Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 1: Playboy Nakal
Eki menarik tisu dan menyeka lembut bibir gadis dengan bibir sedikit bengkak dan basah yang duduk dengan meja yang sama, pria tampan nan gagah itu tersenyum hangat membuat hati si gadis kian meleleh tak tahan akan pesonanya yang luar biasa, si tampan yang mampu meluluhkan hati gadis manapun, yang tak pernah gagal menancapkan rayuan maut.
"Ada sisa es krim di bibirmu," ujar Eki dengan gesture tubuh tenangnya, pria itu mengulum senyum penuh pesona mendapati wajah merona gadis di hadapannya saat ini, bahkan si gadis kian salah tingkah di hadapan Eki.
gadis itu meraih kaca kecil di dalam tasnya, dia memperhatikan detail di wajahnya takut ada yang kurang, Eki meraih kaca kecil itu, membuat si gadis terkejut.
"Ah." wajah si gadis tak percaya dengan kacanya yang segera menghilang dan berpindah dalam genggaman Eki
"Kamu tak perlu kaca, ada aku yang selalu bilang sempurna karena wajahmu yang cantik itu." issh.. rayuan gombal Eki memang tidak pernah salah, gadis itu menutup wajah dengan telapak tangan, wajahnya terasa panas, dadanya berdebar debar mendapatkan kata-kata manis dari pria tampan di hadapannya, dia sungguh dibuat merona oleh gombalan sesat Eki, apalagi kerlingan mata jernih itu, ah… ingin segera tersedot dalam tatapan dalam itu.
"Apakah kamu mau ke toilet?" tanya Eki dijawab malu malu oleh teman wanitanya itu. Itu bukanlah pertanyaan, itu adalah ajakan, perhatikanlah tatapan mata yang tak henti-henti menggoda gadis di hadapannya, Eki tersenyum penuh arti dengan gelagat positif dari gadis yang cukup membuat Eki tertarik ini.
Hari ini dia sengaja memilih cafe yang sepi pengunjung, dia akan membawa seorang gadis baru lagi kali ini, dia mengenalnya lewat aplikasi online, gadis dengan tampilan seksi dan menggoda, ah Eki semakin tak sabar mendapatkan gadis itu ternyata memiliki penampilan yang tak jauh dari avatar sosmed nya, lumayan!
Tarikan tangan Eki merosot turun, dari pinggang ke bok0ng gadis di sebelahnya, tubuh gadis itu merespons positif hingga dia semakin berani dan percaya diri. Lampu hijau sudah menyala terang, hatinya senang.
Baru saja mereka menuju lorong ke arah toilet, keduanya tampak tak sabar, Eki menatap bibir gadis disebelahnya, sorot matanya berkata, aku menginginkan kamu. Dan wanita itu memahami arti sorot mata sayu itu.
Tak menunggu sedetik, mereka menautkan ciuman panas dan pelukan erat, si pemuda tampan terus menarik bok0ng si gadis, berbenturan dengan 'miliknya' dan bibinya tak sabaran, terus menyerang, menancapkan kecupan berkali kali, dia melumat habis bibir gadis yang tadi ditemuinya begitu rapi memakai lipstik, tapi tidak kini, sekitar bibir gadis ini sudah kena noda merah lipstik.
Tangan kekar Eki terus bergerak lincah memeluk, menggenggam dan menelusuri tiap lekuk tubuh gadis yang mengenakan pakaian ketat ini, si gadis pun tak kalah pengalaman, dia dengan cepat menyesuaikan langkah dan gerakan mereka, saling menyerang lincah dan piawai, keduanya sudah sangat profesional.
badan keduanya seperti enggan terlepas, punggung mereka menabrak pintu kamar mandi, tangan Eki menyambar handle pintu dan mendorong pintu, mereka segera masuk ke dalam toilet, ah bersyukur sekali cafe ini sepi.
Eki masih terus menciumi tiap jengkal kulit terbuka gadis di hadapannya, dia tak akan menyia nyiakan kesempatan ini, hasratnya sudah memuncak, membuat gerakannya semakin cepat dan bertenaga.
"Duduklah." Eki berbisik dengan suara berat.
si gadis segera duduk di toilet dengan kedua tangan yang sudah bersiap menyambut tubuh Eki.
Dengan cepat Eki membuka sweater dan kaosnya, aah.. mereka ingin gerak cepat saja!
kini bergantian giliran si gadis yang membuka pakaiannya, disaat pria itu melucuti setiap lembar lapisan di tubuhnya si gadis dengan cekatan membuka kancing dan resleting pemuda tampan yang menggugah seleranya ini, matanya terbelalak tak percaya dengan ukuran 'junior' didepan matanya kini, gadis itu tersenyum puas, dia membasahi bibirnya dengan lidah yang bermain seksi.
Eki mengangkat bahu, dengan percaya diri dia meminta gadis itu memulai adegan panas mereka.
"Kau siap?"
****
Eki menutup resleting celana dan meninggalkan kamar mandi, dia berjalan cepat menuju kasir dan membayar tagihan, pemuda itu meninggalkan cafe sesegera mungkin.
Dia melihat layar handphonenya dan segera menghapus akun aplikasi dimana dia dan wanita tadi bertemu, bibirnya tersenyum sinis.
pemuda itu mengusap wajahnya dengan tisu basah, dia segera menyalakan sepeda motornya dan menelusuri jalanan dengan wajah yang terlihat senang
sementara..
Si gadis terduduk lemas di toilet, dia menyeka dahi dengan keringat mengucur, gadis itu terlihat kesal.
Beberapa jam kemudian…
"Setelah aku membuatnya puas, lalu dia pergi begitu saja!" gusar si gadis, dia jelas belum merasakan apapun, bahkan harapannya seketika punah ketika cairan kental si tampan itu mengotori wajah cantiknya.
"Aku harus bertemu lagi dengannya dan dia harus membalas kebaikan hatiku hari ini!" janji si gadis pada dirinya sendiri
Siapa yang tak tahu Eki, mahasiswa tampan rupawan dengan julukan playboy cap kuda, dia sering sekali merayu wanita dan melampiaskan birahinya, setelahnya? dia menghilang bak ditelan bumi, pria itu hanya mau enak sendiri!
Harusnya dia ditangkap polisi karena kasus mesum yang meninggalkan banyak catatan, tapi nyatanya tak satu gadis pun yang melaporkan kelakuan buruknya, apa karena dia tampan, atau..
"Aku sudah menelpon ke nomornya berkali kali dan selalu mailbox, bahkan akun medsosnya pun hilang!" keluh Mawar menundukkan wajahnya di meja, kedua temannya terlihat khawatir melihat ekspresi Mawar yang tampak 'nanggung'
"Itu artinya kamu harus cari pria lain, lagipula apa hebatnya pria yang ditemui di aplikasi online, mereka itu kebanyakan buaya, dan buruknya lagi, foto profil sama asli beda jauh!" gusar salah satu teman Mawar mengingatkan sahabatnya yang tampak masih sangat sedih dan kecewa karena ditinggalkan oleh teman dating tanpa aba aba.
Mawar cemberut dengan wajah sedih. "masalahnya adalah, dia meninggalkan sesuatu yang membekas di sini!" Mawar menunjuk telinganya dengan wajah tak bisa melupakan kehebatan seorang Eki.
Kedua teman Mawar merapatkan telinga, mereka penasaran seberapa hebat pria yang sudah Mawar temui hari ini.
"Dia sangat tampan dan gagah, dia pandai memperlakukan wanita, dia berbisik di telingaku…" Mawar mengenang tingkah Eki yang membuat hatinya terus berdebar. "Dia menghembuskan nafasnya pelan, lalu berbisik lembut 'kamu sangat cantik, kamu diam saja sudah tampak begitu menggoda' ah… dia sangat gila!" Teriak Mawar sambil membayangkan wajah Eki yang memberikan banyak ciuman tadi siang.
Kedua temannya menatap wajah Mawar dengan sorot mata jengkel, keduanya tampak geli dengan pengakuan Mawar.
"Dia buaya darat."
"Gombalannya luar biasa!"
Ucapan kedua teman Mawar adalah kebenaran, tapi sebelum mereka melihat mahakarya wajah Eki, ketika mereka sudah berhadapan dengan pria itu, maka semua kata negatif tentang Eki akan lenyap bersama udara.
"Dia bahkan memperhatikan semua detail tentang aku, dia sangat suka melihat senyumanku, dia mencium helaian rambutku, dia mengelap bibirku, dia mengatakan aku cantik, dia selalu memujiku, dia membawakan tasku, dia menarik kursi untuk tempat dudukku… ah…" Mawar tersihir dengan pesona Eki.
"Wah, dia sudah kena sihir pria gombal!"
"Sulit diselamatkan."
Bisikan kedua temannya tak dipedulikan oleh Mawar, dia terus membayangkan wajah Eki yang membuat angannya terbang kian tinggi.
"Ah, tapi mengapa dia tak melakukan 'itu' padahal aku sudah sangat siap. Mengapa dia meninggalkan aku begitu saja sebelum kami menyelesaikan semuanya dengan baik!" Sekarang suara Mawar berubah jengkel. Dia menepuk meja hingga mereka menyita perhatian beberapa penghuni meja lain di cafe itu.
"Aku selalu mengatakan padamu untuk tidak gampangan, pria akan hilang minat kalau kamu mengobral diri!" Dengan sinis salah satu teman Mawar berkata jujur.
Mawar mendelik kesal. "Aku ini sangat pandai menaklukkan pria, aku tidak pernah ditolak teman kencan, tapi kali ini, dia membuat aku sangat menginginkannya, dimana aku bisa menemukan dia!"
Mawar menjadi gila karena Eki.
"Oh my God, dia sangat panas, roti sobeknya padat dan berisi, ketika kamu sentuh maka kamu ingin segera memakan dengan lahap. Apalagi wajahnya seperti malaikat, tampan sekali! Perpaduan Orlando bloom dan seokjin BTS! Siapa yang tahan dengan semua pesona itu!" ujar Mawar lemas, dia membenamkan wajahnya ke meja, sepertinya harapan akan melanjutkan hubungan dengan pemuda yang dia kenal di jejaring sosial memang layu sebelum berkembang, mungkin Mawar bukanlah tipe gadis Eki, Mawar menghela nafas kecewa.
"Hei.. lihat arah jam sembilan!" teman Mawar mencubit lengan gadis yang tertunduk dalam diatas pangkuan tangan, Mawar menepis malas sentuhan temannya.
kedua temannya itu menggigit bibir melihat seorang pemuda berjalan dengan langkah tegap, bibirnya tersenyum seolah menyapa semua orang yang ada di cafe.
"Oh my, dia ganteng banget!" gumam teman Mawar dari balik kaca cafe, teman yang satunya lagi pun tak kalah terkejut, gadis itu menahan rahangnya yang terjatuh, dia melongo dengan mulut terbuka.
Eki menyebrangi jalanan, dia akan menemui seorang lagi hari ini, dia mampir ke cafe satu lagi dimana teman wanitanya sudah menunggu.
dengan langkah percaya diri dan senyuman penuh pesona, Eki memasuki cafe dimana teman kencan berikutnya sudah menunggu, dia tak perlu waktu lama untuk mendapatkan gadis yang lainnya.
pria itu tersenyum di antara langkah kaki panjangnya, dia menyeka rambut depan membuat dahinya yang bersih terlihat jelas, lihatlah otot keras yang menyembul di balik baju kaosnya, pria itu mencuri perhatian mata gadis di sekitar sana, dan dia tahu betul itu.
Eki si playboy yang sangat tampan, dengan tinggi 185 Senti, pundaknya lebar, bahunya lurus 90 derajat, hidungnya mancung, matanya coklat pekat dengan bulu mata super lentik, tatapan matanya dalam, alisnya tebal, rambutnya hitam tebal, sesekali dia membiarkan rambut tipis tumbuh di rahangnya yang tegas. Dia adalah pria yang ramah dan suka tersenyum, salah satu gigi taring atasnya tampak lebih tajam dari gigi taring lainnya hingga senyumannya tampak begitu khas dan unik. Dia sangat menyukai wanita, tapi dari sekian banyak wanita belum satupun yang melekat di hatinya.
"Aah.. ada bidadari bekerja di sini." Eki menenggerkan tangannya di meja kasir, si gadis tersipu malu mendapati pria tampan menyodorkan wajahnya.
"Aku pesan dua minuman ya." pesanan Eki disambut wajah bingung si gadis pelayan, dia datang sendiri dan memesan dua minuman?
"Satu untukku, dan satu lagi untuk pelayan cantik yang kini berdiri di hadapan ku." ujar Eki mulai meluncurkan aksi selanjutnya.
Eki, tokoh pria pertama pria, si playboy cap kuda liar.
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
-------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 2: Nakal
"Coba kamu lihat tingkah si brengsek itu, dia tak pernah melewatkan kesempatan sekecil apapun. Aku rasa wajahnya itu kutukan!" Ujar Darwin- teman dekat Eki, dia melihat tingkah Eki dari kejauhan dengan wajah jengkel, dia bisa melihat jelas bagaimana Eki tersenyum dan mengobrol dengan pelayan di depan sana, dia melihat Eki menyodorkan minuman ke arah pelayan itu, dia seakan bisa menebak apa yang Eki ucapkan.
"Kau cantik, sangat mengagumkan." Desis Darwin mendelikan mata mengejek ekspresi Eki di depan sana.
Darwin dan Ron, sejak dua jam yang lalu menunggu Eki bergabung, tapi teman tampan yang menyebalkan itu malah santai menggoda pelayan tanpa peduli dengan 2 jam keterlambatan.
"Bisakah kamu ajak dia temui psikiater, dia butuh terapi dan obat!" Darwin bertanya pada Ron, mereka berdua muak dengan tingkah Eki, tapi hubungan erat sebagai sahabat membuat kata muak itu menjadi tidak pantas.
Selang beberapa menit akhirnya Eki bergabung di meja neraka, wajah Darwin dan Ron tampak tak ramah.
"Hey, kenapa dengan wajah kalian. Itu tampak sinis bro!" Seru Eki sambil tertawa kecil, dia menarik kursi dan menyandarkan punggung dengan santai seperti tanpa dosa.
"Menurutmu kenapa, kamu sialan!" Darwin semakin kesal melihat tawa sumringah milik Eki, dia mengangkat tangan hendak memukul Eki tapi hanya ancaman saja.
Ron menutup laptopnya, "kamu terlambat dua jam dan kamu masih sempat menyapa pelayan cafe!" Suara Ron tak kalah jengkel seperti Darwin. Kelakuan Eki memang luar biasa laknat.
Eki masih menampilkan senyum beracun itu yang tidak mempan untuk kedua sohib nya. "Hey, ayolah, kita harus ramah terhadap orang lain. Ayolah, jangan kaku, itu membosankan. Hidup harus santai!"
Pukulan Darwin mendarat juga di lengan Eki.
"Bukankah dia cantik, sayang kalau dilewatkan!" Eki menunjuk pelayan di depan sana, yang dia goda tadi. Ron dan Darwin tidak tertarik sama sekali.
Darwin menatap wajah menyebalkan Eki, tatapannya kian tajam. "Hey, carilah seorang gadis lalu kencan dengan benar, kamu pikir usiamu berapa, kita cukup dewasa untuk mencoba berkencan dengan serius!" Darwin si pria paling setia memberikan wejangan. "Atau, jadilah single berkualitas seperti dia!" Telunjuk Darwin membuat wajah Ron terangkat.
Membahas kencan, wanita, cinta, adalah hal yang membosankan bagi Ron.
"Kau lebih baik kencan dengan rumus dan buku seperti dia, itu lebih bermartabat kawan!" Darwin memperjelas ucapannya.
Ron merasa risih, dia menoleh pada Darwin dan mendesis kesal.
Darwin menyadari tatapan Ron dan tersenyum tipis.
"Hei, aku benar kan?" ujar Darwin berusaha meyakinkan ucapannya.
"No!" Eki mengangkat tangannya, tak setuju dengan pendapat Darwin.
"Aku belum ingin punya pacar apalagi yang berisik seperti pacarmu itu!" ketus Eki membuat Darwin berdecak kesal, tapi ucapan Eki benar juga
" dan aku tak bisa jomblo seperti dia, karena c-mon ! aku tak suka bermain dengan sabun hehe.. " kalimat Eki dibalas cekikikan panjang di meja mereka, hingga beberapa orang memperhatikan tawa geli mereka.
"sstt.." Ron mengingatkan untuk menahan tawa geli mereka, ketiganya menutup mulut segera, tapi masih tetap ingin tertawa mendengar ucapan Eki tentang sabun.
Eki merapatkan kepalanya hingga Darwin dan Ron mengikuti gerakannya, mereka memasang telinga dengan gerakan mulut Eki.
"Kalian lihat si pelayan cantik dengan rok mini itu (menunjuk ke arah pelayan), aku akan mengantar dia pulang ke kosan dan menikmati kasurnya malam ini.."
PLAK!
Kompak Ron dan Darwin menepak kepala Eki kesal.
"Aku pikir dia akan membisikkan sesuatu yang masuk akal, tapi harapanku adalah mustahil!" dengus Darwin kesal.
"Apa perlu diruqyah mesum satu ini?" dukung Rom dengan wajahnya yang memerah, dia sempat melirik pelayan yang mengenakan rok mini, dan dia melihat paha mulus itu.
Eki tertawa melihat tingkah berlebihan dua sahabatnya ini. Mereka telah lama berteman sejak menjadi mahasiswa salah satu universitas swasta yang terkenal dengan cap mereka sebagai mahasiswa abadi di kota ini, ketiganya memiliki karakter yang berbeda, eh pengecualian untuk Ron, dia adalah yang paling muda dan waras.
Jika Eki si mesum tampan idaman semua gadis, maka Darwin mempercayai cinta sejati dan bertahan hanya dengan satu gadis, dia dan pacarnya sudah menjalin hubungan sejak di bangku SMA.
Lain lagi dengan Ron, si penyuka kemeja warna monokrom itu belum memutuskan apapun mengenai cinta, dia masih terus fokus pada pendidikannya, tipe si rajin dan cerdas lah pokoknya.
Walau begitu pertemanan mereka tak usah diragukan lagi, seperti sudah tak ada rahasia lagi di antara mereka.
"Wah, tiba tiba mendung." Darwin melihat ke langit yang sekarang sudah menggelap seketika.
"Aku harus segera menjemput pacar ku." dengan terburu buru Darwin bangun dan merapikan isi tas nya.
"Hei, aku baru sampai disini dan kamu sudah mau pergi karena pacarmu itu!" protes Eki tak terima
"Kan masih ada dia!" tunjuk Darwin ke arah Ron.
"Tinggalkan payung mu ya!" pinta Eki berteriak pada Darwin yang sudah berjalan ke arah pintu keluar.
"payung untuk apa?" tanya Ron bingung dengar permintaan Eki.
"Bukankah kamu membawa sepeda motor?" masih dengan bingung Ron terus bertanya, Eki segera mengangguk, mengiyakan pertanyaan Ron.
"Lalu?" wajah Ron masih tak mengerti
"Kamu bawa motor ku ya, titip di kosanmu. Hari ini aku akan berjalan kaki," ucap Eki dengan raut wajahnya yang penuh teka teki.
"Kamu stress ya. Pasti kau punya rencana anakan?" tuduh Rama dengan raut wajahnya yang tak percaya akan sahabatnya itu, Eki tertawa kecil
"Kamu tahu saja. Aku akan mengantar si cantik dengan payung, dia tinggal tak jauh dari sini." bisik Eki membocorkan rencana nya
"Shit! kau gila!" ucap Ron sambil menggelengkan kepala, benar saja dugaannya.
"Ah, sepertinya si pelayan seksi akan pulang, jadi bye!" salam Eki dibalas cibiran oleh Ron, dia meninggalkan kontak motor dan tasnya di meja.
Ron berdecak kesal melihat punggung Eki.
"Mahasiswa abal abal yang selalu menambah beban hidupku!" geram Ron kesal, dia melihat punggung Eki yang mulai menghilang, pria itu meraih payung yang ditinggalkan Darwin di pintu depan
Hujan turun semakin deras, si gadis pelayan terlihat menunggu di teras Cafe, kemeja putihnya terkena percikan hujan dan membuat warna kulitnya bisa di terawang.
Eki meraih payung dan mengembangkan benda hitam itu seketika, payung menghalau percikan hujan yang mengenai bahu gadis yang sudah keluar lebih dulu dan sedang menunggu hujan reda, si pelayan cantik terkejut dengan pemilik payung yang sengaja melindunginya dari percikan hujan.
Eki tersenyum lebar membalas wajah takjub gadis itu.
"Aah.. hujan nya lumayan." gumam Eki tak jelas pada siapa, matanya menatap langit yang gelap, gadis itu tersipu saja mendengar suara berat Eki
mata pemuda itu berganti menyorot wajah si gadis yang tersipu dan salah tingkah berada di sisinya.
"Ayo aku antar, kamu kos tak jauh dari sini kan?" tanya Eki dengan wajah mempesonanya, si gadis mengangguk pelan
"ayo.." ajak Eki pada si gadis untuk meninggalkan tempatnya bekerja, mereka bernaung di satu payung berdampingan. Eki sedikit menjauhkan dirinya hingga cucuran dari sudut payung membasahi bahu sebelah kirinya, dia sengaja melakukan itu.
"Ah, pundakmu basah." ujar si gadis merasa tak enak, dia merapatkan posisinya, Eki tersenyum kecil, triknya tak pernah gagal.
"Ah tidak apa apa, cuma sedikit." Jawabnya singkat, dengan raut tenang Eki berbisik bangga di dalam dadanya, step pertama berjalan baik, selanjutnya melangkah ke nomor dua
"Ah, pundak mu juga kena air hujan." ujar Eki meraih bahu si gadis dan merapatkan tubuh mungil itu ke dalam dekapannya hingga tubuh mungil gadis berada di bawah tangannya yang kokoh dan berotot. si gadis tak mampu menatap wajah Eki, gadis mana yang tak merasa istimewa di perlakukan semanis ini oleh pria tampan.
