Anugrah Suami Pemilik Tiga Ranjang
Novel "Anugrah Suami Pemilik Tiga Ranjang"
Bab 1 Bercinta di Taman Belakang Rumah
Seorang wanita terdengar dari dalam kamar sebuah rumah besar dengan ukiran kayu khas Jepara. Kamar yang juga kental dengan ukiran kayu dan dihiasi mawar putih di sekitar sudut-sudut yang tampak oleh mata menambah suasana romantis pada dua pasangan yang baru saja menikah, Sebastian Narendra Gunawan atau biasa disapa Naren dan Pramudya Ayuningtyas atau biasa disapa Tyas. Pernikahan yang dilandasi dengan cinta tentu saja akan memberikan makna tersendiri di dalamnya, terlebih pasangan yang biasa disapa NaTa ini adalah pasangan yang serasi, baik fisik maupun financial. Meskipun secara tinggi badan, Naren tidaklah setinggi sang istri yang berprofesi sebagai pramugari di sebuah maskapai internasional, namun perbedaan tinggi badan bukanlah halangan bagi pasangan ini untuk melangkah hingga ke jenjang pernikahan.
"Kau tahu, Sayang. Aku sangat bahagia karena akhirnya kita bisa bersatu menjadi suami-istri yang sah dan tak lagi malu-malu mengumbar kemesraan di depan publik." Ucap Naren yang terus menjamah tubuh sang istri dari mulai kepala hingga ke area sensitif yang dimiliki oleh sang istri dan membuat Tyas merem-melek karena jemari luwes dan lincah sang suami.
"Ih, nakal kamu, Mas. Apa coba maksudnya mengumbar kemesraan di depan publik? Kamu pikir kita ini selebriti? Malu tau!" Tawa renyah Tyas dan ekspresi manja sang istri yang malu-malu kucing semakin membuat Naren bernafsu ingin 'memakan' wanita yang kini telah resmi menyandang status Nyonya Sebastian Narendra Gunawan.
"Jangan membuat ekspresi seperti itu di depanku, Sayang." Ucap Naren dengan tatapan mata sayu namun seksi.
"Ekspresi seperti apa maksud kamu, Mas? Jangan gitu, ih!" Tyas langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya menahan malu.
"Lihat deh, muka kamu udah kaya anak kucing baru brojol dari perut emaknya." Tawa sang suami sambil mencubit pelan ujung hidung sang istri.
"Ih, kamu jahat! Masa aku disamakan sama anak kucing." Tyas memajukan bibirnya layaknya anak kecil yang merajuk.
"Ululululu, Sayangku merajuk. Sini-sini Mamas peluk." Ucap Naren yang segera membuka lebar kedua tangannya meraih leher sang istri.
"Ih, apa-apaan, sih, Mas. Aku belum mandi tahu! Masih bau, nihh." Ujar Tyas mencium tubuhnya yang sebenarnya tak bau.
"Bodo amat, mau kamu bau atau wangi, yang penting aku tetep sayang sama kamu. Atau ... kamu mau kita mandi bareng, ya." Naren menaikkan kedua alisnya layaknya rollercoaster tambah senyum menggoda.
"Nakal, ya ... dulu kamu ga gini, deh, Mas. Tapi sekarang kamu mulai berani, ya." Ujar Tyas memukul pelan dada Naren.
"Tapi, nakal-nakal nikmat, kan." Senyum Naren menggoda sang istri.
"Ih, udah, ah. Aku mau mandi." Tyas bersiap berdiri menuju kamar mandi, namun sang suami menarik jemarinya hingga tubuhnya terhempas ke kasur empuk dan di bawah sang suami.
"M-Mas ...."
"Sstt, jangan berisik! Nanti kalau Bapak sama Ibu bangun, bisa berabe kita. Bisa gagal masuk ini."
"Ish, ngomong apa, sih kamu. malu, ih. Udah ah, aku mau mandi. Ga enak, udah lengket banget badannya."
Tyas yang berada di bawah tubuh kekar sang suami, berusaha mendorongnya pelan sambil sesekali mencubit pergelangan tangannya yang genit.
"Aku mau mandi, Mas. Ayolah ..." pinta Tyas manja.
"Mmm, tidak!" tolak sang suami menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Duh, aku gerah, Mas. Aku mau mandi. Serius."
"Satu kali?" Naren menaikkan lagi kedua alisnya.
"Satu kali apa?" tanya Tyas pura-pura bodoh.
Naren langsung berwajah masam begitu mendengar balasan Tyas. "Masa iya, begitu aja ga ngerti. Dahlah, sana mandi!" Naren segera berdiri dari posisi sebelumnya berada di atas tubuh sang istri, mengambil sebungkus rokok yang tergeletak di nakas warna krem dekat tempat tidur mereka.
"Mas, mau ke mana?" tanya Tyas pelan.
"Cari angin!"
BRAK!
Naren menutup pintu kamar mereka agak kencang dan pergi ke luar.
'Ya Tuhan, aku kan cuma bercanda, kenapa Mas Naren jadi tersinggung?' gumam Tyas merasa bersalah dan segera menghampiri sang suami.
Naren yang sedang berada di taman luas rumahnya tampak duduk di sebuah gazibu putih yang masih terhias mawar putih sisa resepsi pernikahan mereka. Sambil mengepulkan asap putih ke langit malam kota Jogja, pria yang juga merupakan pengusaha mebel sukses itu melawan dinginnya malam yang harusnya tak ia dapatkan di malam pengantinnya.
"Mas?" ucap Tyas dengan piyama merah muda berendanya menghampiri sang suami. "Sedang apa di sini?" tanyanya lagi.
"Cari angin, kan sudah kubilang." Sahut Naren mengepulkan asap.
Tyas yang berdiri di depan Naren dengan pandangan tertunduk kemudian memberanikan diri berjalan mendekati sang suami. "Maafin aku, Mas." Ujarnya memilin ujung piyama-nya.
"Kenapa? Kok minta maaf?" tanya balik Naren acuh.
"Massss." Tyas memegang jemari kiri Naren dengan lembut dan ekspresi manja. "Aku tahu aku salah. Aku ga seharusnya begitu, harusnya aku-" Tyas menutup mulutnya.
"Harusnya kamu apa?" Lirik Naren.
"Harusnya aku melayanimu."
"Terus?"
"Yaaaa, melayani Mas Naren dengan baik." Tunduk Tyas.
"Hmmm, terus gimana lagi?"
"Kamu tuh, ya-" Tyas mulai emosi.
"Ehem-"
Serasa anak kucing yang berhadapan dengan sang induk, Tyas langsung tak berdaya dan hanya menundukkan kepala. Melihat sang istri yang telah menyesali perbuatannya, Naren mematikan rokoknya dan menarik tangan sang istri dengan lembut.
"Kemarilah," pinta Naren. "Aku bukannya marah padamu, aku hanya takut akan kelepasan emosi. Maaf, ya kalau aku udah buat kamu takut." Lanjut Naren mendudukkan sang istri di atas pahanya dan menggoyangkan tubuh sang istri.
"Eh, a-apa-apaan, Mas-"
Tyas mulai merasakan sesuatu yang 'tak biasa' menindih tubuhnya.
"M-Mas ..." ucap Tyas terbata dan tak berani menengok ke arah sang suami.
Tanpa ragu, Naren memegang leher sang istri dan melumat bibir seksi merah merekah milik wanita yang menjadi primadona di maskapai tempatnya bekerja.
"Mm--mm--mm---"
"Ssstt, jangan kencang-kencang. Nanti disangka tetangga kamu sedang diapa-apakan." Ucap Naren dengan bibir basah melumat bibir mungil Tyas.
Dengan napas tersengal dan bibir basah, Tyas melirik Naren dengan tajam. "Kamu ya, benar-benar nakal, Mas. Bukannya aku memang sedang 'diapa-apakan' olehmu? Pakai menyangkal! Huft ...." Sang istri mendorong tubuh suaminya pelan dan bergaya manja. "Jahatnyaaaaaa-" tambahnya lagi.
Naren tersenyum geli dan langsung memeluk tubuh sang istri erat. Merekatkan kedua dadanya yang bidang ke sang istri dan memberikan kehangatan di malam pertama mereka sebagai suami-istri. Namun Tyas masih menunjukkan marahnya seperti anak kecil, bibirnya yang merah dimainkan olehnya, dan mengalihkan pandangan matanya dari Naren.
"Sayang? Hei ... waduh, kok marah?" ucap Naren menyentuh wajah sang istri namun tetap tak digubris. "Beneran marah, ya? Iya--iya aku minta maaf. Maaf, ya ... kok, marah sih? Ini kan malam pertama kita? Masa kamu tega ngebiarin aku kedinginan? Nanti gimana dengan si ...."
Tyas langsung menutup mulut sang suami dan kembali memperhatikannya.
"Ssst, malu tau!" ucap Tyas pelan sambil melebarkan pupilnya.
"Apa, sih kok pake ditutup segala mulutnya," senyum Naren kecil.
"Karena aku tahu kamu mau bilang apa. Makanya langsung kututup biar kamu ga ngomong macem-macem, huhhh." Lagi, Tyas pura-pura kesal.
"Apa aku bisa marah padamu?" sahut Tyas malah menggoda sang suami dan menyodorkan dengan sengaja dagu lancipnya.
"Lagi-lagi kau menggodaku, kaaaannnn. Nanti, jika aku menggodamu, kamu marah," sindir Naren melihat sang istri dengan tatapan mesra.
Tangan Tyas meraih pinggang sang suami dan melekatkan tubuhnya pada tubuh Naren. "Sayang, jangan mancing ...,"
"Jika aku ingin ... apa tak boleh? Kita kan sudah sah, Mas." Senyumnya.
"Yang nakal itu kamu, bukan aku," balas Naren tak mau kalah.
Kali ini, Tyas yang tertawa melihat sikap sang suami yang merajuk. Dengan manja, dia menarik-narik kaos putih tipis milik sang suami yang telah melonggarkan pelukannya.
"Mas--mas--" ucap Tyas manja.
"Hnnn," sahut Naren memalingkan tubuhnya dari sang istri.
Tyas yang sebenarnya wanita pemalu harus menanggalkan rasa malunya dan mencoba membujuk kembali sang suami. "Mas---aku ...."
"Apa? Kamu apa?" balas Naren tanpa masih merajuk.
"Aku kedinginan." Bisiknya di telinga sang suami.
Segera, Naren memutar tubuhnya dan melihat Tyas sudah dalam posisi yang membuat Naren tak lagi dapat menahan keinginannya. Bagai harimau yang mendapat daging segar, Naren langsung menarik selimut abu-abu di atas kasurnya dan ....
"Pelan-pelan ya, Mas ...."
Selanjutnya .......
Full Part 1-30
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/anugrah-suami-pemilik-tiga-ranjang.html
Novel "Anugrah Suami Pemilik Tiga Ranjang"
Bab 2 Tak Sengaja Menabrak Si Montok
Kediaman Sebastian dan Tyas
Keesokan paginya, ketika Naren membuka jendela berukir kayu Jepara warna coklat muda di kamarnya, Tyas langsung tergagap bangun terkejut karena terpaan matahari yang langsung menerpa wajahnya. Dua tangannya langsung spontan menutupi wajahnya dari silaunya sinar matahari pagi.
"Sayang, hei ... ayo bangun. Sudah jam 9. Apa kau tak mau sarapan?" tanya Naren membangunkan sang istri yang masih bermalas-malasan di ranjang empuknya.
"Ahhhh, sebentar lagi, Mas. Mataku masih berat." Balas Tyas menarik selimutnya lagi.
"Hmmm, jadi begitu. Kau lebih memilih tetap tidur di atas kasur daripada menemaniku berolahraga dan berkenalan dengan para tetangga di komplek ini? Ya sudah kalau begitu. Tapi jangan marah ya kalau nanti aku belok ke rumah lain," goda Naren melirik sambil tersenyum kecil ke arah Tyas
Dalam sekejap, dia langsung membuka selimutnya dan melirik tajam ke arah sang suami sambil mendengus dan memajukan bibirnya.
"Ini salahmu juga, tahu!" kesal Tyas sambil menahan malu.
"Lho, aku kenapa, Sayang?" tanya balik Naren tak kuasa ingin tertawa melihat rupa sang istri yang marah ketika bangun tidur
"Itu ...." Tyas menggigit bibir bawahnya dan jemarinya memainkan selimut yang masih menutupi tubuhnya.
"Itu? Itu apa? Yang jelas donk kalau ngomong, Sayang," pancing Naren.
"Lagian kamu semalam kelewatan! Berapa kali coba, sampe aku mau nangis!" kesal bercampur malu Tyas dan langsung menutupi wajahnya dengan selimut.
Tak lagi dapat menahan tertawanya, Naren kali ini benar-benar tertawa lepas mendengar ucapan sang istri yang begitu polos dan lugu tambah ekspresi marah Tyas yang menggemaskan.
"Terus … terus aja ketawa! Seneng kan kamu liat aku menderita! Jahat kamu, Mas ...." Tyas melirik tajam sang suami seraya menggumam pelan dan terdengar suara sesenggukan layaknya orang yang sedang menangis.
"Sayang, hei, k-kamu kenapa? Kok nangis?” panik Naren melihat Tyas tiba-tiba menangis.
“Ga apa-apa, Mas. Cuma … cuma-” Tyas membenamkan wajahnya di antara lipatan kedua tangannya.
“Cuma apa? Sayang? Cuma apa?” desak Naren penasaran.
“K-kamu mantap banget ya di ranjang, bikin aku puas-” wajah Tyas kali ini benar-benar layaknya kepiting rebus dalam air mendidih.
Diam-diam, Naren pun tak bisa menutupi malu dan merah wajahnya. Sementara Tyas membenamkan diri dalam lipatan tangannya, sang suami malah salah tingkah dan berdiri sembari membetulkan celana training abu-abu miliknya.
"Mmm, gimana kalo kita olahraga sekarang? Selain bagus buat badan, juga bagus untuk di ranjang." Kelakar Naren langsung ditanggapi dengan dongakan kepala oleh Tyas dan berkata, "Kamu pagi-pagi udah ngomongin ranjang aja. Emang ga puas apa semalam? Masih kurang?" sedikit jengkel Tyas.
"Kalau urusan itu mana bisa aku puas-" Tawa Naren lebar.
"Massss-" ucap Tyas memajukan bibirnya.
"Haha, aku senang sekali menggodamu, Sayang. Jadi, gimana? Kita olahraga?" Naren mendekatkan wajahnya ke sang istri dan mencium mesra keningnya.
Tyas mana mungkin bisa menolak ajakan suami yang diikuti oleh kecupan manis di pagi hari. Dengan lincah, dia keluar dari selimutnya dan beranjak dari kasurnya.
"Kamu masih di sini, Mas? Ga keluar?" Tanya Tyas membuka lemari warna putih bergagang stainless di dekat meja rias kamar mereka.
"Lho, emangnya kenapa kalo aku di sini." Naren pura-pura bodoh.
"Aku mau ganti baju."
"Ya udah, ganti aja." Sahutnya sambil merapikan tempat tidur mereka.
Tyas diam. Dia menyorot tajam ke arah Naren yang masih sibuk dengan kasur mereka.
"Aku mau ganti baju, Mas. Katanya mau olahraga-" Tyas mulai jengkel.
"Ya udah, ganti aja. Gitu aja kok ribet, ya." Sahut lagi Naren enteng masih bergumul dengan bantal-guling mereka.
" Aku mau ganti baju, Maaaaaaaass-" antara gemas dan jengkel Tyas.
"Ish, kenapa masih malu-malu, sih. Kan aku udah liat semuanya, bersih, mulus, putih, tanpa noda." Naren tak hentinya tertawa.
"Massssss, ish! Kamu, tu ya! Maluuuu aku, udah ah, sana keluar! Hush … hush … hush!" Tyas mengibaskan tangannya 'mengusir' sang suami dari kamarnya.
"Iya … iya, aku keluar." Naren menggelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat ekspresi wajah sang istri yang lucu di pagi hari.
Tyas hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa geli melihat kelakuan sang suami. Jemari panjang dengan kuku putih panjang terawat dengan baik mengambil celana olahraga pendek warna abu-abu dipadu padan dengan jaket hoodie warna senada tanpa dilapisi oleh baju lagi di dalam tubuh molek dan aduhai wanita yang mendapat julukan 'Miss Marilyn' itu.
***
Sementara itu, di lantai bawah, tampak kedua orang tua Sebastian Narendra Gunawan atau Naren tengah sarapan sambil sesekali diselingi percakapan keduanya. Sang ibu yang melihat putranya tampak sumringah memberi kode kedipan pada sang ayah yang tengah menikmati nasi goreng telur mata sapi setengah matang kesukaannya.
"Pagi, Bu, Ayah." Sapa Naren penuh senyum dan semangat langsung duduk dekat sang Ayah.
"Pagi, Sayang," sapa sang Ibu melihat anaknya tampak sumringah.
