Cinta Terlarang Kuli Dengan Janda

 **Cinta Terlarang Kuli Dengan Janda **

Jalan tanah yang biasanya berdebu kini berubah menjadi lumpur lengket yang menyedot sepatu boot Wawan setiap langkah. Tubuhnya yang kekar, penuh peluh bercampur air hujan, terasa berat setelah seharian mengangkat bata dan menyemen dinding rumah warga. Usianya baru tiga puluh tahun, tapi garis wajahnya sudah mengeras seperti batu yang ia bangun setiap hari.

Wawan tinggal di pondokan sederhana di belakang rumah-rumah penduduk. Sebagai kuli bangunan, ia datang ke desa ini tiga bulan lalu bersama rombongan pekerja dari kampung halaman. Kontrak proyek rumah mewah di ujung desa masih berjalan enam bulan lagi. Setiap malam, ia pulang dengan tubuh pegal dan pikiran kosong, hanya ditemani rokok dan secangkir kopi hitam pekat.

Malam itu, saat ia berjalan melewati rumah kayu tua milik Sri, lampu teras masih menyala redup. Sri, janda berusia dua puluh delapan tahun, berdiri di pintu dengan selendang kain batik menutupi bahunya. Rambutnya yang hitam panjang terurai basah karena tadi sempat kehujanan saat mengambil jemuran. Matanya yang sendu menatap ke arah Wawan yang berjalan tertatih.

“Mas Wawan… tunggu sebentar,” panggil Sri pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru hujan.

Wawan berhenti. Air hujan mengalir di wajahnya yang kecokelatan. “Iya, Bu Sri? Ada apa malam-malam begini?”

Sri menggigit bibir bawahnya sejenak. “Anda basah kuyup. Masuk dulu, saya buatkan teh hangat. Kasihan kalau sakit, besok masih harus kerja berat.”

Wawan ragu. Ia tahu reputasi dirinya di desa ini kuli bangunan kasar, tidak punya apa-apa selain otot dan keringat. Sementara Sri adalah janda terhormat. Suaminya, seorang pegawai kantoran kecil di ibu kota, meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan. Sejak itu, Sri hidup sendirian dengan anak perempuannya yang berusia lima tahun, kini sedang tidur di dalam.

“Tapi… nanti orang desa ngomong apa, Bu,” jawab Wawan sambil mengusap wajahnya.

Sri tersenyum tipis, senyum yang penuh kepedihan. “Biarkan mereka bicara. Saya sudah terbiasa sendirian. Malam ini… saya butuh bicara dengan seseorang.”

Ada getar dalam suara Sri yang membuat Wawan akhirnya melangkah masuk. Rumah kayu itu sederhana tapi rapi. Aroma masakan sayur lodeh masih menempel di dinding. Sri menyuruhnya duduk di kursi kayu ruang tamu sambil ia ambil handuk dan baju kering milik almarhum suaminya.

“Pakai ini dulu. Jangan sampai masuk angin,” kata Sri sambil menyerahkan baju.

Wawan menerimanya dengan kikuk. Saat ia ganti baju di belakang pintu, Sri berbalik, tapi matanya sempat melirik sekilas pada punggung lebar dan otot lengan Wawan yang terbentuk dari kerja keras.

Mereka duduk berhadapan. Teh panas mengepul di antara mereka.

“Kenapa Bu Sri masih betah di desa ini? Bisa pindah ke ibu kota, kan? Punya saudara di sana?” tanya Wawan membuka pembicaraan.

Sri menunduk, jari-jarinya memilin ujung selendang. “Saya pernah coba. Tapi… di sana terlalu ramai. Anak saya sering sakit-sakitan. Di desa ini, setidaknya ada tanah warisan suami yang bisa ditanami. Saya jual hasil kebun untuk makan sehari-hari. Tapi yang paling berat… kesepiannya.”

Suara Sri pecah. Air mata menggenang di pelupuknya. Wawan merasa dadanya sesak. Ia bukan tipe pria romantis, tapi melihat perempuan sekuat Sri menangis membuatnya ingin melindungi.

“Saya tahu rasanya, Bu. Dulu di kampung, saya tinggalkan istri muda karena hutang. Saya kerja ke mana-mana supaya bisa bayar. Tapi saat pulang, dia sudah pergi dengan orang lain. Katanya capek nunggu suami yang jarang pulang. Pengorbanan saya sia-sia.”

Sri mengangkat wajahnya. “Jadi Mas Wawan juga pernah patah hati?”