Eki segera melepas dekapannya, dia memasang wajah menyesal "ah maaf, aku spontan." ujarnya membuat alibi.
Cih, dasar playboy sialan, dalam hatinya pasti sedang tertawa girang, yess.. siap melangkah ke proses selanjutnya.
setelah tiba di depan kamar kos si gadis, Eki menyodorkan payung pada di gadis yang melongo bingung, tentu saja, jika Eki menyodorkan payung agar si gadis bisa membuka pintu nya leluasa tanpa terpercik air, tentu saat ini badan Eki bermandi hujan dan basah kuyup
si gadis segera meraih gagang payung hingga tangan mereka saling menindih, dia dengan cepat melindungi tubuh Eki yang basah kuyup
PLUK!
kini mereka menjadi basah bersama karena payung yang saling berebut jatuh ke jalanan, keduanya tertawa dengan tingkah konyol mereka yang saling ingin melindungi.
si gadis membuka pintu kamar kosnya dan meminta Eki masuk untuk mengeringkan badan.
"Tidak usah, aku tidak apa apa, lagipula hanya basah saja ko." ujar Eki menolak ajakan si gadis, tentu saja itu hanya bagian dari trik nya.
"Ayolah, kamu sudah mengantarku, kamu basah begini karena ku. Aku mohon minumlah teh hangat dulu." pinta si gadis dengan bola mata berbinar, kedua tangannya seperti memohon menangkup di depan dada.
Eki tertawa kecil, dia bukan tersentuh karena tangan gadis itu di dada, tapi bentuk jelas yang terlihat dari balik kemeja putih basah itu yang membuatnya semakin mengangguk mantab
"Kau pakai handuk ini dulu, aku akan mencarikan baju yang pas untuk mu." ujar si gadis segera membuka pintu lemarinya.
tapi Eki melangkah mengikuti gerakan si gadis, tanpa gadis itu sadari. dia mengangkat handuk dan meraih rambut gadis itu, Eki mulai mengeringkan rambut basah si pelayan cantik yang mematung karena tak mengira dengan gerakan di belakang punggung, Eki tahu itu, dia melanjutkan kegiatannya dengan penuh perasaan, menggosok-gosok rambut si gadis dengan handuk.
"Kamu harus mengeringkan diri dulu, aku takut kamu sakit dan tak bisa bekerja." bisik Eki di telinga si gadis yang memberi suhu kontras tubuh mereka.
si gadis membalikkan badannya, dia menatap wajah tampan Eki dengan rambutnya yang basah dan jatuh di dahi dan tangan pemuda itu yang masih mengeringkan rambut si gadis dengan penuh perasaan.
si gadis tersenyum dan mendapat balasan senyuman lebar dari pria tampan di hadapannya, dadanya bergetar hebat, pria baik mana yang hari ini datang ke kamarnya? dia tak bisa menahan diri lagi untuk membalas kebaikan pemuda yang begitu menggoda ini.
Eki menurunkan handuk di kepala gadis itu, dia menutupi mata gadis itu hingga tak bisa menangkap senyuman sinis di bibirnya.
pria itu merapatkan tubuh mereka, bukan hanya kenyal di bibir hingga masuk ke dalam mulutnya, seperti mengunyah bubble gum manis, ototnya kini menegang seketika saat dua gunung lembut dan kenyal menempel pada kain bajunya yang dingin.
"Kau sepertinya kedinginan.." bisik Eki di telinga si gadis dan membuat suara melenguh penuh hasrat.
"Biar aku hangatkan.." bibir Eki tersenyum lagi untuk kesekian kalinya, dia kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir si gadis, mereka merasa hangat dan erat, Eki merasakan cengkraman tangan si gadis di ujung kemejanya.
Eki menarik pinggang si gadis, hingga tubuh mereka menempel.
"Ah." si gadis terkejut dengan sesuatu yang menonjol di bawah sana, Eki menuntun tangan gadis itu karena matanya masih terhalang oleh selembar handuk.
"Aku juga kedinginan, dan butuh kehangatan…" bisiknya nakal.
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
----------------------------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 3: Menahan Kesal
Tok.. tok.. tok..!
suara ketukan di pintu utama ruang kos yang dihuni seorang gadis yang bekerja paruh waktu di cafe di pusat jalan raya membuat dua orang di dalam ruangan sedikit tersentak, si gadis pelayan segera menarik handuk dari atas kepalanya, menatap pria di depannya sesaat lalu berlari dan menghampiri pintu.
Eki hanya menggerutu kesal karena tubuhnya merasa 'nanggung', pemuda itu harus memakai kembali celananya dengan benar.
Pintu terbuka, si pelayan cafe membulatkan mata melihat siapa yang berdiri di balik daun pintu.
Seorang gadis berdiri, sudut salah satu bahunya bersandar di depan pintu, wajahnya jelas terlihat menahan kesal walau bibirnya mencoba tersenyum, senyuman sinis
"oh maaf mengganggu!" ujarnya sembari melirik ke arah wajah kesal Eki di dalam sana.
"Aku melihat kamu membawa seorang pria dari cctv, maaf sekali kakak cantik, kamu tak bisa membawa pria dalam kamar mu, ini bukan rumah bordil, ini adalah usaha orang tuaku yang harus dijaga dari leluhur kami!" ujar wanita itu dengan nada tak enak.
Eki mendengar semua itu, dia mengangkat bahu, dia memikirkan kalau mungkin dia bisa membantu masalah si pelayan, dia pandai menjadi pemecah masalah, dia ikut bergabung pada obrolan dua gadis di depan sana
Wajah si gadis pelayan terlihat merona panas mengingat apa yang tadi mereka hampir lakukan di kosan ini dan Eki dengan wajahnya yang tersenyum penuh pesona segera mengambil alih si pemilik rumah.
"Ah maaf, sepertinya aku menjadi topik obrolan kalian. Jangan salah paham, aku hanya numpang mengeringkan diri." ucap Eki sembari melempar senyum terbaiknya, ahh.. hanya dengan satu senyuman saja gadis gadis akan menuruti kata katanya, apalagi hanya menghadapi gadis culun seperti yang di hadapannya saat ini, gadis culun ini hanya anak pemilik kos kosan ini, lihat saja, Eki merasa mampu menaklukkannya dengan mudah. Ya, walaupun gadis ini jauh dari standart tembakan untuk seorang Eki.
"Ohh.. sepertinya kakak ini tidak punya alat pengering yang bagus, sehingga kamu masih basah kuyup seperti ini!" sindir gadis berkacamata dengan senyuman sinis pada ucapan Eki.
Eki tertawa kecil, dia seolah sangat mengerti, pemuda itu menyisir rambut depannya dengan jari, ini pesona keduanya dengan dahi yang bersinar, banyak gadis yang langsung lemas menyadari ketampanan tingkat dewa yang dimiliki wajahnya.
Kau akan luluh dengan ini! Batin Eki percaya diri.
"Aah.. apa kamh tak punya handuk hingga rambut kalian juga masih kuyup!" ketus si pemilik kosan dengan menunjuk rambut basah Eki, pesona Eki seperti memantul pada kacamata si gadis culun ini, wajahnya yang tenang membuat Eki mengerutkan dahi.
Si gadis pelayan meminta maaf berkali kali dan Eki harus segera meninggalkan kamar kosan, gadis pemilik gedung mengangguk angguk dengan keputusan yang win wins solution ini.
"Itu adalah pilihan tepat!" Ujar gadis culun berkacamata menyetujui ucapan si pelayan cafe.
Baru saja Eki melangkah meninggalkan gedung kos kosan yang lumayan besar, dia membalikkan badan dan memanggil si gadis culun anak pemilik kosan yang mulai meninggalkan kamar gadis pelayan cafe.
"Heii!" panggil Eki tak sopan, si gadis culun itu terlihat kesal dengan pemuda penuh percaya diri di belakang punggungnya.
"Apa kamu iri karena kamu tak bisa mendapatkan pria di kamarmu?"
Ck! Gadis culun itu tampak semakin kesal mendengar hinaan Eki. dia melepas kacamata bacanya dan menggantungkan kacamata itu di leher sweater oversize yang dia pakai.
Si gadis itu menarik karet rambut yang membuat ikatan seperti bola di atas kepalanya, dia menggerai rambut panjang bergelombangnya dengan gerakan penuh pesona, bibirnya menyeringai kecil.
Ck, aku malas melakukan ini, tapi pria ini terlalu terpaku pada fisik seseorang! Gadis culun tampak jengah dengan kesombongan Eki.
Eki tak percaya dengan apa yang dilakukan gadis culun ini saat membelakanginya, dia sedang apa sih? Eki tak berharap apapun dari gadis berkacamata dengan rambut donat.
"Hei.. kau," kata kata Eki terhenti saat si gadis culun itu menolehkan kepala, dia tak mendapati wajah chubby dengan kacamata besar yang bersinar tadi.
Mata Eki hanya bisa melotot tak percaya dengan gadis cantik di hadapannya saat ini, shiit.. dia punya mata yang indah dan kulit yang sempurna, serta rambut panjang yang tergerai itu membuat dada Eki seketika berdebar debar.
"Ada apa?" ujar si gadis mendekati Eki yang mendadak jadi patung, jarinya mendorong pelan pundak pria yang penuh pesona itu, Eki masih bengong tak percaya dengan penglihatannya.
Cantik! Batin Eki, tapi dia harus segera sadar, jangan sampai dia kalah.
"ah, namaku Eki!" setelah tersadar Eki langsung mengulurkan tangan, dia tersenyum lebar dengan ekspresi wajahnya yang kaku.
"Fiuuuhh.. maaf sekali, aku tak bisa berkenalan dengan tangan yang kotor!" ujar si gadis itu kini terlihat sedikit angkuh.
Eki segera mengelap telapak tangannya dengan kemeja yang basah, si gadis mengerutkan dahi lagi mendapati tangan pria itu mengulur lagi padanya.
"Ahh.." gadis itu menggaruk telinganya yang tidak gatal.
"Bagaimana ya, sepertinya baju mu juga tidak bersih!" balas si gadis meninggalkan Eki yang hanya mematung kaku, mata Eki tak bisa berkedip menatap punggung gadis yang berlalu menaiki tangga rumahnya, Eki masih terus berdiri di depan sana dengan wajah terpesona, pria itu memegang dadanya yang terus berdegup kencang.
"Setelah lebih tujuh tahun, jantung ini akhirnya bangkit lagi.." gumam Eki sambil memegang dadanya, matanya terlihat berbinar binar, dia sudah lama menanti gadis yang bisa membuat jantungnya kembali berdebar, dan hari ini dia menemukannya!
***
POV putri pemilik kos (Via)
tap.. tap.. tap..
Mama memarahi ku karena langkahku yang menghentak lantai, jelas aku sedang marah saat ini, bagaimana bisa pria mesum itu masuk ke kamar rumah kami! benar benar tak bisa dimaafkan.
Ah.. lihat tadi bagaimana dia menatap wajahku yang culun, dia tidak tahu kalau aku ini beauty blogger yang penuh pesona! kau berani sekali meremehkan tampilanku tadi! Rasanya muak melihat pria yang menilai wanita dari tampilan luar saja. Mereka menyebalkan.
Siapa namanya, Eki! oke, aku akan mencari tahu tentangnya, pria mesum dengan otak dangkal seperti itu paling seru kalau diberi pelajaran, haruskah aku mencari hukuman yang setimpal untuknya?
Hukuman apa yang paling pas menghadapi laki laki seperti itu? ah.. membuat dia jatuh cinta lalu mencampakkannya? itu bukan ide yang buruk, tapi itu terlalu biasa, aku harus mencari ide yang lainnya, yang lebih sadis untuk pria pria perusak seperti itu.
"Kakak, kamu sedang apa!"
"Ah, kau mengagetkan ku saja!" kemunculan wajah Ron membuat ku hampir saja terperanjat dan pingsan
"Kamu tahu, seorang, pria brengsek masuk ke kamar gadis kos yang bahkan baru satu malam di sini!" gusarku dengan emosi, Ron mengerutkan alisnya
"Gadis yang mana?" tanya Ron tak mengerti.
"Gadis yang mengisi kamar di bawah, dia bekerja paruh waktu sebagai pelayan cafe di belokan sana!" jelas ku pada adik laki laki ku yang mulai meraih buku dan membaca.
"HAH!" teriak Ron mengagetkan ku, bukunya langsung terjatuh dan menimpa punggung kakinya, tapi dia seperti tidak merasakan apapun.
Aku hanya mendengus kesal melihat reaksi berlebihannya itu, pria mesum itu memang mengagetkan sih tapi tak perlu berteriak sekencang itu kan!
"Apa pria dengan rambut hitam dan senyumans eperti ini?" Ron menarik bibirnya maksimal hingga hampir membentuk huruf V
Aku mengerutkan alis tak mengerti
"Apa pria dengan tinggi segini, dan.. dan.." Ron menunjuk dengan telapak tangan menandakan pria itu lebih tinggi darinya, wajah adikku itu berubah cemas.
"Kamu kenapa sih!" Aku semakin tak mengerti dengan tingkah aneh Ron, dia terlihat panik.
"Apa kakak tahu namanya?" wajah Ron kian terlihat panik dan cemas, aku hanya terus menatap tingkah anehnya dengan heran.
"Ek... ki.." gumam ku pelan sambil berpikir, aku tak begitu yakin.
Mata Ron melotot besar, badannya seketika kaku, dia menghela nafas panjang dan mengacak ngacak rambutnya, dia bergumam tak jelas, membuat bulu kuduk berdiri.
"Kamu kenapa sih!" aku semakin bingung dengan tingkah aneh adikku itu.
"Apa dia melihat wajah kakak?" pertanyaan terakhir ini, karena matanya yang melotot padaku dan membuat ku takut, aku hanya mengangguk pelan
"AKKKHHHH !!!!"
Teriakan panjang Ron hanya berhenti ketika telapak tangan mama memukul kepalanya kencang, aku tak bisa berpikir ada apa dengan adikku itu, dia terkenal penurut dan pendiam tapi kali ini tingkahnya terlihat seperti orang gila.
Kenapa dengan para pemuda ini.
***
Via, pemeran pertama wanita
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
------------------------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 4: Jurus Andalan
Sudah berapa tahun aku mengenal Eki, aku juga lupa kapan aku berkenalan dengan dia.
Ah, biar aku coba mengingat, ketika itu aku baru saja masuk sebagai mahasiswa baru di kampus dengan waktu yang masih longgar, hari itu aku datang terlalu pagi. Hingga senior kampus memintaku membantu persiapan panitia.
Dan pria sok tampan itu malah terlambat di hari pertama nya. Aku masih ingat jelas wajahnya yang berkeringat dan nafasnya yang tersengal, hari itu aku melihat dia berusaha tersenyum lebar. dari situ aku tahu bahwa senyuman itu adalah jurus andalannya, senyuman yang mengandung racun.
Sayangnya dia tetap dihukum oleh senior pria, di hari pertama dia harus berlari mengelilingi lapangan. Beruntung sekali nasibnya setelah menjalani hukuman beberapa kakak senior perempuan berusaha mencari perhatiannya, mereka berlomba lomba menyodorkan minuman padanya.
"Aish.. aku lelah sekali!" ujarnya mengambil duduk di sebelahku, aku bisa mendengar nafasnya yang tersenggal dan keringat yang membanjir hingga kemejanya basah.
"Kamu mau minum?" dia memberikan ku sebotol minuman segar yang diterima dari entah gadis yang mana
"Nama ku Eki, kamu?" Aku memilih tak menjawab saja, walaupun aku mendengar pertanyaanya, tak kusangka dari sanalah perkenalan kami hingga menjadi pertemanan hingga saat ini
"Hahaahhaa!" dia tiba tiba tertawa geli
"Hei ! lihat ada yang lebih siang dari ku, aku bukan satu-satunya yang terlambat!" serunya sambil menepuk nepuk pundakku, sakit, aku mengikuti arah matanya.
Di depan sana sebuah mobil mewah parkir, pemuda metropolis berjalan santai dengan kacamata hitam dan payungnya, aku melotot tak percaya? apa dia vampire? pikir ku saat itu.
"hahaaa... siap siap hukuman mu tuan!" gumam Eki tertawa kencang, dia terkekeh melihat teman terlambatnya.
Benar saja beberapa senior segera berdiri dan menghampiri pria itu, dia melotot bingung mendapat sambutan yang kurang baik, pemuda itu dipaksa (sepertinya) melepas kacamata dan melipat payungnya, dia pun mendapat sambutan spesial sama seperti Eki tadi.
"Aish.. memangnya ini kampus militer?" kesal Darwin mengambil tempat di samping Eki, nafasnya pun memburu dan bajunya basah karena keringat.
Dengan cepat tangannya mengambil satu botol minuman yang dipegang Eki, dia meminumnya hingga habis
"Nama ku Darwin, kalian?" ujarnya sambil mengulurkan tangan.
"Eki." balas Eki cepat
Keduanya kompak menoleh ke arahku, aku mengerutkan dahi, kenapa mereka harus berkenalan dengan ku di hari pertama ini, mereka bukanlah tipe ideal untuk dijadikan teman.
"siapa namamu?" seru keduanya kompak, dengan wajah meneliti mereka, Aku sedikit menjauhkan badan, ingin rasanya kabur dari hadapan mereka berdua. Dalam pandanganku jelas mereka bukan lah calon mahasiswa teladan, first impression- ku pada mereka juga sudah sangat jelek.
"ah, aku ada urusan.." aku segera berdiri hendak melarikan diri.
"Hei!" teriak Darwin dan tangan Eki yang menarik ujung kemejaku, mencegah aku untuk berdiri.
"kau senior ya?" tanya Eki meneliti, aku segera menggelengkan kepala.
"Bu, bukan! aku mahasiswa baru juga, nama ku Ron.. " Keduanya tertawa kompak mendengar suara bergetar ketakutan.
"Hahaha, mana ada senior nervous begitu!" ledek Darwin menyebalkan.
Berita terburuknya adalah kami mengambil jurusan yang sama. Oh my god banget, masa perkuliahan ku akan didampingi oleh bedebah ini, ah tepatnya satu pria bedebah dan satu lagi pemuja cinta alias bucin, sekalipun mereka tak pernah serius menyelesaikan pendidikan mereka, tapi mereka teman yang tak terlalu buruk- juga
"Ah, liat bemper nya!" teriak Eki dengan sorot matanya menunjuk gadis di depan sana, tatapannya ke arah bokong gadis itu.
Penyakit akut yang diderita temanku sudah masuk level tak terbatas, yang dia bahas selalu saja cerita mesumnya saat mendekati banyak gadis. Dan anehnya lagi, kenapa setiap gadis yang menjadi targetnya selalu mudah luluh karena senyum beracunnya itu, Eki si muka mesum!
"Aahh.. bagus yang merah atau yang pink?" Darwin memperlihatkan layar ponselnya, dia sedang berselancar di toko branded dunia, pria ini dari tadi membuat wajah bingung, rupanya dia sedang menunggu peluncuran tas terbaru untuk kekasihnya.
Kelakuan mereka berdua sungguh berlawanan. Kalau melihat Eki yang selalu menikmati servis gadis-gadisnya dan membuang mereka setelah dia puas, berbeda dengan Darwin yang seribu kali lebih baik, Darwin begitu memuja satu gadis dalam hidupnya. Satu hal yang tak bisa ku duga, bagaimana jika Darwin dan pacarnya itu selesai, end? apa dia akan gila?
Memikirkan mereka berdua memang tak ada habisnya. Aku berharap Eki bisa merubah hobby buruknya, dan Darwin bisa menjalani cinta dengan baik dan tak berlebihan.
"Hei, kenapa kau menarik nafas panjang seperti itu?" suara Eki menghentikan lamunanku.
"Apa nilaimu turun?" lanjut Darwin ikut menyelidiki
Aku menarik nafas panjang sekali lagi
"kalian harusnya lebih sering belajar daripada aku, nilai kalian sungguh luar biasa!" sinis ku, tapi sepertinya tak ada yang akan mendengarkan aku.
"wah, lihat gadis ini, begitu cantik!" seru Eki sambil menatap ponselnya.
"Waah.. dia punya skill dewa, tapi pacarku juga cantik!" balas Darwin masih saja memuja kekasihnya.
Aku penasaran dengan gadis yang mereka bicarakan, aku mencoba mengintip layar ponsel Eki
Duos star
Aku segera merampas ponsel milik Eki dan memblokir akun itu
"Hei kau kenapa!" Hardik Eki kesal di belakang punggung ku, dia mencoba mengambil alih ponselnya di tanganku.
Darwin bingung melihat adegan saling berebut ponsel antara kami.
"Iish, kau kenapa sih, ah.. mana tadi, gadis cantik tadi!" kesal Eki mencari cari akun gadis cantik yang tadi di feed medsosnya, gadis yang sangat aku kenal.
"Nama akunnya apa tadi?" tanya Eki pada Darwin yang masih menautkan alis.
"Aku tidak memperhatikan." balas Darwin datar, Eki berdecak kesal
"Kamu kenapa sih!" kesal Eki padaku, Darwin menatap wajahku lama, dia sepertinya sedang mencari tau ada apa dengan tingkahmu, aku menggeleng cepat seolah tidak ada apa apa
"Apa gadis di media tadi itu gebetan mu?" tanya Darwin dengan wajah polos, Eki segera mengangkat wajahnya dan menatapku dalam
"Serius?" tanya Eki tak percaya
Aku menggeleng pelan
"Ah, apa dia mantan pacarmu?" tanya Darwin lagi dengan sorot mata penuh harap.
Aku menggeleng lagi
"Kalau bukan gebetan apalagi pacar, kenapa kamu begitu tadi! Sialan, aku kehilangan wajah itu kan!" teriak Eki kesal, dia mencoba menscroll layar ponselnya dengan cepat, tapi tak juga menemukan akun tadi.