"Sepertinya malam kalian sangat membakar, ya semalam?” Gurau sang Ayah menyeruput kopi hitam di cangkir putihnya.
“Lumayan, Yah. Produk yang sering keluar negeri memang beda." Kelakar Naren langsung dipukul pelan oleh sang Ibu.
"Hush! Ngaco kamu ngomongnya! Nanti kalo Tyas sudah terbang lagi, baru tau rasa kamu!" Tunjuk sang Ibu menghentikan ocehan putranya.
"Selamat pagi, semuanya.”
Tyas yang turun dari tangga rumah tingkat tiga itu pun segera mendapat perhatian dari sang mertua dan sang suami. Bola mata ketiganya sedikit terbelalak melihat pakaian olahraga yang digunakan oleh Tyas yang cukup menggoda. Celana training pendek yang memamerkan paha ayam broiler yang segar, montok, putih bersih, dan menggugah selera bagi mata yang memandang, hoodie abu-abu, serta sepatu olahraga warna putih dengan tali sepatu pink yang memperlihatkan kaki kecil dan paha kecil kencang pemilik nama lengkap Pramudya Ayuningtyas.
Naren terus menatap sang istri yang menuruni tangga bak Miss Universe, pelan-pelan asal selamat, itulah yang dilakukan Tyas saat ini.
“Pagi, Ayah, Ibu.” Senyum wanita cantik itu dengan lip balm warna pink menempel di bibir seksinya.
“Pagi, Nan Tyas. Kamu mau olahraga? Cantik sekali.” Puji sang Ibu Mertua tersenyum.
“Iya, Ayah sampai pangling ga ngenalin kamu tadi,” kelakar sang Ayah.
Tyas hanya tersenyum malu dan mengalihkan pandangannya ke arah sang suami yang ternyata menatapnya dengan tatapan penuh birahi dan napsu yang jika diibaratkan layaknya anak kucing yang kelaparan.
“Anak kita memang tak salah pilih jodoh, ya, Bu.” Bisik sang Ayah terus memperhatikan sang menantu.
“Bu, Ayah, kami pergi dulu.” Ucap Naren meninggalkan meja makan.
Hati-hati dan jaga istrimu dengan baik Naren, jika tak ingin ada serigala berbulu domba yang akan mendekat.” Kelakar sang Ayah yang langsung mendapat cubitan kecil di pinggang sang kepala rumah tangga.
***
Sepanjang jalan lingkungan mereka tinggal, banyak pasang mata kaum adam yang memperhatikan sang istri. Naren yang merasa risih dengan tatapan genit dan liar dari kaumnya tanpa ragu merangkul bahu Tyas dengan lekat sambil mendongakkan kepalanya seolah ingin memberikan ‘peringatan’ pada siapa saja yang mendekat.
“Apa-apaan, sih, Mas! Malu tau!” Tyas berusaha melepaskan rangkulan sang suami.
“AKu ga rela mereka terus liatin kamu! Apa kamu ga liat mata liar mereka yang udah kaya serigala hutan?!” kesal Naren.
Tyas memperhatikan para lelaki yang ada di lingkungan mereka tinggal, berusaha untuk tersenyum ramah. “Kok kamu malah senyum-senyum, sih?”
“Senyum adalah ibadah!” sahut Tyas.
Naren yang sedang kesal melepaskan langsung rangkulannya dan meninggalkan sang istri sambil menggerutu layaknya anak kecil.
“Hah, ngambek lagi-” keluh Tyas menarik napas panjang menggelengkan kepalanya.
“Aduh!”
“Eh, m-maaf. Anda tak apa-apa?” tanya Naren pada seorang wanita berkuncir kuda yang memakai hot training short warna pink dengan kaos putih ketat hingga menyembulkan dua gunungnya yang terjatuh duduk karena tak sengaja bertabrakan dengan Naren.
“Lihat-lihat donk, Mas kalau jalan!” Kesal wanita itu mengelus pinggulnya.
“I-iya, saya minta maaf, Mbak.”
Tyas segera menghampiri sang suami dan mengalungkan lengannya. “Mas, kamu ga apa-apa?” tanya sang istri khawatir.
“Enggak. Aku ga apa-apa. Tapi Mbak ini-”
Naren menunjuk wanita yang masih terduduk sambil mengeluh. Tatapan Tyas langsung berubah tajam dan ekspresi wajah masam. Ketika Naren ingin mengulurkan tangannya ke wanita malang itu, Tyas dengan kencang memegang lengan sang suami.
“Eh, kenapa? Ada apa?” tanya Naren bingung.
Tyas diam dan mengalihkan pandangannya ke wanita yang masih mengelus pinggulnya. “Mari, saya bantu!” Ucap Tyas mengulurkan tangan sebelah kanannya sementara tangan kirinya membantu wanita malang itu berdiri.
“Terima kasih, Mbak. Maaf, Mas, tadi saya yang salah karena ga liat-liat jalan.” Ucap wanita itu menatap Naren diikuti senyum manis.
‘Cantiknya-’ gumam Naren.
Tyas yang melihat tatapan sang suami bagai lampu bohlam yang baru dipasang, langsung mencubit kencang perut samping Naren hingga membuatnya meringis kesakitan. Sementara sang wanita yang ditabrak oleh Naren justru tersenyum tipis dan membuat Tyas semakin tak menyukai sang wanita ‘kecelakaan’ itu.
“Sudah, kan, Mbak. Kalau begitu, saya dan SUAMI permisi. Lain kali hati-hati kalau jalan, YA!” sindir Tyas menyorot tajam.
“Iya, Mbak. Sekali lagi saya minta maaf.” Wanita itu menundukkan kepalanya.
Tak perlu berlama-lama, Tyas dan Naren segera pergi meninggalkan wanita semok dan montok dengan segala kelebihannya itu. Namun, diam-diam mata Naren mulai nakal ke arah wanita yang tadi ditabraknya. Pura-pura memeriksa bagian yang sakit akibat tertabrak tadi, Naren memberikan senyuman pada wanita itu dan tanpa diduga, wanita itu melambaikan tangannya dan mengedipkan matanya pada Naren.
"Mas … Mas," sapa Tyas masih mengalungkan tangannya ke lengan sang suami.
"Ya, ada apa?" sahut Naren mulai kembali pada sang istri aslinya.
"Wanita tadi-" ragu Tyas.
"Wanita tadi? Wanita yang mana?" bingung Naren.
"Wanita yang Mas tabrak tanpa sengaja."
"Oh, iya. Kenapa dengan dia?" penasaran Naren.
"Seperti wanita gatal dan murahan juga binal!"
"HAH?!"
Selanjutnya .......
Full Part 1-30
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/anugrah-suami-pemilik-tiga-ranjang.html
Novel "Anugrah Suami Pemilik Tiga Ranjang"
Bab 3 Tante Seksi Pembuat Sensasi
Namanya Tante Vina, tetangga baru yang rumahnya tak jauh dari rumah si pengantin baru yang sedang panas-panasnya. Siapa lagi kalau bukan Naren dan Tyas. Paras yang elok bak Venna Melinda, Senyum yang menghipnotis mata lelaki, dada dan bokong yang penuh berisi, mata laki-laki mana yang akan melewatkan kesempatan emas ini? Apalagi jika si tante sudah pakai kaos putih ketat plus short pants! Jangankan yang keningnya muda, yang keningnya berkerut pun akan serasa kembali muda.
Pagi itu, seperti biasa, Naren hendak pergi ke kantornya. Meskipun dia adalah pemilik perusahaan besar dan ternama, karena didikan orang tuanya yang seperti militer, Naren telah terbiasa berangkat lebih awal ke kantor. Setelah pamit dengan kedua orang tuanya dan mencium pipi kanan-kiri sang istri, Naren mulai menyalakan mesin mobilnya dan berlalu dari hadapan sang istri.
Tak lama, beberapa meter dari rumahnya, dia melihat seorang wanita dengan pakaian olahraga sedang senam di depan rumah yang Naren tahu rumah itu sedang mencari pemilik baru. Wanita dengan rambut yang dikuncir kuda dan pakaian senam model bra ketat warna putih susu itu otomatis menarik mata dan syahwat Naren, apalagi setelah dia tak sengaja melihat dada mengkel di balik bra ketat sang tante dan paha mulus putih licin bak ubin yang habis di pel.
'Alamak!!! Siapa tuh cewek? Bohay amat!' gumam Naren yang tak pernah lepas dari spion mobilnya melihat lekuk tubuh sang tante.
Tante Vina bukannya tak tahu jika ia sedang diperhatikan oleh Naren. Dia hanya jual mahal, maklum, dulunya Tante Vina adalah mantan istri seorang CEO bule yang punya beberapa perusahaan di Indonesia, namun sayang, sang suami ternyata pria yang suka celap-celup dan tanam sperma ke banyak wanita. Bosan dan jijik dengan kelakuan sang suami, Tante Vina memutuskan untuk minta cerai dan harta gono-gini pada sang suami. Karena ber-status sebagai CEO, sang mantan suami tak ingin repot mengurusi hal seperti itu, dia mengiyakan dan memberikan setengah dari jumlah kekayaannya pada sang mantan istri. Walhasil, Tante Vina kini menjadi janda terkaya dan sempat populer di sosial media.
'Hmmm, rupanya ada brondong yang caem juga di komplek ini.' Tante Vina memamerkan deretan gigi putihnya.
Naren masih memikirkan tentang wanita yang memakai baju olahraga seksi yang tadi pagi ia temui. Entah kenapa alam liarnya terus saja berimajinasi liar seolah sang wanita tengah di dekatnya dan memainkan tiap jemarinya di tubuh padat Naren.
"Ah, enaknya ... ya, di sana! Tepat sekali! Kau memang pintar memainkan jari-jarimu-"
KLIK!
"Pak."
Naren yang tengah asik memainkan jarinya seraya memainkan imajinasinya langsung kaget setelah Asri, sekretaris pribadinya masuk.
"Kamu, ya! Masuk ga pake ketok-ketok dulu! Apa kamu ga pernah diajari sopan santun!" kesal Naren buru-buru membersihkan jari-jarinya.
"Lha, Bapak yang dari tadi ga dengar. Saya sudah berkali-kali ngetok, tapi ga dijawab-"
"Kamu, ni, jawab aja kalo saya lagi ngomong." Naren memajukan mulutnya saat menghadapi Asri, sekretaris berusia 35 tahun dan janda anak satu.
"Lha, Bapak kan-"
"Iya ... iya, tahu! Terus, ada apa kamu ke sini?"
"Ini, Pak. Ada Undangan dari Tuan Erick, itu pengusaha properti dari Jakarta yang mau kerjasama dengan mebel kita."
"Erick?" Naren menaikkan alisnya sebelah.
"Saya taruh di sini, nanti bisa Bapak baca sendiri." Asri meletakkan undangan warna putih dengan tulisan tinta kuning emas berbalut pita kuning tepat di depan Naren.
"Hmm, taruh aja di sana. Nanti aku baca." Naren menganggukkan kepalanya.
Tak lama setelah Asri keluar ruangan Naren, pria itu melirik undangan yang ada di depan matanya sambil menggumam, "Ganggu orang aja, sih! Lagi enak-enak juga! Hhhh, buyar kan, imajinasinya. Ada-ada aja-"
Tak lama, Naren mendengar ponselnya berdering dengan backsong khusus dan segera pria itu tahu siapa yang meneleponnya. Dengan cepat, jemarinya meraih ponsel di dalam saku celananya dan tersenyum sumringah saat menerima telepon tersebut.
"Halo, Sayang. Iya, aku udah sampe kantor, maaf ya tadi ga langsung ngabarin. Habis langsung meeting."
[Oh, gitu, ga apa-apa, Mas. Aku khawatir banget kamu kenapa-kenapa di jalan.]
"Jangan lebay, deh, Sayang. Kan jarak dari kantor ke rumah cuma satu jam."
[Tapi, kan Mas biarpun satu jam-]
"Sayang, udah dulu, ya. Mas masih banyak kerjaan, Nanti sambung lagi. Luv you. Yang akur, ya di rumah."
[Ih, kamu. Emang Tom and Jerry apa. Ya udah, met kerja ya, Sayang.]
Ternyata, sang istri tercinta yang sedang 'meneror' kabar dari Naren karena tak memberinya kabar. Setelah selesai menelepon, Naren yang ternyata mulai jago berkelit dari sang istri seksinya mulai membuka laptop pribadinya. Iseng-iseng berhadiah, jemari panjang tak terlalu besar miliknya menjelajah salah satu web penyedia berita gosip dan tak sengaja melihat paras wanita yang tadi ia lihat sewaktu akan berangkat ke kantor.
"Eh, bukannya ini wanita yang tadi aku lihat di deket rumah?" pikirnya dan rasa penasaran akan wanita berparas cantik dengan body aduhai itu langsung menggebrak naluri laki-lakinya untuk segera mencari tahu.
Tak perlu menunggu lama, Naren segera mengetahui nama asli, alamat lengkap, tanggal lahir, hobi, bahkan sampai pasangan pun begitu jelas terpampang di layar datar laptop-nya.
"Oh, jadi namanya Raquela Vina Anandita. Hmm, cantik juga sesuai orangnya-" tanpa sadar Naren kelepasan bicara. "Haiya, ngomong apa sih, aku ini! Naren, ayolah! Belum ada sebulan kamu nikah, masa iya udah mau balik lagi kaya dulu! Istri yang sekarang kan yahud binti oke binti seksi binti gemoy! Masa iya mau kamu tinggalin!" ucapnya pada dirinya sendiri.
Namun, naluri dan hasrat Naren yang memang 'gatal' akan paha mulus dan wajah bak wajan licin dan baru tak dapat ditahannya. Kecepatan tangan dan matanya mengalahkan pikiran sehat laki-laki yang sedang berada di puncak birahinya itu. Dengan cepat, Naren menyelidiki kehidupan sang wanita bernama Raquela Vina Anandita dan mendapati jika dia adalah janda dari seorang pengusaha asal negeri seberang yang ditinggal setelah mendapati suaminya berselingkuh dengan sekretarisnya.
"Ckckckck, malang benar hidup wanita ini. Masih muda, cantik, seksi, kulitnya kencang dan bersih, eh, malah ditinggal nikah lagi. Bego banget, sih itu suami eh mantan suaminya! Kok aku yang kesal, ya." Naren segera memfokuskan kembali matanya pada wanita itu. Bibir dan mata Naren tak berhenti bergerak! Saking fokusnya, dia sampai tak mendengar bunyi ketukan pintu ruangannya yang diketuk beberapa kali.
"Gila ... gila! Ni janda tajir melintir amat! Auto sultan kalo kaya gini, mah!" Naren menahan nafasnya sejenak ketika tahu jumlah total kekayaan yang dimiliki oleh Raquela Vina Anandita. "Ini mah pendapatan bersih perusahaanku selama satu tahun! Bener-bener wanita yang luar biasa!" Naren tak henti-hentinya menunjukkan decak kagum pada wanita yang berfoto mengenakan gaun mini hitam ketat hingga membentuk tubuhnya.
'Wanita seperti Vina ini jika saja aku bisa dekat dengannya dan menjadi investor di perusahaanku-' Naren mengusap-usap dagunya sembari tersenyum.
"Sepertinya aku harus mulai pendekatan dengan wanita hoki ini! Siapa tahu, aku bisa ketularan hokinya." Seringai Naren dengan segala pikiran liarnya.
'Betapa beruntungnya hidupku bisa satu komplek dengan janda terkaya saat ini. Sekali merengkuh, dua tiga pulau apa akan kudapat?' Naren mulai berpikir macam-macam
Selanjutnya .......
Full Part 1-30
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/anugrah-suami-pemilik-tiga-ranjang.html
Novel "Anugrah Suami Pemilik Tiga Ranjang"
Bab 4 Janda Seksi Penggugah Birahi
Sebuah mobil merah menyala ber-plat luar kota pelajar berhenti di sebuah kafe di daerah tempat nongkrongnya anak-anak gaul kota itu. Hingar bingar musik serta riuhnya para kawula muda tak membuat wanita yang baru saja turun dari mobil sedan Eropa tersebut kalah cetar dengan mereka. Justru sebaliknya! Dengan rok mini warna pink, sneaker putih, serta kemeja tipis warna putih yang memperlihatkan dalaman warna hitam dan dua gundukan gunung kenyal yang buat pusing para lelaki normal atau hidung belang.
Wanita dengan rambut sepinggang hitam lebat itu pun duduk di tengah-tengah kafe yang memang tak pernah sepi pengunjung. Mata haus belaian wanita cantik para kaum adam pun langsung tertuju pada wanita itu kala ia duduk melipat kakinya, memperlihatkan betis ramping kecil putih mulus tanpa bulu-bulu.
“Sendirian aja, ni? Mau aku temenin, ga?”
Salah seorang pemuda mendekati wanita itu dengan penuh percaya diri.
“Boleh, duduk aja. Ga ada yang larang kok,” ucap wanita itu dengan suara manjanya.”