“Lebih dari patah, Bu. Hancur. Tapi saya terus kerja. Bangun rumah orang lain, sementara rumah saya sendiri cuma pondokan reyot ini,” kata Wawan sambil tersenyum pahit.

Mereka bicara panjang lebar. Sri menceritakan bagaimana suaminya dulu jarang pulang, sibuk di ibu kota, meninggalkannya dengan beban mengurus anak dan kebun. Wawan bercerita tentang hari-harinya yang melelahkan, angkat besi, campur semen di bawah terik matahari, dan mimpi sederhananya ingin punya rumah kecil sendiri suatu hari.

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat hujan mulai reda. Sri berdiri untuk mengambilkan makanan sisa.

“Anda makan dulu, Mas. Saya masak sayur banyak tadi.”

Wawan menggeleng. “Sudah kenyang, Bu. Tapi… terima kasih. Jarang ada yang peduli sama kuli seperti saya.”

Sri mendekat, tangannya menyentuh lengan Wawan sekilas. “Saya lihat Anda setiap hari lewat sini. Badan Anda kuat, tapi mata Anda lelah. Saya juga lelah, Mas. Lelah sendirian.”

Ada hening yang panjang. Wawan merasakan getaran aneh di dadanya. Pengorbanan cinta yang pernah ia lakukan dulu meninggalkan segalanya demi keluarga yang akhirnya mengkhianatinya tiba-tiba terasa relevan dengan kesedihan Sri. Mereka berdua sama-sama korban waktu dan keadaan.

Sebelum Wawan pulang, Sri berkata pelan, “Besok malam… kalau hujan lagi, mampir ya. Saya tunggu.”

Wawan mengangguk. “Baik, Bu Sri. Hati-hati ya.”

Ia berjalan kembali ke pondokan dengan hati yang tidak tenang. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lama, ia tidur dengan mimpi tentang seorang perempuan yang tersenyum sendu di teras rumah kayu.

Hari-hari berikutnya, pertemuan kecil itu berulang. Sri sering memberi Wawan bekal makan siang nasi dengan ikan asin dan sambal. Wawan balas dengan membantu memperbaiki pagar rumah Sri yang rusak. Dialog mereka semakin dalam. Sri bercerita tentang mimpi-mimpinya yang terkubur sejak menjadi janda, tentang keinginan disentuh kasih sayang lagi. Wawan menceritakan rasa rindunya pada kehangatan sebuah pelukan setelah hari yang panjang.

Suatu sore, saat anak Sri bermain di rumah tetangga, Sri menangis di depan Wawan.

“Saya takut, Mas. Takut jatuh cinta lagi. Dulu saya korbankan segalanya untuk suami. Sekarang… saya takut sakit lagi.”

Wawan memegang tangan Sri dengan lembut. “Saya juga takut, Bu. Tapi kadang, pengorbanan itu yang bikin kita tahu arti cinta yang sebenarnya.”

Momen itu penuh ketegangan emosional. Hujan kembali turun, seolah langit ikut merasakan gejolak hati mereka berdua. Wawan pulang malam itu dengan n4fsu yang mulai terbangun, tapi ia tahan. Ia ingin menghargai Sri, bukan hanya memanfaatkan kesepiannya.

Namun benih godaan sudah ditanam. Dan di desa kecil itu, rahasia mulai tumbuh di balik tirai hujan.

Keesokan malamnya, Wawan kembali ke rumah Sri setelah kerja. Kali ini ia membawa buah tangan—seikat pisang dari pasar desa. Sri menyambutnya dengan senyum yang lebih hangat, matanya berbinar di bawah cahaya lampu minyak.

“Masuk, Mas. Anak saya sudah tidur.”

Mereka duduk di ruang tamu yang sempit. Sri mengenakan kebaya tipis yang menempel di tubuhnya karena cuaca lembab. Wawan sulit mengalihkan pandangan dari lekuk tubuh Sri yang masih kencang meski sudah melahirkan.

“Bu Sri cantik sekali malam ini,” puji Wawan dengan suara rendah, khas gombalan laki-laki pekerja keras. “Kayak bunga desa yang baru mekar setelah hujan.”

Sri tertawa kecil, pipinya merona. “Mas Wawan bisa saja. Saya sudah janda, mana ada yang bilang cantik.”

“Kalau tidak cantik, kenapa setiap lewat sini hati saya berdegup kencang?” balas Wawan sambil mendekatkan kursinya. “Saya kerja capek seharian, tapi bayangin senyum Bu Sri bikin capek hilang seketika.”