"ah.. sudahlah, aku akan mencari gadis cantik lainnya!" gumam Eki menyudahi perdebatan kami, aku mengurut dada lega
Tak akan terbayangkan jika Eki bertemu dengan kakakku yang cantik, pasti dia akan menjadikan kakakku salah satu target buruannya
Daripada Eki, Darwin mungkin lebih baik. Ah, tidak, tidak! keduanya bukanlah pria yang wajar, kakak harus mendapatkan pemuda yang.. seperti diri ku ! ya, diantara kami bertiga hanya aku yang lebih baik, begitulah pikir ku hari itu
Kami berteman, dekat, aku pernah bermalam di rumah Eki ataupun rumah mewah Darwin. Tapi aku merahasiakan keluarga dan rumahku
Aku mengaku sebagai anak kosan yang hidup serba sederhana, aku tak mau kedua pemuda aneh ini mengetahui harta keluarga ku, yaitu kakak ku tercinta yang sangat cantik!
***
Sister complex / brother complex : perasaan berlebihan pada saudara kandung yang diderita oleh Ron.
Ron, tokoh Pria kedua, sangat konservatif, cerdas, dan berpendirian teguh.
Adik dari Via.
Sahabat Eki dan Darwin.
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 5: Si Budak Cinta
POV DARWIN
"bro aku duluan ya.." sambil mengemasi barang-barang aku segera mengemas meninggalkan kedua sahabat yang seperti biasa, mereka akan meraut wajah heran dan sedikit kesal menatap kepergian ku.
Maaf sekali, karena aku sering meninggalkan mereka. Aku selalu melangkah lebih dulu dikarenakan my baby sweetheart akan selalu menanti kedatangan ku. Menghabiskan waktu dengan kedua sohib ku itu memang menyenangkan tapi menghabiskan waktu dengan kekasihku jauh lebih membuat senang.
Kedua sahabatku itu menyebut jalinan cinta kami terlalu berlebihan, mereka juga mencap bahwa aku ini budak cinta, hey! ayolah.. mereka belum pernah memiliki wanita yang bisa menaklukkan tubuh mereka, mereka belum pernah bertemu wanita yang membuat dada bergetar hebat, perasaan mendalam saat melihat bibir mungilnya tersenyum. lihat lah bagaimana Eki yang berganti pasangan setiap hari karena sulit mendapatkan sosok yang pas, aku kasihan padanya.
Lalu Ron? ah dia apalagi, dia hanya mencintai buku buku dan tugas kuliah saja, mungkin dia akan menjadi profesor gundul yang menua dalam kesendirian, membayangkan itu semua membuat ku merinding, aku pikir aku jauuuh lebih baik dari mereka.
"Yank lama sih, aku terlambat tau!" my baby dengan wajah merengut menyambut buruk kedatangan ku, suaranya manja dengan mimik wajah menggemaskan, aku bukannya kesal mendengar rengekannya tapi ingin mencubit pipinya yang menggembung. aku hanya memasang senyuman lebar dan mencubit lembut di kulit pipinya yang halus
"sorry beb, maaf ya sayang, aku telat. Kita jadi ke store favorit kamu?" Pacar cantik yang membuat aku ingin melumat bibir monyong itu tak menjawab, dia segera membanting pintu mobil dan melipat tangan di dada, melirik ke arah ku sekilas dengan tatapan tajam. Kamu tampak sangat lucu dan menggemaskan dimataku.
Tapi kadang aku sedikit frustasi menghadapi jiwa manja wanita, tapi mau bagaimana lagi, bagiku Ruth adalah yang terbaik di sisi ku, kami sudah lama menjalin hubungan. Belum tentu aku bisa melewati banyak cerita jika dengan gadis lainnya, aku terlalu nyaman duduk di sisinya, menyetir mobil mengikuti kemauannya
"sayang, hauuus.." ujarnya dengan nada manja
"Aku mau minuman segar, beliin ya sayang" permintaannya membuat ku harus beberapa kali menatap wajah cantik nya, dia mengangguk pelan meminta aku segera mengabulkan permintaannya, aku tertawa kecil, mendaratkan bibir sekilas di pipinya lalu segera turun dan masuk ke swalayan.
Aku tahu betul gadis ku menyukai minuman segar dengan rasa buah buahan, aku mengambil beberapa dan seperti biasa beberapa merk coklat kesukaannya, dia pasti senang, pikirku.
Saat aku menuju kasir seorang gadis tak sengaja menabrak bahu ku, kami saling melempar senyum kecil dan mengangguk seolah saling memahami jika itu salah kami berdua, dia segera berlalu dan aku melanjutkan transaksi di kasir.
Mata ku tiba tiba menyorot kumpulan koleksi mainan laki laki yang bergantung di rak tak jauh dari meja kasir.
"kak, ada koleksi baru?" si pelayan mengangguk pelan mendengar pertanyaanku, dia mengiyakan pertanyaan ku, dengan bergegas aku keluar barisan dan meneliti mainan kecil yang digemari banyak pria ini, aku mencoba meneliti yang mana yang rare kali ini. Koleksi hotwheel adalah kebiasaan buruk ku yang tak disukai Ruth.
Setelah cukup lama memilih, akhirnya aku mendapatkan satu yang terbaik hari ini. Dengan senyuman senang aku kembali ke meja kasir, membayar pilihan ku dan beberapa botol minuman. Ah sepertinya aku harus segera kembali ke mobil, Ruth sudah menunggu cukup lama.
"Yank!" dengan nada tinggi kehadiran Ruth di pintu swalayan mengejutkan ku.
Suaranya yang jelas emosi mencuri perhatian pengunjung swalayan, aku tersenyum ragu dan segera menenangkan emosi nya.
"Ah, maaf ya sayang, aku lama." ujar ku sadar diri dan menahan sedikit rasa malu karena kami menjadi pusat perhatian.
Ruth bersedekap, dia meraut wajah kesal, tubuhnya membalikkan arah tak mau menghadap ke arah ku, aku berusaha membujuk sebaik mungkin agar dia berhenti membuat wajah sinis itu, aku masih terus mengukir senyum dan meminta maaf padanya.
"aku haus tau.." ujarnya kemudian setelah kesalnya reda
Aku menyodorkan minuman segar, tak lupa aku harus membuka tutupnya terlebih dahulu, tak mungkin kulit wanita ku bisa tergores bila harus memutar segel tutup botol.
Ruth meneguk dengan cepat, sepertinya dia memang sedang kehausan
"yaudah yuu, nanti barangnya habis." ujar Ruth kemudian, sambil melingkarkan tangannya di lengan ku, kami sudah berbaikan, dia bisa tersenyum dan kami saling menatap wajah bergantian. Kami meninggalkan sorot mata pengunjung yang menatap ke arah kami dengan sorot mata aneh.
Ruth dan aku berbeda kampus, itulah mengapa aku harus gerak cepat supaya bisa mengantar dan menjemputnya, kampus kami arahnya berlawanan.
Aku dan Ruth sudah berpacaran sejak di bangku menengah atas, perkenalan dua remaja yang saling malu malu, hingga merasakan degup jantung ciuman pertama
Ruth membuat ku melepas egois tinggi, aku adalah anak semata wayang di keluarga Darmono, orang tua ku lumayan sibuk hingga aku menjelma menjadi anak yang introvert
Awal pertemuan kami adalah saat aku masuk menjadi siswa SMA pertama kalinya, hari itu aku masih sangat culun dan kaku, tapi Ruth yang merupakan senior sangat ramah dan memperlakukanku dengan baik, itulah mengapa aku menyukainya
flashback..
"hallo, panggil aku Ruth, mulai hari ini mari berteman.."
Dia selalu datang padaku saat jam istirahat atau kelas sedang tak ada guru, sekedar mengajak ngobrol dengan topik ringan hingga membahas film film baru, semuanya menjadi menyenangkan jika bersama dengannya
Awalnya aku tak begitu merasakan keistimewaan diantara kami, hingga suatu hari..
"Darwin, ayo kita berenang." ajak Ruth dengan wajah riangnya
Aku tak begitu menyukai wisata air yang ramai, jika ingin berenang kolam di rumahku cukup luas untuk dinikmati
"di rumahmu ada kolam?" tanya Ruth dengan wajah terkejutnya, aku mengangguk mengiyakan
"waaah.." ujar Ruth dengan wajah takjub
"Apa aku boleh berenang di rumahmu?" tanya nya mengejutkan ku kali ini, aku mengangguk ragu. Masalahnya hanya teman pria saja yang pernah berenang bersama dengan ku, bahkan mama pun jarang sekali ku lihat berenang, apalagi dengan ku.
Hari minggu di pagi hari, Ruth datang dengan jaket dan celana hot pant nya. Untunglah weekend ini orang tua ku masih sibuk dengan urusan mereka, aku mengurut dada, setidaknya hanya aku yang menghadapi Ruth dengan degup jantung tak menentu ini.
gadis itu meletakkan barang bawaan di kursi kayu panjang tempat dimana aku biasa bersantai di bawah terik matahari, gadis itu melepas ikatan rambutnya, menggerai jatuh ke punggungnya.
Tangannya perlahan menarik resleting jaket dan melepaskan jaketnya, dia mengenakan tanktop warna putih yang begitu ketat hingga lekuk tubuhnya kian jelas terlihat
HUF !
Aku berusaha menahan nafas dan segera membuang pandangan, ya ampun, apa itu? gadis itu terlihat begitu menggoda, sesuatu nyaris saja mengacung penuh di celana renang ketat ku, tahan.. tahan..
Ruth melangkah mendekati ku, dia tersenyum menatap wajah merah ku, kedua telapak tangannya mendarat di bahuku yang bergetar gugup, dada ku terasa sesak dan terus saja berayun tak menentu, aku tak berani mengangkat pandangan, aku tak berani melihat wajah cantik yang sejajar dengan ku
Ruth mendekatkan wajahnya, hingga memakan jarak diantara kami, bibirnya perlahan menumpuk bibir ku
SET !
dadaku sungguh sesak, rasanya terjadi letupan di dalam sini, perasaan apa ini. Tingkah Ruth seperti membangunkan macan yang tertidur, aku menikmati sentuhan lembutnya, merasakan kenyal bibir mungilnya
Kedua tangannya turun dari bahu hingga menemukan telapak tangan kami, dia menggenggam erat dan aku membalasnya, aku mengikuti tubuhnya yang kian miring hingga kami berdua tercebur dalam kolam
dinginnya air kolam membuat tubuhku semakin enggan menyelesaikan tingkah awal Ruth, dia yang membangkitkan gelora jantan ku yang masih muda, yang sedang bergejolak
Aku menarik tubuhnya, kami menautkan lagi bibir dan tenggelam dalam dinginnya air, itulah awal aku bisa begitu menurut akan keinginan wanita ku. Jika dia memberikan semua keinginan ku, maka aku pun begitu.
Dia memuaskan aku, dan aku akan memuaskanmu, sayang.
Itulah tokoh keempat di cerita ini, Darwin, pria blasteran dengan privilage dari keluarga konglomerat, tapi sangat lemah pada wanitanya.
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
----------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 6: Pertemuan Pertama
Sebelum kita membahas cerita dari sisi si playboy cap kuda Lias Eki dan sisi kutu buku si Ron, mari kita selesaikan kisah bucin Darwin pada Ruth, yang bucinnya sampai geleng-geleng kepala.
**
Berawal ketika Darwin menjadi siswa sekolah menengah atas, seorang siswa baru datang terlambat, dia menuruni mobil mewah yang dikemudikan sopir dengan pakaian safari khas berwarna coklat, bapak itu membukakan pintu dengan sangat sopan dan meminta si remaja pemilik mobil mewah itu untuk bergabung bersama barisan yang kompak menoleh ke arah mereka, kedatangannya menjadi pusat perhatian, pertama dia terlambat dan kedua dia diantar supir dengan mobil mewah.
Dia adalah Darwin Darmono, anak seorang pejabat teras negeri ini, wajahnya manis dengan darah campuran dan senyuman ragu-ragu itu, dia sedikit pemalu tapi senyuman itu cukup bisa memikat perhatian lawan jenisnya, tapi senyuman itu tak terlalu mengandung banyak magic, buktinya meski dia sudah tersenyum tapi karena terlambat dia tetap mendapatkan hukuman dari pembina yang sudah ditunjuk untuk acara penyambutan murid baru SMA favorit ini.
Ruth lah gadis pertama yang mengulurkan tangan padanya, sementara yang lain hanya berani mencuri lirik ke arah nya, Darwin sudah terbiasa dengan lirikan itu, daripada lirikan takjub mereka lebih ke segan untuk menyapa kehadirannya, makanya Darwin tak ingin terlalu sok hangat, dia tak mau memiliki teman sampah seperti di masa sekolah junior nya, dia hanya ingin menjadi remaja biasa saja saat ini, dia muak dengan pertemanan palsu.
Tapi uluran tangan Ruth dan senyuman ramah gadis cantik itu membuat Darwin harus membalasnya, dia tak tega mengabaikan gadis cantik yang hangat, lihatlah seorang gadis yang memiliki lekuk tubuh yang indah dengan rambut ekor kuda, cahaya terik matahari terlalu panas untuk kulit lembutnya yang tampak lembab dan mulus, sebutir keringat menelusuri rahang halusnya hingga menetes di ujung dagu lancip milik Ratih, sungguh komposisi yang sempurna, dia seperti gambaran Dewi-Dewi di drama mandarin kuno.
Darwin mendongakkan kepala memperhatikan raut wajah Ruth karena lelah setelah menerima hukuman fisik, dia masih membungkukkan badan dengan dua tangan bertengger di dengkul, dan Ruth yang masih tersenyum hangat, gadis itu kini berjongkok ke arah dirinya, shit! Ruth ada di bawah kepalanya saat ini.
Darwin mengalihkan pandangan, posisi gadis ini menggoda jiwanya, bagaimana mungkin kau berjongkok di hadapan seorang pemuda dengan posisi seperti ini, batin Darwin berontak.
Ruth menumpukan kedua telapak tangannya pada lutut, dia mengulurkan segelas air mineral pada Darwin dan segera diraih dengan cepat.
Cepatlah pergi dari hadapan ku! ujar batin Darwin yang terus memberontak, dia masih mengatur nafas kelelahan karena hukuman sit up dari pembina murid baru.
Dia haus dan penampakan di bawah kepalanya adalah aset Ruth yang bulat membuat tenggorokannya semakin kering, segelas air mineral tak cukup melonggarkan jalur nafasnya.
"hahaa.. kamu kelelahan ya, pembina memang keras," ujar Ruth seperti berbisik, matanya mengedip genit, Darwin menahan senyuman sinisnya, bukan! Bukan hukuman dari pembina tapi gaya imut Ruth yang mengganggu perasaannya saat ini, kedua gunung kembar yang menyembul dari sekat baju kemeja putih tipis yang menjiplak jelas tepat dihadapan Darwin, walaupun pemuda itu mencoba membuang pandangan tetap saja itu mencuri matanya, sesekali dia tak bisa menghindari dan mencuri lirik ke aset itu.
kenapa gadis ini harus melepas kancing kedua kemejanya, kemana peraturan sekolah? batin Darwin tak habis pikir, bukan hanya gerah karena olahraga diadakannya, kini jagoan di bawah perutnya juga harus ikut menahan panas juga, olahraga menahan gairah remaja yang menggebu-gebu.
"Hari ini panas sekali ya?" ucap Ruth mengangkat tubuhnya, kini dia berjongkok di hadapan Darwin, jarinya mencubit pangkal kerah dan menggoyang goyangkan pelan, Darwin menelan sisa tegukan air mineralnya dengan perlahan, dia tak ingin terus menatap lekukkan tubuh atas Ruth yang mengintip, tapi apa yang gadis ini lakukan? sekarang collar bone nya yang kena kibasan kerah kemeja jelas sangat menggoda, kulit mulus yang basah oleh keringat.
Seseorang berteriak memanggil Ruth hingga dia beranjak dari posisinya
"ah, kamu istirahat saja dulu, tidak apa apa, aku akan memberikan alasan menarik pada pembina, aku harus pergi karena ada beberapa tugas untuk senior." ujarnya mendaratkan telapak tangan pada paha Darwin, sontak mata Darwin melotot tak percaya, c'mon itu kulit paha yang sensitif untuk pria, kenapa Ruth menyentuh tanpa ragu, Darwin sedikit melonjak menyadari elusan lembut telapak tangan Ruth, dia menahan nafas sejenak, Ruth mengganggu kestabilan pikiran Darwin.
Ruth beranjak dan meninggalkan Darwin yang masih bengong menatap punggung Ruth yang menjauh. Dia meluruskan kaki, mencoba melemaskan sendi-sendi yang tegang.
Dia bersyukur Ruth sudah meninggalkannya dan dia bisa mengistirahatkan diri, tapi dia tak yakin bisa meredakan panas yang membakar pikirannya tentang fisik Ruth yang aduhai.
Darwin menahan debaran jantungnya dan dia yakin kalau Ruth sudah mengambil hatinya. Ruth memiliki pesona luar biasa bagi Darwin yang tak pernah dia temukan pada gadis lain, dan gadis dominan memang cocok untuk Darwin yang pasif.
Seseorang mendekati Darwin dan pria itu mencoba bersikap tenang. Orang itu menatap Darwin sejenak lalu menoleh ke arah kepergian Ruth, dengan mengerutkan dahi dia bertanya pada Darwin. "Apakah kamu mengenal senior Ruth?" Ujarnya menyita perhatian Darwin.
"Ah, kamu siswa baru, aku juga siswa baru di sekolah ini. Jadi, apakah kamu sudah lama kenal dengan sendiri Ruth?"
Darwin menggelengkan kepala menjawab pertanyaan siswa yang mengaku sebagai murid baru ini, dia bukan lah pemuda ramah dan menyukai obrolan dengan orang baru, jadi dia hanya akan menjawab seadanya saja. Lagipula, dia tidak suka dengan tatapan siswa baru ini pada Ruth, itu membuatnya cemburu, padahal dia baru saja bertemu dengan Ruth.
Siswa baru itu membuat mimik wajah unik sambil manggut-manggut kecil. "kalian terlihat akrab. Aku pikir kalian sudah lama saling mengenal. Dia sangat cantik dan populer, dan dia juga ramah. Aku yakin dia pasti baik pada siapapun."
Darwin tak menyangkal pernyataan siswa baru ini, tapi dia tidak tertarik dengan obrolan lebih, dia meluruskan punggung dan meninggalkan anak baru itu.
"Kamu mau kemana?" Anak baru itu heran melihat Darwin yang bersiap meninggalkan posisinya.
Darwin tersenyum tipis hanya sedetik saja. "Aku lapar." Jawab Darwin singkat, dia tak mendengar lagi ucapan siswa yang mencoba akrab dengannya, Darwin dengan cuek meninggalkan calon teman yang tidak dia sukai itu, dia tak tertarik berteman dengan siapapun di sekolah ini tapi, dia membalikkan badan dan melihat Ruth yang berada jauh di depan sana, dia tersenyum. Ruth adalah pengecualian.
Itu adalah hari dimana Darwin memulai hubungan akrab nya dengan Ruth, dia yakin jika cinta pada pandangan pertama itu nyata dan dia yakin jika cinta pertama akan berhasil, dia selalu mencoba melakukan yang terbaik untuk Ruth karena dia tahu kalau yang menyukai Ruth itu banyak jadi dia harus bekerja keras, itulah prinsip Darwin.
Ruth adalah tipe gadis yang agresif, selain populer, gadis itu juga memiliki otak yang cerdas, itulah mengapa hubungan mereka semakin dekat, antara keduanya membutuhkan timbal balik
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
----------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 7: Kenikmatan Pertama
POV Darwin melanjutkan adegan kemarin.
di dalam rumah Darwin yang mewah, kediaman Darmono yang sepi.
"Kenapa rumahmu sepi sekali?" Ruth meraih sebotol minuman kaleng dari kulkas dan mendaratkan diri di bar kecil dapur rumah ku, aku ikut mendaratkan kursi di sebelah Ruth, dia terlihat nyaman dan itu membuat aku ikut merasa nyaman. Ruth gadis yang pandai beradaptasi itulah mengapa aku selalu merasa nyaman di dekatnya.
Setelah menikmati minuman dan camilan, kami memutar mutar posisi duduk hanya untuk melepaskan kecanggungan, kursi bar sangat asik untuk dimainkan.
"Aku tidak melihat orangtuamu." Matanya yang indah menatap seisi ruangan yang terasa kosong, hanya ada kami berdua, orang tuaku tak percaya pada pelayan yang stay di rumah, Mereka membayar pelayan lepas atau menghubungi nomor penyedia jasa per jam.
Ah, aku kurang suka membahas orang tuaku tapi Ruth yang bertanya dan aku akan menjawab.
"Orang tuaku sangat sibuk." Jawabku singkat dan aku yakin dia bisa melihat ekspresi wajahku yang berubah murung.
Ratih menyeruput minumannya lagi, membiarkan kaleng menutup setengah wajahnya, dia sangat cantik seperti artis iklan minuman kaleng di tv, aku mendengar suaranya renyah dan hangat dan dia bertanya tanpa menurunkan minumannya.
"Apakah kamu sering merasa kesepian karena sendirian di rumah?"
Aku tak bisa menyangkal pertanyaan Ruth. Tentu saja aku kesepian dan aku sangat senang dia disini bersama denganku, rumah ini jadi sedikit hidup.
"Ya. Aku anak tunggal tinggal di rumah dengan lahan hampir mencapai 3 hektar, aku menghabiskan waktu di lantai atas, bermain game online, latihan fisik atau sekedar mencoba lap mini golf disana. Tapi semua itu tidak begitu menyenangkan kalau dikerjakan sendirian." Aku tersenyum tipis sambil membalas tatapannya yang terasa dalam hingga membuat hatiku bergetar.