“Suara kamu seksi, deh. Boleh tau ga nama kamu siapa?” Pemuda itu menyodorkan tangan ke wanita itu. Belum sempat merasakan lembutnya tangan wanita itu, tiba-tiba seorang pria dengan tubuh atletis, perawakan bule, wajah sugar daddy, kulit kecoklatan masuk ke dalam kafe tersebut dan menghampiri sang wanita.
“Hey, babe. Dah lama nunggu?” Pria itu langsung menyambar pipi kanan-kiri dan bibir sang wanita.
“Ih, kamu nakal, deh! Ngapain sih pake cium bibir segala, malu tau ada anak kecil di situ.” Tunjuk wanita itu menyeringai.
Pria kekar itu langsung melirik ke arah pemuda yang mengajak kenalan tadi dan seketika nyalinya ciut dan menyingkir dari hadapan keduanya.
“Dia siapa?” tanya pria yang kini jadi pusat perhatian para kaum hawa di kafe itu.
“Bukan siapa-siapa. Hanya anak kecil yang mungkin ingin ‘dibangunkan’-” Goda sang wanita dengan genitnya mulai menggerayangi sang pria.
“Plis, deh! Kalo mau open BO jangan di sini! Ke hotel sana! Jijik tau ga!” salah satu pengunjung kafe tersebut terlihat kesal dengan kelakuan sang pria dan wanita.
“Tau, tuh! Macam wanita gatel yang ga pernah dibelai ama lelaki aja!” nyinyir pengunjung yang lain.
Bukannya marah, namun si wanita malah dengan santai tersenyum menanggapi dan berkata, “Kalian iri karena ga bisa kaya aku? Body-ku bagus, kulitku juga terawat dengan sangat baik, dan aku punya banyak uang, dusta mana lagi yang mau aku ingkari?” sindir wanita itu langsung menarik lengan kekar sang pria meninggalkan kafe tersebut ke parkiran mobil.
“Kamu lagi sehat, kan Vin?” tanya pria itu saat mereka tiba di parkiran mobil.
“Pake mobil kamu aja, deh Ed. Jangan mobilku!” ucap wanita yang tak lain dan tak bukan Tante Vina, janda seksi yang sedang digilai Naren.
“Oke. Trus, gimana mobilmu?”
“Gampanglah, aku bisa suruh supir nanti buat ambil. Ayuk, ah. Udah ga tahan, nih pengen dimasukkin!” godanya dengan suara manja.
“Pinter banget sih kamu mancing-mancing birahiku. Aku juga udah ga tahan-”
Keduanya tak perlu menunggu lama! Tante Vina dan pria yang dipanggil Ed tersebut langsung meninggalkan kafe dan mencari tempat untuk mengeluarkan nafsu liarnya. Sepanjang jalan, jemari Vina tak pernah berhenti menggerayangi bagian-bagian sensitif sang pria. Dengan cekatan dan layaknya seorang profesional, lembutnya sentuhan tangan Vina membuat batang keperkasaan milik Ed tegak lurus 90 derajat! Vina, dengan segala sex appeal yang dimilikinya, mampu membuat pria mana pun dengan mudah jatuh ke dalam lumpur kenikmatan yang dibangunnya.
“Jangan ditahan, Sayang. Sudah keras banget, tuh. Emang kamu ga pusing apa?” Vina meremas, menjamah, mengelus batang keperkasaan milik sang pria yang masih terbalut pakaian utuh.
“Vina, tahan dulu, donk. Bentar lagi sampe hotel. Aku juga lagi nyetir. Ntar kalo kenapa-kenapa gimana?” Ed mulai tak fokus menyetir melihat Vina yang terus menggoda batangnya.
“Kamu apa ga pusing, Sayang? Kita nepi aja dulu, daripada kamu pusing. Tuh, lihat muka kamu udah pucet, ayolah, kita nepi aja dulu, ya atau-”
“Atau apa? Jangan macem-macem, Sayang. Ini lagi rame jalanan. Apa kamu ga takut ada yang liat?” Ed mulai panas dingin.
“Kaca mobil kamu kan gelap, mana mungkin keliatan. Udah, ah. Aku udah ga tahan! Aku mau sekarang!” Tanpa izin dari sang empunya, Vina langsung membuka resleting sang pria dan … voila! Sebuah daging setengah matang ukuran jumbo siap untuk ‘disantapnya!’
‘Benar-benar wanita seksi, cantik, tapi sinting! Bisa-bisanya dia saat aku sedang mengemudi, dia-’ Ed melihat Vina di samping tempat duduk supir membungkukkan badan sambil menjilat, mengulum, meremas batang tegak miliknya hingga pria itu benar-benar tak berdaya.
Kaca mobil milik pria itu memang gelap, namun tetap saja Ed merasa khawatir kalau-kalau ada yang ‘iseng’ melihat apa yang sedang mereka lakukan di dalam mobil, terlebih hari masih siang.
“Vina, Sayang-”
Namun panggilannya tetap tak digubris! Malah sang tante dengan lahapnya terus mengulum dan menjilat batang miliknya yang masih mengeras. “Oh, fuck! Yes, baby, right there!” tanpa sadar Ed mendesah menikmati tiap jilatan lidah panas sang janda seksi.
“Oh, you make me hard, Vina! Aku udah ga tahan lagi!” Kali ini, Ed langsung melajukan mobilnya kencang dan mencari tempat ‘sementara’ untuk meredakan pusing di kepalanya.
Tak lama, mereka tiba di hutan tengah kota yang cukup rimbun dan sepi karena memang jam-nya orang kerja. Hanya ada beberapa yang melewati tempat itu. Vina yang masih menempelkan mulutnya di batang perkasa milik Ed langsung ditarik paksa dan mulailah sang arjuna melahap dan melumat liar bibir seksi tante Vina yang penuh dan menggiurkan.
“Umm, ah, Ed-”
“Ssst, jangan berisik, Sayang. Kita belum sampai hotel. Nanti kalo ada yang denger gimana?” bisik Ed kini menggerayangi leher jenjang bagian belakang putih mulus sang janda. “Ah, Ed … ayolah, kapan giliranku? Aku tak tahan lagi. Aku ingin segera-”
Ed menjilati cuping kenyal putih milik janda seksi itu dengan lahapnya. Sesekali saliva jatuh ke leher Vina, namun karena birahi telah menyelubungi keduanya, seberapa banyak pun cairan dari mulut yang jatuh, tak akan digubris.
Vina yang telah sampai di puncak birahinya, memaksa melepas kancing baju Ed. Pria itu mencoba menahan, namun Vina yang tak tahan lagi terus memainkan jemarinya, meringsek ke dalam dada hangat sang pria, mengalungkan tangan di kedua lehernya dan merasakan panasnya batang perkasa milik Ed.
“Ayolah, Sayang, masukkan … aku sudah tak tahan!” Vina terus memegangi batang milik Ed. “Sangat panas, lho, ini. Apa kau tak ingin melakukannya? Ayolah-”’ pinta Vina seraya menggigit lembut dagu lancip dengan rahang yang keras dan kuat Ed
Ed pada akhirnya menyerah dan menuruti kemauan sang janda seksi. Panasnya batang milik Ed benar-benar seperti neraka yang menggoda, panas-panas nikmat! Itulah yang dirasakan oleh Vina sekarang.
"Ah-" desahan dan udara berembun karena AC mobil yang terus-menerus dinyalakan, membuat kaca mobil tersebut serasa berada di daerah pegunungan.
Vina dan Ed yang sedang menjajaki posisi enak mereka tiba-tiba dikejutkan dengan suara seperti langkah kaki yang mendekati mobil keduanya. Karena hari masih cukup terang, maka dengan mudah orang akan mengetahui keberadaan mereka.
"Sedang apa kalian di sana!"
Selanjutnya .......
Full Part 1-30
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/anugrah-suami-pemilik-tiga-ranjang.html
Novel "Anugrah Suami Pemilik Tiga Ranjang"
Bab 5 Mobil Goyang vs Ranjang Goyang
“Siapa di sana!”
Suara lantang dan kencang beberapa orang pria membuat Vina dan Ed yang sedang bercumbu di dalam mobil langsung terkejut “Ssstt, diam! Tahan suaramu-” pint Ed yang sedang berada di atas tubuh Vina. Namun, bukan Vina namanya jika tak mampu menciptakan celah sempit untuk membuat Ed ‘ter-setrum’. Jemari Vina lagi-lagi menyentuh batang perkasa milik Ed yang keluar setengah dari area pribadi sang tante. “Ayo, donk, masukin lagi-” pinta Tante Vina bak wanita binal.
‘Luar biasa gila ini wanita! Baru kali pertama aku bertemu dengan wanita macam dia!’ gumam Ed masih melihat situasi di luar mobilnya.
“Vina, sepertinya kita harus menyudahi ‘mobil goyang’ ini! Ada beberapa orang pria yang sedang menuju kemari. Vina-” Ed menundukkan pandangannya ke arah Vina, namun ternyata sang tante sedang asyik bermain dengan fantasi liarnya seraya menyentuh dua gundukan kenyal padat miliknya.
“Ah, sial! Wanita ini benar-benar hyper!” Ed mengambil ancang-ancang melepaskan batangnya, namun tiba-tiba Vina memegang pergelangan tangan Ed dan menahannya sambil berkata, “Jika kau mencabutnya sekarang, maka kita justru akan ketahuan. Kaca mobilmu ini sangat gelap, aku yakin mereka tak akan melihat kita,” yakinkan Vina.
“Tapi, kamu bisa lihat kan kaca mobil ini berembun. Sama saja kita juga akan ketahuan. Ayolah, Sayang kita sudahi dulu-” pinta Ed ingin sekali mencabut batang miliknya.
“Tidak! Kau tak bisa melakukannya dan aku tak izinkan!” tegas Vina memegangi tangan Ed.
Sontak, beberapa pria yang melihat ‘mobil goyang’ milik Ed segera bergegas menghampiri. Dan di saat mereka telah hampir mendekati mobil itu, terdengar suara teriakan seorang wanita yang cukup kencang. Mereka langsung menghentikan langkahnya dan berbalik arah ke wanita yang berteriak tadi, sementara ‘mobil goyang’ milik Ed luput dari pemeriksaan.
“Fyuhhhh, hampir saja!” lega Ed menindih sang tante.
“Kubilang juga apa, pasti aman. Kau hanya perlu relax dan bersikap tenang.” Vina melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Ed.
“Oke … oke, kau benar, Sayang. Tapi, gimana kalau kita lanjutkan di atas kasur aja? lebih enak, empuk, dan kita bisa main banyak gaya,” bujuk Ed.
“Tapi, masih tanggung nihhh. Lagi enak, ayolah, sekali ini aja habis itu kita ke hotel.” Vina melingkarkan tangannya ke leher kekar Ed dan merundukkan tubuh pria itu, menindih tubuh tante seksi hingga dua gundukan gunung kenyal miliknya menyentuh panasnya tubuh sang lelaki.
“Ah, kau luar biasa, Sayang! Tak sia-sia aku mengenalmu! Kau benar-benar merangsang birahiku!” Vinna meliukkan tubuhnya di kursi belakang sedan milik Ed yang berukuran sedang. Kecil bukanlah penghalang bagi sang tante! Justru Vina semakin terangsang dan bergairah.
Mau tak mau Ed mengikuti kemauan Vina dan menggenjot tubuh moleknya dengan cepat dan tergesa. Keringat mulai menetes membasahi tubuh keduanya bercampur dengan AC yang masih ON. “Lebih cepat! Lebih dalam, Sayang. Keluarin semua, donk kemampuanmu!”
“Ini aku udah semuanya kukeluarkan! Kau benar-benar hyper, ya Vina.” Ed terus mengeluarkan tenaganya memuaskan si tante binal.
“Vin, aku mau keluar, Sayang-”
“Keluarkan saja semuanya. Keluarkan dan jangan ragu, Sayang-” Vina membalas dengan desahannya yang seksi nan menggoda.
Hampir satu jam lamanya mereka bermain ‘mobil goyang’. Dan kini, baik Ed maupun Vinna setelah keduanya mengeluarkan nafsu birahi masing-masing, pakaian yang mereka tanggalkan di mobil milik sang pria kembali dikenakan.
“Kau luar biasa, Ed. Sudah lama aku tak merasakan jamahan seorang pria. Kau benar-benar membuatku terangsang.” Kecup bibir wanita seksi itu ke pipi sang lelaki.
“Kau juga luar biasa, Vina. Baru kali ini aku menemukan wanita yang tak takut melakukan hubungan intim sekalipun sedang berada dalam situasi berbahaya.
“Karena di situlah arti dari kesenangan berhubungan yang sebenarnya. Lain kali aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang membuat adrenalin dan hormon seksualmu naik dengan tajam.” Kali ini Vina menyambar bibir Ed dan mencumbunya.
“Jangan pancing aku lagi, Sayang. Bukankah kita akan melanjutkannya dii hotel?” tanya Ed berusaha melepaskan bibirnya dari sang janda seksi.
“Baiklah, tapi satu ciuman terakhir sebelum kita ke sana?” pinta Vina menyodorkan bibir penuh dan seksinya.
Tak lama, sedan hitam milik Ed pun segera meluncur meninggalkan hutan tengah kota yang mulai ramai didatangi orang-orang yang hendak mencari angin.
Sepanjang jalan menuju hotel, Ed dan Vina bagaikan sepasang kekasih yang sedang panas-panasnya. Berkali-kali Vina memainkan jemarinya di paha sang laki-laki tersebut, namun segera ditampik oleh Ed dan mengalihkan perhatian sang wanita ke tempt lain.
“Kenapa kau buka jendelanya, Ed?/ Rambutku berantakan!” keluh Vina membetulkan rambut kilapnya bak gadis salon.
“Biar kamu juga bisa rasakan udara kota ini, Sayang. Selama ini kan kamu jarang keluar rumah, bagaimana rasanya?” tanya Ed sumringah.
Vina memasang wajah ketidak senangan! Rambutnya yang berantakan serta polusi juga udara panas yang menyengat membuat janda seksi ini sedikit geram.
“Aku tak akan mau melayanimu!” gertak Vina melipat dua tangannya sambil memainkan bibirnya.
“Kok marah, Sayang. Ayolah, aku hanya bercanda-” Ed mengusap dagu lancip milik sang janda seksi sambil terus mengeluarkan bujuk rayunya.
“Aku hanya akan memaafkanmu jika kau bisa melayaniku dengan semua gaya yang kau miliki.” Lirik sang tante sambil menyeringai penuh kode.
“Hmm, aku jamin kau akan ketagihan, Sayang!”
Di dalam hotel, Ed dan Vina tak perlu berlama-lama kembali membakar gairah nafsu keduanya. Masuk ke kamar hotel, Vina dengan cepat bak kilat membalikkan tubuh atletis Ed dan mencium bibir laki-laki tersebut dengan liar. Kuluman bibir dan lidah panas Vina bertemu dengan panasnya lidah milik Ed, menjajal tiap sudut rongga mulut masing-masing hingga saliva kembali mengalir namun tak digubris keduanya. Jemari Vina mulai mengambil ancang-ancang membuka kembali kancing baju yang dipakai oleh Ed, melepas paksa dan merobohkan tubuh tegap pria itu di atas kasur empuk.
Vina masih dengan gaya binalnya terus mengulum dan mengoyak bibir Ed hingga laki-laki itu dengan sendirinya melepas celana yang tak mampu lagi melindungi batang perkasanya yang telah berdiri dengan tegak sempurna.
“Bisa kita mulai sekarang?” bisik Ed saat Vina menyudahi permainan bibirnya.
“Aku menunggu sejak tadi, tak lihatkah aku sudah basah di bagian bawah sana?” pancing Vina.
Ed menyeringai. Dengan jemari yang panjang dan tak terlalu besar miliknya, Ed mulai membuka pakaian Vina kasar dan membuangnya sembarang. Tangannya mulai bekerja membuat sang tante seksi merasakan pemanasan terlebih dahulu, menjejaki tiap lekuk tubuh yang aduhai, putih mulus dan kencang. Kini, jemari sang pria telah sampai pada bagian intim sang wanita yang masih ditutupi oleh ‘thong’ warna hitam nan transparan. Warna kemerahan serta cairan yang terus mengalir dari bagian intim sang tante membuat batang perkasa milik Ed semakin berdiri menegak, tegang, dan keras.
“Apa kau suka, Sayang?” tanya Vina saat melihat ekspresi wajah Ed yang tak bisa diungkap dengan kata-kata saat melihat organ intim milik tante Vina yang ‘mengundang’ untuk segera dimasukkan. “Apa lagi yang kau tunggu? Bagian ‘sana’ telah memanggil, apa kau mau punyaku kedinginan dan semua cairannya terbuang keluar sia-sia?” lagi-lagi Vina memancing dengan suara seksi, nakal, liarnya.
Ed segera merobek ‘thong’ milik Vina dan memasukkan batang perkasa miliknya ke dalam organ intim milik sang tante, “Ah, panasnya-” ucap tante Vina sambil berekspresi dan desahan yang seksi.
