saat Rina tersenyum. Lebih hati-hati saat Rina berdiri dekat.
Suatu sore hujan deras. Andi baru selesai memperbaiki mesin cuci yang rusak.
"Mas Andi, hujannya deras banget. Tunggu reda dulu sini," kata Rina.
Mereka duduk di ruang tamu. Hanya ada lampu temaram. Obrolan kali ini lebih dalam. Rina bercerita tentang pernikahan yang gagal, kesepian yang ia rasakan. Andi mendengarkan dengan baik, sesekali memberi tanggapan pelan.
Saat hujan reda, Andi berdiri hendak pulang. Rina ikut berdiri di depannya.
"Mas..." Rina ragu sejenak. "Terima kasih ya sudah sering datang."
Andi menatapnya lama. "Sama-sama, Bu Rina."
Tangan mereka bersentuhan saat Rina memberikan amplop tip. Sentuhan itu agak lama. Jari Andi kasar, hangat, dan kuat.
Panggilan keempat. Kali ini AC rusak lagi di malam hari. Andi datang jam 10 malam.
Setelah selesai, Rina menawarkan makan malam sederhana yang ia masak. Mereka makan bersama di meja kecil. Anggur murah yang Rina beli beberapa hari lalu ikut dibuka.
Satu gelas jadi dua gelas. Obrolan semakin cair. Tawa kecil muncul.
Saat Rina hendak berdiri mengambil air, ia sedikit sempoyongan karena anggur. Andi langsung menahan pinggangnya.
Mereka saling pandang. Jarak wajah sangat dekat.
"Andai saya bukan tukang servisnya Bu..." bisik Andi dengan suara serak.
Rina tidak menjawab dengan kata. Ia hanya mendekatkan wajahnya.
Ciuman pertama terjadi pelan. Lemah lembut. Andi seperti menahan diri, tapi saat Rina membuka mulut, ia tak lagi bisa menahan. Ciuman itu semakin dalam, basah, penuh kerinduan yang tertahan berhari-hari.
Andi mengangkat Rina ke meja makan dengan mudah. Tangannya yang kasar menyusup ke balik tank top Rina, mengusap punggungnya naik turun dengan perlahan. Ia tidak langsung meremas p4yud4ra, hanya mengelus sisi tubuh Rina sambil terus mencium lehernya.
"Mas Andi..." desah Rina.
"Kita pelan-pelan ya," bisik Andi di telinganya. "Saya mau nikmati Ibu lama-lama."
Ia membawa Rina ke kamar. Lampu hanya dinyalakan satu lampu tidur.
Selanjutnya......
https://dramaranjang.blogspot.com/2026/05/keberuntungan-tukang-service.html
Andi melepas baju Rina satu per satu. Setiap kali ada kain yang terlepas, ia menciumi kulit yang baru terbuka tulang selangka, atas p4yud4ra, perut, pinggul. Ia melepas bra Rina, tapi bukan langsung menyerbu. Ia menciumi pyud4ra itu dari samping, lidahnya berputar pelan di sekitar puting sebelum akhirnya mengisap dengan lembut.
Rina sudah basah sekali.
Andi turun lebih rendah. Ia mencium paha dalam Rina lama sekali, menikmati aroma tubuh wanita itu. Lalu lidahnya menyentuh klitoris dengan sangat pelan, menjilat naik turun, sesekali mengisap lembut. Dua jarinya masuk perlahan, bergerak mengikuti irama lidahnya.
Rina mencapai klimaks pertama dengan tubuh gemetar hebat, tangannya mencengkeram sprei.
Andi naik ke atas. Ia melepas celananya. Kejantanannya besar, keras, dan sudah berkedut menahan nafsu. Ia menggesekkan kepalanya di celah basah Rina tanpa memasukkan, hanya menggoda.
"Masuk, Mas... aku sudah tidak tahan," pinta Rina dengan suara parau.
Andi masuk sangat perlahan. Sentimeter demi sentimeter. Ia mendesah panjang saat merasakan kehangatan Rina yang melingkupinya erat.
Gerakan pinggulnya lambat dan dalam. Setiap dorongan penuh kontrol. Ia mencium bibir Rina, lehernya, sambil terus bergerak. Tangan mereka saling genggam.
Baru setelah hampir 20 menit, Andi sedikit mempercepat saat Rina mendekati klimaks lagi. Mereka mencapai puncak hampir bersamaan. Andi menumpahkan cairannya di dalam Rina dengan desahan rendah yang bergetar, tubuhnya mengejang kuat di atas tubuh Rina.
Mereka berpelukan lama. Andi menciumi kening Rina sambil mengusap rambutnya.
"Ini baru pertama, Bu," bisiknya pelan. "Masih banyak yang mau saya lakukan sama kamu."
.