Dia terdiam tak langsung merespon ucapanku dan itu membuat aku kikuk, apakah perkataan ku terlalu jujur dan membosankan, aku takut dia tak nyaman. Aku harus memiliki topik obrolan lain pikirku.
Pakain Ruth basah karena dia tak langsung mengganti pakaiannya, tetesan air di lantai mencuri perhatianku, apalagi kakinya yang berayun di bawah kursi, kaki jenjang mulus itu membuat aku tak sadar menelan ludah.
"Eh, apakah kamu tidak ingin mengganti pakaian, kan dingin." Ujarku menatap kimono handuk Ruth yang mulai basah karena dipakai melapisi pakaian basahnya.
Dia masih dengan kimono handuk sementara aku sudah berganti pakain dan pilihanku adalah kaos dan celana training casual.
Ruth menggendikka. Pundaknya pelan. "Dingin sih." Katanya dengan mimik wajah menggemaskan. "Ah tapi." Ucapannya terdengar ragu dan aku memasang perhatian ekstra.
"Tapi, aku lupa membawa salin. Aku pikir aku sudah membawa semuanya tapi sepertinya pakaianku tertinggal di rumah." Ah, aku baru mengerti mengapa dia tak mengganti pakaiannya sejak tadi, aku menyesal karena tak begitu mengerti dengan gelagat Ruth.
Aku bisa melihat pipinya menggembung yang putih mulus seperti mochi sedikit merona merah, dia menatap ke arahku dengan sorot mata dalam. "Aku pasti tampak konyol dan ceroboh." Ujarnya malu. Tapi tingkahnya yang menggemaskan malah membuat aku tertawa dan itu membuat dia cemberut.
"Ah, kamu pasti mengejek aku." Suaranya merengek sangat membuai telingaku.
Aku turun dari kursi dan mengambil tangannya, dia memberontak karena masih kesal aku menertawainya, dia melipat tangan di dada lalu memutar kursi, memberikan aku punggungnya.
Aku sangat terhibur dengan tingkahnya. "Kamu bisa pakai bajuku. Aku memiliki beberapa pakaian yang bisa kamu pakai. Ayo ikut denganku." Ujarku menawarkan solusi dan mengajak Ruth untuk meninggalkan bar, kamu menaiki anak tangga menuju ke kamarku.
Sebelumnya tak ada yang mengganggu pikiran ku, aku sepertinya lupa jika Ruth tak sama dengan teman lelaki ku jaman SMP, dia melangkahkan kaki ragu ragu mengikuti ku yang lebih dulu memasuki kamar, matanya menyapu ruangan.
"Ah, sorry, kamar anak laki-laki selalu berantakan." Ujarku sambil menjulurkan lidah, dia menatap ke sekeliling lalu berhenti di wajahku.
"Segera dirapikan!" ujarku seraya cepat meraih baju yang berserakan di atas ranjang, aku juga berusaha mengambil banyak buku bertebaran di lantai dan Ruth masih setia menunggu aku yang membereskan semua hal disini, setelah selesai aku melemparkan senyuman kecil ke arah Ruth, dia membalas perlahan mengembangkan bibir mungilnya, ah bibir yang kunikmati di kolam tadi.
"Kamu sepertinya tak pernah merapikan kamarmu." Apakah itu ejekan? Aku menoleh, melihat hasil pekerjaanku, semua barang aku tumpuk di sudut ruangan, sepertinya itu bukanlah pekerjaan yang bagus.
Ketika aku ingin mengulangi pekerjaanku, Ruth mengambil lenganku. "Sudahlah, kamu bisa menyuruh pelayanmu." Katanya dan aku setuju.
"Pelayan akan datang sore hari." Kataku.
Wajahnya tampak tenang lalu dia tersenyum tipis, dia melepaskan tanganku, suaranya terdengar pelan saat dia mengatakan. "Jadi hanya ada kita berdua?"
Aku tak perlu berpikir untuk mengiyakan.
Jika sedang berdua seperti ini yang ketiga adalah setan, begitu kata orang kolot zaman dahulu, dan sepertinya itu masih terus berlaku. Gadis di depan ku itu melangkah pelan menangkap tubuhku, kamu memang berdiri sangat dekat dan karena tinggi kami yang sejajar membuat badan yang menempel tepat sasaran, gunungnya bertemu dadaku, dan aku merasakan itu di bawah sana, adik kecilku langsung merespon, aku mendesis kesil dengan wajah panas. sesuatu bergejolak dalam diriku, tak tahan lagi, tak bisa ditahan lagi.
Pertama kali dalam hidup ku, dan pertama kali juga untuk dia, saat itu aku masih kelas satu sekolah menengah atas, dan Ruth dua tahun di atasku, dia adalah seniorku di sekolah, mungkin itulah kenapa tingkah nya lebih pengalaman dari ku, tubuh ku seolah dituntun perlahan oleh tangannya, perlahan namun pasti.
Tangannya meminta telapak ku untuk menyusup di balik kimono handuk yang dia kenakan, menelusuri kulit halus hingga menyentuh dua buah bentuk kenyal di dadanya, gadis itu melenguh di telinga ku membuat dada ku berdebar hebat, aku hanya bisa menggigit bibir saat telapak nya ikut menelusuri lekuk tubuhku dan mengelus pelan juniorku yang sudah siaga meski masih beralas pakaian lengkap, aku sudah diambang batas.
Ruth tersenyum malu malu menanti adegan selanjutnya dengan wajah menggoda dan penuh gairah, tangannya meraih leher kaos ku dan menarik paksa hingga kami terjatuh saling menimpa di atas ranjang ku. Oh my God! lalu apa yang harus aku lakukan. ayolah Darwin berpikir cepat, berpikirlah! bukankah banyak video yang sering aku tonton! ayolah.
Tanganku terangkat gemetar. mataku terpejam antara takut, ragu tapi sangat penasaran. Sepertinya Ruth paham itu. diantara bibir kami yang berebut hebat, tangannya meraih telapakku, menuntun ke arah pribadi miliknya. Basah, hangat dan menggetarkan. Dadaku bergemuruh hebat, seakan sedang menikmati wahana histeria dengan ketinggian langit. Rasanya tak terkira. Tak perlu ku jelaskan, kalian mungkin sudah tahu rasanya. Rasa yang sungguh tak bisa ku ceritakan detail. Nikmat!
Kenikmatan pertama kali yang tak bisa aku lupakan. Suaranya, desahannya dan noda di sprei ku.
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
----------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 8: Persahabatan Para Gadis
Ruth menarik kursi dan merebahkan dirinya dengan anggun, dia melipat kaki jenjangnya, jari jemari lentiknya siap memanggil pelayan dengan menawan
"Mas.." panggilnya dengan suara lembut pada pelayan cafe, pria rapi itu segera menyodorkan menu resto ke arah Rauth yang cantik yang sempat membuatnya terkesima.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Ruth pada sahabatnya yang sibuk membaca novel di depan wajahnya, gadis itu mengibaskan tangannya menolak tawaran Ruth.
"ah, strawberry milkshake sama french fries, o, ya es campur komplit untuk teman cupu ku ini yah!" ujar Ruth dengan raut wajah sok anggun, telunjuknya menunjuk Via yang tak peduli dengan lelucon ejekan dari mulut Ruth.
"Hey, ayolah kenapa kamu memakai kacamata tebal ini, kemana kontak lens mu?" Ruth membuat raut wajah jengkel, dia menatap sinis penampilan Via hari ini.
Temannya itu tampak cupu- seperti biasa, menggulung rambut panjangnya seperti bola di atas kepala, kacamata bacanya yang tak punya model dan kulit wajahnya yang polos tanpa sapuan makeup sangat pucat.
"kamu pikir kenapa aku mengajarimu berdandan, hah!" Ruth merasa perjuangannya selama ini sia sia, Via memasang senyuman kecil tak peduli dengan ucapan Ruth.
"Selesai!" ujarnya sambil menaruh ponsel, tersenyum, bersiap menyambut pesanan minuman yang datang, gadis culun itu segera menyeruput minumannya cepat,
Rauth bergidik ngeri.
"Gak tau ah! cepat habiskan minuman, kita akan shooting tutorial makeup hari ini!" ujar Ruth mulai mempersiapkan konsep video vlog mereka kali ini.
Wajah Via tak bersemangat sangat beda dengan wajah Ruth. "Kamu darimana saja, aku sudah hampir satu jam menunggu mu!" protes Via tanpa mengalihkan pandangan dari gelasnya yang sudah siap di sendok hingga ke dasar.
"Biasalah!" jawab Ruth malas, mata Via mendapati tas branded baru di meja, ah gadis ini selalu saja, dia berdecak melihat koleksi baru Ruth.
"kau membeli tas baru lagi?" selidik Via dengan wajah menghukum.
"mm yaa" balas Ruth datar.
"kau selalu saja begini, jangan menghabiskan uang pacar bodohmu itu!" ujar Via mengingat kan.
"Loh kenapa, bukankah itulah fungsinya punya pacar!" ketus Ruth tak mau kalah, Via membuat senyuman sinis mendengar jawaban familiar Ruth.
"Kamu mendapatkan barang berharga dengan tubuh mu, cih.. kamu tampak murahan tau." sinis Via kesal
"Kalimat mu itu sungguh membuat ku tersinggung." timpal Ruth berpura pura kesal, dia memasang wajah cemberut manja.
Ruth dan Via sudah lama berteman, tapi mereka sempat lost contact selama beberapa tahun, mereka bertemu lagi saat memasuki kampus yang sama, keduanya langsung akrab seperti sebelumnya.
"Kau selalu saja membaca novel online, apa serunya sih!" Ruth melirik buku novel di atas meja dan ponsel Via yang menyala di bawah telapak tangan Via.
"Aku suka menulis dan membaca itu adalah hobiku, memangnya kamu yang suka melakukan hal mesum!" hardik Via jujur apa adanya
"ish, aku bukan mesum tau!" balas Ruth protes
"lalu apa, kau bahkan menggoda mahasiswa baru di kampus." gumam Via tak suka, Rith tertawa kecil mendengar omelan sahabatnya itu.
"Aku hanya iseng saja, anak kecil tuh cuma bikin cape tau!" suara Ruth terdengar sangat ringan membuat Via menggelengkan kepala tak mengerti.
Ruth dengan mudahnya menggoda lelaki dengan bahasa tubuhnya yang seksi, dia juga berani menggunakan pakaian yang ketat dan terbuka menambah nilai sempurna untuk tampilan wajahnya yang ayu dan menantang.
"Ah ada yang mau ku ceritakan pada mu." Via mengingat kejadian yang dia lihat kemarin, Ruth memasang wajah serius
"Di kosan ku, ada pria yang berani berbuat mesum dengan penghuni baru!" ujar Via berbisik tapi dengan nada tegas, dia masih kesal jika mengingat kejadian di lantai bawah kosan rumahnya.
"mereka sengaja masuk ke kamar saat hujan deras, mereka pikir pengawasan kamar kos akan longgar, mereka salah jika berpikir seperti itu!" lanjut Via berapi api, Ruth mengernyitkan dahi tak setuju.
"Kamu terlalu kuno tau, biar saja sih, mereka kan masih muda, biarkan mereka bersenang senang." ujar Ruth malah membela pasangan mesum itu, Via membuat wajah sinis.
"Kamu harusnya bertemu dengan si mesum itu, tak terbayangkan olehku kalau kalian akan jadi pemain porno terbaik sepanjang abad!" gerutu Via kesal karena ceritanya tak disambut baik oleh Ruth, dia sepertinya salah memilih teman curhat kali ini.
"Ide bagus, apa dia tampan?" tanya Ruth malah meladeni sarkasme Via.
Via berpikir sejenak, mengingat wajah pria mesum tempo hari, ah dia masih ingat wajah pria yang memamerkan senyuman itu.
"lumayanlah." jawab Via singkat
"Wooo.. apa dia terlihat kuat?" tanya Ruth lagi dibalas decakan marah Shinta
"kamu gila ya, kamu kan punya pacar?" ketus Via, Ruth tertawa saja
"Ah.. empat tahun dengan pria yang sama itu terasa monoton Sayang, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk meninggalkannya." Via terbelalak tak percaya dengan kalimat santai Ruth.
"kamu sudah gila ya, kalian sudah lebih empat tahun dan kamu bilang akan meninggalkannya dengan wajah santai seperti itu!" Via sungguh tak percaya dengan wajah cantik Ruth yang kejam itu.
"Kamu bahkan membuat dia mengeluarkan puluhan juta untuk sebuah tas!" telunjuk Vua mengarah ke tas baru milik Ruth, gadis itu ikut memperhatikan tas barunya yang masih jelas mengeluarkan aroma toko.
"Aku pikirkan sekali lagi, karena dia anak orang kaya, tapi dia sangat payah saat di atas ranjang!" seru Ruth enteng, kalimatnya membuat beberapa orang menoleh dan memberi tatapan aneh ke arah mereka.
"ups.." Ruth menyadari suaranya tadi terlalu jelas hingga bisa ditangkap oleh yang lainnya.
"kau sungguh sudah gila!" Via hanya menggeleng tak mengerti sambil menghabiskan suapan es terakhirnya
"Ah sudah selesai, ayo kita bersiap shoot!" ujar Ratih mengeluarkan tripod dan kamera mirrorless miliknya, dia meminta pelayan menyingkirkan makanan.
"Ah, sebentar, aku belum selesai." via protes tapi percuma.
Mereka berdua mulai sibuk mengatur peralatan makeup sedemikian rupa di atas meja, Ruth dan Via bersiap masuk frame dan memulai aksi mengagumkan jari jari mereka memulas makeup, Ruth memang pro tapi Via juga tidak buruk, Ruth mengajarinya dengan baik.
Tak memerlukan banyak waktu, kini wajah polos Via sudah full makeup dan cantik paripurna, kedua gadis itu bertingkah centil dan mengeluarkan suara renyah di depan kamera, mereka adalah beauty vlogger yang lumayan dikenal luas.
Jika Ruth terkenal dengan image penuh pesona dan menggoda, maka Via lebih terlihat seperti gadis polos yang mengalami transisi yang luar biasa, mereka sudah menguasai beberapa pasar online
"Oke sip, sepertinya cukup untuk hari ini, selanjutnya kita akan bikin versi masing masing." jelas Ruth sambil merapikan lagi peralatan makeup dan kameranya
"oya kudengar pacarmu menawarkan asisten dan crew untuk project kita." ujar Via sok tahu karena sempat mengintip isi pesan sahabatnya itu, mereka berdua saja yang mengerjakan semua ini lumayan terasa berat bagi Via, belum lagi hobi baca dan belajar yang tak mau dia tinggalkan, berbeda dengan Ruth yang santai dan bersenang-senang jadi masih memiliki banyak waktu luang, untung saja Ron- adik Via, selalu sigap membantu untuk proses editing yang sungguh menguras banyak energi.
"Aku tidak masalah jika pacar ku ikut campur dalam hal apapun, tapi aku tak mau kamu dan pacar ku terlibat urusan bersama." ujar Ruth menjelaskan kenapa dia menolak tawaran baik kekasihnya, padahal Via sudah berharap banyak
"Aku tidak ingin Darwin tahu sisi diriku yang apa adanya, cukup kamj saja yang tahu siapa aku sebenarnya." lanjut Ruth melempar senyuman getir, Via membuat wajah cerah, dia memeluk sebentar tubuh sahabatnya
"kamu bisa kapan pun bercerita dengan ku, aku senang menjadi sahabatmu sayang." bisik Via menguatkan pelukan mereka.
"kalau begitu kenalkan aku dengan si penyusup di kosan dong!" goda Ruth merubah suasana hangat mereka. Via memukul kepala Ruth.
"kamu rendah sekali sih!" gerutu Vua kesal dan tertawa.
"aku hanya agresif dan cepat bosan!" seru Ruth ikut tertawa
Memangnya hanya pria saja yang bisa memainkan perasaan wanita, hey, ada banyak wanita yang jauh lebih berbahaya bahkan dari racun ular berbisa. Dengan perlahan membuat pasangannya bertekuk lutut dan tak berdaya, itulah Ruth.
"Jadi, kabari aku tentang penyusup mesum tampan itu ya!" Via mencibir rengekan Ruth.
**
tinggalkan review dan dukungan kalian agar otor lebih semangat
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
----------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 9: Wanita Kesayangan
Ron menatap bayangan wajah kakak perempuannya dari cermin dari kursi kemudi mobil. Di kursi penumpang Via sedang sibuk membersihkan wajahnya dengan kapas, dia membersihkan kulit wajahnya dari make up yang membingkai wajahnya, dia sangat cantik bahkan ketika makeup itu separuh terhapus dari wajahnya.
Penampilan yang nyaman bagi Via adalah santai dan cuek, dia mengikat rambut dengan bentuk donat di atas kepala lalu kembali mengambil kacamata bulat tebal dari dalam tas dan memakai kacamata itu, wajah cantiknya seketika tertutup oleh kacamata bulat yang hampir menutup setengah wajahnya, Terakhir Hoodie. Gadis itu mengenakan Hoodie menutupi dress yang ia kenakan.
Mobil berhenti. "Oke sampai. Kamu sana pulang. Aku masih ada kegiatan di kampus." Ujar Via keluar dari mobil yang dikemudikan oleh adik lakinya.
"Kakak," lirih Ron, dia menyusul Via keluar dari mobil sambil menarik selembar tisu di dashboard mobil.
Mendengar panggilan Ron, Via langsung membalikkan tubuhnya. "Kenapa?" Tanya Via mendengar Ron memanggil namanya. Dengan perhatian dan lembut Ron mengelap sudut bibir kakak perempuan nya.
"Masih ada noda lipstik di sana" ujar Ron menggaris senyuman kecil. Dia kembali ke dalam mobil sementara Via mengangkat bahu dan melambaikan tangan. Dia menuju kampusnya meninggalkan Ron.
Ron memegang dadanya. Detak jantung yang tak beraturan. Entah sejak kapan dia selalu begini. Apa perasaan terhadap Via tidak terlalu berlebihan. Apa karena efek terlalu lama jomblo. Sepertinya Ron harus mencari wanita lain supaya penyakit sister complex nya itu bisa diatasi. Dia menggelengkan kepala. Membuang pikiran dan aura negatif yang menghampiri tubuhnya. Dia hanya akan terus menjaga Via seperti seorang adik. Ron menarik nafas dalam lalu memacu kecepatan laju mobil, pikirannya benar-benar gila, dia tak boleh berlebihan menjaga dan mencintai Via.
***
Ruth mendorong wajah Darwin yang semakin dekat nyosor bibir filler yang tampak berisi dan kenyal. Ruth menolak ciuman Darwin. Membuat pria itu kecewa.
"Aku sudah memoles lipstik bermenit-menit. Kamu tak boleh menghancurkannya, kamu pahamkan sayang." Ujar Ruth dengan alis naik sebelah, mimik wajahnya tampak kesal tapi tetap menggemaskan diata Darwin.
Darwin membalas wajah cemberut Ruth dengan senyuman. "Kamu tahu kalau kamu sangat cantik dan menggoda, bagaimana aku bisa menolak kecantikan kamu yang selalu membuat aku ingin mencium kamu." Darwin membujuk, dia melingkarkan tangan di pinggang ramping Ruth. Lagi dan lagi Ruth meraih tangan Darwin, menghindari pelukan kekasihnya, Darwin menyadari berbagai penolakan dari Ruth.
"Ayolah sayang. Sudah berapa lama kita tidak bersama. Aku kangen.." ujar Darwin merayu lagi.
"Tidak untuk saat ini ya sayang. Ah, kamu ada uang cash tidak?" Darwin tersenyum mendengar pertanyaan Ruth. Pria itu menunjuk pipinya. Meminta balasan atas apa yang diinginkan Ruth. Dia bisa memberikan uang cash pada Ruth tapi ada balasan yang harus dia dapatkan.
"Sudah ku bilang aku sudah berdandan, kita bertemu weekend ya sayang." Ruth memberikan harapan pada Darwin.
"Aku tidak akan menghancurkan riasanku hari ini!" Ketus Ruth dengan wajah galak.
Darwin semakin kecewa. Dia menarik dompet dari saku celana jeans yang dia kenakan. Meski Ruth tak mengabulkan keinginannya tapi dia tetap tak bisa untuk tidak mengabulkan keinginan kekasih tercintanya ini.
Ruth tersenyum senang. Dia mengelus lembut permukaan celana Darwin. Membangunkan adik junior yang selalu siap siaga. Ruth mengedipkan mata genit. Dia mendekatkan kepala ke telinga Darwin.
"Sabar ya. Aku ada pekerjaan akhir akhir ini. Jadi sedikit sibuk." Ruth memberikan alasan. Darwin terpaksa mengangguk. Mau bagaimana lagi. Dia pasrah saat Ruth meninggalkannya. Dia melirik juniornya yang kecewa.
"Sabar ya!" Ujar Darwin bicara sendiri. dia memutar kemudi, kembali ke jalan tadi meninggalkan Ruth di sebuah studio foto, kekasihnya itu akhir-akhir ini banyak menerima tawaran pekerjaan, khususnya foto model.
Darwin mengeluarkan ponsel dari saku, dia mencari nama kedua sahabatnya. Ron menjadi orang pertama yang dia hubungi. Dia mengirim pesan pada Ron.
RON, Kau di mana? Ketemu di cafe yuk! Tak perlu menunggu jawaban pesan dari Ron, Darwin menghubungi satu sobat gilanya lagi. Dia menelepon Eki.
"Ki---"
Suara erangan seorang wanita terdengar di sambungan telepon membuat Darwin merinding, sialan!
"Kau di mana Ki! jangan bilang kau sedang berada di motel?" Darwin mendesis kesal, Eki sialan, dalam seminggu berapa kali dia tidur dengan gadis, sementara dia tak dapat jatah sekalipun dari Ruth, dia sangat kesal.