“Aku akan membawamu ke nirwana, Vina. Terbanglah bersamaku, tunjukkan aksi liar dan gilamu!” ucap Ed seraya menggenjot sang tante dan mendengar desahan kenikmatan tiada tara.
“Oh, Ed. Aku ingin masuk ke fantasi liarmu, bawa aku … bawa aku, Ed-” Vina terus mengerang, mendesah, sesekali bunyi tamparan di bokong semok dan padatnya.
“Terus! Teruslah berteriak! Teruslah mengerang! Buat aku lebih membara, Sayang.” Ed kali ini memukul bokong sang tante dengan gaya serta posisi yang berbeda.
“Oh, pukul … tampar yang kencang! Aku budakmu, Tuan Ed..beri aku cairanmu, masukkan yang dalam, jamah aku … nodai aku-” Vina benar-benar layaknya seorang wanita binal yang sedang dalam pengaruh nafsunya.
“Kita akan buat ranjang ini bergoyang, Vina. Apa kau siap, Sayang?” bisik Ed sambil meremas dua gundukan kenyl milik sang tante.
“Ya, a-aku siap!”
PLAK!
“Bilang aku siap, Tuan!” Ed memukul lagi bokong Vina hingga memerah.
“A-aku siap, Tuan.” Balas Vina kemudian tak ada sedetik, Ed langsung mencabut batangnya dan mendorong tubuh Vina ke kasur empuk dan mulailah ranjang panas di kamar itu bergoyang dengan liarnya.
“Oh, Tuan. Tak bisakah lebih dalam lagi kau menusukku dengan batang perkasamu? Aku ingin ranjang ini bergoyang dengan panas dan liar-”
Selanjutnya .......
Full Part 1-30
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/anugrah-suami-pemilik-tiga-ranjang.html
Novel "Anugrah Suami Pemilik Tiga Ranjang"
Bab 6 Fantasi Liar Naren
“Ah, iya di situ, Mas, sebelah sana sangat nikmat … benar-benar membuatku sangat bergairah, ah-”
“Ah, ya … ya, aku juga! Sangat ...sangat bergairah! Keluarkan … keluarkan semuanya! Keluarkan cairan yang kau miliki, biarkan aku merasakan betapa panas dan liarnya dirimu, oh Vina-”
Naren langsung membuka matanya dan melihat jam di tangannya menunjukkan pukul tujuh malam. “Ah, sial! Apa hal yang baru saja kulakukan? Tadi, apa aku menyebut nama Vina, ya? Ah, gila … gila! Hhhh, bener-bener tu cewek, bikin fantasi liarku bangun plus ‘dedekku’ juga ikutan bangun.” Narren melihat batang perkasanya bangun dan basah sedikit di ujungnya. “Sampe keluar segala?” Kejut Narren buru-buru membuka celananya dan membersihkan cairan yang keluar dari batang perkasanya.
“Untung semua karyawanku udah pada pulang, kalau belum-”
Klik
Naren terkejut ketika pintu ruangannya hampir dibuka oleh seseorang! Buru-buru, dia memakai celananya namun belum sempat ia pakai sempurna, pintu ruangannya telah dibuka lebar, walhasil dia ‘menyembunyikan’ setengah badan bawahnya yang telanjang di balik meja kayunya yang besar dan panjang.
“Saya pulang dulu, Pak. Bapak kok tumben belum pulang?” tanya Asri, sang sekretaris pribadi Naren.
“Masih ada beberapa kerjaan yang harus saya selesaikan. Kamu kalau mau pulang, pulang duluan aja. Kenapa ga pulang dari tadi? Padahal yang lainnya udah pada pulang?” gemas Naren.
“Nungguin Bapak,” kelakar Asri.’’
“Kamu, ni! Sudah sana pulang! Ganggu aja orang lagi fokus dan konsentrasi!” Naren sedikit kesal.
“Oke, Pak. Selamat malam. Cepet pulang, nanti dicariin ama bu Tyas lagi.” Asri terus tertawa sambil menutup pintu ruangan Naren.
‘Hhhh, sekretaris gendeng! Bikin aku jantungan aja.’
Naren yang masih sibuk dengan ‘burungnya’, kembali membersihkan ‘noda cairan’ yang melekat di celana bahan warna abu-abunya. Tisu basah yang dicampur dengan air setidaknya bisa menyamarkan ‘noda terlarang’ yang keluar karena fantasi liarnya yang tiba-tiba datang begitu saja dengan wanita yang baru pagi tadi ditemuinya.
‘Ada-ada saja aku pakai acara menghalu tentang wanita tadi. Tapi, emang sih, bodinya yahud! Montok dan mantep.’ Gumam Naren menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan matanya, namun kini ia bukannya ber-fantasi melainkan ketiduran karena lelah setelh mengkhayal.
Di saat rasa lelapnya mulai menggelayuti matanya, Naren dikejutkan dengan suara ponselnya yang nyaring memenuhi ruangannya. Dengan ring tone yang khusus dan spesial yang diberikannya, Naren telah hapal siapa yang meneleponnya.
“Iya, Sayang. Ada apa”
[Mas, lagi di mana? Kok jam segini belum pulang? Biasanya kan udah sampe rumah, lagi meeting apa?]
‘Hadeh, ribet banget ya ni cewek satu! Kayaknya waktu dulu pacaran, dia ga ce-cerewet ini. Tapi, kenapa sekarang-’
[Mas … Mas ...kamu masih dengar aku, kan?]
“Iya, Sayang. Ini, aku baru mau pulang, lagi beres-beres dulu, ya. Sabar, donk. Kenapa, si? Udah kangen ya, pengen ehem-ehem ….”
[Ih, apaan sih, kamu! Malu tahu, aku lagi sama bapak dan ibu di ruang tamu nungguin kamu.]
“Nungguin aku? Ngapain?”
[Ibu sama bapak mau makan malam sama kamu, Mas. Makanya aku nelpon kamu, tanya kamu udah mau pulang apa belum?]
Naren melihat jam tangan di tangan kanannya dan menunjukkan pukul setengah delapan malam.
“Ya udah … ya udah, aku pulang sekarang! Kamu tutup telponnya ya, Sayang.”
[Huum, ati-ati, Mas pulangnya.]
‘Deh, gara-gara wanita itu aku jadi harus terburu-buru pulangnya! Dasar sial!’
Naren segera bergegas membereskan segala dokumennya, mengambil jasnya beserta kunci mobil di laci meja kerjanya.
Sementara itu, di kediaman kedua orang tua Naren, Tyas sang istri dan kedua mertuanya sedang menanti kepulangan Naren di ruang tengah keluarga. Ekspresi yang masam dan kesal bergelayut di wajah sang ayah yang memang memiliki riwayat penyakit darah tinggi.
“Apa jawaban Naren, Tyas? Sampai berapa lama lagi kami harus menunggu?” kesal sang ayah mertua melipat kedua tangannya sambil duduk di sofa warna putih.
“S-sebentar lagi, Ayah Mas Naren akan pulang.”
“Sudah, Ayah … sudah, Naren kan pulang telat juga karena kerja. Masa karena ga bisa makan di rumah Ayah jadi marah,” goda sang Ibu.
“Kita ini jarang makan bersama, Bu. Ayah baru saja pensiun dari kesatuan. Selama 10 tahun ditugaskan ke luar negeri sebagai pasukan khusus PBB dan ingin makan sama anak saja ga bisa! Keterlaluan Naren!” sang Ayah dengan lantangnya bersuara memenuhi ruang tengah keluarga Gunawan.
“Ada apa, sih, Yah ribut-ribut? Sampai kedengaran, lho suara Ayah dari luar.”
Naren tiba-tiba datang menenteng kopernya dan berjalan santai.
“Nungguin kamulah! Jam berapa sekarang? Ga liat perut Ayah udah keroncongan, hah!” Ucap sang Ayah memegangi perutnya.
“Maaf, Yah. Seharian ini Naren benar-benar sibuk sampai lupa ngabarin Tyas juga. Maaf, ya, Sayang.” Naren yang kini berdiri di sebelah Tyas mengecup pipi sang istri.
“Ih, nakal kamu, Mas.”
“Udah … udah. Ayah udah lapar ini, mau nungguin kalian pacaran lagi apa?” kesal sang Ayah langsung ke meja makan ditemani ibu.
“Kamu mau mandi dulu, Mas?” bisik Tyas seraya menemani sang suami ke meja makan.
“Mabar, ya-” kedip Naren dengan genitnya,
“Ma-bar?” Tyas menoleh menatap sang suami sambil mengerutkan keningnya.
“Mandi bareng.” Senyum genit Naren langsung mendapat cubitan kencang di perut datarnya.
“Ouch!” serunya.
“Kenapa kamu” tanya sang Ayah yang telah duduk di kursi kebesarannya.
“Tak ada apa-apa, Ayah. Kita makan, yuk. Naren juga udah lapar.” Kilah lelaki berotak mesum itu.
“Oh, ya.Tyas, besok ikut Ibu anter kue ke tetangga baru kita, ya.”
‘Tetangga baru?’ batin Naren langsung bergejolak.
“Tetangga baru yang mana, Bu?” tanya Tyas penasaran.
“Itu, yang jaraknya dua rumah dari rumah kita. Dia pindahan dari Jakarta. Denger-denger, sih habis dicerai sama suaminya. Selingkuh apa, ya-”
“Ibu ini kaya lambe turah banget, ya! Tau info dari mana sampe ngomong kaya gitu.” Celetuk sang suami mendelik ke arah Ibu.
“Ibu cuma denger-denger aja, kok, Yah. Lagian, bener enggaknya Ibu juga ga tau.”
“Kalo g tau, diem aja! Nanti malah jadi fitnah!” tegas Ayh.
‘Rumah dua blok dari rumah ini? Apa jangan-jangan rumah wanita yang tadi pagi aku jumpai, ya?’ pikir Naren tak habis-habis
Naren tak bisa tidur nyenyak setelah mendengar ucapan sang ibu mengenai si pemilik rumah yang katanya hanya terpisah dua rumah dari kediaman mereka. Pikiran dan alam fantasi liarnya menjadi satu kala si suami mesum kembali teringan akan tubuh molek sang tante Vina. Bahkan, ketika di ranjang pun, sewaktu sang istri dengan malu-malu kucingnya mengenakan piyama seksi transparan warna hitam dan berdiri tepat di hadapan sang suami, Naren seolah acuh dan malah asik dengan fantasi liarnya bersama wanita lain.
“Mas, gimana menurut kamu? Bagus ga?” tanya Tyas sambil memamerkan lekuk tubuhnya yang seksi dan kulit putih bak porselen.
“Bagus, kamu seksi, Sayang. Tapi, Mas baru liat itu piyama. Baru, ya?” pancing Naren langsung menarik tangan sang istri ke pangkuannya, tepat di atas ‘burung’ tercintanya.
Malu-malu kucing, Tyas sambil menutup wajah dengan kedua tangannya mengangguk dan disambut dengan kecupan manis di kening sang istri.
“Makasih, ya. Kamu udah sampai sejauh ini berusaha buat aku puas dan bahagia. Malam ini, aku yang akan buat kamu puas dan lemas, Sayang.” Bisik Naren di telinga sang istri dan mulai menjilati cuping serta leher jenjang sang istri yang mulai mengeluarkan desahan sambil menggeliat bak kobra.
“Mas-” desah Tyas sambil memejamkan matanya.
“Sayang-” Naren mulai menjamah tali tipis yang mengikat piyama hitam milik sang istri, menariknya dan melepas pengait yang menopang dua gundukan putih kenyal yang membal.
Perlahan dan menegang, Naren mulai meremas dan memijat dengan lembut dua gundukan milik Tyas hingga wanita itu selalu mendesah dan menahan teriakan kenikmatan. Naren memasukkan jari-jarinya ke mulut sang istri seraya bermain dengan alam fantasi liarnya hingga tanpa sadar, sang suami memanggil nama,
“Vina oh Vina-”
“Vina? Siapa itu Vina!?”
Selanjutnya .......
Full Part 1-30
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/anugrah-suami-pemilik-tiga-ranjang.html
Novel "Anugrah Suami Pemilik Tiga Ranjang"
Bab 7 Mengintip Tetangga Baru
“Yas, ayo, udah selesai belum dandannya?” tanya Nyonya Rina, ibu Naren yang tampil dengan gamis warna hijau tosca berpadu padan dengan warna senada ditambah aksesori bros warna merah ruby menambah cantik penampilan wanita berusia 50 tahun ini.
“Iya, Bu. Tyas sudah selesai. Maaf menunggu Ibu lama.” Ucap Tyas yang tak kalah cantik dengan sang mertua. Istri Naren itu menggunakan abaya Arab hitam dengan motif garis kuning lurus di tengah-tengah serta kerudung warna pastel dan riasan ringan yang tak menghilangkan kecantikan alami yang telah dimiliki oleh istri Sebastian Narendra Gunawan itu.
"Masya Allah, cantiknya istriku-" ucap Naren terpukau melihat sang istri yang biasanya tampil buka-bukaan kini menjelma layaknya wanita Arab yang cantik dan memukau.
"Ih, apaan sih, Mas, malu tau!" Pipi putih sedikit chubby milik Tyas segera merona mendengar pujian sang suami.
"Kalian mau ke mana?" tanya Pak Ndaru, ayah Naren yang sedang memainkan burungnya.
"Lho, Ayah lupa, ya? Ibu kan udah bilang mau ke tetangga baru kita itu, diundang selametan, Yah." Jelas Ibu membetulkan kerudungnya. "Gimana kerudung Ibu? Udah oke, kan?" tanyanya pada Tyas.
"Oke … oke, Bu." Kedua jempol Tyas langsung diacungkan.
'Aku penasaran, siapa sih tetangga baru yang mereka bilang. Perasaanku rumah kosong yang dekat dari rumahku ya si cewek seksi gemoy itu.' Gumam Naren sambil terus berpikir menerawang.
"Ren, Naren … Naren!" panggil sang Ibu sedikit menaikkan intonasi suaranya.
"Eh, y-ya, Bu."
"Malah bengong, kamu mau ikut ndak ke rumah tetangga baru kita?"
"Enggak, Bu. Naren capek, mau istirahat. Mumpung hari Minggu, hehe," kekeh Naren.
"Ya sudah. Tyas, tolong kamu bawa bolu yang ada di meja makan, ya. Ga enak kalo kita lengang kangkung aja ke rumah tetangga."
"Iya, Bu."
Tak lama setelah sang istri dan ibunya pergi ke rumah tetangga yang mengundang mereka selametan, Naren juga ikut beranjak dari ruang tamu keluarga sementara sang ayah masih sibuk dengan burungnya.
"Mau ke mana kamu, Ren? Main kabur aja."
"Kamar, Yah. Badan Naren capek, pegel-pegel semua." Ujar Naren sambil melemaskan otot-otot tangannya.
"Kebanyakan kali kamu semalem," celetuk Ayah.
"Kebanyakan ngapain, Yah?"
"Halah, pake pura-pura bego! Laki-laki kalo terlalu banyak ngeluarin, malah lemes, jangan sampe tuh dengkul kamu kopong gara-gara ngeluarin terus." Kekeh sang Ayah sambil memberi siulan burungnya.
"Ih, Ayah. Tenang aja, Naren kan kuat dan lagipula ada rahasianya, jadi Naren ga akan pernah lemes meski udah berkali-kali 'main'." Balas Naren terkekeh.
"Yaudah sana kalau mau ke kamar, ganggu Ayah mainin burung aja."
Naren hanya tersenyum simpul mendengar ucapan sang Ayah sambil menggelengkan kepala. Di kamar, Naren yang penasaran akan undangan yang diterima istri dan ibunya, iseng-iseng menggeser pintu jati yang langsung mengarah ke balkon kamarnya. Mata coklat hitam milik Naren segera menyasar bak elang yang tengah mengintai buruannya. Tepat, tajam, akurat, dan ketika mata itu telah mendapatkan buruannya, ia dengan cepat menangkapnya!
Pas ketika Naren melihat ke arah timur rumahnya, pria itu melihat keramaian dari rumah tingkat berwarna merah bata dengan pemanas di atasnya serta genteng warna merah yang ditanami beberapa pohon hias dalam pot di lantai atas rumah yang selama dua bulan ini tertulis tanda ‘DIJUAL’.
‘Bukankah itu rumah di mana aku melihat wanita seksi itu kemarin? Apa jangan-jangan-’
Tanpa pikir panjang, Naren keluar dari kamarnya dengan terburu-buru dan menuju rumah yang letaknya hanya dua rumah dari kediamannya.
‘Benar ini tempatnya! Jadi, si wanita seksi itu tinggal di sini? Siapa ya kemarin namanya-” Naren mencoba meraba seluruh badannya mencari ponsel miliknya. “Ah, sial! Kenapa pakai ketinggalan sih tuh ponsel di kamar!” gerutunya kemudian mengintip dari balik pohon palem yang tak jauh dari rumah Tante Vina.
