Gejolak Membara Bini Orang
Novel " Gejolak Membara Bini Orang"
Kisah ini dimulai di tengah kesendirian yang kurasakan setelah kepergian istriku. Yang meninggal beberapa bulan yang lalu karena insiden kecelakaan di Tol, Kesendirian membuat hidup merana dengan terjebak dalam rutinitas yang menjenuhkan, hari-hariku terasa hampa.
Saat akhir pekan tepatnya malam minggu, Aku mencoba mencari wanita di medsos sebagai penghibur hati dan pada akhirnya aku menemukan kenalan yang bernama Sarah seorang binor yang berumur 28 tahun. Suaminya, seorang pria kaya yang memiliki dua istri.
Awalnya, hubungan kami hanya sekedar memuaskan nafsu. Kami saling menggoda, saling membelai, dan saling merasakan kehangatan tubuh satu sama lain melalui layar ponsel.
Namun, seiring berjalannya waktu, sesuatu yang tak terduga terjadi. Aku mulai merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar nafsu. Aku jatuh cinta pada Sarah.
Sarah, yang awalnya hanya menganggapku sebagai teman kencan virtual, juga mulai merasakan hal yang sama. Kami saling jatuh cinta, meskipun hanya melalui layar.
Sehingga di sekali waktu menjelang sore kami memutuskan berketemua disebuah kafe yang tertutup. Kafe itu bernama "Reminiscence", sebuah nama yang seolah berbisik tentang kenangan dan romantis.
Reminiscence bukanlah kafe biasa. Bangunannya, sebuah rumah tua bergaya kolonial, memiliki pesona tersendiri. Dindingnya yang terbuat dari batu bata merah tua dihiasi dengan tanaman rambat hijau yang menjalar dengan anggun. Jendela-jendela berbingkai kayu dengan kaca patri berwarna-warni menambah aura klasik dan romantis pada bangunan itu.
Kami memilih kafe itu sebagai tempat untuk pelepas rindu di karenakan kafe tersebut menyediakan tempat penginapan.
Selama ini kami selalu bercinta dalam dunia virtual, namun kali ini kami ingin menginap di tempat tersebut agar kami lebih leluasa memuaskan hasrat kami.
Saat kami melangkah masuk, aroma kopi yang harum dan lembut langsung menyambut. Suasana di dalam kafe tenang dan remang-remang, dihiasi dengan lampu-lampu tembaga yang memancarkan cahaya hangat. Meja-meja kayu tua yang kokoh dan kursi-kursi empuk berbalut kain beludru cokelat tua tertata rapi di sudut-sudut ruangan.
Sara dan aku memilih duduk di sebuah meja dekat jendela. Dari tempat kami duduk, kami dapat melihat pemandangan kota yang mulai ramai dengan lampu-lampu kendaraan. Suasana di sekitar kami terasa sangat intim dan romantis. Hanya ada suara lembut alunan musik klasik yang mengalun pelan dari piano dan bisikan-bisikan lembut para pengunjung yang sedang asyik berbincang.
Sara tersenyum padaku, matanya berbinar-binar. "Tempat ini sangat indah," katanya. "Aku merasa nyaman."
Aku tersenyum , dan mataku menatapnya penuh kekaguman. Sara terlihat begitu cantik dan mempesona, dalam pandanga dan senyumanya yang manja. aku bisa merasakan ketulusan dalam hatinya.
Aku yakin dia tulus mencintaiku.
"Ya, tempat ini memang memiliki suasana yang unik. Seperti sebuah tempat yang membeku di waktu, menyimpan kenangan-kenangan indah." Gombalku di iringi oleh senyuman.
Semilir angin malam menerpa wajah kami, membawa aroma bunga melati yang harum. Saat itu, aku merasa waktu seolah berhenti, hanya ada aku dan Sara dalam dunia kami sendiri.
Semilir angin malam menerpa wajah kami, membawa aroma bunga melati yang harum. Saat itu, aku merasa waktu seolah berhenti, hanya ada aku dan Sara dalam dunia kami sendiri.
Sambil menikmati makanan malam, sara bercerita tentang kehidupannya dalam berumah tangga. Dia tersakiti, Sejak suaminya menikah lagi, rumah yang dulu dipenuhi tawa dan kebahagiaan kini terasa hampa. Dia merasa seperti orang asing di rumah sendiri.
Suaminya lebih sering menghabiskan waktu di rumah istri barunya, meninggalkan Sarah dalam kesunyian dan kesedihan. Rasa sakit yang terpendam dalam hatinya membuat napasnya sesak.
Itu adalah alasannya, mengapa Sarah berselingkuh, dia merasa kesepian dan tersakiti.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, membiarkan dia bersandar di pundakku. Air matanya yang terjatuh membasahi pipinya, aku menghapusnya dengan tisu, jari-jariku bergetar saat menyentuh pipinya yang dingin.
air matanya semakin berlinang, tak kuasa lagi menahan rasa sakit dalam hatinya .