"kenapa kau harus bertanya kalau kau tahu!" Nafas Eki terdengar tersenggal-senggal di panggilan telepon.
Darwin sudah berpikir ke mana-mana, apalagi yang pria itu lakukan kalau bukan bercinta. Siang malam, pagi sore, dia tak pernah mengenal waktu. Di kepalanya hanyalah selangkangan saja! Tak perlu menunggu balasan dari Eki. Darwin menaikkan nada bicaranya. "Tidak pakai lama aku tunggu kau di cafe!! " Teriaknya marah.
Eki menatap layar ponselnya dan menautkan alis.
"dia kenapa sih? Kalau tidak dapat jatah dari Ruth kan masih banyak Ruth-Ruth yang lain!" gumam Eki di belakang punggung seorang gadis, tentu saja dengan tubuh mereka yang polos. Tanpa sebenang pun. Kapan pria ini akan tobat. Dia selalu saja menghabiskan waktu di atas ranjang dengan wanita yang berbeda.
Plak! Dia menampar bokong gadis yang sedang memuaskan libidonya. "Percepat sayang!" Teriaknya sambil mengerang kenikmatan.
***
Darwin menggelengkan kepala. Eki selalu saja begitu, apa dia tidak capek menghabiskan waktu dengan banyak wanita seperti itu! sementara dia, satu kekasih saja sulit untuk ditaklukan. Entah siapa yang patut dikasihani saat ini, dia atau Eki.
karena sibuk dengan pikirannya sehingga Darwin tidak fokus dengan kemudi, dia hampir saja menabrak seorang gadis. Darwin menginjak rem dalam-dalam dan membanting setir.
Ccitt!!!
Dia menepuk kasar stir mobil lalu memegang dahi, dah dahi ini cukup sakit terbentur dengan stir mobil tadi. tidak masalah dengan jidatnya yang nyeri yang penting gadis di depan sana. Darwin langsung keluar dari mobil, dia membanting pintu mobil dan segera berlari menghampiri korban keteledorannya.
"Kamu tidak apa-apa?" Dia bertanya cemas.
"Apa ada yang terluka, Apa kamu bisa bangun.." suara Darwin terdengar cemas dan takut, dia membantu gadis muda itu untuk bangkit dari aspal, senyum tipis Darwin mengembang, dia membantu membersihkan bagian lutut dan bokong wanita itu yang kotor kena aspal dan debu. Kepalanya saja hanya menyentuh setir terasa sangat nyeri apa lagi wanita ini, dia hampir saja terlindas mobil Darwin.
Pria itu tidak tahu harus bagaimana kalau sampai insiden besar terjadi. Dia benar-benar ceroboh!
wanita itu mengangkat kepalanya, dia sudah siap menghardik pria yang hampir saja mencelakakan dirinya. Sebetulnya dia tidak tertabrak. Dia hanya terkejut dan terjatuh ke aspal karena tiba-tiba kakinya kehilangan tenaga.
"kamu! Kalau kamu tidak bisa menyetir dengan benar berhentilah membawa mobil! bayarlah seorang sopir! Sekelas mobil SUV keluaran terbaru seperti ini, sangat mustahil kalau kamu tak mampu bayar sopir kecuali mobil ini adalah mobil rental!" Wanita itu menghardik wajah Darwin dengan muka yang merah padam, jelas dia sangat marah saat ini. Darwin sadar diri. Dia berusaha menenangkan wanita itu meski dirinya sendiri tidak tenang.
"iya nona, aku minta maaf, ayo masuklah ke mobilku, aku akan membawa kamu ke rumah sakit.." ujar Darwin sopan, dia menawarkan tumpangan ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan wanita yang baru saja menjadi korbannya.
Darwin menyentuh bahu wanita itu, niat hatinya sih baik. Dia ingin menuntun wanita itu masuk ke dalam mobilnya.
"Lepaskan tanganmu dari tubuhku! Berani-beraninya Kamu memegang aku seperti ini! Kamu pikir aku wanita apa!!" Darwin langsung menarik tangannya, dia menelan ludah pahit. Dia hanya berniat baik dan menawarkan tumpangan.
"Nona, aku rasa kau salah paham. Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku. Aku akan membawa kamu ke rumah sakit dan aku juga akan menanggung semua biaya!!" Darwin menjelaskan dengan suara gemetar.
"Kamu pikir aku akan percaya dengan dirimu. Jangan berani coba-coba ya, sana kau menjauh sedikit dariku, Aku tidak suka dekat-dekat dengan seorang pria! "Darwin mematung. Dia memperhatikan penampilan wanita yang baru saja hampir ditabrak oleh Nya ini. Tidak cantik, tidak juga seksi karena tubuhnya tertutup oleh Hoodie yang berukuran besar. siapa juga yang tertarik. belum lagi sikapnya yang kasar. seseorang dengan penampilan asal seperti ini mengatakan hal tidak masuk akal seperti tadi. tidak mau dekat dekat dengan pria. apa tidak salah, bukan malah sebaliknya. Darwin tersenyum sinis. Dia Atau Gadis ini yang salah sih? tapi tunggu. kalau di perhatikan dengan seksama. rasanya dia tak begitu buruk juga..
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
----------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 10: Semua Itu Settingan
Darwin menggelengkan kepala, jika diperhatikan dengan seksama gadis ini sangat cantik dan menarik hanya saja, kacamata tebal itu menutupi pesonanya, Darwin menggelengkan kepala dan mensugesti dirinya, jangan berpikir kemana mana dulu. lebih baik cepat bereskan urusan ini. Batinnya mencoba menenangkan diri. Gadis ini mengingatkannya pada Ruth.
"Baiklah aku tidak mau kamu salah paham, Jadi apa yang kamu inginkan, aku akan mengikuti kemauan kamu?" Dengan sopan dan lembut Darwin menawarkan jalan tengah, dia pikir membiarkan Via yang mengambil pilihan akan lebih baik untuk mereka.
"Jangan panggil aku kamu, kau pikir kau itu siapa ku!" sekali lagi Darwin melakukan kesalahan, pria itu mengangguk sadar diri, dia tersenyum kecut, kalau bukan kamu lalu dia harus memanggil apa, nona?
"Aku tidak suka ada orang yang sok dekat dan akrab denganku." Sambil mengedikkan pundak Via menghindari Darwin.
Kenapa wanita ini suka sekali menghardik sih! Bibir tipisnya itu terus mengoceh dari tadi, membuat yang melihat nya jadi gemas sendiri. belum lagi jarinya yang terus menunjuk-nunjuk bahu dan wajah Darwin kasar.
"Aku hanya berniat baik padamu sebagai ucapan maaf," lirih Darwin tulus.
"Oh, anda pikir aku akan percaya!"
Ya ampun Ada apa dengan hari ini. Darwin bertanya-tanya dalam hatinya. dia ingin hari buruk ini segera berakhir, tadi Ruth mengabaikannya dan sekarang dia diomeli gadis asing.
"Baiklah, mungkin kau benar, aku berniat jahat padamu. Jadi sebelum kau merasa lebih banyak rugi karena aku, Bagaimana kalau aku pergi?" Jurus akhir Darwin adalah kabur dari sini, tapi kenapa dia harus izin dulu.
"Oh jadi anda mau melarikan diri!" Tudung Via dengan wajah lebih murka lagi.
Ya ampun apa sih maunya gadis ini! ditanya baik baik salah. kabur juga salah. Batin Darwin Tak habis pikir.
"dengar ya, aku mengenal pria macam kalian. Pemuda-pemudi gatal yang terbang kesana kemari mencari madu lalu meninggalkannya begitu saja. Anda pikir semua gadis bisa masuk ke dalam perangkap mu. HAH!" Via menepuk kasar kap mobil Darwin membuat pria itu terperanjat kaget.
Dia Kenapa sih? Darwin ga paham lagi.
"memang tidak ada pria yang sebaik adikku! Semuanya brengsek!" Via berniat meninggalkan Darwin begitu saja.
Darwin mengacak-ngacak rambutnya. dia kesal sekali. Pertama dia kesal karena Ruth menolak ajakannya hari ini. Sementara dia sudah melakukan apapun keinginan kekasihnya itu. Kedua, saat dia memeriksa layar di ponsel. Pria itu tersenyum sinis. Ternyata tidak Ron, tidak juga Eki, tidak ada yang akan menemuinya di cafe. Dan yang terakhir adalah,
"Hei!" Darwin berusaha menghentikan langkah Via yang sudah menjauh.
wanita itu menghentikan langkahnya sambil menggerutu. Dia masih belum menyerah juga! Batin Via jijik, dia membalikan tubuhnya, melipat tangan di dada, menatap wajah Darwin dengan mata kucingnya yang galak.
Darwin pria yang tak pernah melakukan tindakan kasar pada seorang wanita, tapi kali ini entah mengapa emosi menguasai dirinya karena itu dia menghampiri Via.
pria itu menarik pergelangan tangan Via dengan kasar, mendorong Gadis itu hingga terdesak di body mobilnya.
"Bukankah kamu bilang banyak pria pria brengsek?" tanya Darwin dengan wajah yang mengintimidasi. Tidak ada rasa takut di wajah Via.
"Ternyata nyalimu besar juga ya."mendengar ucapan Darwin membuat Via tersenyum sinis.
Darwin membalas tatapan Via sekilas, itu adalah tatapan menantang.
"Ternyata Gadis culun sepertimu cukup percaya diri juga ya." Sinis Darwin mengangkat kedua pergelangan Via ke atas kepala mereka. Dia tahu gadis ini akan melawan, jadi sebelum dia bisa melarikan diri lebih baik Darwin bertindak duluan.
Dia mencengkram pergelangan tangan Via dan menjepit tubuhnya dengan otot paha.
Sial. Dia kuat juga! Batin Via tak gentar.
Tangan kiri Darwin meraih kacamata Via. Melepaskan dari wajah wanita itu. Dan mata galak itu terlihat bulat. Darwin sampai terpesona.
DUK!
Via mengangkat lutut menyerang juragan di selangkang4n Darwin, membuat pria itu meringis kesakitan. Dia terjatuh ke aspal sambil meringis sakit.
"Makanya jangan main main sama gadis culun!" Ujar Via menghardik. Dia kesal sekali.
"Auu.. ini sakit sekali.." tubuh Darwin terlihat gemetar sambil berguling guling di aspal. Dia menyembunyikan air mata yang keluar dari sudut matanya.
Via mana peduli. Dia akan meninggalkan Darwin. Tapi mendengar rintihan Darwin di belakang sana membuat Via kasihan juga. Dia kembali lagi ke tempat semula.
"Ck. Anda menyusahkan saja!" Kesal Via. Dia mengulurkan tangan. Membantu Darwin yang kesulitan berdiri. Pria itu menerima uluran tangan Via sambil meringis kesakitan.
"Terima kasih.." lirih Darwin dengan wajah merah padam.
Via membantu Darwin masuk ke mobil. Sementara gadis itu duduk di kursi kemudi.
"Dimana rumahmu?" Tanya Via.
"Kamu mau apa?" Darwin balas bertanya sambil memegang tolor miliknya yang shock karena tendangan Via, dia meringis dan tak bisa duduk tegak di kursi penumpang mobil mewahnya.
"Mengantar mu lah! Memangnya kamu bisa menyetir dengan keadaan seperti itu!" Sinis Via dengan wajah terpaksa. Melihat arah sorot matanya ke Mr x Darwin, membuat pria itu menutupi dengan kedua telapak tangannya. Dia mengalihkan wajah. Malu.
"Apa kamu tidak bisa bicara? Sepertinya aku terlalu keras menendang tadi!" Ujar Via sedikit menyesal tapi lebih banyak meledek.
"Kamu bisa lihat alamatku di dompet!" Ujar Darwin.
"Mana dompetmu?"
"Di dashboard." Via langsung meraih dompet Darwin. Dia membuka langsung tanpa permisi lagi. Tapi wajah gadis itu menegang. Dia menatap wajah merah Darwin.
"Kenapa?" Tanya Darwin heran. Via memutar badan. Menatap wajah Darwin dengan seksama.
"Kamu.. Darwin?" Tanya Via, Pria itu mengangguk ragu dengan raut wajah bingung.
Via tertegun sesaat. Dia tak salah lagi. Ini adalah Darwin yang selama ini Ruth bicarakan. Pria yang melakukan apa saja untuk Ruth. Pria yang di mabuk cinta. Pria yang mengalami 1000 macam pengkhianatan tapi tak pernah sadar juga.
Tiba tiba raut wajah jutek Via melembut. Dia menghela nafas berat.
"Ada apa?" Tanya Darwin heran.
Via membenarkan posisi duduknya. Dia memutar kontak mobil. Mulai memasukkan gigi.
"Ck. Entahlah. Melihat wajahmu membuat aku kasihan!" Gumam Via dengan raut wajah datar.
Dia tak sengaja bertemu Darwin hari ini. Ruth tak pernah berniat mengenalkan dirinya dengan Darwin selama ini. Yang dia tahu adalah bagaimana Darwin melakukan apa saja untuk hubungannya dengan si jalang itu.
Meski begitu Via begitu mencintai Ruth. Dia bisa mengerti kenapa Ruth begitu liar mengingat background keluarganya yang hancur. Tapi melihat pria yang duduk di sebelahnya ini. Via melirik dengan ekor mata. Sementara Darwin menatap layar ponsel dan meraut wajah murung.
"Kenapa?" Tanya Via peduli pada Darwin.
"Bukan apa apa.." balas Darwin. Bukan apa apa bagaimana. Via melirik layar ponsel Darwin. Dia bisa mendengar suara dari video di laman media sosial. Dimana Ruth sedang interview bersama selebgram lokal. Seorang pria dengan tubuh penuh tato dengan kejutan dalam setiap hubungannya dengan bintang tamu. Pria itu menyentuh paha terbuka Ratih di depan semua netizen. Membuat video itu seketika muncul di laman utama.
Via menarik nafas dalam. Ac mobil rasanya tak terasa. Dia membetulkan ikatan rambut. Menarik Cepol donat di atas kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Darwin melirik Via sejenak.
"Gerah!" Ketusnya padat dan jelas. Darwin menurunkan suhu AC mobil.
Via menarik ikatan rambutnya. Membuat rambut hitam panjang itu jatuh ke bahu. Darwin menoleh. Dan baru sadar. Betapa cantiknya gadis culun ini. Pria itu tertegun.
"Kenapa!" Tanya Via dengan wajah sinis mendapati tatapan Darwin. Pria itu menggeleng.
Dia cantik sih. Tapi galak. Batin Darwin takut. Pukulan di Mr x saja masih terasa nyut nyutan sampai saat ini. Darwin jadi semakin takut.
lagipula Ruth jauh lebih cantik! batin Darwin tersenyum tipis, dia kembali melihat video di ponselnya. tiba tiba dia menyesal telah memuji Ruth barusan, karena di layar ponselnya, kekasih tercintanya itu sedang dicium oleh selebgram terkenal itu. Darwin menggigit bibir, alisnya bertaut, setiap kali dia cemburu Ruth akan memberi alasan, itu settingan!
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
----------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 11: Tentu Aku Suka
Entah bagaimana pada akhirnya Via dengan sukarela mengantar Darwin hingga ke kediaman mewah yang membuat lidah Via berdecak antara kagum dan percaya, ya dia percaya kalau seorang Darwin itu memang orang kaya karena selama ini dia mendengar dari cerita Ruth, temannya itu kalau untuk membeli satu tas mahal dan mewah yang harganya ratusan juta tak membuat Darwin berpikir lama. Kalau bukan Darwin orang terlanjur kaya tidak mungkin akan mengeluarkan uang semudah itu.
"Ini rumahku kita sudah sampai," ujar Darwin menarik sudut bibir seakan dengan bangga memamerkan rumah mewahnya kepada Via yang masih melongo.
Via mengangguk kecil menyembunyikan pikiran di dalam kepalanya, jadi tugasku sudah selesaikan? Karena kau sudah sampai ke rumahmu dengan selamat, batinnya.
"Jadi.. sekarang saatnya aku untuk pulang," ujar Via menyerahkan kontak mobil Darwin dan segera membuka pintu. Ia melangkah dan bersiap meninggalkan Darwin.
Melihat gadis cantik itu begitu cepat bergerak meninggalkannya, Darwin terburu-buru membuka pintu mobilnya, menyusul gerakan Via.
"Tunggu-tunggu!" Darwin menghentikan langkah Via. Gadis itu melipat tangan di dada dan membalikkan badan, menatap penampilan Darwin. Sepertinya rasa sakit tadi itu sudah mulai menghilang ya.
"Apa?" Sinis Via, dia memang bukan gadis yang ramah sih, hanya saja tadi dia terketuk hatinya karena kasihan melihat kondisi Darwin yang kesakitan karena pukulannya
Pertama, dia kasihan karena Darwin adalah pria yang selama ini diporotin oleh Ruth, sahabatnya, kedua ia kasihan dengan Darwin, emh, dia tak sengaja memukul dengan kekuatan penuh pada junior laki-laki itu sampai Via bisa merasakan getaran di pundak Darwin.
Tapi, bukan berarti Via membuka hatinya untuk Darwin, apalagi yah.. untuk pria bodoh ini. Via berdecak dalam hati.
"Kenapa? Urusan kita sudah selesaikan?" Ketus Via.
"Ehm," Darwin menggaruk kepalanya bingung, kira-kira kalimat apa yah yang bisa ia lontarkan untuk menghentikan Via, tak mungkin kan dia tiba-tiba mempersilahkan gadis ini pulang setelah mengantarnya dengan cuma-cuma.
"Ahhh, begini," ujar Darwin yang mulai mempersiapkan kata-kata terbaik di dalam kepalanya, "kau sudah sangat berbaik hati kepada ku,"
"Tidak!" balas Via cepat, "aku hanya kasihan."
Oke. Berarti kau hanya kasihan kepada ku, batin Darwin meringis. "Karena kau sudah disini dan sudah mengantarkan ku sampai rumah,"
"Iya, aku tahu," Via tampak tak sabar dengan ucapan Darwin, dia memang tak suka pria yang basa-basi. Sorot tajam mata Via seakan tak punya waktu untuk meladeni Darwin, sehingga membuat pria itu sedikit gentar.
"Maksudku, hm.. Kau boleh mampir dulu ke rumahku, yah mungkin aku bisa membuatkan minum untukmu!"
Sekali lagi Via memperhatikan penampilan Darwin dari ujung sepatu sampai ke kepala, lalu dia menghela nafas perlahan.
Sebenarnya aku penasaran dengan pria ini, sebenarnya.. apa sih yang membuat Ruth begitu mempertahankan nya. Oh maksudku bukan berarti Ruth begitu mencintainya, tetapi, Ruth tak mau meninggalkan Darwin karena ada alasannya, mungkin inilah saatnya aku cari tahu sendiri, karena selama ini Ruth tak mau memberi tahu ku, dan menyimpan rapat-rapat tentang kekasihnya itu. Bukankah ini kesempatan yang bagus? Agar aku bisa mematahkan idealis yang dalam itu, Ruth sangat menyebalkan dengan sisinya yang seperti setan dan ia sangat menyenangkan dari sisinya yang seperti malaikat.
Via lama membatin.
Ruth bisa jadi sangat menyebalkan dengan sisinya yang seperti setan tapi dia sangat menyenangkan dari sisinya sebagai seorang gadis yang Via kenal cukup lama, pergolakan batin Via membuat Gadis itu mematung beberapa saat sehingga Darwin tampak heran melihat Via diam saja.
Darwin berpikir kalau gadis di hadapannya ini menerima tawarannya, dia merangkul gugup pergelangan tangan Via dan gadis itu memang tak menolak. 10 menit kemudian Via baru tersadar kalau dia sudah duduk di sofa mewah di ruangan rumah kaya ini,
Sejak kapan dia sudah duduk manis disini sementara Darwin sedang sibuk di meja bar dapur, pria itu sepertinya sedang mempersiapkan minuman segar untuk tamu hari ini.
Gadis itu memperhatikan tingkah Darwin yang sesekali melemparkan senyum padanya. Sumpah dia tidak tertarik dengan senyuman itu karena dia tahu siapa pria pemilik senyum manis itu dan yang kedua, senyuman itu tampak seperti keledai bodoh di matanya.
Terima kasih karena di balik wajah tampan, tubuh gagah itu, dia tahu betapa bodoh dan konyol seorang Darwin, bisa bisanya pria yang tampak sempurna itu selama ini hanya dijadikan tambalan oleh temannya.
'Berhenti tertawa seperti itu, kau seperti keledai bodoh!' Gerutu Via dengan suaranya yang tertahan, jelas saja Darwin tidak bisa mendengar ucapan hatinya.
Tampaknya membuat minuman segar bukanlah sesuatu yang bisa Darwin mempertontonkan pada Via. Sudah beberapa menit pria itu bekerja keras. Nyatanya dia hanya mendapatkan sedikit saja minuman segar di gelas, dia merasa kecewa.
Via paham dengan kelemahan Darwin yang kesekian itu. "Aku tak ada waktu untuk berlama-lama disini" desis Via. Dia segera beranjak dari tempat duduk dan menghampiri posisi Darwin.
"Aku sedang mempersiapkan minuman untukmu, aku harap kamu masih mau menunggu atau kamu mau minuman siap saji?" tanya Darwin sedikit gugup melihat meja bar yang sangat berantakan karena ulahnya, dia merasa tak berdaya dengan sorot tajam mata Via.
Tentu saja Via tak peduli, meski dia memperhatikan salah tingkah Darwin.
"dari tadi kamu sedang buat apa?" tanya Via.
"Ibuku bilang kalau seorang gadis itu tidak bisa minum minuman yang yang aneh dan terlalu manis jadi, aku sengaja membuatkan jus untukmu. Ini jus campuran antara nanas pisang dan peach dan.. apalagi ya emh.." Darwin terlihat bingung sendiri.