Sementara itu, di dalam kediaman Tante Vina, para ibu-ibu komplek tempat Tante bertempat tinggal tampak terperangah dengan semua koleksi guci dan tas ber-merk yang bukan abal-abal apalagi kalengan! Gucci, Dior, Prada, YSL, hingga Hermes, dijadikan pajangan oleh sang empunya rumah di lemari kaca yang tinggi samping kanan-kiri ketika para tamu baru masuk ke dalam rumahnya, sedangkan tak jauh dari lemari kaca, terdapat beberapa guci warna-warni nan cantik mempesona mata berdiri dengan kokoh di pojok rumah mewah dengan lampu kristal besar dan indah.
"Rumahnya besar dan bagus, ya. Suami saya belum tentu mampu belikan saya rumah kaya gini!" celetuk salah satu ibu-ibu komplek sambil mengibaskan kipasnya.
"Iya, ya, Jeng. Apik (bagus) banget rumahnya. Kaya istana! Padahal waktu pak Pandu masih tinggal di sini, rumah ini kaya biasa-biasa aja, bahkan kaya ga diurus. Penasaran deh saya, siapa sih pemilik benda-benda kaya gini, artis apa, ya?" celetuk seorang wanita berkonde di sebelahnya.
Tyas dan sang mertua hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan mereka yang masih tercengang dan terperangah. Sejujurnya, Tyas pun sedikit 'kaget' melihat isi rumah sang tetangga baru yang ternyata di luar dugaan, namuj karena gengsi, ia tak mau menunjukkannya.
"Selamat siang, selamat datang ibu-ibu semuanya."
Suara lembut nan merdu bagai biduanita menyapa para tamu undangan acara selamatan dari tangga yang sedang dituruni. Seorang wanita yang mengenakan abaya warna abu-abu dan beberapa perhiasan mewah serta wajah glowing bak artis K-Pop, tersenyum dengan mengembang berbaur dengan para undangan.
"Maaf, menunggu lama. Perkenalkan, nama saya Raquela Vina Anandita, atau disapa Vina. Saya adalah pemilik rumah ini dan terima kasih atas kedatangan ibu-ibu sekalian yang bersedia meluangkan waktunya untuk hadir di istana mini saya." Ujar Tante Vina menepuk kedua tangannya hingga semu gelang emas dan perak miliknya bergoyang.
"Jadi dia pemilik rumah pak Pandu? Masih muda, ya. Tapi, lihat aja pakaian dan perhiasannya, kaya toko mas berjalan." Bisik-bisik dua wanita tepat di belakang Tyas dan mertua.
'Jadi ini tetangga baruku? Norak banget, sih dandanannya! Kaya biduanita mau manggung!' cibir Tyas dengan ekspresi malas.
"Selamat siang, terima kasih karena telah mengundang kami di kediaman Anda. Saya Ibu Rina, istri dari Bapak Ndaru selaku RT di sini dan selamat datang ya, Mbak Vina." Ucap Rina sembari memberikan kue bolu pada Vina.
"Terima kasih Bu RT atas sambutan dan kedatangannya." Balas Vina dengan memamerkan deretan gigi putih bersih dan senyum manisnya.
Setelah setengah jam lamanya acara selamatan rumah Vinna, sang empunya rumah 'open house' rumah mewahnya. Para tamu dibuat kagum dengan kolam renang mini di taman belakang, gazibu mini yang cukup nyaman, serta beberapa peralatan senam yang terpajang di taman belakang.
"Mbak Vinna ini suka olahraga, ya? Kok da alat senam di sini?"
"Iya, Bu. Kebetulan, saya adalah pelatih senam. Kalau misalnya Ibu-ibu mau senam, nanti bisa masuk sanggar saya. Saya kasih harga spesial." Kekeh Tante Vina dengan gaya ala-ala sosialita.
Tyas mulai tak suka dengan tetangga barunya. Menurutnya, tetangga barunya kali ini sangat di luar dugaan! Muda, cantik, kaya, untung saja ia tak jadi minta tolong sang suami untuk membawakan kue yang dipesan sebelumnya. Kalau tidak ….
Dengan muka masam, Tyas terus memperhatikan tingkah laku tetangga barunya, Rina, sang ibu mertua juga tak luput dari 'tebar pesona' wanita itu. Layaknya sahabat yang tak bertemu lama, Vina dan Rina langsung akrab, bahkan Rina langsung menyuruh sang menantu untuk mengikuti kelas Vina.
"Kamu harus ikut juga, lho, Tyas. Senam itu bagus, lho. Selain untuk membuat badan tetap sehat, segar, enak dipandang suami, sama satu lagi-" bisik sang mertua.
"A-apa, Bu?" tanya Tyas mendekati sang mertua.
"Bikin suami betah di ranjang." Senyum sang mertua.
Sontak, semua tamu yang ada di sana tersenyum-senyum mendengar ucapan Rina, sementara Tyas menahan malu dan hingga wajahnya memerah layaknya udah rebus yang terlalu lama di panci.
"Kenapa mesti malu, Mbak. Saya juga kalo misalnya punya pasangan, bakal senam, apalagi senam buat si itu tu-" Vina mengedipkan sebelah matanya sambil mendekati Tyas.
"I-tu tu siapa ya, Mbak?" Tyas sedikit risih dengan kata-kata Vina.
"Masa Mbak ga tau, sih. Miss V kita-lah, Mbak. Kalau ga dijaga dan dirawat, bakal ga enak dan ga keset." Kelakar Vina disambut gelak tawa lainnya, termasuk sang mertua.
Tyas merasa dipermalukan dalam acara itu! Ekspresinya benar-benar sangat tak nyaman berada di lingkungan orang-orang yang menurutnya terlalu vulgar.
'Menyesal aku ikut dengan Ibu ke sini! Lebih baik aku di rumah, memanjakan Mas Naren timbang harus mendengar ocehan dan celetukan tak berguna macam ini!' gerutu Tyas.
Vina yang melihat ekspresi tak senang Tyas, sekali lagi mendekati wanita polos itu dan berkata, "Mbak bukannya yang suaminya nabrak saya, ya?"
"Hah? Yang mana, ya, Mbak?" Tyas sedikit terkejut.
"Yang waktu olahraga tempo hari dan Anda mengatakan jika saya 'agak' gatal, murahan, dan binal."
Tyas langsung mendelikkan kedua matanya. Tak percaya jika dia akan ke rumah wanita yang pernah diumpatnya secara diam-diam. "I-itu Anda?"
Selanjutnya .......
Full Part 1-30
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/anugrah-suami-pemilik-tiga-ranjang.html
Novel "Anugrah Suami Pemilik Tiga Ranjang"
Bab 8 Burung Mleyot
Tyas masih memikirkan ucapan Vina kala dia bertemu dengan janda seksi itu dan mengatakan sesuatu yang masih dianggapnya tabu, maklum, meskipun Tyas adalah seorang pramugari di maskapai internasional, tapi wanita itu sebenarnya adalah wanita yang masih polos jika berhubungan soal seks, terlebih maskapai tempatnya bekerja saat ini adalah maskapai yang menuntutnya menutup aurat. Sehingga tak heran jika wanita cantik berkulit putih porselen itu risih mendengar ucapan Vina yang terlalu terbuka.
"Aku benar-benar menyesal ikut ibu ke rumah tetangga baru itu. Omongannya benar-benar bikin aku geli dan jijik!" kesal Tyas sambil membuka internet di ponselnya dan tak sengaja ia menemukan artikel kesehatan dan … bingo! Mata wanita cantik itu mendelik dan mulut menganga ketika membaca headline dari artikel tersebut yang menulis tentang senam untuk menjaga miss-V tetap sehat, kesat saat berhubungan intim.
"Artikel macam apa ini! Gila!" Tyas langsung mematikan ponselnya dan tak sengaja melempar dengan kencang.
"Eitsss, kenapa dilempar Sayang ponselnya? Ini mahal, lho. Tuh, liat kameranya aja ada empat. Sayang kan kalo sampe rusak." Naren yang baru selesai mandi dan masih handukan segera mengambil ponsel sang istri dan meletakkannya di meja rias. "Ada apa, sih? Kok kayaknya sedang kesal-" Naren mendekati sang istri dan duduk di sebelahnya membelai rambut hitamnya yang wangi aroma sampo vanila.
"Wangi rambut kamu enak banget, ya. Pake sampo apa sih, Sayang?” Naren mulai mendekatkan tubuhnya ke sang istri sambil memberi kode ‘panas’.
“Aku lagi capek, Mas. Nanti ajalah kalo mau ‘main’.” Sahut Tyas memajukan bibirnya tak senang.
“Hhh, padahal sengaja mandi malem biar wangi pas ‘main’, malah-” Naren berdiri dan melepas handuknya di depan sang istri.
“MAS!!!” pekik Tyas langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Apaan sih pake teriak segala! Bikin kaget aja!” Naren sedikit kesal dan terkejut akan pekikan sang istri.
“Lagian kamu! Main buka-bukaan aja! Malu tau!” sahut Tyas masih menutupi wajahnya yang kemerahan.
“Hhhh, kita kan udah nikah, Sayang. Kecuali kalo belum nikah … baru kamu boleh ngomong kaya gitu. Lha, kita udah nikah, apalagi yang mesti ditutupi?”
“Tapi kan-”
“Sudah, Mas capek! Mau tidur!”
Tanpa basi-basi lagi, Naren segera mengambil posisi tidur dan membelakangi sang istri memeluk guling warna biru dan mematikan lampu tidurnya.
‘Hhhh, apa Mas Naren marah ya aku tak melayaninya?’ gumam Tyas melihat sang suami yang dingin dan ketus.
Tyas juga ikut merebahkan dirinya dan terlentang diapit sebuah guling besar di tengah-tengah. Sambil menghela napas, Tyas bergumam, ‘Apa aku besok coba ke tetangga baru itu, ya-’
***
Kediaman Tante Vina,
“Ah-” Desahan nikmat yang keluar dari bibir tipis berselimut lipstik tebal milik Tante Vina memenuhi kamar yang warna pink dengan wallpaper bunga mawar warna pink pula. Kamar yang harum, ranjang peraduan yang nyaman dan empuk, jendela yang tertutup rapat, nikmat mana lagi yang akan didustakan oleh dua pasang makhluk Tuhan yang sedang bercinta ini.
Ed, pria brondong yang memiliki perawakan orang Barat menjadi brondong kesayangan Tante Vina kala sang tante memerlukan wadah untuk menyalurkan hasrat seksualnya yang lama tak ia dapatkan dari mantan suami yang telah pergi dengan selingkuhannya.
Berbalut pakaian tidur warna hitam menerawang serta pakaian dalam warna senada dan berenda, membuat ‘rudal’ besar Ed menegang dengan sempurna. Wangi aroma lavender yang disemprotkan ke tubuh Tante Vina membuat Ed tak lagi dapat menahan keinginannya untuk segera bercinta dengan sang tante binal.
“Kau tampak menggoda Sayang malam ini.” Ucap Ed kala bibir serta lidahnya bermain di antara lipatan dan kelok tubuh sintal sang tante
“Ah, sepertinya kamu juga sudah tegang ni, Sayang. Besar dan panas juga panjang. Langsung masukin, ya-” pinta Tante Vina berbisik mesra sambil megang ‘rudal’ besar milik Ed yang tak lagi mampu disembunyikan di dalam celananya.
“Masa langsung, sih. Ga seru, ah, Sayang. Kayak biasalah…foreplay dulu, disayang dulu, baru deh..si ‘dedek’ aku masukin.” Ucap Ed kini menjilati leher jenjang sang tante hingga membuatnya tak berhenti mendesah.
“Kita lagi ga di hotel, Sayang. Gimana kalo nanti ada yang curiga?” tanya Vina sembari mendesah.
“Makanya aku ga bawa mobilku, kan? Biar ga ada yang curiga, Sayang. Ayolah-” Ed memutar tubuh Vina menghadap padanya dan memintanya untuk melakukan ‘pemanasan’ sebelum mereka ‘bermain.’
“Ah, yes, di situ, Sayang … ah, bener di situ, Sayang.” Ed dengan suara desahnya tak mampu menyembunyikan kenikmatan dari lumatan mulut Tante Vina. Berkali-kali mulut si tante membuat otak Ed tak sinkron dengan alam sadarnya. Lumatan dan jilatan Tante Vina benar-benar membuat brondong muda ini seperti di-reload kembali.
“Ah, kamu memang yang terbaik, Vina. Ga salah jika aku pilih kamu, mantan suami kamu aja yang ga bisa buat kamu puas dan bergairah.”
“Jangan buat mood-ku ancur deh! Aku udah lupain dia, mau dia ngapain kek bukan urusan aku agi! Yang penting kamu harus selalu ada untukku, ya, Sayang.” Vina langsung melancarkan serangannya secara bertubi-tubi, membuat Ed dengan cepat mengeluarkan cairan di dalam batang miliknya.
“Sekarang giliranku.” Ed menggendong tante Vina ke ranjang peraduan dan merebahkan tubuh sintal sang tante dengan lembut, pahatan indah layaknya dewi Yunani terpampang dengan begitu jelas di depan mata Ed yang sedang kelaparan dan langsung liar.
Lidah panjang dan panas milik sang brondong mampu membuat sang tante berada di singgasana langit ketujuh, tepat dan menggugah birahi. Tante Vina tak dapat mengelak jika Ed memiliki sex appeal yang tak mampu ditolak oleh wanita manapun.
“Oh, Ed. Aku suka caramu melayaniku. Aku suka bagaimana kau ‘memandikanku’ dengan lidahmu. Aku suka dengan gaya bercintamu. Sekarang, bisakah kau memberikanku milikmu? Aku ingin milikmu memenuhi perutku, aku ingin semua cairanmu menyembur mengenai perutku, biar kurasakan panasnya milikmu, Ed.” Vina semakin menggila.
“Akan kau dapatkan semuanya, babe!”
Ed langsung ‘menghajar’ Vina xdengan ‘rudal’ besarnya, menggoyang-goyangkan, naik-turun tubuh sang lelaki membuat Tante Vina mengerang sepuasnya,
“Sayang, jangan kencang-kencang! Nanti ada yang denger, gimana?”
Namun, Tante Vina bergeming dan dia semakin menikmati tempo permainan Ed.
***
Sementara itu, Tyas yang sejak tadi tak bisa tidur hanya melihat-lihat ponselnya dan berselancar di jejaring sosial miliknya. Chat antar sesama teman pramugari membuatnya sedikit melupakan sikap sang suami dan tetangga barunya. Hingga Tyas mendapat sebuah pesan dari seorang pria dengan memakai pakaian pilot tempatnya bekerja.
“Aku merindukanmu, kapan kita akan bertemu?”
Tyas langsung keluar dari jejaring sosial miliknya. Dia tak berani membuka lagi salah satu aplikasi pesan yang ada di dalam ponselnya. Wajah pucat karena terkejut membaca isi salah satu pesan tersebut membuat Tyas memilih untuk mencoba memejamkan matanya.
Kembali ke rumah Tante Vina, waktu telah menunjukkan puku 04.00. Ed yang tampak kelelahan setelah bercinta semalaman dengan Vina tertidur pulas di atas ranjang peraduan milik sang tante. Vina yang masih terjaga dan selesai membersihkan dirinya membangunkan sang brondong dengan ciuman dalam dan lembut di bibir lelaki perawakan bule tersebut.
“Engghhh,”
“Sayang, Ed-” Vina terus menjulurkan lidahnya, merangsek ke dalam rongga mulut Ed dan memainkan lidahnya.
GREP!
Dengan cepat, Ed melingkarkan tangannya ke pinggang ramping tante, mendekapnya dan membalas ciuman sang tante dengan liar.
“Ummm … Ed, ummm-” Vina tak mampu berkata setelah Ed membalas ciuman Vina dan kini tombak perkasa milik Ed bangun kembali. Vina yang merasakn ada sesuatu yang ‘menyundul’ organ kewanitaannya segera menarik diri dan mendorong tubuh Ed.
“Hei, what’s wrong, babe? Why you push me?” tanyay Ed bingung.
Vina melirik ‘rudal’ milik Ed yang berdiri tegak 90 derajat dan memegangnya. “Oh, fuck! Yes, babe, kamu memang tahu apa yang aku inginkan-” ucap Ed memejamkan matanya sambil berfantasi ria. Vina yang masih memegang ‘rudal’ besar, tegang, dan panas milik Ed menyeringai dan langsung menekannya dengan keras hingga Ed teriak dan membuka matanya.
“Vina! Apa yang kamu lakukan? Sakit tahu!” kesal Ed mengelu-elus ‘rudal’ miliknya.
“Tak usah banyak tanya! Cepat pakai pakaianmu dan segera pergi dari rumahku! Mumpung belum banyak orang yang bangun jadi kamu masih bisa pergi dengan leluasa.” Jelas Vina melemparkan pakaian Ed ke sang empunya.
“Oke … oke, aku paham! Tapi bagaimana dengan ini?” Ed menunjuk ‘rudalnya’ yang menegang dan membesar.