Sri menunduk malu, tapi tangannya tidak menolak saat Wawan menyentuh punggung tangannya. “Mas… jangan bikin saya bingung. Saya perempuan biasa, butuh kehangatan.”

Wawan tersenyum nakal. “Saya tahu, Bu. Saya lihat Bu Sri sendirian setiap malam. Tubuh saya kuat, Bu. Bisa jaga Bu Sri dengan baik. Bayangin saja, tangan kasar ini memeluk pinggang ramping Bu Sri, menghangatkan malam yang dingin.”

Rayuan itu membuat Sri gelisah. Ia berdiri untuk mengambil air, tapi Wawan mengikuti. Di dapur sempit, tubuh mereka hampir bersentuhan.

“Mas Wawan… nakal sekali,” bisik Sri.

“Nakal karena Bu Sri terlalu menggoda,” jawab Wawan sambil memeluk pinggang Sri dari belakang pelan. “Lihat ini, tubuh Bu Sri lembut. Saya cuma kuli, tapi malam ini saya ingin jadi pria yang Bu Sri butuhkan.”

Sri berbalik, wajah mereka sangat dekat. Napas mereka bercampur. “Kalau orang desa tahu…”

“Biarkan. Malam ini cuma kita berdua,” kata Wawan sambil mengusap pipi Sri. “Saya rela kerja dua kali lipat besok, asal bisa lihat senyum puas di wajah Bu Sri.”

Godaan berlanjut dengan dialog panjang. Wawan memuji setiap bagian tubuh Sri dengan kata-kata kasar tapi penuh gairah khas pekerja. Sri mulai merespons, menceritakan betapa ia merindukan sentuhan pria setelah dua tahun. Tangan Wawan menjelajah pelan di punggung Sri, membuat perempuan itu menggigil.

“Rasanya hangat sekali dekat Mas Wawan,” desah Sri pelan.

Wawan mengecup kening Sri. “Besok saya mau lebih dari ini, Bu. Saya ingin buktikan betapa saya bisa memuaskan Bu Sri.”

Pemanasan terus berlanjut hingga larut. Mereka berpelukan lama di kursi, saling bisik rayuan dan cerita masa lalu. N4fsu semakin membara, tapi Wawan menahan diri, membuat Sri semakin penasaran dan tergoda.

Malam ketiga, pintu rumah Sri sudah terkunci rapat. Anaknya menginap di rumah neneknya. Hanya ada Wawan dan Sri di dalam kamar kecil yang diterangi lampu temaram.

Selanjutnya....👇👇 

https://dramaranjang.blogspot.com/2026/07/cinta-terlarang-kuli-dengan-janda.html

Mereka saling memeluk dengan penuh kerinduan. Wawan menc1um bibir Sri dengan lembut pada awalnya, lalu semakin dalam. Tangan kasarnya merayap ke gundukan sintal yang ranum Sri, meremas pelan hingga Sri mendesah.

“Mas… pelan saja,” pinta Sri.

Wawan menurunkan kebaya Sri, memperlihatkan put1ng yang mengeras. Ia mengecup dan menghisapnya dengan penuh kasih, membuat Sri melengkungkan punggung.


Perlahan, Wawan membaringkan Sri di pembaringan. Ia membuka pakaiannya sendiri, memperlihatkan p3n1s yang sudah tegang karena b1r4hi yang lama terpendam. Sri menyentuhnya dengan tangan gemetar, “Besarkan sekali, Mas…”


Wawan membuka paha Sri dengan lembut. Jarinya menyentuh lembah basah yang sudah siap. Ia mengusap pelan, membuat d3sah4n Sri semakin sering.


Saat memasuki, Wawan melakukannya dengan perlahan dan penuh perhatian. Gerakan pinggulnya ritmis, naik turun sambil terus menc1um leher dan dada Sri. Mereka menyatu dalam irama yang semakin cepat namun tetap lembut, penuh kasih sayang dan gairah yang terpendam.


“D3sah4n Sri membuat saya semakin kuat, Bu,” bisik Wawan di telinga Sri.


Mereka mencapai puncak bersama, tubuh saling bergetar. Setelahnya, Wawan memeluk Sri erat, mencium keningnya.


Malam itu, cinta terlarang mereka baru saja dimulai, meninggalkan jejak kerinduan yang akan terus membara di desa kecil tersebut.


posted under |
Posting Lama Beranda