"Kurasa aku dan ibumu itu berbeda," jawab Via apa adanya. Selain budak cinta ternyata dia juga anak mami!
"Jadi, kau mau minum apa?" Tanya Darwin.
"apapun." jawab Via.
"Apakah minuman bersoda atau susu?" Darwin merasa ada yang salah saat ia melihat anggukan Via. Anggukan itu membuat Darwin tak percaya, sangat tidak percaya.
"Yang aku tahu, kalau gadis cantik banyak sekali menjaga bentuk tubuh mereka seperti yang dilakukan oleh ibuku dan kekasihku," ujar Darwin sambil membuka kulkas berpintu enam tak jauh dari meja bar.
Via hanya menautkan alis, dia pria yang peduli terhadap wanita meskipun terlalu berlebihan, batin Via sambil mengangkat bahu. Gadis itu mengambil tempat duduk di kursi tanam model jamur yang berjajar sepanjang meja bar dapur bersih rumah Darwin.
Gadis itu memutar-mutar kursi, bermain-main dengan tubuhnya sendiri.
"kalau aku sih bisa minum apapun karena aku tidak memikirkan bentuk tubuh." Tentu saja Darwin tidak percaya dengan ucapan Via, pria itu sampai melongok.
Dia memperhatikan Via yang sibuk bermain dengan salah satu kursi di depan meja bartender, dia bisa melihat meski tubuh Via ditutupi oleh hoodie yang berukuran cukup besar tapi saat kaki itu menjulur, dia bisa melihat bentuk slim dari tungkai kaki yang begitu indah, tidak mungkin seorang gadis yang memiliki tungkai kaki seperti itu tidak menjaga pola hidup dan pola makannya, itu yang selalu dia dengar dari ibu dan juga kekasihnya, Ruth.
apa Lagi Ruth, Ruth sangat menjaga pola tidur, pola hidup dan segala pola-pola lainnya kecuali, pola keuangan karena setiap kali ponsel Darwin berdering selalu saja Ruth minta uang. Darwin kembali kepada posisi duduk dimana Shinta sudah lebih dulu, dia mengambil kursi di sebelah Shinta dan menyodorkan satu kotak susu low fat bersama potongan buah segar.
"Aku harap kau menyukai ini."
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
----------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 12: Sakit Hati Seorang Pria
Via berhenti berputar pada kursi, dia mengangguk, tersenyum dan segera membuka segel susu cair tanpa rasa itu yang tadi diberikan oleh Darwin. dia meneguk dengan penuh dahaga tanpa malu-malu dan sungkan.
Seakan Darwin baru pertama kali melihat perempuan minum dengan santai seperti Via. dia sampai melongo.
"Kenapa?" tanya Via heran dengan tatapan mata Darwin padanya. Dia tidak merasa melakukan hal yang aneh sehingga tetap Darwin membuat dia merasa jengah.
"Tidak-tidak... kau mengingatkanku pada dua orang sahabatku," jawab Darwin dengan wajah tertunduk.
Oh kupikir mengingatkan pada kekasihmu yang mesum itu! Batin Via mengejek.
"aku merasa menjadi diriku sendiri saat aku berada diantara dua sahabatku itu, kami sudah lama berteman dengan sifat yang kami miliki, jelas saja kami sangat berbeda, aku dan kedua temanku itu bukan berada pada lingkungan yang sama. Kami juga tidak memiliki lingkup keluarga, pertemanan dan semuanya itu.. semuanya jelas berbeda tapi kami merasa nyaman.." Via menautkan alisnya seolah mendengarkan curhatan Darwin dengan serius.
"Apa temanmu itu dari sekolah SMA mu?" tanya Via mulai menyelidiki, seingat dia Ruth pernah bicara kalau Darwin adalah teman satu SMA, dan dari SMA mereka sudah menjalin hubungan 'serius' sampai menuju ke arah hubungan orang dewasa.
Ruth yang menceritakan semua itu kepada Via tanpa rasa canggung. Bahkan dia menceritakan dengan bangga pengalaman pertama dengan teman prianya di masa SMA dan Darwin bukanlah pria pertama bagi Ruth.
Mendengar pertanyaan Via, Darwin sedikit memundurkan badannya,
"tidak, mereka bukan teman SMA, kami kenal di kampus, kami satu kampus." sekarang giliran Via yang menjauhkan tubuhnya, dia seakan terkejut dengan jawaban Darwin.
Oh ku pikir masa SMA adalah yang terbaik bagi kalian! Dia mendengar semua kisah awal hubungan asmara tidak sehat antara Darwin dan Ruth. Dia kasihan pada Darwin karena baginya Darwin tidak bisa lepas dari hubungan toxic sementara Ruth malah menikmati hubungan toxic itu. Tidak tahu mengapa via menjadi sedikit bersyukur mendengar jawaban dari Darwin, ternyata masa SMA bukanlah masa terbaik bagi Darwin dan pria ini ternyata memiliki teman di luar dari teman-teman SMA-nya yang toxic. Tapi jawaban Darwin tidak membuat via puas dia masih ingin menuntaskan rasa penasarannya. Dia ingin mencocokkan cerita dari versi Ruth.
"Bagaimana dengan teman SMA-mu?" tanya Via ingin tahu, sorot matanya tampak berbinar seperti lampu pijar, dia begitu ingin tahu tentang pribadi Darwin karena dia membutuhkan semua informasi ini untuk menghentikan tingkah konyol Ruth. Dia harus membawa sobatnya itu ke jalan yang benarkan?
"teman SMA, aku rasa teman-teman SMA itu konyol, meski kami sudah jarang berkomunikasi tapi masa masa SMA adalah masa yang paling indah sih menurutku,"
Ah dasar kau labil! Wajah via berubah kesal.
"masa SMA adalah masa yang indah menurutku eh, menurutmu," ujar Via mengulang kalimat dari Darwin, seakan jelas mengejek. Tentu saja indah 'kan kau mengenal Ruth disana. Kau juga diajari hal-hal yang tak masuk akal olehnya.
Via sungguh tak habis pikir dengan hubungan tak sehat tapi terus saja dijalani oleh kedua manusia itu.
"Masa SMA itu sangat seru ya, aku juga sangat menyukai masa-masa SMA, aku bisa ikut berkemah, ikut kegiatan amal, bantuan bencana, aku juga ikut ekstrakurikuler dan olahraga." Ujar Via sarkas, tentu saja dia sedang menyindir masa lalu Darwin karena dia tahu hubungan panas cinta Darwin dan Ruth di masa SMA sangat bertolak belakang dengan masa SMA dirinya.
"Kamu terdengar Hebat ya," Puji Darwin. "tentu saja." sahut Via merasa bangga.
"kamu sendiri, apa saja yang kamu dapatkan saat SMA, aku yakin anak orang kaya di sekolah elit internasional pasti bisa ikut lomba sekelas Olimpiade ya kan!" tanya Via.
Darwin hanya tersenyum kecut, "masa SMA ku, ya masa SMA adalah.. aku mengenal seorang wanita yang tak bisa aku lupakan. Apalagi aku tinggalkan.." bullshit Darwin!! rasanya Via ingin berteriak seperti itu di depan muka Darwin sambil menyiram wajah pria itu dengan susu yang sudah bercampur dengan salivanya! Sayangnya, dia tidak bisa melakukan itu mengingat ada ekspresi sendu di wajah Darwin. Yang ada dia malah terdiam seribu bahasa memandangi wajah Darwin.
Beberapa detik kemudian Via turun dari kursinya.
"Baiklah, sekarang aku harus pulang. Aku tidak punya banyak waktu di sini." ujar Via begitu saja, Darwin ikut turun dari kursinya, dia merasa heran dengan perubahan sikap Via padanya.
Apa dia mengatakan sesuatu yang salah? Darwin jadi tak enak hati.
"Oh ya, kamu sudah tahu namaku. Apa aku boleh tahu siapa namamu?" tanya Darwin di belakang punggung Via setelah mengantar gadis itu sampai ke teras rumah, di pekarangan sana sudah ada taksi yang menunggu, yang siap mengantarkan Via untuk pulang.
Via membalikan tubuhnya seakan wajahnya yang tadi tampak begitu datar kini bisa tersenyum dan bersinar, membuat Darwin sedikit terkejut, dia seakan tersedot dengan ekspresi wajah Via yang tampak polos tapi sangat menarik, seolah memancarkan cahaya.
"Darwin.. bagiku jomblo itu bukannya lebih terhormat daripada kita terlibat dalam suatu hubungan yang tidak sehat dan penuh dengan racun?" bukannya menjawab pertanyaan Darwin, dia malah memberikan wejangan hingga membuat dahi Darwin berkerut tak mengerti.
"maksudmu?" tanya Darwin setengah berteriak karena Via sudah mulai menuruni anak tangga teras rumahnya yang berukuran sangat luas itu tapi, Gadis itu tidak menjawab lagi ucapan Darwin.
via hanya melambaikan tangan sebelum dia masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu dan menghilang dibalik terbang tinggi rumah keluarga Darwin.
Saat ini cahaya matahari berwarna orange, senja mulai tiba. Darwin menyeka dahinya, menaikkan sedikit rambutnya, memamerkan dahinya yang tampak begitu licin bak porselen cina, pria itu menahan senyuman di bibirnya, dia mengangkat bahu.
"Bukankah gadis tadi terlihat sedikit aneh?" gumamnya pada diri sendiri sambil tersenyum tipis, dia bisa berkata kalau Via aneh sementara, Via sendiri di dalam taksi berpikir kalau Darwin adalah pria yang aneh.
Via memangku dagu menyandarkan punggungnya di kursi mobil, matanya menatap keluar jendela memperhatikan jalanan yang ramai.
'Dia sangat tampan.. dia punya harta, dia dari keluarga yang terhormat tapi, bisa-bisanya dikelabui oleh wanita seperti Ruth, hidup ini benar-benar tak adil, seharusnya orang seperti Darwin itu bisa mendapatkan seorang putri..' dia larut dalam pikirannya sendiri. 'tapi, aku yakin kalau seorang pelayan saja bisa menipunya jangankan seorang putri!' batin Shinta berdebat sendiri.
Dia menggelengkan kepala, sepertinya dia terlalu jauh ikut campur dan hasrat ingin tahunya terlalu berlebihan. Shinta merogoh tasnya, dia mencari iPhone terbaru belasan dari Ratih. Alangkah terkejutnya saat ia tak menemukan benda mahal itu. Shinta menggigit ujung kuku jempol, berpikir.
"Ish.. jangan jangan jatuh sewaktu dia nabrak tadi.." lirih Shinta kecewa. "Padahal aku harus kabari Ratih, setidaknya dia harus tahu kalau temannya sudah mampir ke rumah pacarnya." Mau bagaimana lagi, Shinta hanya bisa menghela nafas berat.
***
Darwin menuju kamarnya di lantai atas, dia memandang jendela besar di balkon dimana dia bisa melihat pemandangan belakang rumah yang dilengkapi oleh kolam renang, pria itu tersenyum kecut lalu membalikkan tubuhnya, bersandar pada besi tabung yang menjadi pengaman balkon. Dia mengurut dahi sesaat.
Ingatannya kembali di masa SMA, dimana ia membawa Ratih untuk pertama kalinya, dimana gadis itu menikmati hawa dingin kolam renang dan tak membawa pakaian. Dimana ia dan Ratih memulai aksi menuju kedewasaan tanpa pikiran matang.
Darwin menengadahkan kepalanya, menatap langit senja yang sebentar lagi gelap.
"Aku pikir setelah menikmati rasa itu maka hubungan kami hanya ada kebahagiaan. Tapi tidak!" Darwin menggenggam ponsel di tangannya yang dihiasi Swarovski pada case berwarna merah jambu.
Triing!
Darwin tak mau menekan tombol buka pada pesan masuk. Dia hanya bisa melihat jelas, foto kekasihnya sedang memeluk seseorang.
"Aku yakin kau menyimpan banyak rahasia di belakangku." Darwin menggenggam erat ponsel di tangannya, sayang tenaganya lemah, tak bisa meremukkan benda mahal itu.
"Haruskah aku memaafkan, atau membalasmu?"
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
----------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 13: Kakakku Tersayang
Ron menyambut Via di teras rumah mereka ditemani segelas minuman dingin lengkap dengan bubble hitam pekat yang tampak menggiurkan. Ron sudah lama menunggu kakaknya.
Melihat kedatangan Via, pemuda itu segera bangkit. "Kakak dari mana jam segini baru pulang? Kakak kan ga punya kelas sore?" Tanyanya.
Belum sempat Via mendaratkan bokong dan melepaskan sepatu, adik laki lakinya itu sudah tak sabar mencampuri urusannya.
"Memangnya kenapa. Apa mama mencariku? Kan ada kamu. Kamu bisa urus urusan anak kos di bawah. Kenapa harus mengandalkan aku?" Balas Via dengan alis bertaut. Mengurusi anak kos yang bandel memang menjadi bagian Via yang dikenal judes.
Sret! Via mengambil alih minuman Ron, menyandarkan punggungnya ke kursi, menyeruput sisa minuman adiknya.
"Kak, sepatumu belum lepas sempurna tuh." Ujar Ron menunjuk tali sepatu Via yang baru terurai.
"Aku capek banget hari ini. Kenapa ya banyak orang orang aneh di dunia ini?" Tanya Via dengan suara lirih, dia sedang membicarakan Darwin, kekasih Ruth, sahabatnya.
"Kakak ga usah ikut ikutan jadi orang aneh deh!" Ron turun dari kursinya, dia berjongkok, membantu melepaskan sepatu Via.
Via membiarkan adiknya membantu melepaskan sepatu, Ron seperhatian itu pada kakak perempuannya.
"Kakak sudah makan?" Tanya Ron kemudian meletakkan sepatu Via pada rak tak jauh dari posisi mereka.
"Belum, cuma ngemil aja." Jawab Via melemparkan cup sisa minuman ke tempat sampah.
"Ya udah makan yuk, aku lapar. Aku nungguin kakak dari tadi." Ujar Ron penuh perhatian.
"Ngapain! Kamu makan saja duluan. Lama lama kamu juga aneh deh, untung kamu tuh adik aku, coba kalau orang lain.." sinis Via dengan wajah menggemaskan.
"Kenapa kalau orang lain?" Sambar Ron. Dia berpikir akan mendengar kalimat manis dari bibir kakaknya yang cantik ini.
"Kalau kamu orang lain pastilah mahal bayar gaji pelayanan kamu!" Balas Via bercanda. Dia beranjak dari kursi. Menyambar lengan Ron, mereka bergandengan masuk ke dalam rumah.
"Kakak serius tadi ga kemana mana, aku cari kakak di kampus kok ga ada." Ron masih penasaran, kemana kakak nya menghilang hingga pulang hampir mau malam. Dia sangat penasaran, apakah Via punya pacar? Itu yang mengganggu batinnya.
"Kamu mau aku jujur apa bohong?" Tanya Via sambil menyambut uluran piring dari tangan adiknya.
Jawaban Via membuat Ron makin penasaran.
"Ish, kamu habis ngapain. Aku adukan sama mama nanti!" Ancam Ron dengan wajahnya yang tampak menggoda Via.
Via mencibir lalu mencicipi suapan pertama.
"Aku tadi ke rumah pacarnya Ruth."
Uhuk!
Mendengar pengakuan kakaknya, Ron tersedak suapannya.
via segera mengulurkan minuman dan membantu adiknya segera minum. "Hati hati dong, kamu kenapa sih!"
"Tunggu! Kekasih Ruth temanmu?" Tanya Ron mencoba memastikan.
"Iya, kamu tahu kan kakak ini tak punya banyak teman, hanya ada Ruth saja yang betah berteman denganku." Pengakuan yang sangat jujur dari lubuk hati terdalam, selain judes dia juga terkenal culun, jaman sekarang siapa yang mau berteman tulus dengan orang yang penampilannya seperti itu.
"Ya aku tahu!" Sambar Ron. Siapa juga yang betah berteman dengan orang judes dan blak blakan seperti kakaknya ini. Tapi itu justru membuat Ronmerasa Via akan aman.
"Bagaimana kakak bisa sampai ke rumah kekasih Ruth? Diajak sama dia, terus Kakak jadi kambing congek disitu?" Sinis Ron menertawakan kisah tragis kakaknya.
"Ada sedikit kecelakaan, dia ga sengaja nabrak kakak.." ujar Via jujur
"Hah!" Teriakan Ron membuat sendok Via terjatuh. Gadis itu tampak kesal.
"Kamu kenapa sih, ga bisa makan dengan tenang." Gusarnya kesal.
"Terus.. bagaimana dengan kakak? Apa ada yang luka, kak.. kita harus ke rumah sakit sekarang!" Ron menarik tangan Via yang masih ingin menyuap makannya. Dia sangat lapar dan adiknya banyak tingkah.
Ron masih memaksa membuat Via kesal. "Kamu kenapa sih! Aku tidak apa apa. Lagipula Darwin sudah minta maaf, dia ga sengaja!" Desis Shinta mencoba agar Ron bisa tenang.
"Tunggu, siapa? Siapa tadi?" Tanya Ron tak percaya dengan pendengarannya.
Dia yakin sudah mendengar nama teman nya itu dari bibir Via, tapi dia tak mau percaya begitu saja.
"Darwin, kekasih Ruth itu namanya Darwin!" Ulang Via lebih keras dan jelas. "Sekarang kamu bisakan kembali duduk dan kita makan dengan tenang dan nyaman. Aku masih lapar!" Pinta Via dengan wajahnya yang menahan kesal.
Ron mencoba kembali ke kursinya, dia mendaratkan bokong dengan wajahnya yang tampak bodoh.
Darwin. Darwin!
"Darwin kak. Apa Darwin itu memiliki wajah blasteran dan.." pasti bukan hanya satu Darwin di dunia ini kan. Hanya saja.. perasaan Ron jadi tak enak.
"Iya, dia punya darah campuran. Dia ganteng sih.. cuma yaa.." Via memuji penampilan fisik Darwin dengan wajah tak tulus. "Cuma ya.. bodoh!" Ketusnya dengan wajah tak berdosa. Dia kembali menyuap makanan.
Ron bergelut dengan suara hatinya. "Pasti ada banyak Darwin campuran di dunia ini kan. Tapi.. apa dia ada tahi lalat di ujung hidungnya kak?"
Via tercengang dengan pertanyaan adiknya. "Ga sekalian kamu tanya, di pantatnya ada tahi lalat atau bekas luka?" Sinis Via kesal.
"Ya.. aku cuma mau memastikan saja.." bisik Ron dengan nada cemas.
Kemarin Eki, sekarang Darwin. Mampuslah, kakaknya akan terlibat dengan dua pria menyebalkan itu. Akan sia sia usaha Ron selama ini, menyembunyikan mutiara keluarga mereka.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Via heran melihat Ron yang bengong dan tidak melanjutkan makan.
"Kenapa dengan Darwin?" Tanya Via. "Apa kau mengenalnya?" Tembakan jitu.
Ron menggeleng cepat. "Ti, tidak sama sekali kak. Eh tapi dulu waktu aku masih SMA, ada orang namanya Darwin kak. Tapi jahat, katanya suka malakin anak anak, memukul perempuan. Aku harap dia Darwin yang berbeda kak. Aku takut kakak kenal Darwin yang itu." Ron mulai mengarang cerita bebas. Dia berharap Via akan takut dan menerima ucapannya dengan lapang dada.
"Ish, jangankan malakin anak orang, memukul wanita, dia sudah jelas jelas diselingkuhi pacarnya, dimanfaatkan, diporotin, tapi tetap mabuk cinta dengan Ruth! Sudah pasti mereka Darwin yang beda kan! Jadi kamu.. segera habiskan makananmu, kakak mau mandi!"
Via membawa piringnya pada wastafel dan meninggalkan Ron.
"Ada-ada saja. Darwin mungkin kesulitan menghitung saldo ATM nya." Bisik Via menggelengkan kepala mendengarkan ucapan Ron sebelumnya.
Ron mana bisa tenang kalau sudah seperti ini.
"Ck! Jadi kakak sudah bertemu dengan Darwin?" Ron menepuk dahinya. "Duh, aku harus cari tahu nih, jangan sampai Eki dan Darwin tertarik sama kakak. Dunia akhirat aku tidak akan rela!" Ujar Rom dengan wajah serius.
Dia meninggalkan piringnya yang masih penuh, beranjak dari kursi meja makan, niatnya mau ke kamar, kembali rebahan.
Tapi baru tiga detik piring yang masih penuh makanan jatuh ke wastafel, mata setan sudah menyoroti piringnya seperti lampu sorot pentas teater, silau dan menyakitkan.
Tapi..
Nyonya rumah sudah kembali dari pasar. "Apa apaan piring itu? Kamu sengaja buang buang makanan hah! Belum bisa cari uang udah sok sok an buang makanan. Habiskan lalu cuci piring!"
Ron mengangguk patuh dengan perintah ibunya. "Ma, piring yang itu bukan punyaku, kak Via yang abis makan." Protes Ron menunjuk piring kotor di wastafel.
suaranya terdengar sampai kamar Via.
"Bohong ma! Orang tadi aku pulang Ron lagi makan!" Teriak Via dari kamarnya. "Itu piring kedua dia ma!"
Ron berdecak kesal mendengar teriakan kakaknya yang penuh kebohongan, sialan! Untung sayang!
"Cuci piring abis makan!"
"Iya ma.." gumam Ron terpaksa. Dia harus bersabar setelah mencuci piring baru memikirkan masalah Darwin dan Eki, ah sekarang dia harus mengurangi sedikit jadwal belajarnya.
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
----------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 14: Rencana Balas Dendam
Malam ini…
Ron tidak bisa tidur, dia bolak balik dikasur mencari posisi paling nyaman tapi pada akhirnya tidak bisa menutup mata dengan tenang, pikirannya melayang pada kedua sahabat lelakinya yang membuatnya tertekan. Dia bisa menebak kalau besok baik Darwin atau Eki akan membahas perihal kakaknya, dan itu membuatnya begitu cemas.
