Pesona Juragan Muda yang Dingin
Pesona Juragan Muda yang Dingin
Andre melangkah keluar dari mobil mewahnya di depan sebuah gudang besar di kawasan industri. Hari itu ia datang untuk menandatangani kontrak kerjasama pengadaan bahan bangunan dengan perusahaan supplier terbesar di wilayah tersebut. Perusahaan itu dimiliki oleh seorang juragan perempuan muda yang terkenal kaya dan dingin dalam berbisnis.
Namanya Citra Wijayanti, 32 tahun. Janda kaya raya yang mewarisi bisnis suaminya yang meninggal lima tahun lalu. Citra memiliki tubuh yang luar biasa memikat: tinggi 170 cm, kulit putih bersih seperti porselen, rambut hitam lurus panjang sebahu, wajah oval dengan mata tajam dan bibir tipis yang selalu merah alami. Tubuhnya proporsional sempurna , pinggang ramping, pinggul lebar, dan kaki jenjang yang selalu dibungkus rok pensil atau celana formal ketat. Ia dikenal sebagai wanita karir yang tegas, jarang tersenyum, dan sangat sulit didekati pria mana pun.
Pertemuan bisnis berlangsung di ruang rapat mewah. Citra duduk di ujung meja dengan jas blazer hitam yang ketat, kemeja putih yang sedikit terbuka di dua kancing atas, memperlihatkan belahan dada yang dalam. Andre menyampaikan proposal dengan percaya diri, suaranya dalam dan tenang. Sesekali mata tajam Citra melirik Andre lebih lama dari yang seharusnya.
“Proposal Anda menarik, Pak Andre. Tapi saya tidak suka kerjasama setengah-setengah. Saya butuh komitmen penuh,” kata Citra dengan suara dingin tapi lembut.
Andre tersenyum tipis. “Saya juga tidak suka setengah-setengah, Bu Citra. Saya selalu memberikan yang terbaik.”
Setelah penandatanganan kontrak, Citra mengajak Andre melihat langsung gudang dan fasilitas pabrik. Mereka berdua berjalan menyusuri lorong-lorong tinggi. Udara panas bercampur aroma logam dan debu. Kemeja Citra sedikit basah keringat di bagian dada, menempel di kulitnya sehingga lekuk bu4h dad4nya semakin terlihat jelas.
Malam harinya, Citra mengundang Andre untuk makan malam di rumah megahnya sebagai bentuk “pembahasan lanjutan kontrak”. Rumah itu seperti istana modern dengan taman luas, kolam renang, dan interior minimalis mewah. Hanya mereka berdua di meja makan panjang, ditemani pelayan yang kemudian dipersilakan pulang lebih awal.
Obrolan bisnis perlahan bergeser ke pribadi. Citra menceritakan betapa berat menjalankan bisnis besar sendirian setelah suaminya meninggal. Ia mengaku sudah lama tidak percaya pada pria, karena kebanyakan hanya mendekatinya karena uang. Andre mendengarkan dengan sabar, tatapannya tenang dan penuh pengertian.
“Anda berbeda,” kata Citra pelan sambil menyesap wine merah. “Anda tidak terlihat seperti pria yang butuh uang saya.”
Andre tersenyum lembut. “Saya memang tidak butuh. Yang saya lihat adalah perempuan kuat yang mungkin lelah menjadi kuat sendirian.”
Udara malam terasa semakin panas. Citra bangkit dari kursi dan berdiri di balkon menghadap taman. Andre menyusul. Angin malam meniup rambut Citra. Andre berdiri di belakangnya, jarak mereka sangat dekat.
“Bu Citra… bolehkah saya jujur?” bisik Andre dengan suara dalam.
Citra menoleh sedikit. “Katakan.”
“Sejak pertama bertemu Anda di ruang rapat, saya merasa ada tarikan yang kuat. Bukan hanya kecantikan Anda, tapi kekuatan dan kerapuhan yang Anda sembunyikan.”
Citra diam lama. Lalu ia membalik badan, menatap Andre langsung. “Ini berbahaya, Pak Andre. Saya bukan perempuan yang mudah ditaklukkan.”
“Saya tidak ingin menaklukkan. Saya ingin Anda merasa dihargai, diinginkan, dan dicintai sebagai perempuan,” jawab Andre lembut.
Citra mendekat. Bibir mereka bertemu dalam ciuman pertama yang penuh gairah tertahan. Awalnya pelan, lalu semakin dalam. Lidah mereka saling menari dengan lembut tapi penuh hasrat. Tangan Andre membelai pinggang ramping Citra, menariknya lebih dekat. Citra mendesah kecil di dalam ciuman.
https://dramaranjang.blogspot.com/2026/05/pesona-juragan-muda-yang-dingin.html
Mereka berpindah ke kamar utama Citra yang luas dengan tempat tidur king size berseprai sutra hitam. Andre membuka blazer Citra perlahan, satu kancing demi satu kancing kemeja. Bu4h dad4 Citra yang besar dan berat melompat keluar dari bra hitam berenda. Andre menunduk, menciumnya dengan penuh penghormatan, lidahnya berputar pelan di sekitar p3ntil yang sudah mengeras, mengisap lembut satu per satu sambil meremas dengan lembut.
“Ahh… Andre…” desah Citra untuk pertama kali memanggil nama tanpa “Pak”, suaranya sudah parau.
