Malam Terlarang dengan Client

 **Malam Terlarang dengan Client**

Malam itu malam minggu hujan deras mengguyur Pusat kota, membasahi jalan-jalan yang biasanya ramai menjadi sepi seperti kota mati. Agus duduk di kursi kulit hitam di ruang kerjanya yang megah di lantai 57 gedung perkantoran . Jam sudah menunjukkan pukul 22.17. Layar laptopnya masih menyala, menampilkan proposal kerjasama senilai puluhan miliar rupiah yang harus ia tutup besok pagi.

Agus, 38 tahun, adalah pendiri sekaligus CEO dari salah satu PT, perusahaan ekspedisi yang berkembang pesat sejak pandemi. Tubuhnya tegap, rahang tegas, dan mata tajam yang selalu membuat karyawan dan mitra bisnisnya segan. Tapi malam ini, ada kegelisahan yang berbeda. Bukan karena angka-angka di laporan keuangan, melainkan karena nama yang tertera di daftar tamu besok: Nunik Pratiwi.

Nunik adalah perwakilan dari perusahaan klien besar asal Singapura yang ingin menggandeng jasa Logistik untuk rute Asia Tenggara. Wanita itu dikenal sebagai negosiator yang keras dan cerdas. Beberapa rekan Agus pernah bertemu dengannya dan selalu pulang dengan cerita yang sama: cantik, dingin, dan berbahaya.

Agus menghela napas panjang, mematikan rokoknya di asbak kristal. Ia berdiri menuju jendela kaca yang basah oleh tetes hujan. Bayangan wajahnya sendiri memantul samar. Sudah lama ia tidak merasakan gairah yang sesungguhnya. Pernikahannya dengan mantan istrinya runtuh dua tahun lalu karena kesibukan dan pengkhianatan. Sejak itu, Agus hidup untuk kerja. Hanya kerja.

Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor asing.

**Nunik Pratiwi:** Tuan Agus, maaf mengganggu malam-malam. Penerbangan saya delay karena cuaca. Saya baru tiba di hotel sekitar 30 menit lalu. Apakah besok pagi meeting masih bisa dilanjutkan?

Agus mengerutkan kening. Ia membalas cepat.

**Agus:** Tidak masalah, Bu Nunik. Istirahat saja dulu. Meeting jam 10 pagi di kantor saya.

Balasan datang hampir seketika.

**Nunik:** Terima kasih. Saya sebenarnya masih segar. Kalau Tuan Agus masih di kantor, boleh saya mampir sebentar? Saya ingin melihat langsung dokumen-dokumen penting malam ini agar besok tidak ada kejutan.

Agus membaca pesan itu dua kali. Jam segini? Di kantor sepi begini? Insting bisnisnya bilang ini kesempatan bagus. Tapi ada sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih primal, yang membuat dadanya berdegup sedikit lebih cepat.

**Agus:** Baik. Saya tunggu. Security akan diinstruksikan.

Dua puluh menit kemudian, lift pribadi Agus berdenting. Pintu terbuka, dan seorang wanita berbalut trench coat hitam panjang melangkah keluar. Rambutnya yang hitam lurus sebahu sedikit basah oleh hujan. Wajahnya oval sempurna, bibir merah alami, dan mata yang tajam seperti mata kucing yang sedang mengintai mangsa. Tubuhnya tinggi semampai, dengan lekuk yang jelas meski tertutup mantel.

"Bu Nunik?" Agus berdiri menyambut, mengulurkan tangan.

"Nunik saja, Pak Agus," jawabnya dengan suara lembut tapi tegas. Jabat tangannya hangat, tapi ada kekuatan yang tersembunyi. "Maaf datang malam-malam seperti ini. Saya tipe orang yang tidak suka menunda."

Mereka masuk ke ruangan Agus. Agus menyuruhnya duduk di sofa kulit sementara ia mengambil map dokumen dari meja. Saat Nunik melepas trench coat-nya, Agus hampir kehilangan fokus. Ia mengenakan kemeja putih ketat yang menonjolkan gundukan sintal di dadanya, dan rok pensil hitam yang membungkus pinggulnya dengan sempurna.

Mereka mulai membahas proposal. Nunik duduk bersila, kakinya yang jenjang terlihat jelas. Suaranya tenang saat menunjukkan beberapa pasal yang ia anggap kurang menguntungkan. Agus menjawab dengan profesional, tapi matanya sesekali melirik leher Nunik yang putih mulus, atau cara bibirnya bergerak saat berbicara.