Ron bangkit dari kasur, mengacak acak rambutnya dengan wajah jengkel, dia merasa tenggorokannya kering, mungkin dia harus mengambil minuman dingin lalu bergelut dengan layar monitor komputer, sekedar membaca ulang tugas makalah atau, bermain game.
Ron memakai sandalnya, meninggalkan kamar dengan perasaan gamang. Dia tak pernah bisa membiarkan Via, kakak perempuannya itu dekat dengan pria lain secara berlebihan. Meskipun Via selalu mengatakan tidak berminat dengan kata pacaran, tetap saja membuat Ron cemas, apalagi kalau pria itu Eki atau Darwin.
Dia sadar dengan perasaannya yang berlebihan ini, dia sendiri tak bisa menangani gejolak di dalam dadanya. Dia merasa aneh, tapi tak bisa menolak perasaan yang terus menekan dadanya.
Ron mengambil gelas, mulai mengisi air. Menunggu gelasnya penuh dari pancuran keran pintu kulkas.
"Ah, aku kenapa sih! Menyebalkan!" Gerutunya mengutuk diri sendiri.
Dia menyadari air di gelasnya sudah melebihi muatan dan membuat lantai becek. Pria itu tambah kesal dengan kecerobohannya.
Dia menghela nafas lalu meneguk dengan dahaga.
Mata Ron memicing, dia bisa melihat cahaya dari kamar Via dari arah dapur, apa kakak perempuannya itu belum tidur? Dia bertanya tanya di dalam hati.
"Kak.." panggilnya, melangkahkan kaki ke arah kamar Via yang pintunya tak begitu tertutup rapat.
"Kak.." Rob memanggil kakaknya sekali lagi sebelum akhirnya kepalanya menengok, mengintip isi kamar Via.
Pria itu tersenyum kecil melihat kakaknya tertidur dengan posisi asal di ranjang, sementara laptop masih menyala.
"Dasar, dia selalu saja ceroboh dan sembarangan."
Tanpa berpikir panjang, Ron langsung masuk, merapikan meja belajar Via. Meneliti tugas yang sudah kakaknya kerjakan. Sepertinya ada bagian yang kurang, pria itu menambahkan catatan di sana.
Dia menyimpan buku buku, merapikan alat tulis, terakhir mematikan laptop milik Via.
Ada foto kakaknya dan Ruth yang sedang cemberut sebagai background, dua gadis yang tampak begitu cantik bak artis Korea populer, ah tidak! Mereka memiliki mata bulat yang indah bak boneka.
Ron melipat tangan di dada, dia memperhatikan potret itu dengan wajah serius yang dibungkus senyuman. Tentu saja fokusnya hanya pada Via, Kakaknya.
Wajah tampan Ron merona merah. Dadanya berdebar cepat. Sebegitukah seorang adik yang menjaga kakak perempuannya! Dia merasa perasaan di dadanya semakin dalam dan tak terelakkan lagi.
Ron menghela nafas berat. Dia mematikan laptop itu setelah beberapa menit memandangi wajah kakaknya yang full makeup di monitor.
Selanjutnya..
Ia membantu membenahi posisi tidur Via, memberikan bantal dan selimut, merapikan kaos yang membuka bagian perut kakaknya yang langsing.
Dia tak mau berpikir macam macam meskipun segalanya bergejolak panas di dalam kepalanya. Dia bukan anak kecil, dia sudah melewati masa remaja, dia adalah seorang pria berusia dua puluh tahunan, dia sudah dewasa. Dan.. kakaknya tak pernah bergeser dari dalam hatinya. Bukankah perasaan ini menyiksa?
Tentu saja.
Ron masih membungkuk di atas tubuh Via dan sesaat berbagai gejolak membakar hasratnya. Ada hal lain yang ingin ia lakukan saat ini?
Ya.. seandainya bisa, dia akan mencium atau memeluk tubuh Via. Dia akan mengatakan aku menyayangimu.
Sekali lagi dada Ron terasa begitu berat dan sakit. Dia tak bisa melakukan semua itu, karena apa.. karena ini adalah Via, kakaknya.
Meninggalkan Via yang sangat terlelap tanpa sadar akan perasaan Ron yang semakin tumbuh tak berarah.
Ron balik ke kamarnya. Dia membanting tubuhnya di kursi, meluruskan kakinya. Jujur saja, dia tak pernah sepanas ini pada wanita selain pada kakaknya sendiri.
Dia tahu kakaknya seorang blogger, dia selalu memantau video video Via yang berkolaborasi dengan Ruth.
Malam ini, seperti biasanya. Dia akan menjadi pemantau onlen, membalas komentar komentar sinis dan jahat yang terarah pada Via. Dia menjaga kakaknya baik di dunia nyata maupun online.
Tapi..
Melihat Via yang begitu cantik dan ceria di vlog, membuat Ron tersenyum senang, darahnya berdesir panas.
Semua gejolaknya naik. Dia tahu dia salah, dia tahu perasaannya salah, dia sudah berusaha menahan semuanya tapi..
Ron meraih tisu, membuka kancing celananya.
"Maafkan aku kak.." lirihnya merasa bersalah sambil melenguh melepaskan beban sesak yang sejak tadi memberatkan kepala dan hatinya.
Ron terdiam, suara nyaring di vlog masih terus terdengar. Suara itu membuat erek$i nya kian panas.
"Aku ingin bersama denganmu.." lirihnya putus asa.
_____
Suasana kampus yang menyenangkan, ada Darwin dan Eki yang sedang menunggu kedatangan Ron di cafetaria.
Begitu melihat si rapi berkacamata dengan tas gendong, Darwin segera melambaikan tangan. Meminta Ron untuk mempercepat langkah menghampiri mereka yang sudah lebih dulu di sini.
"Lama, tumben kamu datang paling terakhir!" Sambut Darwin dengan nada dan wajah heran.
Ron menggeleng pelan. Dia memang bangun kesiangan tadi pagi.
"Sedang apa kalian, tidak ke kelas?" Tanya Ron mengambil minuman hangat milik Eki.
"Sst! Punyaku, main ambil saja. Sana pesan lagi!" Gusar Eki merebut minumannya.
"Sudahlah, Sudah terlambat, aku ada kelas!" Ron sudah tak tertarik untuk minum, dia melirik jam tangannya dan hendak meninggalkan Darwin dan Eki.
"Eh, tunggu dulu!" Pinta Eki.
Ron terpaksa harus berhenti bangkit begitu tarikan di ujung kemejanya terasa.
"Darwin punya cerita serius nih." Ujar Eki dengan wajah yang juga serius.
Mendengar ucapan Eki, Ron kembali duduk dengan perasaan was was.
Dia melirik wajah Darwin, temannya itu tampak berbeda hari ini.
"Kenapa?" Tanya Ron kemudian.
Sebenarnya dia tidak siap mendengarkan ucapan Darwin, bagaimana kalau ini ada hubungannya dengan Via.
Ron mencoba menahan diri, mencoba meraut wajah datar. Dia harus menenangkan pikirannya.
"Ini.. tentang Ruth.."
Fiuuhh.. ada nafas lega dari pernafasan Ron, ternyata dugaannya salah.
"Kenapa, bukannya kau begitu memujanya." Balas Ron. Eki tersenyum mengejek mendengar ucapan Ron.
"Sudah ku katakan. Cari lagi sana. Ck! Kenapa sih kau masih saja bodoh tentang wanita!" Balas Eki dengan wajahnya yang menyebalkan. Dia terlalu percaya diri sebagai salah satu pangeran kampus mesum.
"Kau mana paham!" Sinis Darwin pada Eki. "Aku dan Ruth sudah menjalin hubungan sejak lama. Kami sudah melewati banyak hal!" Gerutu Darwin dengan wajah putus asa.
Eki tertawa terbahak bahak, ejekan yang terdengar sakit di telinga Darwin, sementara Ron hanya memicingkan mata melihat tingkah kedua sahabatnya ini.
"Bro, pasangan tidur bersama itu biasalah! Jangankan dengan pacar, kamu bahkan bisa tidur dengan siapapun sesuka hatimu!"
Ron berdecak kesal mendengar ucapan Eki tapi dia mencoba menahan diri. Hanya tangannya saja yang terlihat mengepal menahan emosi.
"Ini beda Eki!" Dengus Darwin kesal. "Aku tak bisa melupakan Ruth begitu saja apalagi setelah semua yang dia lakukan. Kau tahu apa yang ingin aku katakan pada kalian kali ini?" Tanya Darwin kemudian, dengan sorot mata penuh benci.
Eki dan Ron terdiam, wajah Darwin hari ini memang sangat berbeda. Berbeda sekali.
"Balas dendam!"
Hah!
Yakin?
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
----------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 15: Bertengkar
Baru kali ini wajah Darwin terlihat serius hingga kulitnya yang bersih terlihat kemerahan pada bagian pipi. Eki dan Rama tak berani nyela ucapan Darwin. Mood temannya itu sedang tidak baik.
Setelah beberapa lama mereka saling terdiam dan sibuk dengan urusan masing-masing. Eki sibuk dengan ponselnya. Dia menghubungi beberapa teman wanita baru yang baru dia kenal lewat aplikasi kencan online. Sementara Ron sibuk dengan laptop, ada saja tugas yang harus dirapikan atau sekedar memantau akun medsos kakaknya. Kalau kalau ada hater yang jarinya ga di sekolahin. Sebelum Via membaca komen jahat, Ron sudah menghapus komen itu.
Sebelah tangan Darwin mengepal di meja. Alisnya beberapa kali bertaut lalu rileks, bertaut lagi lalu rileks hingga Ron dan Eki tak berani bertanya. Mereka sabar menunggu Darwin bercerita.
"Aku ga pernah menganggap cerita buruk tentang dia dari siapapun bahkan kalau kalian menjelekkan dia, aku ga pernah percaya apalagi peduli."
Ron melirik Eki yang segera menurunkan ponselnya ke meja. Dari tatapan mereka seakan berkata. Wah ini masalahnya serius nih kayaknya. Terpaksa mereka harus fokus pada Darwin lebih dulu. Sejenak mengabaikan ponsel ataupun laptop di depan wajah masing masing.
"Bagiku. Hubungan kami itu adalah hubungan yang terbaik di dunia ini–" Darwin melanjutkan kalimatnya.
Kali ini lirikan sinis dari ekor mata Eki bertemu dengan tatapan malas Ron. Hadeh, omong kosong apa lagi ini! Keduanya seakan bisa menembak ke arah mana alur obrolan dari bibir Darwin.
"Bagiku. Dia adalah wanita pertama yang singgah di hati ku. Disaat aku merasa kosong, sepi dan malas, dia datang dan singgah dihatiku. Disaat keluarga ku terancam hancur dan menyebalkan. Perselingkuhan papi, kesibukan mami. Semua itu. Dia adalah pengobat untuk aku." Mata Darwin memerah. "aku menggantungkan harapanku padanya dan berharap semua akan indah karena cinta."
Eki menyikut pinggang Ron, menoleh kepada Ron dengan menganggukkan kepala, Ron membalas bahasa verbal dengan kedipan mata, meminta Eki untuk tahu situasi, teman mereka, Darwin, saat ini sedang membutuhkan telinga mereka untuk mencurahkan hati tentang kekecewaan kepada kekasihnya, tapi mata Eki malah fokus memperhatikan pengunjung wanita di cafe.
Eki sungguh-sungguh sudah tidak bisa terobati, Dasar mata keranjang, pria brengsek memang sulit diajak menjadi teman curhat! Ron hanya bisa menepuk dahi.
pada akhirnya memang hanya Ron yang mendengarkan curahan hati Darwin, karena 5 menit kemudian Eki meminta izin dengan alasan ke kamar mandi, tidak usah ditanya atau diduga-duga lagi, Darwin dan Ron mengerti dengan gelagat aneh sahabat mereka itu, pasti Eki sudah memiliki target yang harus dia dapatkan hari ini.
"sudahlah lupakan Eki, Kenapa kamu tiba-tiba ingin membalas dendam kepada Ruth, balas dendam yang seperti apa. Kenapa kamu tiba-tiba percaya jika wanita itu berkhianat, sedangkan Eki si pria brengsek itu sudah beberapa kali mencoba mengingatkan dirimu dan kamu tidak pernah mendengarkan kami, memang kami tidak pernah bertemu dengan kekasihmu itu, tapi mendengar pesan dan keinginan wanita itu membuat kami tahu, sesungguhnya membedakan antara wanita yang tulus dan yang modus itu bukanlah perkara susah, yang penting ini otakmu jalan!" Ron menunjuk kepalanya.
"Kamu pikir aku tidak menggunakan otakku, Aku berusaha menepis semua dugaan buruk tentang Ruth karena aku menggunakan otakku, Ada banyak hal yang aku pikirkan tentang dia, Aku ingin menjadi pria yang selalu mensupport, Aku ingin Ruth maju, Aku ingin dia bahagia--"
Otakmu itu isinya sampah. Ron mengumpat dalam hati. Tapi wajahnya tampak tenang seakan dia memakai konsentrasi untuk menghadapi badmood Darwin hari ini.
"lalu, Kenapa tiba-tiba hari ini kamu berpikir untuk berhenti mensupport wanita itu dan kau berhenti untuk membuatnya bahagia!" Ron rasanya ingin menertawakan ucapan Darwin barusan, tapi sebagai orang yang memiliki hati dia tidak tega.
"Tapi untuk kali ini aku sangat kecewa dengan dia..." suara Darwin melemah.
"ya, saya tahu Anda sedang kecewa bung, tapi kekecewaan anda itu apa sebabnya, Anda belum menceritakan dengan detail dan rinci kepada saya sehingga saya tidak bisa membantu Anda. Sejak tadi bahasa anda berputar-putar membuat kepala saya ikut pening." Ron ikutan kesal.
"Dia menjual handphone yang aku berikan kepadanya!" kelopak mata Ron berkedip berkali-kali, "sejak kapan seorang Darwin mempermasalahkan sebuah handphone, Anda Bahkan bisa memborong 1 counter toko handphone, kenapa sebuah handphone membuat Anda kecewa terhadap wanita yang selama ini selalu anda bela, itu sangat tidak masuk akal." geleng-geleng kepala Ron mendengar pengakuan Darwin yang semakin tidak masuk akal baginya. Itu pasti belum inti cerita.
"sudahlah, ceritakan saja dengan gamblang sehingga aku bisa membantumu, dan berada di pihakmu."
Darwin menarik nafas panjang sehingga dadanya tampak naik, "Aku tidak tahu sebetulnya apa yang sudah terjadi. Apakah dia menjual handphone itu atau memberikan handphone itu kepada orang lain, tapi aku melihat ada banyak pesan aneh di handphone itu, aku melihat video---"
Darwin tidak bisa melanjutkan kata-katanya, kelopak matanya terasa panas, dia akan menangis, dan tingkah Darwin membuat Ron kesal.
Ron menepuk meja dengan emosi hingga Darwin terkejut dan tidak jadi mellow. "yah kamu malah mau menangis karena seorang perempuan yang sudah jelas-jelas tidak mencintaimu!" Ron kehabisan kendali.
Mendengar ucapan Ron yang nadanya sedikit tinggi hingga mereka menjadi pusat perhatian di kafe membuat Darwin kesal dia ikut berdiri dan menghentakkan tangan di meja. "Dari mana kamu tahu kalau dia tidak mencintai aku. Banyak hal yang sudah kami lewati. Bahkan aku pria yang yang tidur dengannya!" Pengakuan Darwin membuat tatapan sekeliling semakin tajam ke arah mereka.
Mendengar pengakuan Darwin membuat wajah Ron seketika merah padam. "Brengsek perhatikan ucapan kamu! Kamu boleh mempermalukan diri kamu tapi tidak saat bersama denganku!" Ron mendesis kesal.
Darwin menoleh dan menyadari tatapan semua orang ke arah dia. Sebetulnya dia tidak peduli tapi yang dia takutkan adalah nama keluarganya menjadi rusak dan tercoreng meskipun tidak semua orang tahu kalau dia adalah anak dari orang yang berpengaruh di negeri ini. "Semua ini kan gara-gara kamu!" Dia menyalahkan Ron.
Mereka kembali tenang lalu mengambil kursi masing-masing. "Sebenarnya apa yang terjadi!" Masih tampak kesal tapi sekarang dia bisa mengatur suaranya.
Darwin meregangkan kedua tangan. Dia menyeruput kopinya sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. "Aku mendapatkan ponsel Ruth yang ditinggalkan seorang gadis di rumahku. Dan apa yang aku temukan di galeri itu. Banyak video dan foto Ruth dengan pria lain. Bahkan bukan cuma satu pria. Dia benar-benar gila!"
Ron menggelengkan kepala dengan wajah melongo tak percaya. Sampai dia tidak sadar kalau bibirnya terbuka sejak tadi. "Nah. Semuanya sudah jelaskan. Kalau kamu masih mau sama wanita seperti itu berarti yang gila itu adalah kamu!" Sambil menudingkan telunjuknya ke arah Darwin, tatapan Ron begitu serius.
"Iya tapi aku–" ada keragu-raguan di suara Darwin, membuat tatapan Ron berubah sinis. "Bagaimana kalau gadis itu sengaja meninggalkan ponselnya untuk menjebak Ruth. Bagaimana kalau wanita itu adalah haters atau dia jealous dengan kehidupan pacarku!"
What the f*#k! Pemikiran Darwin benar-benar out of the box dan tidak bisa dimengerti oleh Ron, mungkin tidak bisa dimengerti oleh semua orang.
"Kamu yakin."
Sambil mengedipkan pundaknya Darwin menjawab ucapan Ron dengan wajah ragu-ragu. "Ya bisa saja kan. Kita tidak bisa melihat seseorang dari tampilannya. Dia terlihat polos wajahnya juga biasa-biasa saja tapi aku tidak percaya. Karena sebenarnya dia itu cantik dan body nya juga bagus." Darwin mengingat tentang Via yang tak sengaja ditabraknya kemarin.
Ron makin bingung. "Kamu lagi ngomongin Ruth?"
Darwin menggelengkan kepalanya dia bukan sedang membahas Ruth. Tapi tentang gadis yang dicurigai adalah haters kekasihnya. "Bukan. Ini tentang gadis yang aku temui kemarin. Dia memukulku lalu mengantarkan aku pulang. Dia sengaja meninggalkan ponselnya dan di ponsel itu aku melihat video mesum kekasihku dengan pria lain. Aku jadi curiga dengan gadis itu!"
"Tunggu-tunggu!" Ron mengangkat tangannya menghentikan kecurigaan Darwin. Tiba-tiba dia mengingat pengakuan kakaknya kemarin sore. Tentang alasan kenapa Via pulang terlambat.
"Nggak mungkin Kamu percaya sama Ruth, dan mencuri gadis itu. Kalau pikiran kamu seperti itu Kamu bener-bener gila!"
Ucapan Ron lebih terdengar seperti ancaman.
Darwin heran kenapa sekarang Ron yang tampak lebih kesal dan emosi. "Loh bisa saja dong. Aku baru pertama kali ketemu sama dia tapi dia mau mengantarkan aku pulang. Itu tidak masuk akal!"
Ron melipat laptopnya lalu segera berkemas. Dia menarik ranselnya dan meninggalkan Darwin yang sok melihat tingkah Ron. "Hei. Kamu mau ke mana!" Darwin berusaha menghentikan Ron.
"Kamu bener-bener udah gila!" Orang meninggalkan Darwin dan menyisakan sindiran sinis itu. "Berani sekali kamu mencurigai gadis itu!" Dia kesal karena Darwin lebih memihak Ruth dan mengabaikan fakta yang sudah terlihat jelas. Apalagi ketika dari mencurigai Via. Ron benar-benar marah. Kakaknya itu sangat polos dan baik hati, Jika ada yang melukai hati kakaknya maka Ron adalah pengawal paling depan yang akan melindungi Via.
Di resepsionis cafe ada Eki yang membawa baki camilan, dari meja resepsionis dia melangkahkan kaki kembali masuk menuju meja mereka tadi tapi dia terkejut melihat Ron melewatinya dengan wajah masam. "Loh, Ron. Kamu mau kemana?" Eki mencoba menghentikan Ron. Tapi temannya itu tak mendengar suara Eki.
Wajah Eki melongo. Dia bingung dengan wajah masam Ron. Dan lebih bingung ketika sampai di meja dia melihat Darwin yang memasang wajah sendu seakan air mata siap turun. "Kalian kenapa sih! Ck, tingkah kalian persis cerita BL yang aku baca. Kamu diputusin sama Ron terus mau bunuh diri, sementara Ron meninggalkan kamu karena Uda ketemu pria lain yang lebih kaya?" Eki melemparkan lelucon tidak lucu, lelucon yang membuat meja mereka menjadi pusat perhatian dan bahan gosip.
Tapi ketika Eki menyentuh bahu Darwin yang tertunduk. Dia semakin shock. Ternyata Darwin menangis dan menyeka air mata dengan pangkal telapak tangan, pundak Darwin bergetar hebat hingga wajahnya jatuh ke meja. Dia menangis keras.
Eki membeku dengan baik terlepas dari tangannya. Camilan terjatuh dan berantakan di lantai. Satu hal yang pasti, Eki menyesal kembali ke meja ini!
Sialan. Ini kenapa sih!
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
----------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 16: Teman Baru
Hidup tanpa ponsel membuat Via mati gaya. Dia ga bisa baca novel favoritnya dan membawa laptop itu sangat ribet. Kalau beli handphone baru itu artinya harus keluar budget ekstra. Padahal hp dari Ruth adalah hp bagus keluaran belum terlalu lama. Sayang banget kalau harus dilupakan begitu saja. Selepas pelajaran terakhir di kampus, Via langsung bergegas keluar kebetulan hari ini Ruth tidak masuk kelas karena– karena Via tidak tahu alasannya, tapi seperti biasa dia memberikan alasan pada dosen kalau temannya itu sakit. Padahal dia tidak dapat kabar karena hpnya hilang. Pastilah Ruth menghubunginya dan meminta dia untuk mengarang alasan izin.