Andre membaringkan Citra di tempat tidur. Ia mencium seluruh tubuh juragan cantik itu dengan sabar — leher, dada, perut rata, paha dalam yang mulus, hingga ke inti yang sudah basah. Lidahnya menjilat kli5tor1s Citra dengan gerakan melingkar halus, kadang mengisap, kadang menjulurkan lidah ke dalam v4gin4 yang hangat. Jari-jarinya masuk pelan, menemukan titik sensitif dan menggoyangnya dengan ritme sempurna.
Citra menggeliat hebat, tangannya mencengkeram rambut Andre. “Di situ… ahh… lebih dalam… enak sekali… lama sekali tidak ada yang begini…”
Citra mencapai orgasme pertama dengan tubuh mengejang kuat, cairannya membasahi mulut dan dagu Andre. Ia menjerit nama Andre berulang kali.
Setelah Citra agak tenang, Andre melepas semua pakaiannya. P3nisnya yang sudah mengeras sempurna hingga 23 cm berdiri tegak di depan Citra. Juragan itu terkejut, matanya membulat.
“Ya Tuhan… sebesar itu… apakah muat?” bisiknya.
Andre naik ke atas, mencium bibir Citra dalam-dalam. “Kita lakukan pelan-pelan, Citra. Saya akan buat Anda merasa sangat nyaman dan penuh kasih. Tarik napas dalam ya, Sayang.”
Ia menggosokkan kepala p3nisnya yang besar dan panas di bibir m3m3k Citra yang licin berkali-kali, menekan kli5tor1s hingga Citra mendesah minta dimasukkan. Andre mendorong sangat perlahan. Kepala p3nisnya masuk, meregangkan v4gin4 Citra yang sudah lama tidak disentuh.
“Ahhhhh… besar… pelan Andre… penuh sekali… pelan… ya ampun…” erang Citra panjang, tangannya mencengkeram punggung Andre.
“Bagus sekali… Anda luar biasa… rileks… saya masuk perlahan,” bisik Andre romantis sambil berhenti setiap beberapa senti, mencium bibir, leher, dan bu4h dad4 Citra. Ia terus mendorong dengan sabar hingga hampir seluruh 23 cm tertanam dalam. Citra merasa rahimnya tertusuk langsung, perutnya terlihat sedikit membuncit karena ukuran p3nis Andre.
Andre mulai bergerak naik turun dengan ritme lembut dan penuh kasih. Setiap dorongan disertai kata-kata manis dan pujian. Citra mulai menikmati, pinggulnya ikut bergerak menyambut.
“Lebih dalam… Andre… ahh… saya suka… lebih kuat lagi…”
Mereka berganti posisi berkali-kali dengan intensitas yang meningkat perlahan. Citra di atas (cowgirl) sambil bu4h dad4 besarnya bergoyang hebat di depan wajah Andre. Kemudian doggy style di mana Andre memegang pinggul lebar Citra dan menghunjam dari belakang sambil meremas bu4h dad4nya. Lalu side by side, Andre memeluk Citra dari belakang sambil terus bergerak dan menciumi lehernya.
Setelah hampir dua jam penuh foreplay dan berbagai posisi yang penuh kasih sayang, Andre membaringkan Citra kembali ke posisi misionaris. Kaki Citra direnggangkan sangat lebar di atas bahu Andre. P3nis 23 cm-nya keluar masuk hampir seluruhnya dengan ritme kuat dan dalam.
“Citra… saya mau keluar di dalam. Bolehkah? Saya ingin hamili Anda… ingin Anda mengandung anak saya,” bisik Andre parau sambil terus menghunjam.
Citra memeluk punggung Andre sangat erat, kakinya melingkar kuat, kukunya menancap di punggung Andre karena kenikmatan ekstrem. Suaranya bergetar dan penuh nafsu, “Isi saya Andre… hamili juragan Anda ini… saya mau hamil… keluarkan semuanya di dalam rahim saya… buat saya punya anak dari pria kuat seperti Anda… tolong…!”
Andre mempercepat gerakan dengan kuat. P3nis panjangnya menghunjam dalam-dalam berulang kali. Citra menjerit orgasme hebat beruntun, v4gin4nya berkontraksi kuat memijat p3nis Andre seperti ingin memerahnya. Akhirnya Andre mengerang panjang dan dalam. Tubuhnya mengejang hebat saat menyemburkan air maninya yang sangat banyak, kental, dan panas langsung ke dalam rahim Citra. Semburan demi semburan kuat memenuhi rahim hingga penuh sesak, meluber keluar dari sela v4gin4 yang meregang lebar.
Mereka berpelukan lama sekali, keringat bercampur, napas tersengal-sengal. Andre masih tertanam dalam, mencium wajah Citra penuh kasih sayang — kening, mata, hidung, bibir, dan leher berulang kali sambil berbisik kata-kata manis.
“Anda sekarang milik saya, Citra. Bisnis dan hati Anda. Saya akan bertanggung jawab penuh.”
Dua bulan kemudian, Citra datang ke kantor Andre dengan wajah campur aduk. Ia menunjukkan hasil tes kehamilan yang positif. Juragan dingin itu kini menangis bahagia dalam pelukan Andre, akhirnya menemukan pria yang mampu menaklukkan hatinya sekaligus memberinya keturunan.