Setelah hampir satu jam, hujan di luar semakin deras. Petir menyambar, membuat lampu kantor berkedip sesaat.

"Kita lanjut besok saja?" tawar Agus.

Nunik tersenyum tipis. "Sebenarnya... saya tidak terburu-buru pulang ke hotel. Kamar hotel terasa sangat sepi malam ini."

Ada jeda yang tegang. Agus merasakan denyut nadi di lehernya sendiri. "Maksud Bu Nunik?"

Nunik berdiri, berjalan mendekat ke meja Agus. "Saya sudah dengar banyak tentang Anda, Pak Agus. Pria sukses, tapi kesepian. Sama seperti saya."

Ia meletakkan tangannya di atas meja, membungkuk sedikit. Bau parfumnya yang mahal dan feminin menyergap indra Agus. "Malam ini hujan deras. Tidak ada yang tahu kalau kita masih di sini. Bisakah kita... bicara hal-hal yang tidak ada di proposal bisnis?"

Agus menelan ludah. Ia tahu ini berbahaya. Nunik adalah client. Besok pagi mereka harus menandatangani kontrak jutaan dolar. Tapi g4irah yang lama tertahan mulai bangkit di dalam dirinya.

"Apa yang Anda inginkan, Nunik?" tanya Agus dengan suara yang sudah sedikit parau.

Nunik mendekatkan wajahnya. Bibirnya hampir menyentuh telinga Agus.

"Saya ingin melihat sisi Agus yang bukan CEO malam ini," bisiknya. "Dan saya tahu Anda juga ingin melihat sisi saya yang bukan perwakilan perusahaan."

Saat itu, lampu kantor padam total karena petir. Hanya cahaya emergency merah samar yang menyala. Dalam kegelapan itu, Agus merasakan tangan Nunik menyentuh dadanya, merayap pelan ke bawah.

Bab ini baru permulaan. Tarikan nafas yang tertahan, sentuhan pertama yang terlarang, dan rahasia yang mulai terbuka di antara dua orang asing yang seharusnya hanya bertemu di meja rapat.

Agus meraih pinggang Nunik, menariknya lebih dekat. "Ini gila," gumamnya.

"Memang," balas Nunik sambil tersenyum dalam gelap. "Tapi malam ini kita punya waktu sebelum dunia bisnis kembali mengikat kita besok pagi."

Hujan terus turun semakin deras di luar jendela, seolah ikut menutupi apa yang akan terjadi di dalam ruangan mewah itu.

**

Lampu emergency merah samar menerangi ruangan, menciptakan suasana yang seolah dari mimpi terlarang. Agus merasakan panas tubuh Nunik menempel di dadanya. Tangan wanita itu sudah merayap ke kancing kemejanya, membuka satu per satu dengan gerakan yang terlatih namun penuh godaan. Napas Agus memburu. Sudah lama sekali ia tidak merasakan sentuhan seperti ini.

"Nunik... ini tidak seharusnya terjadi," bisik Agus, meski tangannya justru meremas pinggang ramping wanita itu dengan kuat.

Nunik tertawa kecil, suaranya serak dan menggoda. "Kalau semua hal yang 'seharusnya' kita lakukan, hidup ini akan sangat membosankan, Pak Agus."

Ia menarik Agus ke sofa panjang di sudut ruangan. Trench coat-nya sudah tergeletak di lantai. Kemeja putih Nunik kini terbuka dua kancing atas, memperlihatkan belahan gundukan sintal yang penuh dan menggoda. Agus menunduk, mencium lehernya. Bau parfum bercampur aroma kulit wanita yang hangat membuat rudal kejantanannya mengeras di dalam celana.

Tapi saat bibir Agus hampir menyentuh kulit dada Nunik, wanita itu tiba-tiba mendorong dada Agus dengan kedua tangan. "Tunggu."

Agus mengerutkan kening, napasnya masih tersengal. "Ada apa?"

Nunik duduk lebih tegak, rambutnya yang acak-acakan membuatnya terlihat semakin liar. "Saya harus jujur sebelum kita melangkah lebih jauh. Ini bukan sekadar g4irah semata."

Agus merasa ada yang tidak beres. Ia mundur sedikit, menatap mata Nunik yang kini terlihat gelap. "Maksudmu?"