"Aku harus balik ke rumah mewah itu. Aku yakin hp ku ketinggalan di sana. Duh, aku ceroboh banget." Tanpa berpikir lagi Via memanggil taksi dan memberikan alamat rumah Darwin. Rumah mewah itu mudah diingat karena memang sulit dilupakan. Oh iyalah, rumah mewah di perumahan elit, meski baru pertama kali kesana tetap membekas di kepala Via. Padahal dia ingin bercerita pada Ruth perilah Darwin tapi sepertinya dia harus menunda hal itu karena pertama, Ruth tidak masuk kelas dan kedua karena dia tidak pegang handphone.
"Non, kita sudah sampai non tapi penjaga gerbang tidak membukakan pintu untuk anda." Suara pak sopir membuyarkan lamunan Via. Ketika dia mendongakkan kepalanya pagar tinggi rumah mewah Darwin sudah terlihat di depan sana. Seorang penjaga tampak berdiri di depan pos jaga. Penjaga itu meminta akses masuk dari sopir taksi.
"Bisa perlihatkan akses masuk anda?" Tanya si penjaga berbadan tinggi tegap itu.
Via menjadi linglung karena dia tidak memiliki akses masuk yang ditanyakan itu. Kemarin waktu dia datang ke rumah mewah ini dia tidak memerlukan semua itu. Ketika dia sadar dia memukul dahinya itu karena dia masuk dengan Darwin, petugas jaga pasti sudah mengenali Darwin.
"Stop di sini saja Pak. Saya akan turun di sini!" Kata Via memberikan ongkos taksi, Dia turun dari mobil lalu menghampiri petugas jaga gerbang rumah Darwin.
Petugas jaga mengalihkan pandangannya dari sopir ke arah Via yang semakin dekat dengannya. "Jika ingin masuk harus memiliki akses masuk non." Kata petugas itu dengan tegas.
Via menganggukkan kepalanya dengan lemah lalu dia berkata. "Baiklah Pak kalau begitu saya akan menunggu di sini. Saya ada keperluan dengan– Darwin. Tapi kalau akses masuk dia tidak memberikan hal itu kepada saya." Saat menyebutkan nama Darwin, bibir Via terasa sedikit kaku.
Petugas jaga mengangguk kecil. "Baiklah, kamu bisa menunggu di kursi itu. Biasanya Darwin tidak memiliki jadwal tetap. Jika kamu ingin bertemu dengannya kamu harus menghubungi dia. Atau suruh dia menghubungi saya untuk membukakan akses untuk kamu. Saya tidak bisa memberikan akses ke sembarang orang karena ini berhubungan dengan privasi keluarga."
Via sangat memahami hal itu hanya saja dia ke sini kan untuk mencari ponselnya bagaimana dia bisa menghubungi Darwin lagipula Dia tidak memiliki nomor ponsel Darwin karena mereka tidak punya hubungan istimewa apalagi dekat seperti itu. Tapi dia tidak kehabisan akal dia menganggukkan kepala seakan mengerti dan tidak ingin membuat petugas jaga curiga.
"Kami sudah janjian Pak, cuma saya lupa kalau saya datang terlalu pagi jadi biar saya menunggu di sini. Papa tahu lah kalau misalnya mau bertemu dengan pria tampan kadang-kadang kita suka nerves duluan." Via membuat alasan yang mungkin masuk akal bagi petugas jaga.
Petugas jaga itu tertawa kecil. "Ya, ternyata Darwin cukup populer. Dia jarang sekali mengajak teman wanitanya ke rumah. kecuali kekasihnya tapi itu juga sudah lama tidak pernah mampir ke rumah. Kalau begitu tunggu saja ya saya akan masuk ke dalam pos."
Tidak tahu mengapa mendengar ucapan petugas jaga membuat wajah Via sedikit masam. Pasti yang dibicarakan tadi adalah tentang Ruth, Ruth memang pernah mengatakan kalau dia dulu sering berkunjung ke rumah Darwin dan mereka sering melakukan 'itu' di rumah ini tapi semakin kesini Ruth sudah malas mengunjungi rumah Darwin karena katanya itu terlalu membosankan. Entah rumah Darwin atau Darwin yang membosankan bagi Ruth, seharusnya Via tidak perlu ikut campur, tapi tidak tahu mengapa otaknya terus-terusan memikirkan hal itu. Dia menjadi terlalu ingin tahu.
Mengambil duduk disalah satu kursi yang berjajar panjang. Via harus bersabar menemui Darwin. Sudah cukup lama dia menunggu kepulangan Darwin dan sosok pria itu tidak kunjung datang biasanya Darwin tidak langsung pulang ke rumah melainkan nongkrong lebih dulu dengan dua sahabatnya itu. Sampai-sampai Via ngantuk, tidak ada hiburan sama sekali di sini. Seandainya dia punya ponsel pasti dia sudah bisa membaca banyak novel dan melewatkan jam tanpa merasa bosan.
Suara klakson mobil mengejutkan via yang belum beberapa lama memejamkan matanya di kursi. Dia terperanjat lalu bangun dari posisi duduk. Suara gerbang terbuka otomatis membuat Via menoleh kearah pos jaga. Dari dalam pos jaga petugas menunjukkan remote control ke arah Tia yang terlihat syok karena pagar tinggi itu bisa bergerak sendiri. Tapi keterkejutan Via harus ditunda dulu karena sosok yang mengemudi mobil mewah itu adalah Darwin. Dia langsung melangkahkan kakinya dari arah kursi pos jaga.
Mood Darwin hari ini tidak baik karena hari ini 2 temannya tidak bisa diajak nongkrong bersama lebih lama. Ron mengatakan ada hal penting yang harus dia kerjakan yang berurusan dengan urusan keluarga dan tidak bisa ditunda-tunda. Sedangkan Eki, meskipun pria itu memiliki waktu luang pasti waktunya tidak akan diberikan kepada Darwin melainkan mengincar ayam kampus lainnya. Suara gerbang terbuka membuat dagu Darwin sedikit terangkat. Alisnya bertaut kencang menyadari seorang wanita berdiri di samping pos jaga. Dia tak percaya dengan kelihatannya dan berkali-kali mengucek matanya, setelah berkali-kali meyakinkan kalau itu adalah gadis yang kemarin dia temui, Darwin menurunkan kaca mobilnya.
Via menghampiri Darwin. Kaca mobil itu perlahan turun sehingga wajah mereka bertemu, Via sedikit menundukkan posisinya.
"Sorry aku datang tanpa diundang. Aku mau cari ponsel ku yang hilang. Sepertinya aku meninggalkan ponsel itu di sini."
Wajah Darwin berubah jadi tegang mendengar ucapan Via. Ponsel, kamu kehilangan ponselmu atau Kamu sengaja meninggalkan ponsel itu di sini? Pikiran buruk menghantui kepala Darwin.
"Apakah kamu melihat ponselku?" Via bertanya lagi. Dia tidak ada niat sama sekali untuk berlama-lama di rumah Darwin.
Tapi sepertinya Darwin terlalu sibuk dengan pikirannya sehingga tidak mendengarkan pertanyaan Via dengan seksama. Dia sibuk dengan pikiran buruk nya.
"Halo. Apakah kamu melihat ponselku!" Suara via sedikit naik supaya Darwin bisa merespon ucapannya.
"Ah sorry. Apa. HP?" Sambil tergagap Darwin mencoba membalas ucapan Via. Dia tahu kalau Via menanyakan tentang ponsel itu tapi dia tidak menyimak dengan seksama pertanyaan Via.
"Aku bilang ponselku dan kamu bilang hp-ku apapun itu pokoknya apakah kamu melihat handphone itu. Sepertinya aku tidak sengaja meninggalkan handphone-ku di rumah kamu. Aku harap kamu tidak membuang benda itu ke tempat sampah karena jujur, benda itu cukup fungsional untuk hidupku!" Sekarang Darwin bisa melihat wajah jujur Via. Tapi dia tidak mau percaya begitu saja ucapan gadis yang hari ini tampak lebih cantik dari kemarin. Meskipun kaos kebesaran yang dikenakan via tidak akan memperlihatkan lekukan tubuhnya dengan jelas.
"Kamu sedang bertanya tentang ponselmu? Atau kamu sedang akting?" Pertanyaan Darwin membuat alis Via berjingkrak.
"Maksud kamu?" Dia beneran enggak ngerti.
"Sepertinya handphone itu tidak asing buat aku." Kata Darwin membalas wajah kesal Via.
Via masih gak paham. "Gimana? Aku nggak paham?" Sambil bertolak pinggang via menggelengkan kepalanya menatap wajah curiga Darwin yang meneliti dirinya.
"Ponsel itu. Aku memesan custom untuk kekasihku!"
Penjelasan Darwin membuat wajah Via melongo tak percaya hingga mulutnya membulat besar seperti huruf o. What the fu-ck!
"Sialan. Dia nggak bilang kalau itu pemberian dari pacarnya. Dia cuma bilang kalau dia nggak butuh benda itu dan dia berikan itu untuk aku." Dengan nada tinggi via mencoba menjelaskan sambil menyeka pangkal rambut depannya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau ponsel pemberian dari Ruth adalah ponsel dari Darwin. "Oke fine kalau begitu. Apa itu artinya aku nggak bisa mendapatkan kembali ponsel itu karena ponsel itu sudah kembali kepada pemilik aslinya?"
Tidak perlu menunggu jawaban dari Darwin via merasa kalau dia tidak akan mendapatkan ponselnya lagi jadi dia memilih untuk meninggalkan posisinya. Sebaiknya dia pulang dan mengajak adiknya untuk membeli ponsel baru. Tapi tunggu dia butuh sim card ponsel itu jadi baru dua langkah dia meninggalkan mobil Darwin dia kembali lagi ke tempat asalnya.
"Aku tidak masalah dengan ponsel itu. Tapi apakah bisa kamu memberikan sim card ku?"
Darwin memperhatikan tingkah Via dengan seksama. Kalau misalnya gadis ini berakting berarti artinya sangat bagus dan patut diacungi jempol tapi Darwin curiga kalau semua ini adalah bagian dari konspirasi. Pikirannya menjadi terlalu berat karena dia terlalu sering main game war.
"Masuklah ke mobilku!" Pinta Darwin sambil menggerakkan tangannya memberi kode supaya Via segera masuk ke dalam mobilnya.
"Tapi kamu bakalan kasih SIM card ku kan!" Via butuh penegasan. "Atau aku tidak perlu ikut dengan kamu kalau kamu nggak bisa berikan itu kepada aku."
Darwin menarik nafas panjang. "sim card atau HP itu. Atau ponsel baru. Aku bakal kasih ke kamu asalkan kamu ikut aku dulu
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html
----------------------------------
Novel " Rayuan Pria Tampan Berakibat Skandal Cinta"
Bab 17: Sayangnya Kamu Pacar Sahabatku
Hari ini Darwin tidak perlu membuatkan minuman untuk tamunya. Hari ini adalah jadwal housekeeper membersihkan rumah jadi Darwin sekalian meminta kaos kiper untuk memesan minuman jus segar dari cafe yang berada di pintu masuk perumahan.
Via duduk di sofa dengan tidak relax. Punggungnya sedikit melengkung kedua tangan menyentuh wajah beberapa kali dia sepertinya sangat tidak nyaman berada di rumah Darwin menunggu Darwin berganti pakaian.
"Silakan nona minumannya." Bekerja di rumah Darwin mempersilahkan via untuk mencicipi minuman segar dalam botol yang berembun. Udara hari ini cukup panas dan dia tadi menunggu Darwin cukup lama di pos jaga depan. Sebenarnya dia sangat haus saat ini tapi dia tidak mau mengambil kesempatan ini karena tujuan dia ke sini adalah untuk mendapatkan sim card. Jadi dia akan fokus dengan tujuannya saja.
Suara langkah kaki menuruni anak tangga. Sepertinya itu langkah kaki Darwin karena kamarnya berada di lantai dua.
Si Ibu pelayan rumah menoleh ke arah tangga dan melihat tungkai kaki Darwin yang mengenakan pakaian santai celana pendek dan sendal karet. "Tuan muda sudah selesai ganti pakaian jadi saya akan meninggalkan nona." Katanya sopan dengan raut wajah ramah. Dia menoleh pada Darwin yang menyimpan kedua telapak tangan di saku celana.
"Tuan, saya akan membersihkan rumah bagian luar bersama asisten saya. Tuan masih memerlukan saya silakan telepon saya. Saya sudah belikan minuman segar seperti yang Tuan inginkan. Saya juga menyimpan beberapa makanan olahan di kulkas. Katanya Tuhan pengen makan olahan ikan air tawar. Saya membawakan beberapa potong ikan dari Empang sendiri. Saya jamin rasanya masih segar dan manis." Ujarnya kepada Darwin dengan wajah ceria sama seperti sebelumnya saat dia berbicara dengan Via.
"Makasih banyak bi." Meskipun jawaban Darwin terdengar singkat tapi senyuman di bibirnya tampak begitu membekas panjang.
Sambil membawa beberapa peralatan kebersihan, wanita yang dipanggil bibi itu bersiap meninggalkan ruang tamu. Sambil melangkahkan kaki Dia menepuk bahu Darwin pelan posisi mereka sudah saling berhadap-hadapan dan sangat dekat. "Jangan terlalu banyak begadang apalagi banyak pikiran. Hidup hanya sekali jangan lupa untuk dinikmati."
Mendengar nasehat dari bibi itu membuat kepala Via ikut tertegak. Dia kagum dengan hubungan Darwin dan bibi pelayan itu sepertinya Mereka terlihat sangat akrab.
Sepeninggalan bibi pelayan Darwin menoleh pada minuman di meja yang sudah membuat genangan kecil di meja kaca itu. "Minum." Kata Darwin menawari via dengan singkat.
Sambil mengedikkan bahu ringan, via menganggukkan kepalanya perlahan-lahan. "Thanks, tapi aku enggak bisa lama-lama di sini soalnya jarak rumah kamu ke rumahku cukup jauh. Jadi aku langsung saja ke tujuan utama aku–"
Belum selesai kalimat via Darwin sudah memotong. "Jangan terburu-buru seperti itu dong. Emangnya dimana rumahmu dan sejauh apa. Aku masih punya 4 mobil di basement. Kalau memang masih kurang cepat. Helipad orang tuaku juga ada, meskipun aku belum punya lisensi untuk mengendarai sendiri aku bisa panggil kapten ke sini."
Mendengarkan ucapan Darwin membuat tertawa sinis. Bukannya dia tidak percaya dengan ucapan Darwin. dia tahu kalau Darwin itu sangat kaya, Ruth sudah sering bercerita status keuangan keluarga Darwin yang sungguh melewati batas jangkauan orang pada umumnya.
"Kenapa?" Darwin bertanya melihat Via tidak menyentuh minuman yang dia tawarkan sambil mengambil tempat duduk di samping Via, tidak begitu dekat tapi juga cukup dekat.
Sambil mengawasi rambutnya yang dibiarkan jatuh ke dahi, dia tidak mengangkat style rambut ke atas seperti biasanya, sehingga wajah dan tampilan santai ini malah tampak lebih tampan dan menarik. "Ga usah takut dan mikir yang aneh aneh." Dia mengganti posisi duduk, menarik punggung seperti via yang tak nyaman, dia menaruh ujung lengan pada lutut. "Aku ga kasih apa apa ko keminuman kamu. Kan bibi beli ke luar. Aku sengaja minta minuman dari luar takut kamu merasa sungkan atau malah berpikiran negatif ke aku."
Via mendelikkan matanya pada Darwin. "Ga ada tuh. Kalau kamu ngomong begini malah sekarang aku baru bisa mikir kesitu. Atau jangan-jangan kamu memang berpikiran negatif ke aku?"
Tudingan Via membuat Darwin gagap. Ya jujur saja dia sempat berpikiran negatif tentang Via karena terlalu memihak Ruth. "E-ga ko. Aku ga mikir apa apa sih." Mukanya yang aneh tampak ga bisa bohong.
Via berdecak melihat gelagat aneh Darwin. "Aku sih bodoh amat ya sama kamu tapi SIM card ku itu penting, jadi tolonglah kasihin ke aku." Suara Via berubah memelas dengan menangkupkan kedua telapak tangan ke Darwin seakan dia menjadi peminta-minta yang minta belas kasihan.
Darwin menautkan alis melihat telapak tangan Via, lalu dia tertawa kecil, baginya tingkah Via lucu. "Apa sih. Aku ga pakai hp kamu. Nih!" Darwin menarik dari saku celana, hendak memberikan pada telapak tangan Via. Dia bisa melihat wajah bahagia Via.
Ponsel di tangan Darwin hampir menyentuh telapak tangan Via tapi sedetik kemudian Darwin melemparkan ponsel itu ke udara dan hap! Dia menangkap ponsel itu, tingkahnya membuat ekspresi bahagia Via berubah gelap.
"Tunggu dulu deh. Ponsel ini akan aku kasih ke kamu tapi aku mau kamu ceritakan dengan jujur gimana caranya ponsel ini ada di tangan kamu sedangkan beberapa hal yang familiar buat aku ada di ponsel ini. Kamu ga mungkin beli ponsel ini dengan semua sampah di dalamnya kan?" Selidik Darwin dengan wajah serius, dia mencondongkan sedikit wajahnya ke arah Via sambil sesekali ekor matanya melirik ponsel di genggamannya.
Via menarik badannya, menjaga jarak antara mereka berdua. "Kamu tanya sama Ruth aja deh. Aku juga ga akan maksa kamu kasih hp itu. Aku cuma butuh sim nya. Tapi kalau itu sulit ya udah aku nyerah. Aku mau pulang!" Via mengangkat kedua tangan santai dengan wajah tenang, meski kecewa dia ga mau memaksa Darwin lagipula dia ga punya banyak waktu untuk meladeni Darwin. Lebih baik menghindar, itulah kamus Via.
"Loh?" Malah Darwin yang kaget melihat respons santai Via. Ga gini harusnya. Darwin menyusul Via yang berdiri dan bersiap meninggalkan ruang tamu berukuran luas ini.
"Tu-tunggu dulu!" Dengan cepat Darwin mencoba menghentikan Via, tak sengaja dia menarik tas Via membuat pundak gadis itu tertarik kencang dan tubuhnya oleng ke belakang.
Nyaris menabrak meja kaca dengan minuman yang sudah tidak dingin lagi membuat Via memejamkan mata, ah pasti dia akan cedera punggung, pikirnya tapi ketika dia membuka mata ternyata tidak ada rasa sakit sama sekali melainkan ada rasa hangat yang menjalar di pundak hingga ke pinggangnya.
"Kamu ga papa?" Tanya Darwin dengan wajah cemas.
Via membuka mata perlahan dan wajah Darwin yang tampan dengan darah campuran itu tampak begitu nyata. Tak sadar via menelan ludah, dia juga bisa merasakan otot kuat lengan Darwin yang menopang tubuhnya.
Darwin sendiri jadi gugup dan panik, dia ga ada niat untuk melukai Via tapi hoir saja dia membuat kesalahan besar. Tangkapan tangannya tidak meleset dan bisa menopang tubuh Via ke dalam pelukannya tapi rambut panjang yang tergerai dan kacamata yang terlempar membuat Darwin sadar kalau Via sangat cantik tanpa polesan make up sedikitpun.
Ga, ini ga boleh nih kaya gini!
"Maaf!" Darwin segera melepaskan Via.
Via langsung berdiri dan menjauh dari Darwin. Keduanya tampak kikuk dengan wajah merona merah.
"Aku pulang!" Kata Via tanpa menoleh dan melangkahkan kaki cepat yang tampak seperti langkah robot.
"Be, bentar!" Darwin masih harus menghentikan Via, dia mencoba menyusul Via sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia salah tingkah dan bingung. "Aku, aku akan antar kamu!" Katanya lagi.
Ah mau mati rasanya menghadapi perasaan canggung, kikuk dan malu, perasaan seperti ini mengingatkan Darwin ketika dia baru berpacaran dengan Ruth. Tunggu, Darwin merasa ada yang salah dengan kepalanya.
"Via. Via! Ayo ngobrol sebentar aja." Via tak mempedulikan Darwin dan mulai menuruni anak tangga teras rumah Darwin. "Aku mohon…"
Suara lemah Darwin membuat Via tak lanjut melangkah, dia menajamkan mata dengan wajah kesal. Ah sialan! Kenapa harus berurusan dengan pacar sahabat sendiri! Dia mendesis kesal dalam hati, jujur saja, Darwin itu memang pria yang membuat Via penasaran setengah mati karena Ruth menaruh sosok Darwin seakan misteri, dan sekarang dia bertemu dengan Darwin yang selama ini dibodohi oleh Ruth, ada rasa kasihan, kesal yang membuat dia tak bisa mengabaikan Darwin begitu saja.
"Tapi. Cuma lima menit!" Via luluh juga deh.
Darwin tersenyum lebar. Dia benar-benar bahagia dengan ucapan Via, dia tampak sedikit melompat seperti anak kecil. "Kalau bisa dibayar aku bayar waktumu. Masa lima menit, setengah jam ya?" Darwin kembali menggoda Via.
Via mengurut dahinya dan semakin kesal, dalam hati dia membatin. Darwin imut dan menggemaskan begini kenapa bisa jadi keledainya Ruth, ah sayang banget! Via menggelengkan kepala lagi.
"Tapi janji balikin sim card ya!" Katanya mengancam lalu tersenyum. Ih rasanya dia mau langsung kembali menaiki anak tangga melihat Darwin mengangguk cepat.
Sayangnya Ruth lebih dulu bertemu Darwin sih.
Selanjutnya .....
Full Bab 1-22
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/07/rayuan-pria-tampan-berakibat-skandal.html