"Tenangkan pikiran mu sayang, malulah di lihat orang" bisikiku pelan di telinganya.
Sarah terdiam, dia mengambil tisu di tanganku tuk menghapus air matanya.
" Aku ingin istirahat mas" katanya pelan sambil bangkit dari duduknya.
Kami pun pergi menuju penginapan, langkahku terasa berat, seperti terbebani oleh rasa bersalah. Aroma masakan yang tercium di udara, kini terasa hambar di hidungku.
kami melangkah pergi meninggalkan makanan begitu saja di atas meja. aku menggenggam tangannya erat, berharap sedikit sentuhan kasihku dapat meringankan beban yang dia pikul. berharap, suasana kamar yang tenang dapat sedikit meredakan kesedihannya .
Kami masuk ke kamar, dan Sarah langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Aku duduk di tepi ranjang, menatapnya, hatiku hiba melihat kesedihan yang terpancar dari matanya.
"Kamu jangan bersedih, Aku tidak tega melihatmu seperti itu " ucapku .
Sarah kembali terbangun, dan langsung memeluk tubuhku erat. "Aku ingin hidup bersamamu," ucapnya bergetar, diiringi oleh suara tangisannya yang pecah. Dalam pelukan itu, Hatiku berdegup-degup, terenyuh oleh penderitanya. Sementara tanganku membelai rambutnya, mencoba memberikan ketenangan.
"Sarah, aku mencintaimu," ucapku lirih.
"Sama, aku juga mencintaimu," balasnya, suaranya masih bergetar, namun diiringi oleh senyum tipis yang membuat hatiku meleleh. Kami kembali saling memeluk, sehingga pada akhirnya kami yang sudah kebawa suasana dalam pelukan kini saling berciuman.
bibir kami bertemu, dan lidah kami saling bermain, mendorong, menarik dengan saling membalas, sehingga rasa sakit dan kesedihan terlupakan begitu saja.
tangannya kini meremas erat punggungku, menarikku lebih dekat, menyatukan tubuh kami dalam satu kesatuan.
ku ikut mainkan tanganku, mencoba memberikan ketenangan, jari-jariku menelusuri lekuk tubuhnya, mencari titik-titik sensitif yang membuat tubuhnya bergetar oleh sentuhan tanganku, seiring dengan desahan napasnya yang semakin cepat mendorong keinginan kami untuk melakukan lebih dari itu..
Tangan ku ikut bermain, mencoba memberikan ketenangan. Jari-jariku menelusuri lekuk tubuhnya, mencari titik-titik sensitif yang membuat tubuhnya bergetar oleh sentuhan tanganku. Desahan napasnya yang semakin cepat, semakin mendorong keinginan kita untuk melakukan lebih dari itu.
Ku meminta Sarah berbaring di pangkuanku, matanya terpejam, bibirnya sedikit terbuka, napasnya teratur dan dalam. Wajahnya cantiknya memerah, pipinya bersemu merah muda, Rambutnya yang terurai di bantal tampak berkilauan di bawah cahaya lampu tidur yang redup.
Aroma bunga dan vanila yang lembut, seperti parfum kesukaannya, memenuhi indraku. Aku menunduk, mencium lembut bibir manis nya yang memerah.
Sementara kedua tanganku meraba lembut dua gunung kembar secara bergantian.
" Massssss ' aghhhhh, enak banget mas" desisnya tersengal, bibirnya terbuka lebar, dan detak jantungnya yang berdebar kencang.
Wajah cantik jelita memerah , Sarah mendesaku tersengal dengan nada yang terbata bata,
"Ayo buruan masukin punyamu mas, aku nggak sabaran lagi, ayo cepat mas, aduhhh. Ayoo dongg."
"Bentar-bentar aku mau ke dapur dulu, yaa" jawabku menggodanya sambil turun dari kasur.
Selanjutnya.....⬇️⬇️⬇️
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/08/gejolak-membara-bini-orang.html
Sarah duduk di pangkuanku, tubuhnya bersandar nyaman di dadaku. Aku memeluknya erat, merasakan kehangatan tubuhnya yang menenangkan.
Cahaya senja perlahan memudar, meninggalkan ruangan dalam kegelapan yang nyaman. Aroma lembut lavender dari lilin aromaterapi yang menyala di sudut ruangan memenuhi udara, menambah kehangatan dan ketenangan dalam pelukan.
Suara Melodi yang aku putar terdengar mengalun di ruangan, menciptakan suasana yang syahdu dan penuh cinta. Ranjang kami sedikit bergoyang mengikuti gerakan kami yang lembut.
Sarah menengadahkan wajahnya, matanya berbinar menatapku. "Lagu-lagu ini selalu membuatku merasa tenang," bisiknya.
Aku tersenyum sambil menggenjotnya dalam pelukanku.
Sara memeluk erat tubuhku menjerit tersengal sengal, pantanya ikut bergoyang sehingga tubuh kami saling menempel naik turun mengikuti irama lagu.
aroma tubuhnya yang harum menusuk hidungku , dan Ranjang bergoyang mengikuti gerakan kami yang perlahan memberikan kenikmatan yang sulit di ucapkan.