Nunik menghela napas panjang. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di depan sofa. Rok pensilnya naik sedikit, memperlihatkan paha mulusnya. "Perusahaan saya... sebenarnya sedang dalam masalah besar. Kalau kontrak ini gagal, mereka akan bangkrut. Dan saya... saya ditugaskan untuk memastikan kontrak ini berhasil dengan cara apa pun."

Agus merasa seperti disiram air dingin. "Jadi ini jebakan? Kamu mendekati saya hanya untuk kontrak?"

"Bukan hanya itu," jawab Nunik cepat. Suaranya sedikit gemetar. "Awalnya memang tugas. Tapi saat saya melihat foto Anda, membaca profil Anda... saya penasaran. Dan sekarang, setelah berada di sini, di depan Anda... saya tidak bisa berpura-pura lagi."

Suasana yang tadinya panas mendadak menjadi tegang. Agus berdiri, mengancingkan kemejanya kembali. "Kamu tahu apa risikonya? Kalau ada yang tahu, reputasi saya hancur. Perusahaan saya bisa kehilangan kepercayaan dari mitra lain."

Nunik mendekat lagi, meletakkan tangan di dada Agus. "Saya tahu. Tapi saya juga punya rahasia sendiri, Agus."

Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya, membuka sebuah video. Agus melihat rekaman dirinya sendiri dua tahun lalu, sedang bertengkar hebat dengan mantan istrinya di sebuah restoran. Suara mereka jelas: mantan istrinya mengancam akan membongkar perselingkuhan Agus dengan sekretarisnya dulu, meski itu hanya fitnah.

"Bagaimana kamu bisa punya ini?" tanya Agus dengan suara dingin.

"Saya melakukan riset mendalam sebelum datang ke sini," jawab Nunik. Matanya berkaca-kaca. "Saya tidak mau menggunakan ini. Tapi bos saya... dia memaksa. Kalau kontrak tidak berhasil dengan cara halus, saya harus pakai cara kotor."

Agus merebut ponsel itu dan melemparnya ke sofa. Amarah bercampur g4irah yang masih membara. Ia mendorong Nunik ke dinding kaca yang dingin, menekan tubuhnya dengan tubuh tegapnya sendiri.

"Jadi kamu datang ke sini untuk memeras saya?" desis Agus di telinga Nunik.

Nunik menggigit bibir bawahnya. Napasnya tersengal. "Awalnya iya. Tapi sekarang... saya benar-benar menginginkan Anda. Bukan karena tugas."

Tangan Agus merayap ke paha Nunik, naik pelan ke bawah roknya. Ia merasakan kelembapan yang sudah mulai membasahi celana dalam wanita itu. Nunik mendesah pelan, d3saha4n pertama yang keluar dari bibirnya terdengar sangat menggoda.

"Agus... jangan berhenti," pintanya.

Tapi Agus berhenti. Ia mundur, meninggalkan Nunik yang terengah-engah di dinding.

"Ini tidak sesederhana itu," kata Agus dengan suara berat. "Saya bisa kehilangan segalanya. Kamu juga. Besok pagi, kalau kontrak ini ditandatangani, apa yang akan terjadi dengan kita?"

Nunik menunduk. Air mata jatuh di pipinya. "Saya tidak tahu. Saya sudah lelah menjadi boneka perusahaan. Malam ini... saya hanya ingin merasa hidup. Merasa diinginkan sebagai wanita, bukan sebagai alat negosiasi."

Hujan di luar semakin deras. Petir menyambar lagi, kali ini lebih dekat. Lampu emergency berkedip. Dalam cahaya merah itu, Agus melihat Nunik yang biasanya terlihat kuat dan profesional kini tampak rapuh.

Agus meraih dagu Nunik, mengangkat wajahnya. "Kalau kita lakukan ini, tidak ada jalan kembali. Besok pagi kita harus bertemu di meja rapat seolah tidak ada apa-apa. Bisakah kamu melakukannya?"

Nunik mengangguk. "Saya bisa. Tapi saya tidak mau berhenti malam ini."

Konflik batin Agus semakin hebat. Di satu sisi, ia ingin membalas dendam karena merasa dimanipulasi. Di sisi lain, ia benar-benar terpikat pada wanita di depannya ini. G4irah yang lama terkubur kini meledak-ledak.