“Hhhhhh, oke … oke! Berbaring, cepat!” perintah Vina dengan ekspresi kesal. Bak profesional, sang tante kemudian memperagakan gerakan mengulum dan melumat juga menjilat dengan lihainya pada batang perkasa milik Ed sang brondong. Cepat dan mengenai sasaran! Begitulah cara Tante Vina bekerja.
“Ayolah, kenapa ga keluar, sih! Lama amat!” kesal Tante Vina melihat jam telah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Suara ayam berkokok pun mulai terdengar meskipun dia tinggal di dalam perumahan yang terbilang cukup elit di kota Pelajar.
“Auw! You bite my ‘bird’!” jerit Ed mendesis.
“Sengaja!” balas Vina kesal.
“Hhhh, kenapa, Sayang? Kok kamu kaya ga selera gitu, sih?”
“Gimana mau selera! Udah jam berapa ini? Gimana kalau orang-orang liat kamu! Mereka taunya kan aku tinggal sendiri!” Kesal Vina sambil mengulum batang perkasa Ed dengan menggerutu.
“You can put men into the car. Don't you have a ride? Kenapa mesti repot, sih?!” Ed ikut-ikutan kesal.
“You fucking crazy boy! Mana mungkin aku memasukkanmu ke dalam mobil sementara dua rumah dari rumahku adalah rumah pak RT!” Vina yang kesal langsung melepaskan tangannya dan membiarkan ‘burung’ Ed menegang tanpa diobati.
“Ya, terus apa urusanku? Aku kan ga kenal mereka dan mereka ga ada hubungannya sama yang kita lakukan sekarang, Sayang. Ayolah … masih tegang dan ‘bernyanyi’ nih.” Goda Ed sambil menggesek-gesekkan ‘burung’ tegangnya.
“Jangan sampai aku menendang burungmu hingga mleyot, ya! Aku sedang tak ingin bercinta dan jangan paksa aku! Sebaiknya kau segera pergi dari sini atau ….
Suara bel rumah Vina tiba-tiba berbunyi pukul 05.15 menit. Waktu yang sangat pagi bagi seseorang untuk bertamu.
“Kau dengar itu? Ada seseorang yang membunyikan bel rumahku-”
“Biarkan saja. Lebih baik kita selesaikan urusan kita yang sekarang.” Ed terus memaksa Vina agar mau melayaninya dan …
GREP!!
Sang Tante langsung meremas ‘burung’ Ed dan seketika sang brondong teriak dengan kencang hingga Vina terpaksa membekap mulutnya dengan tangannya.
“DIAM! Nanti kita digerebek!” Melotot Vina ke arah brondongnya.
Ed mengangguk tanda mengerti. Sambil menahan sakit ‘burungnya’, Ed duduk dengan sedikit anggun menahan rasa ngilu dan sakit sementara sang tante keluar kamar menuju pintu utama kediamannya.
Bunyi yang semakin kencang dari suara bel rumah Vina membuat wanita seksi itu bergerak cepat menuruni tangga lanti dua rumahnya.
“Iya, sebentar. Duh, ga sabaran banget, sih! Siapa yang ga punya etika sih pagi-pagi ke rumah orang!” Tante Vina menggerutu sepanjang turun dari tangga.
Tangannya langsung membuka gagang pintu warna kuning emas.
“Selamat pagi.”
“Anda? Mau apa pagi-pagi ke rumahku?” tanya Vina terkejut ketika tahu siapa yang datang sepagi buta ke rumahnya.
Selanjutnya .......
Full Part 1-30
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/anugrah-suami-pemilik-tiga-ranjang.html
Novel "Anugrah Suami Pemilik Tiga Ranjang"
Bab 9 Mau Ikut Senam Miss-V
Suara berisik bel rumah Tante Vine membuyarkan 'olahraga' pagi yang dilakukan oleh dirinya dan sang brondong, Ed.
"Ya, tunggu sebentar."
Vina buru-buru turun dari tangga kamarnya menuju pintu utama kediamannya. 'Deh, siapa sih yang ga tau waktu pagi-pagi buta udah namu ke rumah orang!' kesalnya.
"Ya." Vina terkejut saat membuka pintu rumahnya.
"Selamat pagi, maaf pagi-pagi sudah mengganggu Anda."
Tyas datang ke rumah janda seksi itu sambil membawa bungkusan yang ditutupi serbet di tangan kanannya.
"Anda … siapa, ya?" Vina memiringkan kepalanya menatap lekat Tyas yang berdiri di depannya.
"Nama saya Tyas, tetangga Mbak yang kemarin datang ke acara selamatan rumah Mbak.”
Vina masih memiringkan kepalanya, mengingat-ingat wajah Tyas ala kadarnya.
“Mmm, oke … oke. Akan saya ingat nanti, ya, Mbak. Tapi, ada apa ya pagi-pagi datang ke rumah saya?” tanya Vina penasaran.
“Oh, ini. Kebetulan saya sedang membuat kue bolu dan ada lebihnya. Barangkali Mbak mau mencicipi kue buatan saya yang masih belajar ini.” Senyum ramah Tyas.
“Ouw, oke. Terima kasih, ya, Mbak. Pake repot-repot segala.” Ucap Vina basa-basi menerima sebuah piring yang ditutup dengan serbet makanan.
“Kalau begitu, saya permisi dulu. Maaf sudah mengganggu waktunya.” Tyas segera bergegas meninggalkan kediaman Vina.
“Hadeh, ada-ada aja sih kelakuan orang-orang di komplek ini. Sepagi buta bertamu cuma untuk anter kue ini-” Vina membuka bolu panggang dengan aroma harum dan menggoda perut untuk segera mencoba.
“Siapa, Sayang yang datang pagi-pagi buta?” Ed menuruni tangga hanya dengan menggunakan kolor ketat hitamnya, menonjolkan ‘rudal’ besar miliknya.
“Kenapa kamu belum berpakaian juga, Ed? Jam berapa sekarang?!” Vina melirik jam dinding di ruang tamu, “Hahhhh, sudah mau jam 6! ED, SEKARANG JUGA KAMU PAKE PAKEAN KAMU DAN MASUK MOBILKU!!” perintah Vina meletakkan sembarang kue bolu pemberian Tyas.
“Masuk ke mobilmu? Apa kita akan ‘main’ di dalam mobil seperti waktu itu?” kekeh Ed yang telah berdiri di sebelah Vina.
“Muka gila kamu! Masih pagi buta, pikiranmu hanya tentang seks!” kesal wanita yang memakai piyama pink terang.
“Ayolah, Sayang … satu kali aja, ya … ya, please … aku udah ga tahan, nihh. Tuh lihat-” Ed menunjukkan ‘rudal’ besarnya yang tegang dan mengeras.
‘Hhhh, brondong sialan! Hyper banget, sih!’ kesal Vina memutar bola matanya.
“Pakai ‘balon’! Aku ga mau kalau sampai kenapa-kenapa, sebentar lagi aku masuk masa suburku!” Vina melirik dengan kesal ke arah Ed.
“Iyesss!! Don’t worry, babe. Mau warna dan rasa apa? Aku punya semuanya.” Kekeh Ed mencubit gemas dagu lancip sang Tante.
“Brondong hyper!” Vina mendengus kesal.
***
"Udah kamu kasih, Tyas ke tetangga baru kita kuenya?" tanya sang mertua saat membereskan dapur yang masih berantakan karena kue yang mereka buat.
"Sudah, Bu. Sudah Tyas kasih.” Sahutnya membantu sang mertua.
"Kamu bangunin Naren aja, Yas. Udah siang ini. Mau berangkat jam berapa memang?”
Tyas melihat ke arah jam dinding menunjukkan pukul 06.00. Segera, wanita cantik itu menuju kamar mereka di lantai satu dan membangunkan Naren yang masih tertidur pulas di bawah selimut biru lautnya yang hangat dan lembut.
“Mas … Mas.” Tyas membangunkan Naren sepelan mungkin.
Tak ada jawaban. “Mas …Mas … Mas,” sekali lagi Tyas berusaha membangunkan sang sami.
“Jangan gitu donk, Sayang. Geli, ih. Kamu nakal, ya.” Kekeh Naren meracau dalam tidurnya.
‘Sempat-sempatnya mengigau … ckckck. Mas … Mas, bangun. Udah siang.” Tyas menggoyang-goyangkan tubuh Naren.
"Jam berapa ini?" dengan suara yang masih parau, Naren perlahan membuka sedikit matanya.
"Jam 6."
"Hah! Jam 6? Kok ga bangunin dari tadi, sih!!!"
Naren segera bangun dan membersihkan diri, sementara Tyas merasa heran dan bingung sang suami tiba-tiba berubah sedikit aneh dan tak seperti biasanya. "Aku siapkan sarapan, ya."
"Ga usah! Aku keburu-buru. Siapin aja pakaianku!"
'Tumben, ga biasanya Mas Naren enggak sarapan.' Gumam Tyas lalu menyiapkan pakaian kerja sang suami.
Tyas terus memikirkan igauan sang suami pagi ini. Wanita itu mengenal betul jika Naren bukanlah sosok pria yang mudah mengigau, kecuali jika dia sedang sangat lelah. 'Siapa yang sedang diigaukan Mas Naren, ya? Apa yang sedang ia lakukan dalam igauannya?' gumam Tyas tak lama melihat sang suami keluar dari kamar mandi dan memakai handuk piyama.
Naren memasang ekspresi datar dan tak banyak bicara. Benar-benar tak seperti biasanya! Tyas agak sungkan membuka percakapan bahkan dengan suami sendiri.
'Mas Naren kenapa ya? Apa karena semalam aku tak melayaninya?' pikir Tyas melihat Naren yang sedang mengeringkan tubuhnya.
"Mmmm, anu, Mas … mau bawa kue yang aku dan ibu buat ga?" tanya Tyas mencoba mencairkan suasana.
"Enggak, kamu tahu kan aku ga suka yang manis-manis," sahut Naren agak ketus.
"Oh, yasudah kalau gitu. Aku keluar kamar dulu." Tyas semakin sungkan dan segera berdiri menuju pintu kamar mereka.
"Hmm, siapkan sepatuku!" intonasi suara dan kata-kata Naren terdengar memerintah.
Tyas hanya mengangguk dan segera keluar kamar. 'Fiuhhhhh, untung ga ketauan! Gila, semalam aku ngapain sih sampe mimpi basah! Tapi, aku ingat betul wajah wanita di mimpiku. Dia seperti ….' Naren tiba-tiba berjalan menuju pintu balkon kamarnya dan menggesernya. Udara dingin kota Jogja telah menjadi santapan utamanya sehari-hari, jadi kulitnya sudah tebal. Mata Naren menoleh ke rumah dua lantai yang hanya beda dua rumah dari tempat tinggalnya. 'Ya, aku yakin itu dia! Di mimpiku aku sedang 'main' dengan wanita itu. Ya, Tuhan, aku benar-benar gila dibuatnya!' Naren hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap rumah Vina.
"Yas, kalo udah selesai beres-beres, nanti ambil piring yang tadi dipakai antar kue ke rumah Mbak Vina, ya. Ibu sama bapak mau olahraga dulu."
"Baik, Bu. Akan Tyas ambil nanti."
Naren yang sedang turun dari lantai kamarnya, tak sengaja mendengar percakapan antara istri dan ibunya. Ketika ia melihat sang ibu telah pergi dengan ayahnya, Naren dengan langkah tergesa menuruni tangga dan menghampiri sang istri yang sedang mencuci piring.
“Sayang.” Tangan Naren langsung melingkar di pinggang ramping sang istri.
“Ah, M-Mas! Bikin kaget aja, untung ga pecah ini piringnya!” sahut Tyas yang terkejut bercampur kesal.
“Hehehe, maaf.” Mata Naren diam-diam melirik ke arah tumpukan cucian piring yang lumayan menggunung di wastafel dapur kebanggaan sang mama.
"Mmm, kamu kayaknya lagi repot banget, ya, Sayang. Mau aku bantu ga?" basa-basi Naren masih melingkarkan tangannya dan kini kepalanya meniup tengkuk sang istri.
"Ah, Mas. Geli tau! Udah sana sarapan dulu. Jangan ga sarapan, nanti kamu lemas, lho."
"Aku lemas, kamu puas." Kekeh Naren.
"Hmmm, mulai ya, nakal pagi-pagi."
"Habis, semalem minta 'jatah' ga dikasih sih! Kan dedek-nya kedinginan sampai kaya terong mleyot." Naren memainkan bibir depannya layaknya anak kecil yang merajuk.
Tyas bergeming. Ada rasa tak enak hati ketika Naren menyatakan kata-katanya. Pelan namun memiliki makna yang langsung mengena pada jantung Tyas.
“Mmmm, maafin aku, Mas semalem ga ‘layanin’ kamu. Aku tuh dari semalem kepikiran mau itu-”
“Itu apa?” Naren bersikap layaknya koala yang nemplok di pohon.
“Itu … anu-” Tyas sedikit ragu untuk bicara.
"Sayang, kamu mah suka kebiasaan ya! Ngomong ga pernah tuntas, selalu dijeda! Banyakan makan angin kali ya kamu, terbang-terbangan kata-katanya!” Naren melepaskan tangannya dan meminum kopi susu favoritnya.
‘Hhhh, salah ngomong lagi, aku ….’ Tyas menghela nafasnya cukup panjang.
“Mas, boleh minta tolong ga?” pinta Tyas sambil tersenyum.
“Hmm, apa?” sahut Naren agak malas. “Cepetan ngomong, dah jam berapa ini-” Naren melihat jam dinding menunjukkan pukul 07.00.
“Tolong ambilkan piring ibu yang dipake buat anter kue tadi di tetangga baru kita.”
“Tetangga baru? Siapa? Di mana?” tanya Naren antusias.
“Itu, bekas rumah pak Pandu dulu, Sekarang sudah dibeli oleh seseorang.”
“Oh, ya? Siapa yang beli rumah ‘wah’ itu, Sayang?” ke-kepoan Naren semakin menjadi-jadi.
“Namanya Vina, wanita yang lumayan masih muda. Dia juga seorang instruktur senam dan banyak dari ibu-ibu komplek sini yang masuk ke sanggar senamnya,” jelas Tyas tanpa menaruh curiga sedikit pun.
“Vina?” Naren membelalakkan matanya antara percaya tak percaya.
“Huum, dan aku mau minta ijin sama kamu … aku mau masuk sanggar senam yang dikelola sama Mbak Vina ini.” Senyum Tyas dengan mata besar kontak lens coklat terangnya.
“Buat apa, sih kamu senam-senam segala? Badan kamu kan udah bagus, Sayang. Palingan juga tu tetangga baru cuma modus, ntar ujung-ujungnya ngajak arisan online-lah, apalah …. dan aku ga seneng, ya kamu ikut-ikutan kaya gitu! Udah, aku ambil piring ibu dan berangkat ke kantor!”
Naren segera pergi ke rumah tetangga baru yang dimaksud sang istri. Pencetan bel yang tak berjeda membuat sang pemilik agak dongkol dan membuka pintu dengan ekspresi tak menyenangkan.
“Ya! Sabar kenapa, sih!” ucap Vina ketika akan membuka pintu rumahnya dan bertemu pandang dengan Naren.
Naren tentu saja terkejut ketika tahu Vina yang dimaksud adalah wanita yang ada dalam imajinasinya dan … mimpinya, juga wanita yang membuat ‘basah’ saat dia pertama kali bertemu dengannya.
‘Durian runtuh!’ gumam Naren berseru dan berusaha menyembunyikan ketakjubannya dan kebahagiannya.
“Ya, ada yang bisa saya bantu?” tanya Vina dengan suara pelan nan seksi, serta pakaian mini dress si atas paha yang ketat dan memamerkan dua buah melon padatnya ditambah selipan di antara dua melonnya yang tampak terlihat sangat jelas.
Naren yang tak sengaja melihat ‘selipan’ buah melon sang tante langsung menelan saliva paksa dan berusaha memalingkan wajahnya.
“Helloooowww, ada yang bisa saya bantu, Mas?” Vina agak menaikkan intonasi suaranya dan menjentikkan jemarinya.
“Oh, m-maaf. Saya mau ambil piring yang tadi untuk hantaran kue-” ucap Naren tanpa basa-basi yang membuatnya langsung terdiam.
Vina menaikkan alis kirinya dan ekspresi seolah ingin mengatakan, ‘kau aneh!’.
“Pi-ring hantaran kue? Maksud Anda kue bolu?” tanya Vina agak ragu.
“Ah, iya. Benar! Kue bolu yang tadi pagi, eh-” Naren langsung menutup mulutnya dan menggaruk belakang kepalanya salah tingkah,
Vina tertawa kecil melihat tingkah Naren dan berkata, “Sebentar, ya. Akan aku ambilkan.”
Mata Naren benar-benar tak bisa lepas sari tubuh sintal bak gitar Spanyol dan bodi ‘S’ milik Vina, ditambah bentuk bokong yang bulat sempurna dan terlihat padat, membuat Naren tak sadar mengangkat kedua tangannya dan mulai berimajinasi seolah ia sedang memegang, meremas, dan memberi sedikit pecutan kenikmatan pada bokong Vina.