" Enak, massa, Iya sayang aohhhh, cepatin masss' iya Kamu juga cepatin ya, iya mas terussssssss cepatin mass " ucap kami yang semakin terhanyut dalam melodi lagu, menikmati kehangatan dan mome keintiman Kami yang semakin memanas, gerakan demi gerakan yang kami berikan terasa begitu nikmat sehingga pada akhirnya kami mencapai puncak kenikmatan bersama dalam pelukan.
BERSAMBUNG
" BERCINTA DENGAN BINOR" PART 4.
:::::::::::::::::::::::WARNING.....!!!!!::::::::::::::::::::::
____________ NOVEL DEWASA+20________
Akhir dari puncak kenikmatan, kami terbaring dalam pelukan, meresahkan kehangatan tubuh di antara kami. Kenikmatan yang baru saja kami rasakan mulai mereda, meninggalkan jejak hangat yang menenangkan. Embun malam menetes di jendela kamar membuat suasana menjadi semakin dingin. Kami memperkuat kan pelukan mencari kehangatan di antara kami, jari-jari kami saling bertautan, merasakan detak jantung yang berirama. Bisikan cinta terlontar dari bibir kami, lembut dan penuh makna, seakan menyapa jiwa yang terpendam. Mata kami saling bertatapan, di dalamnya terukir kisah cinta yang baru saja terukir, sebuah janji untuk selamanya.
Lima bulan lamanya kami saling mengenal, menapaki jalan cinta yang penuh rintangan dan keraguan. Namun, di malam ini, di bawah langit bertabur bintang, kami menemukan puncak kebahagiaan. Rasa kebersamaan yang baru saja kami temukan, begitu hangat dan nyata, seakan menghapus semua keraguan yang pernah ada.
"Aku ingin mandi," bisikku, suara sedikit serak karena kelelahan dan kenikmatan.
Sara tersenyum, matanya berbinar dengan cahaya nakal. "Mandi bareng hehehehe " ucapnya dengan Senyumannya yang menggoda.
Aku mengangguk, dan langsung menggendongnya melangkah menuju kamar mandi, tubuh kami saling bersandar, merasakan kehangatan yang tak terlukiskan. Air hangat membasahi tubuh kami, menyingkirkan sisa-sisa kelelahan dan keraguan. Di dalam kamar mandi, kami menemukan kembali kehangatan cinta, sebuah kebersamaan yang tak terpisahkan.
Sambil saling mencium, kami bermain-main dengan air, menyiram tubuh masing-masing dengan tawa dan keceriaan. Sentuhan air yang dingin dan lembut semakin mengintensifkan sensasi yang kami rasakan.
" Aku kembali bergairah sayang " bisiku pelan sambil menyudut tubuhnya berdiri bersandar di pojok kamar mandi. Sarah tersenyum dan mengatakan hal yang sama.
Permainan kamipun di mulai kembali, di awali dengan saling melumat bibir. Dadanya yang putih bersih dan pucuk putingnya yang keras, ku mainkan dengan tangan kiri ku secara bergantian, sementara satu tanganku lagi, meraih v@g1n4nya.
v@g1n4nya tertutup bulu tebal itu, kini sudah terasa basah, kedua telunjuk jariku terus menerus menusuk nusuk memberikan kenikmatan untuknya.
Sarah berdiri menegang, detak jantungnya berdegup degup, sementara tangan kanannya memainkan Juniorku , mengocoknya dengan gerakan yang hampir sama seperti gerakan tangan ku.
"Masukin masss, ihhhhhhh enak banget tau" ucapnya tersengal, detak jantungnya berdegup kencang, hembusan nafasnya tak karuan lagi.
Setelah juniorku tertusuk masuk mentok kedalam v@g1n4nya. aku menggendong dan menyimpannya di atas bak mandi sambil melumat bibir dan memberikan genj0tan yang berirama.
" Aoghhgghhh, enak massssss terus" jeritannya mendesak, kakinya menjepit silang pinggangku.
Ku mainkan kedua gunung kembarnya, menepuk nepuknya lembut, lalu put1ngnya ku sedot menariknya dengan bibirku sementara gerakan pantatku semakin bergoyang cepat.
"aghhhhh, eeeeenak, terus mas" ucapnya dengan nafas terengah-engah, bibirnya terbuka lebar-lebar sementara kedua tangannya memegang erat rambutku.
Aku kembali menggendongnya, kakinya terangkat ke atas dadaku, dan genjotanku semakin memanas.
"Maasssssssssssssssss" uggggggggh teriakannya tersengal bercampuran jeritan panjangku.
Aku menahan gerakan ku, memperlihatkan pelukan sambil menikmati akhir dari puncak kenikmatan kami.
"aku udah keluar mas" ucapnya, tubuhnya bergetar terputus putus.
" Sama sayangku" balasku, sambil menurunkannya kembali.