Ia menarik Nunik ke meja kerjanya yang lebar. Dengan satu gerakan cepat, ia mengangkat tubuh Nunik ke atas meja, mendorong map-map dokumen hingga berhamburan ke lantai. Nunik membuka kakinya sedikit, roknya naik hingga pinggang. Agus melihat celana dalam hitam tipis yang sudah basah.

Tangan Agus menyentuh bagian sensitif Nunik dari luar kain. Nunik menggelinjang, m3m3knya sudah banjir oleh cairan g4irah.

"A-ahh... Agus..." d3saha4n Nunik semakin keras.

Agus membuka resleting celananya. Rudal kejantanannya yang sudah keras tegak melompat keluar. Nunik menatapnya dengan mata berkabut penuh hasrat.

Tapi tepat saat Agus hendak menarik celana dalam Nunik ke samping, ponsel Nunik berdering nyaring. Nama di layar: "Bos Singapura".

Nunik membeku. "Ini dia... kalau saya tidak angkat, dia akan curiga."

Agus menahan tubuh Nunik di meja. "Angkat. Tapi jangan berani-berani bilang apa yang kita lakukan."

Nunik mengangguk gemetar. Ia menjawab panggilan itu dengan suara yang berusaha tenang.

"Ya, Pak. Saya sedang di kantor Pak Agus... diskusi proposal... ya, sepertinya akan lancar..."

Sementara itu, Agus tidak berhenti. Ia menunduk, mencium gundukan sintal Nunik yang masih tertutup kemeja, lalu turun ke perutnya. Lidahnya menari di kulit halus Nunik. Nunik harus menggigit bibirnya sendiri agar tidak mendesah di depan telepon.

Konflik semakin memuncak. Di satu telinga, Nunik mendengar ancaman tersirat dari bosnya. Di telinga yang lain, napas panas Agus dan sentuhan yang semakin berani membuat akalnya hampir hilang.

Setelah panggilan selesai, Nunik melempar ponselnya jauh. Ia menarik kepala Agus ke atas dan menciumnya dengan liar, lidah mereka saling menari penuh gairah.

Selanjutnya.... 👇👇 

https://dramaranjang.blogspot.com/2026/06/malam-terlarang-dengan-client.html

"Saya tidak peduli lagi," katanya di sela ciuman. "Malam ini milik kita. Besok... biarlah dunia bisnis yang memutuskan."


Agus mengangkat tubuh Nunik, membawanya ke sofa. Ia membaringkan wanita itu dan mulai membuka kancing kemeja Nunik satu per satu. Gundukan sintal yang indah akhirnya terbebas, puncaknya sudah mengeras karena g4irah.


Tapi di dalam hati Agus, badai masih berputar. Apakah ini awal dari hubungan terlarang yang indah, atau bom waktu yang akan menghancurkan karir dan reputasinya?


Hujan masih deras di luar. Malam semakin larut. Dan batas antara nafsu, manipulasi, serta perasaan yang mulai tumbuh semakin kabur.


*(Akhir Bab 2 – sekitar 1320 kata)*


---


**Bab 3**


Sofa kulit di ruangan Agus menjadi saksi bisu dari ledakan g4irah yang sudah tidak terbendung lagi. Setelah panggilan telepon yang tegang itu, Nunik tidak lagi bisa menahan diri. Ia menarik Agus ke atas tubuhnya, menciumnya dengan rakus, lidah mereka saling menjilat dan menghisap penuh nafsu.


Agus tidak lagi bertanya. Tangan besarnya meremas gundukan sintal Nunik dengan kuat, jari-jarinya mencubit puncak yang sudah mengeras. Nunik melengkungkan punggungnya, m3m3knya yang sudah basah sekali bergesekan dengan rudal kejantanan Agus yang menegang sempurna.


"Aaahh... Agus... sekarang..." d3saha4n Nunik pecah di udara.


Agus menurunkan kepalanya, menghisap salah satu gundukan sintal Nunik dengan rakus sementara tangannya yang lain menarik celana dalam hitam tipis itu ke samping. Jarinya langsung menyentuh v4gin4 Nunik yang licin dan panas. Ia memasukkan satu jari, lalu dua, mengaduk pelan di dalam sana.


"Ohh... ya... lebih dalam," erang Nunik sambil menggoyang pinggulnya mengikuti gerakan jari Agus.