“Oh, Tuhan … pagi-pagi udah dikasih kenikmatan kaya gini, nikmat mana lagi yang mau aku dustakan.” Naren masih membayangkan dirinya meremas dan memegang bokong Vina ditambah gerakan jemari tangannya.
“Ehem!”
Naren dengan cepat membuka matanya dan melihat Vina ternyata sudah ada di depannya membawa piring yang dimaksud dan serbet makanan.
“Ini, Mas piringnya. Makasih ya, bolunya enak banget. Bikin ketagihan.” Ucap Vina memasukkan telunjuk ke mulutnya sambil menghisap-hisap.
Naren semakin gila! Saliva-nya seakan ingin keluar dari mulutnya dan ingin merasakan jemari panjang dan lentik serta kuku yang terawat milik Vina.
‘Gila … gila ni cewek! Kelamaan aku di sini, ‘terongku’ bisa bangun ini.’ Naren menggelengkan kepalanya.
“Ada apa, Mas?” tanya Vina.
“En-enggak. Ga apa-apa. Baik, terima kasih Mbak Vina, saya permisi dulu.” Senyum Naren mulai salah tingkah.
“Harusnya saya yang bilang gitu, lho, Mas. Kue bolunya emang enak bangetttt, bikin saya kepingin lagi. Apa kue bolunya dijual, Mas?”
“Apa? Dijual?” Naren sedikit bingung, namun ketika setan sudah menancapkan panah neraka pada manusia, seketika otak yang lemot pun akan bekerja dengan baik. “I-iya. Kuenya dijual, Mbak. Mbak Vina mau pesan?” Naren mulai berjalan dengan otak kotornya.
“Mau donk, Mas. Seloyang berapa harganya?”
“Waduh, berapa y? Soalnya istr-ibu saya yang jual. Saya hanya bantu memasarkannya aja. Tapi, kalau Mbak Vina mau, nanti saya list order.”
“Wah, makasih, ya … kebetulan, aku paling suka sama makanan yang manis-manis, apalagi yang bisa dijilat sampai habis dan terkikis.” Ucapnya sambil mengedipkan mata kanannya.
‘Alamak!! Beneran bisa ‘basah’ aku kelamaan di sini!’ Naren segera pamit dan ketika akan membalikkan badannya, ia tak sengaja melihat spanduk yang tergeletak di teras depan rumah Vina bertuliskan ‘Sanggar Senam Vina’.
“Ini punya Anda?” Naren menunjuk spanduk yang dimaskud.
“Benar, itu milik saya. Ada apa, ya?” Vina kemudian berjalan mendekati Naren dan berdiri di sebelahnya.
‘Wangi dan harum sekali tubuh wanita ini.’ Naren sampai memejamkan matanya menghayati dan menikmati aroma wangi tubuh Vina.
“Haduh, Anda tahu ga siapa yang bisa pasang ini spanduk. Saya akan segera membuka sanggar senam saya yang ke-4 di daerah sini.” Vina tiba-tiba menunggingkan tubuhnya hingga tak sengaja Naren melihat dalama Vina warna pink dan bokong yang hampir terangkat juga melon yang hampir menyembul keluar dari penopang dadanya.
‘Sial! Sial! Sial!’ Naren melihat ‘terongnya’ mulai menegang dan mengeras. Tak ingin malu, tanpa basa-basi dia segera pergi dan melambaikan tangannya dari kejauhan pada Vina.
“Lha, kok, malah pergi-” ucap Vina mengendikkan kedua bahunya.
Sesampainya di rumah, Naren tak langsung menemui istrinya. Pria itu layaknya maling di rumah sendiri, mengendap-endap naik ke tangga dan pergi ke kamarnya. Dengan cepat, Naren membuka celana dan dalamannya yang telah basah dengan cairan kental miliknya yang keluar ‘tanpa sengaja’. “Fyuhhhh, hampir saja aku mati berdiri dan malu di sana! Gila, wanita yang bernama Vina itu selain seksi, sex appeal-nya juga berasa banget. Aku yakin siapa pun yang jadi pasangannya bakal puas di ranjang!” Naren dan otak kotornya mulai ‘berdiskusi’
Tak ingin diketahui sang istri, Naren mengganti celana kerjanya dengan warna abu-abu dan atasan yang sama. Dengan cepat, dia segera turun dari tangga sambil membawa piring dan menemui Tyas.
“Ini Sayang, piringnya.” Ucap Naren meletakkan piring kosong di meja.
“Makasih, ya, Mas. Maaf, merepotkan. Lho, setelan kerja kamu ganti? Yang tadi emang kenapa?” tanya Tyas penasaran.
“Oh, i-itu kena cipratan genangan air kotor tadi di rumah tetangga baru.” Kilah Naren sambil tersenyum.
“Cipratan genangan air kotor? Tapi setauku, dia ga punya teras yang cukup lebar deh, Mas. Dan-”
“Oh, ya. Aku tadi sempat bincang dengan tetangga baru kita, Mbak Vinna,” Naren langsung memotong kata-kata Tyas.
“Tentang apa?” Dan gayung pun bersambut! Tyas lupa dengan kata-katanya.
“Itu, yang kamu bilang sanggar senam.”
“Oh, sudahlah, Mas. Lupakan saja. Ga apa. Lagipula, seperti katamu, kan. Tubuhku masih bagus dan berisi.”
“Siapa yang bilang ga boleh?” Naren balik bertanya.
“Eh, m-maksud Mas Naren?”
“Kalau kamu mau ikut senam, ikut aja. Mas malah ngedukung kamu, Sayang. Sekalian, sosialisasi sama ibu-ibu di komplek sini.”
Entah apa yang membuat sang suami tiba-tiba berubah 180 derajat, namun Tyas sama sekali tak memiliki prasangka buruk terhadap Naren.
“Kamu serius, Mas? Beneran aku boleh ikut senam di sanggar milik Mbak Vina?” tanya sekali lagi Tyas meyakinkan sang suami.
“Iya … iya … iya! Puas kamu, tiga kali iya.”
“Makasih, ya, Mas udah izinin aku ikut senam.” Tyas langsung mendaratkan kecupan manis di pipi sang suami.
“Sama-sama, Sayang. Tapi, kamu mau senam apa, sih sampai ikut sanggar senam segala.”
“Mmmmm, senam miss-V.” Ucap Tyas menutup wajahnya yang seketika memerah.
“Hah? Senam apa?” Naren sempat terkejut mendengar sekilas jawaban Tyas.
“Aku mau ikut senam untuk mengencangkan miss-V, Mas.”
Naren hanya bisa tertegun dan mengernyitkan keningnya seraya menepuk jidatnya.
Selanjutnya .......
Full Part 1-30
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/anugrah-suami-pemilik-tiga-ranjang.html
Novel "Anugrah Suami Pemilik Tiga Ranjang"
Bab 10 Gara-Gara Bolu, Jadi sering Menghalu
Naren yang telah tiba di kantornya, buru-buru masuk ke ruangannya dan menutup tirai yang ada di ruang kerjanya. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi warna abu-abu empuk miliknya, memejamkan matanya, dan mulai pikiran kotornya ber-sinkronisasi dengan dunia halunya.
"Ah, enaknya. Mantap benar pijatan tanganmu, Vina .... tak sabar rasanya aku ingin dipijat di bagian yang 'lain' ...."
Naren dan otak kotornya yang sering menghalu tentang seks bersama Vina semakin lama semakin bertambah parah! Tiap kali pria itu memikirkan tentang janda seksi binti liar binti binal itu, Naren harus bersiap mengganti celana dalam dan luarnya. Daaaannnn, benar saja! Baru beberapa menit ia memikirkan tante binal itu, celana Naren telah mengeluarkan cairan dari dalam celananya.
"Oh, shittt!!" serunya melihat celana kerja yang dipakainya basah di bagian terlarang. "Hhh, gara-gara tu perempuan aku jadi cepet 'on fire'." Keluh Naren buru-buru mengelap celananya yang basah di bagian terlarang.
"Tapi, kayaknya ide buat bikin bolu boleh juga, tuh. Itung-itung biar Tyas makin lancar bikin kuenya dan-"
Pikiran kotor Naren mulai lagi berjalan di otaknya! Membisikkan sesuatu yang mengundang birahi meningkat hingga pekerjaannya terhambat.
Tok ... tok ... tok ...
Naren yang sedang asyik melamun jorok dan binal tentu saja tak mendengar bunyi ketukan pintu yang cukup nyaring.
"Pak! Pak! Pak Naren?" Asri, sang sekretaris masuk ke ruangannya dan mendapati sang bos sedang tertidur sambil tertawa.
"Heh, dia malah enak-enakan tidur! Bener-bener bos yang ga bisa diandelin!" dengusnya menghampiri Naren yang tengah tertidur berbarengan dengan piktor-nya.
"Pak ... Pak .., Pak," Asri menepuk-nepuk pundak Naren pelan.
"Ah-enak banget! Lagi ... lagi, yang lebih dalem lagi. Aku lagi pengen ni-" Ucap Naren seraya membasahi mulutnya dengan lidahnya dan menjulurkan lidah panjangnya, membasahi bibirnya.
'Pak Naren lagi ngimpi apa,sih? KOk gitu banget nadanya. Jijay!!' Asri menggeleng-gelengkan kepalanya dan menepuk pelan pundak bos-nya.
"Pak ... Pak Naren, bangun Pak." Asri terus memukul pelan hingga ia gemas sendiri. "Ganteng-ganteng kebo banget ni orang kalo tidur! Kasihan banget Bu Tyas kalo bangunin ni laki!" ucap Asri mulai geram.
"KEBAKARANNNNN!!!" teriak Asri tepat di telinga Naren.
"Hah! Apa? Kebakaran?! Di mana? Di mana? Cepat panggil pemadam kebakaran!" panik Naren segera mendorong kursi kerjanya kencang dan berlari layaknya orang linglung.
Ingin sekali Asri tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan konyol sang Bos, namun, janda anak satu ini lama-lama iba dan menghampiri Naren yang masih berdiri layaknya orang linglung dan menyatukan nyawanya.
"Pak, Bapak sudah bangun belum?" tanya Asri pelan.
Sedetik kemudian, Naren menggelengkan kepalanya dan melihat terkejut sang sekretaris yang berdiri tegak di hadapannya. "Asri? Ngapain kamu di sini?" tanya Naren mengucek matanya.
"Saya? Ngapain di sini? Mau ketemu Bapak. Tapi Bapak malah tidur plus ngigo lagi," kelakar Asri.
"Ngi-ngigo?" wajah Naren langsung berubah sedikit pucat. 'Gawat! Aku ngigo apa, ya?' gumam Naren khawatir.
Melihat gelagat Asri yang biasa-biasa saja, Naren yakin jika dia tak mengigau yang aneh-aneh. "Yasudah! Terus, kamu mau apa ke ruanganku?" tanya Naren kembali ke topik pembicaraan.
"Mau menyampaikan jika dalam beberapa hari lagi Tuan Anggoro akan ke Jogja, Pak."
"Anggoro?" Naren mengernyitkan dahinya.
"Kenapa? Bapak pasti lupa!" Asri memutar dua bola matanya sambil menghela nafas.
"Hehehe, you know me so well," kelakar Naren garuk-garuk belakang kepalanya.
"Undangan yang tempo hari saya kasih ke Bapak, pasti belum dibuka dan dibaca! Seperti biasa!" Asri mencari undangan warna merah berpita kuning emas dari Anggoro. "Ketemu! Nih, Pak! Dibuka, Dibaca, Disimak, Diinget! Jangan ngayal yang jorok-jorok mulu!" kesal Asri mendengus layaknya sapi betina yang sedang marah.
"Ish, kamu ni! Makin lama makin berani, ya sama saya!" Kesal Naren membalas dengusan Asri dengan lirikan tajam.
Asri hanya memutar bola matanya. Menanggapi ocehan Naren dengan santai, seolah hanya angin lalu, masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
"Makanya, berubah donk! Wes nikah kok ya ga berubah! Kowe ki dudu cah cilik neh (kamu ini bukan anak kecil lagi!)." Asri memajukan bibirnya. "Nih, undangan dari Tuan Anggoro." Asri memberikan undangan pada Naren dan langsung mengarah ke pintu keluar ruangan Naren.
"Ngko tak wocone, saiki agek repot (nanti aku bacanya, sekarang agak repot)," sahut Naren sedikit menaikkan volume suaranya menjawab sang sekretaris. 'Hhhhh, ampun deh! Dari kuliah, tu cewek bar-bar banget sikapnya, pantes suaminya minggat dari rumah. Apa jangan-jangan-' Naren langsung menabok mulutnya sendiri agak keras sambil berkata, "Duh, ngomong apa sih aku ini! Kaya lambe turah banget! Yok, Naren, fokus kerja! Inget cicilan masih banyak, belum lagi kalau nanti punya anak-"
Naren yang awalnya ingin membuka surat undangan dari kliennya itu, mendadak terdiam dan mengusap-usap dagunya seraya menyeringai penuh akal bulus. Sang pengusaha mebel jati itu pun langsung mengambil ponselnya dan sambil mengusap-usap pigura foto sang istri, Naren menelepon dengan suara manjanya.
"Halo, Sayang. Lagi ngapain?
[Habis dari pasar, Mas terus mau bantu Ibu. Tumben ni kamu nelpon duluan. Biasanya kan-]
"Aku lagi kangen sama kamu. Ga tau ni, pengennya denger suara kamu terus."
[Gombal!]
"Gombal bukannya rambut kaya Bob Marley itu ya?"
[Itu gimballllllll ....]
"Oh, salah ya? Hehehe. Mmm, Sayang, aku pengen-"
Tyas yang menerima telepon di samping sang mertua dan dispeaker, otomatis langsung mematikan speaker dan segera menjauh dari ibu mertua. Nyonya Rina, sang ibu mertua hanya tertawa geli melihat kelakuan menantu cantiknya sambil menggelengkan kepala. "Dasar, anak muda zaman sekarang. Senengnya main di tempat gelap-gelapan."
"Halo ... halo, Sayang? Kamu masih di situ kan?"
[Ishhh, apa sih kamu!]
"Apa? Aku kenapa?"
[Apa coba maksud kamu ngomong-ngomong pengen? Mana ada Ibu lagi! Kan maluuuu]
"Lah, memang kamu loudspeaker?"
[I-iya]
"Hahahahhaha-"
[Kok ketawa, sih! Ihhhhhh, nyebelin banget! Dah, ya! Aku mau masak trus bantu Ibu bikin kue lagi.]
"E ... e ... tunggu dulu, Sayang. Masa gitu aja marah? Iya ... iya, aku ngomong sekarang. Aku pengen punya anak. Kayaknya kalo udah ada ank, rumah tu ga dingin dan hangat."
Tyas langsung terdiam, pandangannya menerawang ke langit tepat saat sebuah pesawat sedang terbang di atas langit rumah mereka. 'Aku rindu terbang.'
Tanpa sadar, Tyas mengucap sesuatu yang samar terdengar Naren.
"Sayang, barusan kau bilang apa?"
[Oh, t-tidak. Aku tak bilang apa-apa.]
"Oh, kupikir ... jadi, gimana?"
[Gimana apanya, Mas?]
Naren setengah kesal bicara dengan sang istri, namun ia coba bersabar.
"Sa-"
Belum selesai bicara dengan Tyas, ponsel milik Naren yang satunya berdering dari nomor tak dikenal.
"Sayang, nanti kita bicarakan di rumah, ya. Aku sedang ada telepon di hp satunya."
Tyas masih menerawang ke angkasa. Iris coklat terang miliknya tak berkedip hingga ibu mertua menghampirinya.
"Tyas, kok kamu bengong?" tanya Nyonya Rina lembut menyentuh pundak menantunya.
"Oh, enggak, Tyas ga apa-apa, Bu." Senyum Tyas menyahut.
"Bener ga apa-apa?" tanya ibu mertua meyakinkan.
Tyas menganggukkan kepalanya. "Hari ini kita akan masak apa, Bu?" tanya Tyas mengalihkan pertanyaan dan rasa sedihnya.
"Sayur lodeh, orek tempe, sambel, dan lalapan."
"Tyas bantu, Bu." Senyumnya mengalungkan tangannya ke lengan sang ibu mertua.
"Ayo, setelah itu kamu belajar buat bolu lagi ya, biar tambah mahir. Nanti, kalau sudah mahir bisa gantikan Ibu buat kue atau buka toko aja sekalian."
"Tyas malah belum kepikiran ke sana, Bu. Sekarang aja belajarnya masih kaa bayi, merangkak." Sahut Tyas menurunkan sedikit rendah pundaknya.
"Ga apa-apa, nanti juga bisa. Oh, ya, nanti kalau sudah selesai praktek bikin kuenya, kamu kasih lagi ke tetangga baru itu, ya."
"Tetangga baru? Mbak Vina maksud Ibu?"
"Iya. Sepertinya dia bukan orang sembarangan, relasinya kayaknya banyak. Siapa tahu kan?" Nyonya Rina menaik-turunkan kedua alisnya. "Ya sudah, ayok! Jangan tunggu lama, nanti keburu siang."
***
"Bak, Pak. Akan saya suruh anak buah saya segera mengirimkan pesanan Bapak. Baik, terima kasih, Pak. Senang bekerja sama dengan Anda."
Raut wajah Naren tampak sumringah, jemarinya menekan line telepon dan menyuruh Asri ke ruangannya.
"Ya, ada apa, Pak?" tanya Asri tak lama ke ruangannya.
"Suruh supir kita kirim pesanan Tuan Alex ke alamat ini." Naren menghadapkan ponselnya ke Asri.
"Tuan Alex siapa Pak? Kenapa dia ga lewat prosedur kaya biasanya?" Asri mengerutkan keningnya sambil melihat alamat yang tertera di ponsel Naren.
"Karena dia klien spesial. Dia itu pengusaha kelas kakap dan sedang ada proyek di daerah selatan."
"Hmmm, makanya kelas kakap terus beda ya perlakuannya, kalo kelas lohan apa teri gimana tuh nanti?" ledek Asri.
"Ishh, udah ... udah sana! Kerjain aja apa yang aku suruh! Protes mulu."
"Iya ... iya. Siap, Bos!"
'Hmmm, kalau begini terus, omzet bisnisku bisa beli istana ini.' Halu Naren seraya tersenyum bagai orang yang tertimpa durian runtuh.
Kembali, Naren duduk di kursi empuknya, menyandarkan tubuhnya, memainkan jemarinya di atas laptop abu-abunya, membuka random website yang sekiranya menarik matanya. Hingga tanpa sengaja, Naren melihat iklan toko kue yang menawarkan berbagai jenis bolu, mulai dari bolu panggang, kukus, hingga berbagai aneka kue basah dan kering.
'Hmm, sepertinya aku harus mendesak Vina agar lebih tekun dan giat lagi belajar kue dari Ibu. Siapa tahu, jika berjodoh aku bisa bertemu dengan Vina-'
Naren menghentikan tangannya di atas scroll laptop-nya. "Astaga!!!! Apa yang baru saja kupikirkan! Edan! Gila! Bisa-bisanya aku mikir kaya gitu! Enggak ... enggak! Aku ga boleh mikir laknat kaya gitu! Aku udah janji ama Tyas kalo aku akan berubah dan sekaranglah saatnya aku berubah!" yakinkan Naren pada dirinya sendiri.
"Selamat siang, selamat datang di toko mebel kami." ucap Asri pada wanita yang baru saja datang.
"Ah, iya. Terima kasih, Mbak."
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" Asri menghampiri wanita dengan rok di atas lutut dan baju off-shoulder warna pink.
"Begini Mbak, saya kan mau buka sanggar senam, nah, karena saya sangat tergila-gila akan ukiran jati, terutama di mebelnya, saya mau pesan satu set ruang kursi dan meja untuk saya taruh di sanggar senam saya."
'Sanggar senam kok ada ruang tamunya?' gumam Asri melihat wanita berkulit putih licin bak belut itu.
"Jadi, gimana Mbak? Apa bisa?" tanya wanita itu lagi.
"Oh, b-bisa, Mbak. Mari, saya tunjukkan beberapa model mebel kami yang terbaru." Asri menemani wanita itu berkeliling toko mebel terbesar, terlengkap, dan terkenal di Kota Jogja itu.
Tak lama, Naren ingin mencari makan siang dan melihat Asri sedang sedang melayani tamu toko mebel mereka. Dengan langkah santai, Naren meninggalkan ruangannya dan ketika ia akan melangkah keluar tokonya, ia mendengar suara yang tak asing baginya. Kepalanya langsung menoleh ke arah kanan tangannya dan pengusaha mebel itu terkejut ketika ia melihat wanita yang sedang dilayani Asri itu adalah ....
"VINA!!"
Novel "Anugrah Suami Pemilik Tiga Ranjang"
Bab 11 Makan Siang Bikin Deg-Degan
“VINA!!!” Naren terkejut membelalakkan matanya.
Segera, sang pengusaha mebel itu menghampiri Asri dan Vina yang sedang melihat-lihat mebel produk mereka. Naren menepuk pundak Asri dari belakang pelan dan menyuruhnya diam memintanya mundur, biar sang Bos yang melayani janda hottie ini.
“Hmm, kayanya kalo ukiran jawa tuh agak rumit, ya? Tapi saya suka. Terutama ini.” Vina menunjuk salah satu kursi jati yang berwarna coklat terang dan mengkilap dengan ukiran dua kepala naga di sisi kanan-kiri.
“Ya, memang bagus! Terutama ukiran dengan naga, bisa membawa hoki, konon katanya.” Sahut Naren tiba-tiba mendekati Vina.
Vina yang terkejut suara yang melayaninya berubah segera berbalik badan dan janda seksi itu menutup mulutnya melihat Naren berdiri di hadapannya dengan pakaian kantor layaknya esmod-esmod kota besar.
“Anda, bukannya yang tadi pagi ke rumah saya, ya? Yang ambil piring bekas bolu itu?” tunjuk Vina mengarah ke Naren yang setengah kikuk, setengah salah tingkah.
“I-iya, Mbak. Saya yang tadi pagi ganggu Mbak,” kekeh Naren menggaruk-garuk kepalanya.
“Anda kerja di sini?” tanya Vina mengangkat telunjuknya memutari toko mebel milik Naren.
“Iya, saya bekerja di toko ini, Mbak.”
“I see. Kalau begitu, beruntung saya bisa bertemu Anda!” Senyum Vina menjentikkan jemarinya.
“B-beruntung kenap, ya, Mbak?” Naren serasa besar kepala dan ingin terbang ke langit.
“Jadi gini, Mas. Saya kan mau buka sanggar senam. Nah, saya mau pesan satu set kursi dan meja untuk sanggar saya. Karena saya belum terlalu lama di kota ini, makanya saya tanya ke orang-orang toko mebel yang paling lengkap, bagus, dan oke di kota ini di mana dan rata-rata mereka bilang toko ini,” jeas Vina sesekali hembusan angin dari luar menyibak rambut hitam sepinggangnya serta parfum jenis Black Opium yang dipakainya.
‘Rejeki nomplok ini!’ gumam Naren tak berkedip melihat penampilan Tyas yang aduhai binti semok binti seksi binti bikin kepala puyeng.
Bagaimana tidak? Rok jeans di atas lutut dengan kancing tiga di tengah-tengah, kaos tanpa lengan warna pink dengan kerah lebar yang hampir menyembulkan molen bulat sempurnanya, serta sandal jenis wages warna merah yang menutupi sebagian kaki putih lentik ber-cincin milik sang janda hottie. Naren yang terus menggelengkan kepalanya tiba-tiba menutupi tengah-tengah celananya yang tampak menggembung. Menahan rasa malu agar tak ketahuan, Naren mundur beberapa langkah ke belakang, membuat Vina melihat aneh sang pengusaha.
“Kenapa Anda jauh sekali , Tuan-”
“Naren! Panggil saja saya seperti itu.” Sahutnya menganggukkan kepalanya.
“Ah, baiklah. Mas Naren, bisakah kau membantuku memilihkan meja untuk ruang tamu sanggarku?” tanya Vina dengan suara lembut-lembut manjanya itu dibarengi senyum menggoda.
Dengan cepat dan tanggap, Naren memilihkan kursi jati panjang coklat tua mengkilap dengan dua kepala naga di atasnya serta sebuah meja jati bundar dengan ukiran seperti akar pohon di bawahnya.
"Bagaimana? Kamu eh Anda menyukainya?" Gagap, grogi, dan kikuk sang pengusaha mebel itu tanpa sadar melepas tangannya yang tadi menutupi bagian tengah miliknya.
"Naga, ya …." Vina menyentuh ukiran di kursi tersebut, melihatnya lebih detail dan berkata, "Oke! Aku ambil yang ini!" yakinnya.
"Pilihan yang tepat, Mbak Vina."
"Panggil Vina saja, Mas." Senyum Vina memotong ucapan Naren.
"Oh, b-baik Mb-eh Vina."
"Kikuk amat, sih. Santai aja, kita kan tetangga." Vina memegang tangan Naren dan membuat pengusaha mebel ini langsung salah tingkah, jantung berdegup kencang, dan yang pasti sang 'rudal' yang mulai menunjukkan keperkasaannya.
Naren cepat-cepat melepaskan lembutnya tangan Vina sambil berkata, “Ke mana mebel-mebel ini harus dikirim, Mbak Vina?”
“Kok ‘Mbak’ lagi, sih? Panggil Vina aja sih, biar lebih akrab.” Sahut Vina mulai beraksi dengan sikap genit-manjanya.
“Anu … nganu, Mbak. Udah terbiasa manggil pelanggan kami kaya gini. Lagipula, rasanya kok ndak klop (pas), ya kalo manggil cuma nama aja, mboten patut (enggak pantes), kalo orang jawa bilang.” Jelas Naren sembari meremas-remas jemari tangannya tepat di tengah-tengah resleting celananya.
Vina tertawa sambil menutup mulutnya, “Kamu lucu, ya. Bos kamu pasti seneng bener punya karyawan kaya kamu.”
“Seneng kenapa, Mbak?” tanya Naren bingung.
“Ya, seneng aja. Habis kamu tu ganteng, lucu, hidung mancung, dan …” Vina mulai melihat Naren dengan tatapn lensa kontak birunya yang mematikan. “Kulit kamu eksotik! Coklat-coklat kaya bule gitu.”
‘What the …! Oh my God, ini bener Vina yang pernah aku baca di internet?’ gumam Naren melihat janda seksi itu tak percaya.
“Mas … Mas, kok bengong.” Vina menjentikkan jarinya.
“Oh, i-iya, Mbak. Maaf. Itu, pesanan Mbak Vina mau diantar ke mana, ya? Biar nanti saya suruh anak-eh, maksud saya biar nanti segera saya kirim.” Naren berusaha melepaskan pikiran-pikiran kotornya.
“Hmm, oke. Nanti saya kasih alamatnya, ya. Oh, ya, di mana saya harus bayar?”
“Oh, bisa langsung ke saya, Mbak. Sebentar, saya ambil buku kwitansi-nya dulu.” Dengan cepat, Naren pergi ke meja Asri dan mengambil buku yang dimaksud.
“Berapa satu set meja dan kursi ini, Mas? Tapi, asli jati kan ini?” tanya Vina meyakinkan.
“Asli, Mbak. Saya jamin. Ga asli, uang akan kembali.”
“Benarkah?”
“I-ya. Tapi selama ini pelanggan kami selalu puas dan tak pernah mengeluh.” Jelas Naren bersiap akan menulis pesanan Vina.
“I see. Oke, I trust you, Mas Naren. Jadi, berapa yang harus aku bayar, Mas?” tanya Vina dengan suara lembut menggoda.
“30 juta, Mbak.”
“Oke, bisa terima cek?”
“Cek?” tanya Naren bingung.
“Iya, cek. Kalau uang segitu kan saya harus ke bank dulu, ambil. tapi sekarang kan bank lagi istirahat, so, Mas Naren terima cek ga?”
Entah apa yang dipikirkan oleh pengusaha piktor ini, Naren secara tiba-tiba berkata, “Hmm, gimana kalo Mbak sambil nunggu bank buka makan siang dulu. Kebetulan. di dekat sini ada rumah makan yang uenakk. Mbak Vina pasti suka.”
“Iyakah? Masakan jawa, ya?” tanya Vina mengerutkan keningnya.
“Iya, Mbak. Asli jawa masakannya.”
“Manis donk,” sahut Viina.
“Tapi ga semanis Mbak Vinna.” Sahut Naren spontan sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
“Ihh, Mas Naren bisa aja.” Dengan gaya centilnya, Vina mencubit pelan pinggang Naren.
“Ish … ish! Laki-laki mata keranjang! Ga bisa liat belut licin! Ckckckck-” Asri yang melihat sikap Naren dari pintu toilet toko hanya geleng-geleng kepala dan menghela nafas panjang. “Ga bisa dibiarin lelaki mesum kaya gini, nih! Kasian Bu Tyas, di rumah suruh jadi istri baik-baik eh lelakinya … jadi lelaki binal!”
Asri kemudian menghampiri keduanya dan sengaja memanggil Naren dengan sebutan ‘Bos’.
“Bos, pesenan tuan Alex sudah sampai dengan selamat di tempat tujuan.” Sengaja dengan suara kencang Asri bicara pada Naren.
Naren yang terkejut mendengar Asri menyapa ‘Bos’, langsung memberikan kode kedipan mata pada sang sekretaris.
“Mata Bos kenapa? Kelilipan ya? Kok kedip-kedip begitu?” tanya Asri sengaja.
‘Sialan ni sekretaris! Lama-lama makin kurang ajar!’ kesal Naren mendengus bagai sapi jantan yang sedang marah.
“Bos? Mas Naren?” tanya Viina bingung.
“Benar, Mbak. Yang melayani Mbak adalah Bos kami, pemilik toko mebel ini.” Sahut Asri tersenyum ramah.
“What? You’re lying to me?” Vina tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
“Ah, itu-” Naren lagi-lagi menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari menundukkan wajahnya dan tersenyum.
“It’s ok. Jadi, gimana kalau kita makan siang bareng? Sambil nunggu bank buka?” ajak Vina.
‘Apakah ini mimpi? Aku diajak makan sama wanita terkaya saat ini? OMG!!!!’ gumam Naren tak percaya.
Asri langsung mendesis di belakang Naren sambil menyilangkan kedua tangannya melihat Bos-nya ‘melobi’ pelanggan cantik mereka.
“Dasar laki-laki mesum! Belum aja kena karmanya!” kesal Asri.
“Pakai mobilku saja, Pak Naren.” Ucap Vina membunyikan alarm otomatis mobilnya.
“Kok panggil ‘Pak?’ Tadi ‘Mas’?” goda Naren tersenyum.
“Tadi kan aku ga tahu kalau Anda ternyata adalah seorang ‘Bos’. Jadi, aku panggil Mas.”
“Udah, Mas aja. Ga apa-apa.”
“Bener, nih?” goda Vina lagi dengan senyum centilnya.
“Iya.”
“Oke, deh. Yuk, panas banget. Aku ga kuat panas. Bisa-bisa kulitku merah-merah. Mas Naren yang nyetir, ya. Aku kan ga tahu di mana tempatnya.”
“Siap!” sahut Bos mesum itu. Keduanya pun segera meninggalkan toko mebel megah dan besar di kota pelajar itu dan melanjutkan perjalanan ke tempat yang dimaksud Naren.
Di dalam mobil, Naren benar-benar mati kutu dan salah tingkah! Paha ramping, kuat, putih mulu, licin bak belut benar-benar membuatnya tak bisa konsen selama menyetir. Iris coklat gelapnya sering lirik curi-curi pandang ke arah janda seksi yang sedang menelepon ini. Sambil menelan paksa saliva-nya, Naren kerap kali melihat ke ‘bawah’ celana yang dipakainya.
‘Jangan … jangan … jangan, plissss!! Jangan kambuh manukku (burungku), sekali ini aja-’ gumama Naren harap-harap cemas.
“Mas, kamu ga apa-apa? Ko pucet gitu?” Vina tetiba menempelkan tangannya ke kening Naren. Sontak, Bos mesum ini tambah menggila dan mikir macam-macam tentang Vina.
Tenggorokannya rasa tercekat ketika si Tante menempelkan melon mateng, mengkel, dan bulat padat sempurna miliknya. ‘Gedenya-’ pikir Naren tak sengaja melihat sembulan putih mulus milik Tante.
Sadar akan pakaiannya yang mulai terangkat, Vina buru-buru kembali ke bangku dan posisinya semula. “M-maaf, ya. Aku ga ada maksud, lho.” Vina meremas jari-jarinya sambil tertunduk.
‘Ada apa-apa juga aku rela.’ Gumam Naren memperbaiki kemeja dan mengusap keningnya sambil berusaha kembali ke alam sadarnya.
“Ga apa-apa, Mbak Vina. Oh iya, Mbak Vina udah lama pindah ke rumah itu?” tanya Naren mengubah arah pembicaraan.
“Belum, baru sekitar tiga bulanan. Makanya, saya masih belum ngerti dan tau betul kota ini. Even udah sering ke sini, cuma yah, untuk have fun plus holiday aja, bukan stay. Tapi, kalo sekarang kan buat stay dan looking some cash.” Jelas Vina merapikan pakaiannya.
“Oh, gitu. Lalu, Mbak tinggal sendiri di sana?”
“Maunya?” goda Vina sambil senyum.
“Eh, maksudnya?” Naren spontan langsung menoleh menatap Vina.
“Mas Naren memang mau nemenin saya di rumah itu?”
‘Hahhhh??? What the ….”
Selanjutnya .......
Full Part 1-30
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/anugrah-suami-pemilik-tiga-ranjang.html