Cairan g4irah Nunik sudah membasahi sofa. Agus tidak tahan lagi. Ia berdiri sebentar, melepas semua pakaiannya hingga rudal kejantanannya berdiri tegak, berdenyut penuh hasrat. Nunik menatapnya dengan mata penuh lapar, lalu merangkak mendekat dan langsung menyumpal rudal itu ke dalam mulutnya yang hangat.


"Ngghh..." Agus mengerang. Tangan Nunik memegang pangkal rudalnya sambil kepalanya naik turun dengan ritme yang sempurna. Lidahnya menari di kepala rudal, menghisap kuat hingga Agus merasa lututnya lemas.


Setelah beberapa menit, Agus menarik Nunik berdiri. Ia membalikkan tubuh wanita itu, membungkukannya di atas meja kerja. Rok Nunik sudah terangkat tinggi, memperlihatkan pantat bulat yang sempurna. Agus mengusap rudalnya di celah m3m3k Nunik dari belakang, menggoda pintu masuk yang sudah basah sekali.


"Masukkan... tolong..." pinta Nunik dengan suara gemetar.


Dengan satu dorongan kuat, rudal kejantanan Agus masuk sepenuhnya ke dalam v4gin4 Nunik yang sempit dan panas. Keduanya mengerang bersamaan. Agus mulai bergerak, awalnya pelan, lalu semakin cepat dan kuat. Suara benturan tubuh mereka bercampur dengan d3saha4n Nunik yang semakin liar.


"Ya... keras... Agus... fuck me harder!" jerit Nunik dalam bahasa Inggris campur Indonesia, g4irahnya sudah meluap.


Agus meraih rambut Nunik dari belakang, menariknya sedikit sambil terus menghujam dalam-dalam. Setiap dorongan membuat gundukan sintal Nunik bergoyang hebat. Ia meremas payudara wanita itu dari belakang, memilin puncaknya hingga Nunik hampir menangis karena kenikmatan.


Mereka berganti posisi. Nunik mendorong Agus duduk di sofa, lalu naik ke pangkuannya. Ia memegang rudal Agus dan memasukkannya kembali ke v4gin4nya yang sudah banjir. Mulai naik turun dengan cepat, pantatnya beradu nyaring dengan paha Agus.


"Aahh... aahh... aku mau keluar..." erang Nunik.


Agus memeluk pinggangnya erat, membantu gerakan naik turun itu semakin ganas. Rudalnya menghunjam hingga ke titik paling dalam. Beberapa saat kemudian, tubuh Nunik mengejang hebat. V4gin4nya menggenggam rudal Agus dengan kontraksi kuat saat ia mencapai orgasme pertama. Cairan hangat menyembur keluar, membasahi paha Agus.


Tapi Agus belum selesai. Ia mengangkat Nunik, membaringkannya di sofa dan menindihnya dalam posisi missionary. Kakinya Nunik ia buka lebar-lebar. Rudalnya masuk lagi dengan satu hantaman kuat.


Mereka bercinta seperti binatang yang kelaparan. Agus menghujam tanpa ampun, setiap dorongan disertai kecupan dan gigitan ringan di leher serta dada Nunik. D3saha4n mereka saling bersahutan memenuhi ruangan.


"Di dalam... keluarkan di dalam..." pinta Nunik sambil mencakar punggung Agus.


Agus mempercepat ritme. Beberapa detik kemudian, ia mengerang panjang. Rudalnya berdenyut hebat di dalam v4gin4 Nunik, menyemburkan benih panasnya berkali-kali hingga penuh.


Keduanya tergeletak lemas di sofa, tubuh saling menempel, keringat bercampur. Hujan di luar masih turun, seolah ikut meredakan panas yang baru saja mereka lepas.


Nunik mengusap dada Agus pelan. "Ini malam terlarang yang paling indah yang pernah saya alami."


Agus mencium keningnya. "Besok pagi kita harus kembali jadi profesional. Tapi malam ini... milik kita berdua."


Mereka tertidur sebentar dalam pelukan, sebelum akhirnya membersihkan diri dan merapikan ruangan menjelang subuh. Kontrak tetap ditandatangani keesokan harinya dengan lancar, tapi di balik tatapan profesional mereka di meja rapat, tersimpan rahasia panas yang hanya mereka berdua ketahui.


Malam terlarang dengan client telah mengubah segalanya.


posted under |
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda