Juraganku Pelampiasanku

 Novel "Juraganku Pelampiasanku"

Penerbangan dari kota S sudah lima belas menitan mendarat. Penumpang pertama terlihat keluar dari pintu. Kemudian di susul oleh penumpang berikutnya diiringi oleh seorang porter yang menyeret sebuah troli yang penuh oleh tumpukan koper dan barang lainnya. Dalam hitungan detik suasanapun menjadi hiruk pikuk. Para supir taxi menyongsong setiap penumpang yang keluar.

Mereka memang selalu begitu. Berebutan menawarkan jasa tanpa memikirkan kenyamanan orang lain. Sementara itu beberapa petugas bandara sudah semakin kewalahan menertipkan para penjemput yang semakin menjejali pintu. Bandara Kota H memang kecil.

Ruangnya sempit dan pintu keluarnya cuma satu. Ditambah lagi orang-orangnya yang susah di atur. Sandra terlihat berupaya untuk keluar dengan susah payah di antara kerumunan orang di sana. Beberapa kali ia harus mengucapakan ‘permisi’ kepada setiap orang yang menghalangi jalannya.

Cerita Sex Wanita Yang Cantik Seperti Bidadari Part 1

Cerita Sex “Hhhhh!” akhirnya ia baru bisa lega setelah duduk di dalam taxi.

“Apartemen xxx, pak” katanya pada pak sopir.

Untungnya barusan Didiet menelpon bahwa Paijo batal menjemputnya tanpa menyebutkan alasannya. Tadinya ia sudah membayangkan perjalanan ini akan semakin menjadi lebih menjengkelkannya. Setidaknya ia masih bisa punya waktu buat rilek sejenak sebelum memulai ‘perang dunia ke-lima’ dengan Didiet setibanya di apartemen nanti.

Dua puluh lima menit kemudian ia tiba di apartemen. Senyum ramah dan sapaan dari petugas security di loby tak terlalu ia hiraukan. Ia melangkah cepat menuju ke Lift. Selama di dalam Lift ia berusaha mengingat ulang apa saja yang akan ia utarakan kepada suaminya nanti. Sambil menguatkan tekat untuk menolak setiap permintaan aneh Didiet sekalipun Didiet memaksanya melakukan itu. Ternyata Didiet sendiri yang membukakan pintu baginya.

“Hai” sapa Didiet seraya mengambil alih travelbag dari tangan Sandra. Lalu mendaratkan kecupan tipis di bibir istrinya.

Hari ini Sandra hanya memakai olesan tipis di wajahnya. Namun di mata Didiet itu hampir tak ada pengaruhnya. Kecantikan yang dimiliki Sandra memang luar biasa.

“Hmmm” Sandra menanggapinya dengan dingin. Begitu masuk pandangannya langsung memindai ke seluruh sudut ruangan. Namun ia tak menemukan apa yang ia cari.

“Mana anak itu?!” tanyanya ketus.

“Paijo maksudmu, Say? Ia masih tidur. Nanti saja kangen-kangenannya. Lebih baik engkau beristirahat dulu pagi ini”

“Apa!? Kangen-kangenan katamu?! Siapa juga yang kangen pada anak kampung itu!” Sandra langsung meledak sambil membesarkan mata.

“Aduhhh aku kan cuma bercanda, Say. Tapi aku justru suka melihat dirimu kalau sedang marah. Semakin menggemaskan!”

Wajah Sandra sempat merona. Tetapi ia tak mau kegombalan Didiet mempengaruhinya kali ini.

“Aku benar-benar tak percaya engkau melakukan semua ini! Buat apa engkau mengajak anak itu kembali!” ujar Sandra terus masuk ke gigi lima persneling dan tancap gas.

“Sabar say. Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya padamu”. Ujar Didiet dengan santai. Nyata sekali ia sama sekali tak terprovokasi oleh keberangan istrinya yang molek itu.

“Tidak perlu Dit! Aku sudah tahu semua rencanamu. Mungkin engkau bisa memaksa Nadine memenuhi hasrat liarmu pada anak itu namun tidak kepadaku!”

“Lho, Aku tak pernah memintamu datang kemari buat bercinta dengan Paijo.”

“Paijo yang mengatakannya kemarin di telepon!”

“Ha ha ha! ” Didiet tertawa geli.

“Dit! hentikan ini tidak lucu, tahu!”

“Ha ha Baik baik ….sabar dulu. Waktu itu kami hanya mengodamu.”

“Maksudmu Paijo tak sungguh-sungguh ingin bercinta denganku, begitu!? Huh!!”

“Iya, Say “

“Aku tak percaya kalian berdua tak menginginkan itu! Buktinya Nadine?!”

“Itu soal lain. Sungguh! Aku sama sekali tak memaksa Nadine. Hari itu aku terlalu lelah buat melakukan kewajibanku sebagai suami kepada Nadine. Aku cuma menawarkan kepadanya. Kalaupun ia tak bersedia akupun tak akan memaksa. Dan Nadine sendiri setuju. Ia menganggap itu murni hanyalah karena seks! tak ada perasaan sama sekali terhadap Paijo”.

“Aku sangat mengenal Nadine, Dit!. Ia tidak pernah menyukai Paijo. Kalau bukan karena ingin menyenangkan dirimu ia tak mungkin mau melakukannya dengan anak itu”

“Kenyataan yang terjadi Nadine justru sangat menginginkan persetubuhan malam itu. dan ia terpuaskan oleh anak itu. Sand, Paijo hanya memberi Nadine apa yang seharusnya Alfi rutin berikan padanya.”

Sandra mengakui.Didiet memang benar. Belakangan ini Alfi memang sudah kewalahan mengatur waktu buat memenuhi kebutuhan biologis dari sekian banyak wanita yang ada di dalam kehidupannya. Bahkan Sandra baru sadar jika Nadine memang tidak di intimi Alfi selama lebih satu bulan terakhir ini.

Bukankah dulu ia sendiri mengalami hal yang serupa tatkala Alfi jarang mendatanginya. Bagaimana ia begitu frustasi mengharapkan belaian Alfi sehingga akhirnya ia tergoda melakukan perselingkuh dengan Paijo. Jadi wajar saja bila Nadine akhirnya juga terseret dalam permasalahan yang sama dan memutuskan buat melakukan perselingkuhan.

“Tetapi bagaimana bila Alfi sampai mengetahui hal itu? Dan ia pasti akan kembali meradang”

“Seharusnya Alfi tak perlu cemburu bila ia memang sungguh-sungguh ‘hanya’ mencintaimu.” ujar Didiet memberikan penekanan pada kata ‘hanya’ pada ucapannya.

Ya! Didiet benar lagi soal itu. renung Sandra. Meski Alfi menyatakan sangat menyintai dirinya namun Alfi belum pernah membuktikan kesetiaannya. Sampai saat ini ia masih saja menebarkan cinta kepada banyak wanita. Dan Sandra yakin jumlah kekasih Alfi akan selalu bertambah seiring dengan waktu.

“Aku maklum dengan kekuatiranmu itu. Namun tak semestinya engkau berprasangka buruk terlebih dahulu kepada kami berdua. Aku tak akan pernah memaksamu melakukan apa yang tak ingin engkau lakukan Say. Begitu juga dengan Paijo. Ia tahu engkau sudah menjatuhkan pilihanmu kepada Alfi. Dan ia sadar jika ia sudah tersingkir dalam persaingan memperebutkan dirimu ketika mengetahui engkau hamil oleh Alfi” ujar Didiet lagi

“Maaf aku Dit. Aku hanya tak ingin hubunganku dan Alfi kembali memburuk. Perbuatanmu mengajak Paijo kemari sungguh membuatku bingung dan kuatir, Dit”

“Tak usah di masukan ke dalam hati Say. Aku memang belum bercerita kepadamu apa alasanku membawanya kemari”

“Sewaktu engkau memberi kabar bahwa Alfi sudah pulang maka kuputuskan untuk langsung berangkat kemari dengan mengunakan pesawat dari kota H. Dalam perjalanan menuju ke kota H aku melintasi desanya bik Iyah. Aku berhenti sejenak di sebuah Puskesmas kecil di desa itu buat meminta obat karena kepalaku mendadak puyeng. Di sana aku malah menemukan Paijo sedang terbaring di ranjang puskesmas sambil menangis.

Kulihat banyak bekas penganiayaan di sekujur tubuhnya. Mantri yang mengobatinya mengatakan bahwa Paijo telah menjadi korban penganiayaan oleh beberapa begundal suruhan seorang tuan tanah di sana. Darinya juga aku mengetahui kejadian sebenarnya bahwa ternyata bukan Paijo yang telah menghamili Surti. Gadis itu hamil oleh Ipung pacarnya sendiri yang merupakan anak tuan tanah kaya di kampungnya.

Hal itu terjadi beberapa bulan sebelum Paijo datang ke rumah kita. Karena Ipung takut bertanggung jawab maka Surti mencari jalan buat menutupi aib tersebut. Paijo yang naïf, ia benar-benar tak tahu hanya dimanfaatkan oleh Surti. Surti menjebaknya dengan keintiman. Lalu satu bulan kemudian ia mengaku telah hamil. Surti juga tahu Paijo tak akan menolak bila dimintai tanggung jawab karena sangat ngebet padanya.

Permasalahan baru muncul saat Paijo pulang ke desa, ternyata istrinya sudah diboyong oleh Ipung ke rumah besar orang tua-nya. Ipung yang tak senang akan kepulangan Paijo lalu memerintahkan beberapa karyawan perkebunan ayahnya buat mengusir Paijo dari kampung itu sekaligus menjauhkannya dari Surti untuk selama-lamanya. Tak ada seorangpun yang mau membelanya atau menolongnya saat ia di aniaya.”

“Bagaimana mungkin orang-orang di sana membiarkan hal seperti itu terjadi padahal mereka tahu Surti adalah istri Paijo?” timpal Sandra. Tanpa sadar timbul rasa ibanya terhadap nasib buruk yang selalu menimpa diri Paijo.

“Orang-orang di desanya segan terhadap keluarga Ipung yang kaya raya. Mereka lebih memilih untuk tidak ikut campur tangan dengan urusan itu. Dan satu hal lagi faktanya pernikahan antara Paijo dan Surti sesungguhnya tidaklah syah sebab mereka tak pernah benar-benar dinikahkan oleh keluarga Surti. Tak ada penghulu bahkan tak ada buku nikah. Mereka cuma tinggal serumah tanpa ada ikatan resmi”

“Sungguh malang nasib anak itu. Tadinya kupikir setelah kusuruh pulang ia akan menemukan kebahagiaan di sana.”

“Namun itulah kenyataan hubungan antara Surti dan Paijo. Seakan kemalangan selalu identik dengan orang-orang seperti dia. Nasibnya tak seberuntung Alfi. Di desa itu tak ada seorangpun yang mau mengurusinya. Lantas karena kasihan akhirnya kuputuskan mengajaknya kemari bersamaku.

Aku memang sengaja tak membawanya ke rumah kita di kota S karena aku tak ingin terjadi permasalahan lagi dengan Alfi. Namun demikian apabila engkau keberatan aku akan segera memindahkannya ke sebuah tempat kos” ujar Didiet mengakhiri penuturannya.

“Baiklah Dit. Aku bisa mengerti alasanmu mengajaknya kemari. Aku juga tak keberatan ia tinggal di sini buat sementara waktu asalkan engkau berjanji tak memintaku bercinta dengannya”

“Tentu Say. Bukankah sejak tadipun aku sudah mengatakannya. Akupun tak ingin membuatmu resah apalagi mengingat engkau sedang dalam keadaan hamil.”

Hari-hari berlalu dengan tentram. Sandra tak lagi mempermasalahkan lagi urusan Paijo. Tetapi meski demikian ia tetap menjaga jarak dengan anak itu. Hampir setiap malam ia dan Didiet bercinta. Namun hanya sebatas melakukan oral seks. karena Sandra takut akan terjadi masalah terhadap kandungannya. Sementara itu tanda-tanda kehamilannya mulai terlihat. Rasa mual mulai sering ia rasakan.

Waktu berjalan hampir dua minggu dan sampai detik ini tak terjadi hal-hal yang dikuatirkan Sandra. Sandra baru bisa bernapas lega karena baik Didiet maupun Paijo benar-benar menunjukan konsistensinya terhadap omongan mereka. Dan yang paling menggembirakan buat Sandra karena lusa ia akan pulang ke kota S.

“Mengapa ia belum juga sarapan?” Tanya Sandra heran pada suatu pagi saat menemani Didiet sarapan.

“Kukira anak itu masih terluka. Bercinta dengan Nadine ternyata tak lantas membuatnya melupakan Surti. Entah bagaimana ia harus melewati hari-harinya setelah ini. Sampai sekarangpun anak itu masih sering menangisi kemalangannya meski ia melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Biarkan saja. Nanti juga ia akan makan kalau ia sudah merasa lapar” ujar Didiet menanggapi.

Sandra menemukan kenyataan bahwa kini Paijo benar-benar telah banyak berubah. Ia jadi sangat pendiam. Terkadang Sandra melihat anak itu sering melamun. Namun ia ragu buat memulai dialog dengan anak itu. Tak lama setelah Didiet pergi Lila menelponnya.

“Hi, La. Ada apa ?”

“Ada yang perlu kusampaikan padamu. Ini berkaitan dengan pemeriksaan kehamilanmu tempo hari”

“Apakah ada kelainan atau …” tanya Sandra cemas.

“Tenang janinmu sehat kok.”

“Hhh! Syukurlah! Aku tadi sudah kuatir kalau-kalau ada masalah dengan janinku”

“Tidak. Aku hanya memberi tahumu bahwa sesuai dengan perhitungan kalenderku saat ini kehamilanmu telah memasuki usia sembilan minggu”

“Apakah tidak salah La? Bukankah seharusnya ini baru akan masuk minggu ke-5?”

“Tidak Sand. perhitunganku akurat untuk itu” tegas Lila

“Minggu ke-9? Ituu. .be rar ti….”

“Ya Sand, Sudah terjadi pembuahan sebelum Alfi ‘mencampurimu’. Dan bisa kupastikan ayah dari janinmu yang sesungguhnya adalah…. Paijo”

Pernyataan Lila sungguh sangat mengejutkan Sandra.

“Tidak mungkinn,La!..A.aku tahu persis aku belum hamil pada saat itu”

“Engkau keliru. Alat test kehamilan yang engkau pakai tak bisa dijadikan patokan.

Usia kandungan ditentukan dari kapan terakhir seorang wanita tak mendapatkan haidnya.”

Hening. Sandra tahu ucapan Lila selalu didukung oleh bukti klinis. Lila tahu saat itu Sandra sedang memikirkan semua yang ia sampaikan barusan.

“Maafkan aku Sand. Aku tak memberitahumu soal ini sejak awal. Aku tak ingin merusak kebahagianmu dan Alfi saat itu. Aku sebenarnya tak ingin hal itu menjadi dilema dan beban pikiranmu namun aku harus tetap harus mengatakannya padamu”

“Tidak apa-apa, La. Aku bisa mengerti. Aku justru berterima kasih atas perhatianmu” ujar Sandra.

Lila sudah melakukan sesuatu hal benar. Ia harus tahu ayah biologis dari janin yang dikandungnya. Sehingga dengan begitu apabila dikemudian hari ada permasalahan yang membutuhkan pertolongan dari sang ayah biologis anaknya, dia tahu harus mencari siapa. Untungnya Nadine memakai kontrasepsi saat bercinta dengan anak itu jika tidak dia juga pasti akan terbuahi oleh Paijo.

“Ada satu berita lagi buatmu, Sand. Namun yang satu ini akan sangat mengembirakan. Aku melihat ada dua janin di rahimmu”

“OHH! K KKEMBARR! Benarkahh, Laa?!”pekik Sandra girang.

“Aku tak mungkin salah lihat. Mudah-mudahan saat engkau pulang nanti kita bisa melihatnya semakin jelas melalui alat USG. Sekali lagi selamat buatmu ya, Sand”

“La, a..akuu tak tahu harus bicara apa. Di satu sisi aku benar-benar bahagia mendapati aku bakal memiliki dua orang bayi namun di sisi lain akupun merasa kuatir jika suatu saat Alfi mengetahui bahwa sesungguhnya bukan dia yang berhasil menghamiliku”

“Menurutku saat ini nikmati saja dulu kebahagiaanmu. Perlahan-lahan kita cari cara buat memberi pengertian pada Alfi. Oya jangan lupa atur menu makananmu sebab janinmu memerlukan asupan nutrisi sejak dini ”

“Terima kasih, La. Oya bagaimana dengan kandunganmu sendiri?”

“Ini sudah masuk bulannya bagi dia lahir. Hmmm…Kira-kira dia akan mirip denganku atau Alfi ya, Sand?”tanya Lila.

“Mudah-mudahan ia lebih mirip ke kamu, La. Biar kalau sudah gede dia ga minder-an sama Alfina dan Fini hi hi”

“Hi hi benar juga katamu. Eh Sand..sudah dulu ya. Aku jadi ingat ada yang harus aku beli buat Fili”


“Fili? Engkau memberinya nama itu? Hi hi Baiklah kalau begitu.. Daagg!”

Setelah menutup pembicaraan Sandra termenung memikirkan semua rankaian kejadian ini. Sungguh tak ia sangka ternyata justru Paijo yang berhasil membuahinya. Tidak tanggung-tanggung, Paijo justru memberinya dua orang bayi sekaligus.

Ia benar-benar menjadi serba salah bagaimana harus bersikap kepada anak itu. Soalnya akhir-akhir ini ia telah memperlakukan anak itu secara kurang baik. Lalu bagaimana juga dengan Alfi? Bagaimana reaksinya bila mendengar berita ini. Sandra jadi benar-benar bingung.

“Buu…ibu tidak apa-apa?”

Terdengar seseorang menegurnya.

“Eh ohh kamu Jo. Ya aku tidak apa-apa. Kenapa?” Sandra benar-benar tak menyadari kehadiran anak itu di situ.

“Syukurlah sedari tadi saya sudah memanggil ibu berkali-kali tapi ibu tak menyahut”

“Ohh begitukah? Em ada apa Jo?”

“Saya cuma mau mengembalikan ini sama ibu” ujar Paijo sambil menyodorkan sebuah amplop.

“Apa ini Jo?”

“Itu uang yang dulu ibu kasih ke saya buat istri saya melahirkan. Saya kembalikan ke ibu karena ternyata sudah tidak diperlukan lagi”

“Tak perlu dikembalikan. Jo”

“Tapi buu”

“Simpan saja. Suatu saat engkau pasti membutuhkannya”

“Terima kasih bu. Tapi kalau ibu tak keberatan saya mau titip uang dari ibu ini buat bu de saja.”

Sandra mengeleng-gelengkan kepala. Anak ini tak jauh berbeda dengan Alfi. Agak keras kepala. Namun memiliki hati yang baik.

“Hmmm…Baiklah jika itu keinginanmu. Begitu aku pulang lusa langsung akan kusampaikan pada bik Iyah”

“Terima kasih bu. Saya juga sekalian mau pamit ke ibu karena mulai minggu depan saya tidak tinggal di sini lagi”

“Lho kamu mau kemana?”

“Saya diterima kerja sebagai buruh angkut di sebuah pertambangan milik temannya pak Didiet di pulau K.”

“Pulau K? itu jauh sekali, Jo”

“Iya. justru itu saya minta tolong ibu. Siapa tahu saya bakal lama baru bisa bertemu sama bu de lagi”

“Apakah engkau sudah pikirkan matang-matang keputusanmu itu? Bekerja di tempat seperti itu begitu berat bagi anak seusiamu”

Aneh! pikir Sandra. Mengapa jauh di lubuk sanubarinya muncul perasaan tak tega melihat anak ini pergi? Mengapa ia tak ingin Paijo harus terus menerus berkutat dalam penderitaan selama hidupnya? Jelas itu lebih dari sekedar hanya rasa kasihan.

“Tidak apa-apa kok bu. Saya harus kerja supaya bu de bangga sama saya. Dengan begitu saya juga bisa ngasih ke bu de uang yang banyak. he he” Paijo mengucapkan hal itu dengan kebanggaan.

“Jo kamu sebenarnya anak yang berbakti. Baik-baiklah kamu di rantauan dan pandai-pandailah membawa diri, ya”.

“Ya bu, terima kasih atas nasehatnya”

Paijo sudah akan melangkah keluar namun ia berbalik lagi.

“Oya saya lupa beri selamat sama ibu.”

“Selamat buat apa, Jo?”

“Selamat karena ibu bakal dapat momongan”

“Oh i..tu iya. terima kasih” Sandra tergagap.

“Wahh wah kang Alfi memang hebat. Bisa punya momongan begitu banyak ” ujar Paijo berkata sendiri. Paijo masih terus bergumam terkagum-kagum sambil melangkah ke luar.

Sandra memandang punggung Paijo tanpa dapat berkata-kata. Anak itu begitu tulus menyatakan kebahagian buatnya.

Siangnya

Ia ingat bukankah tadi siang Paijo berencana menyikat lantai kamar mandi karena kuatir Sandra sampai jatuh terpleset gara-gara lantai yang licin. Aneh! mengapa anak itu begitu lama?. Jangan-jangan dia malah onani di dalam situ. Dasar! pikir Sandra. Timbul keisengannya. Ia ingin mengagetkan Paijo. Perlahan ia mengendap ke dekat kamar mandi. Lamat-lamat telinganya mendengar suara tangisan dari balik pintu kamar mandi. Karena penasaran akan apa yang terjadi di dalam kamar mandi, Sandra mendorong pintu itu.

“Joo apa yang terjadi?.” Tanya Sandra heran melihat Paijo duduk meringkuk sambil sesegukan di lantai kamar mandi. Kepalanya tertunduk masuk di dalam lipatan tangannya yang ditopang kedua lutut. Celananya basah semua. Paijo tak menjawab. Ia terus larut dalam tangisnya. Sandra bingung harus berbuat apa sampai akhirnya ia melihat sebuah hp di pangkuan Paijo.

“Boleh kulihat?” tanyanya. Meski Paijo tak menjawab. Sandra tetap meraih benda itu. Ternyata ada sebuah sms. Dari Surti rupanya.

“Kang mas Paijo, sebelumnya Surti minta maaf. Surti hanya mau mengabarkan jika Surti dan kang Ipung sudah menikah pagi tadi. Surti mohon jangan hubungi Surti lagi setelah ini. Terima kasih atas pengorbanan kang mas selama ini. Salam Surti.”

Jelas ini biang keladinya!. Dasar perempuan tak tahu balas budi! umpat Sandra dalam hati. Seharusnya dia tak perlu lagi menghubungi Paijo setelah mencampakannya seperti sampah. Yang jelas kabar itu hanya akan melukai perasaan Paijo saja.

“Joo..sabar ya. Tabahkan hatimu” bujuk Sandra

“Surtiii..huu huuu.” Dengan perasaan pilu Paijo menyebut nama wanita yang ia sayangi itu di sela tangisannya. Sandra sungguh merasa iba. Anak semuda itu tak seharusnya mengalami penderitaan batin begitu bertubi-tubi. Jiwanya masih sangat rapuh dan labil.

“Tak usah engkau tangisi perempuan seperti itu Jo. Dia dan keluarganya hanya memanfaatkan dirimu saja selama ini!”

“Tapi..saya hks cinta sekali sama Surtii, bu.. hks.. hks” jawab Paijo tersengal-sengal karena pernapasannya terbuka dan tertutup sendiri akibat dari reaksi metabolisme dari tangisnya yang berlangsung terlalu lama.

“Tapi dia tak menyintaimu,Jo. Dan yang ada di kandungan Surti bukanlah anakmu. Itu adalah anaknya Ipung”

“Berarti saya.. hks.. sudah tidak punya harapan lagiii. Kalau begitu biar saya mati saja buu! huu huuu”

“Aduhhh Joo! Engkau tidak boleh putus asa seperti itu!.”

Sandra jadi kuatir anak itu akan bertindak nekat karena tak mampu menahan kesedihannya. Tak ada jalan lain buat menghentikan itu pikir Sandra. Ia harus memberitahu Paijo soal kehamilannya.

“Joo, ada sesuatu yang ingin kuberitahukan kepadamu”

“hks hks huuuu…huu” Paijo terus menangis.

“Ketahuilah Jo bahwa janin yang ada dirahimku sebenarnya adalah…. anakmu” lanjut Sandra.

Paijo mengangkat kepalanya.

“A.anak saya? ibu kok ngomong begitu hks…? Kan ibu sendiri yang bilang kalau saya mandul huu huu”

Setelah mengatakan itu Paijo kembali meraung pedih. Ia menjadi semakin sedih dan merasa tak berguna sebab yang ia tahu ia sudah gagal dan janin di rahim Sandra itu adalah buah percintaan antara Sandra dengan Alfi.

“Dengarkan aku dulu, Jo. Aku mengatakan yang sesungguhnya. Memang kamu yang telah membuatku hamil” ujar Sandra sambil meraih wajah anak itu dengan kedua tangannya.

Paijo menghentikan tangisnya sambil menatap Sandra.

“Maafkan aku. Aku-pun baru pagi ini tahu itu dari Lila. Terapi tempo hari ternyata berhasil. Bahkan kamu memberiku bayi kembar “sambung Sandra.

“Kem..baarr? Ibu bukan cuma mau nyenengin saya, kan?” tanya Paijo dengan perasaan bercampur aduk.

“Percayalah. Jo.”

“Tapi bagaimana dengan Surti buu”

“Soal Surti. Kamu harus bisa merelakannya. Mungkin ia memang bukan jodohmu. Suatu saat engkau pasti akan menemukan pengganti Surti. Kamu masih memiliki bik Iyah yang menyayangimu seperti putranya sendiri. Dan kamu masih memiliki ini” ujar Sandra sambil menunjuk ke perutnya.

“Engkau maukan bertemu dengan kedua anakmu kelak?” tanya Sandra.

Paijo mengangguk dengan air matanya masih meleleh di pipi.

“Iya bu saya pingin melihat mereka setelah lahir”

“Nah! kalau begitu kamu harus tetap melanjutkan hidupmu. Bukankah tadinya engkau begitu bersemangat bekerja dan mencari uang buat bu de-mu. Seharusnya engkau bertambah giat setelah tahu engkau bakal menjadi seorang ayah”

“Iya buu. Terima kasih.” jawab Paijo sambil mengusap sisa-sisa air matanya dengan mempergunakan ujung bajunya.

“Sudah tidak sedih lagi kan?”

Ia kembali mengangguk kecil. Sandra tahu tak segampang itu meredakan kesedihan anak ini. Tapi ia sedikit agak lega melihat Paijo mulai tenang. Sepertinya nasehatnya kali ini mengena. Sandra yakin anak itu mau mendengarkan ucapannya.

“Tapi Buu”

“Apa lagi Jo?”

“Jangan bilang ke siapa-siapa”

“Soal apa?”

“Soal siapa sebenarnya ayah kedua anak saya ini. Biarlah kang Alfi dan yang lain tetap mengira ayah bayi di dalam perut ibu adalah kang Alfi. “

“Kenapa kamu mau aku melakukan hal itu Jo?”

“Saya tidak ingin dia jadi sedih seperti yang saya alami sekarang. Lantas akan menjadi masalah baru buat keluarga ibu”

“Tapi ini tak adil buat kamu, Jo”

“Tidak apa-apa bu. Saya rela demi ibu dan kedua anak saya”

“Ohh Jo ..kamu ternyata adalah seorang calon bapak yang baik. Terima kasih karena sudah mau memikirkan aku.” Sandra haru sekaligus iba. 


Haruskah Paijo menderita lagi setelah apa yang ia alami selama ini. Namun di sisi lain pendapat Paijo barusan benar adanya dan ia sendiri juga tak ingin Alfi kembali ngambek dan menimbulkan konflik baru yang berkepanjangan

“Segera ganti pakaianmu. Nanti engkau keburu masuk angin”.

“Baik bu”

Tuuttt.. tutt… ti…Handphone Sandra berbunyi. Ia melihat avatar Alfi tampil dilayar. Duh! Kangennya ia pada anak itu. Saat ini Alfi pasti sedang asyik bersama Niken. Sandra menduga demikian karena itu sudah menjadi kebiasaan Alfi selama ini. Sebenarnya satu minggu ini adalah jatah Alfi buat Sandra sendiri. Namun karena saat ini ia pergi ke kota G jadi Alfi bebas kemanapun ia ingin pergi.

“Apa kabar kamu hari ini, sayang?” Tanya Sandra mengawali percakapan.

“Baik kak, Kakak sendiri bagaimana?”

“Juga baik sayang. Eng..lagi ngapain kamu Fi?”

“Alfi baru pulang dari sekolah. masih di rumah menunggu kak Nadine pulang kerja”

“Lho tadinya kakak pikir kamu pergi ke rumah kak Niken-mu, Fi”

“Ngga kak,. Alfi pingin dulu ngabisin waktu beberapa minggu ini sama kak Nadine. Lagian Alfi kangen banget sama kak Nadine”

Kok, tumben?”

Ini aneh? Pikir Sandra. Tak biasanya Alfi mengambil keputusan seperti itu. Ia selalu lebih memilih untuk meniduri Niken bila sudah dihadapkan pilihan antara Niken atau para wanitanya yang lain.

“Iya kak. Soalnya Alfi merasa bersalah sama kak Nadine dan kak Dian. Alfi berlaku tidak adil pada mereka selama ini. Terutama kak Nadine. Sudah banyak pengorbanan yang ia lakukan sejak dia Alfi nodai. Ia harus rela menjadi istri kedua kak Didiet karena hamil oleh Alfi.”

“Aduhh sayangg. Ada apa kamu mendadak berpikiran seperti itu?”

“Setelah peristiwa Paijo dulu Alfi jadi sadar betapa Alfi mencintai kakak. Dan Alfi tak ingin hal serupa terjadi pada kak Nadine dan kak Dian sebab Alfi juga sangat sayang sama mereka.”

“Lho kan si Paijo sudah tak ada lagi jadi kenapa kamu begitu kuatir?”

“Alfi tahu itu. Tapi di hati kecil Alfi tetap merasa jika sesuatu telah terjadi”

“Kakak tak mengerti maksudmu, Fi”

“Alfi takut ada orang lain ….” Ujar Alfi ragu meneruskan kata-katanya

“Kamu mengira kak Nadine-mu telah berselingkuh, Fi?” Tanya Sandra kuatir jika Alfi mengendus perselingkuhan Nadine dan Paijo. Siapa tahu Paijo tanpa sengaja meninggalkan bekas cupangan di tubuh Nadine.

“Alfi tidak menuduh kak. Alfi hanya kuatir saja kok kak. Tetapi seandainya itu memang terjadi, Alfi tak akan menyalahkan kak Nadine karena itu memang kesalahan Alfi sendiri.”

“Syukurlah kalau kamu sadar kalau permasalahan yang timbul akhir-akhir ini akibat perbuatanmu sendiri dan hal itu telah menyusahkan kami semua” Ujar Sandra lega. Setidaknya peristiwa dulu bisa membuat Alfi mengintropeksi dirinya. Meski demikian Sandra beranggapan Alfi tetap tidak perlu tahu mengetahui hubungan Nadine dan Paijo selama di kota G sebab ia masih ragu jika Alfi memang sudah bisa menerima hal itu.

“Iya kak. Karena itu Alfi di menanti mereka sini buat menebus kesalahan Alfi pada mereka berdua”

“Ya sudah. Eh Fii, kamu kangen ngga sama kakak? Kakak pinginn bangett kamu gituinn” rengek Sandra. Mereka memang masih harus menahan diri setidaknya selama satu bulan lagi buat bercinta secara penuh menunggu hingga usia kandungan Sandra benar-benar sudah cukup kuat.

“Alfi juga kangen banget sama kakak. Kasihan kakak. Tapi Alfi juga binggung dan sedih karena ngga bisa nolong kakak.”

“Eh.. KAK!” tiba-tiba Alfi berteriak kegirangan.

“Iya ada apa Fi?’

“Kenapa kita ngga minta sama kak Didiet aja yang ngegituin kakak. punya kak Didiet kan pendek jadi ngga bakalan ngebentur rahim kakak”

“Iya juga sih! Tapi kakak ngga mau!.”

“Lho kenapa kak?”

“Habisnya ngga enak! Enaknya sama titit kamu”

“Paling tidak saat ini kakak ngga terlalu menderita seperti sekarang”

“Pokoknya kakak ngga mau. masalahnya kak Didiet-mu selalu saja ‘dapet’ duluan jadinya sama saja dengan ngga di apa-apain”

“Duh bagaimana ya? Seandainya saja si Paijo ada di sini…” keluh Alfi dalam kebinggungannya.

“Paijoo? Sayangg, Kamu bicara apaaa?!!”

“Iya kak, kalau saja saat ini ada si Paijo. Pasti kesulitan kita bakal teratasi”

“Kenapa kamu bicara seperti itu? Kakak ngga mau lagi berhubungan dengan dia. Kakak kapok! Kakak ngga mau lagi kehilangan kamu.”

“Paling tidak ia bisa memenuhi kebutuhan kakak. Dan aman buat kakak bercinta sama dia karena tititnya ngga bisa membentur rahim kakak Apalagi dia itu punya titit yang enak banget kan kak?..”

“Aaa Alfi! Kamu tega banget ngegoda kakak. Kakak kan jadi tambah basah!”

“Bukannya kamu bilang kamu tidak suka sama paijo. Emang kamu ngga cemburu Fi. Kalau aku di gituin lagi sama Paijo?hi hi”

“Cemburu sih iya. Tapi Alfi ngga kuatir seperti tempo hari sebab Alfi tahu cinta kakak hanya buat Alfi seorang. Yang penting sekarang buat Alfi adalah kebutuhan buat kakak dulu. Alfi rela melakukan apapun demi kakak agar kakak bahagia.”

“Bener nihh kamu ngga cemburu?. Kakak bisa saja mencari seseorang di sini yang mirip Paijo. Engg… terus kakak selingkuh sama orang itu”

“Ngga papa Kak. Alfi rela. Jika perlu Alfi bisa minta sama kak Didiet buat membawa Paijo datang kesitu buat nemani kakak selama di sana..”

“Sudah Ah. Kok ngomongnya ngelantur terus. Entar bener-bener kejadian deh!”

“Lho siapa bilang Alfi sedang bercanda. Alfi serius kok kak”

“Iya iya sudah! Kakak tahu kamu rela dan mau berkorban buat kakak. Tapi saat ini kakak hanya pingin kamu yang menuntaskan hasrat kakak saat kakak pulang”

Sore hari itu

Didiet baru saja menelpon dan mengatakan jika ia bakal pulang kemalaman karena harus meninjau pekerjaannya ke lapangan.

“Kamu makan malam saja dulu Say. tak perlu menungguku” pesannya pada Sandra.

Sandra mengetuk kamar Paijo.

“Joo ayo temani aku makan malam” Ia sengaja mengajak Paijo makan bersamanya karena tak ingin Paijo terus menerus sendirian. Seseorang yang sedang mengalami kesedihan berat semacam itu harus kerap di awasi.

Tak lama kemudian Paijo membuka pintu.

“Saya belum lapar buu. Silakan ibu makan terlebih dahulu. Saya nyusul belakangan saja “

Sandra melihat mata Paijo yang masih bengkak. Ia baru menangis lagi. Ia pasti masih terus memikirkan soal Surti.

“Duhh..Lihat tuh! Ternyata bapakmu habis nangis” Goda Sandra seolah-olah sedang berkata pada perutnya sendiri.

“Saya tidak nangis kok bu” sangkal Paijo sambil menunduk malu.

“Bilang langsung ke mereka kalau bapaknya tidak bakal sedih dan nangis lagi” ujar Sandra menunjuk ke perutnya. Tingkah Sandra itu mau tak mau membuat Paijo tersenyum dan menahan ketawa.

“Ayoo.Joo!”

“B..bapak tidak bakal sedih lagi” ucap Paijo sekenanya.

“Kok ngomongnya dari situ? Dia ngga bisa dengar kalau seperti itu Jo. Sini!”desak Sandra. Paijo mendekatkan kepalanya ke perut Sandra.

“Nakk, bapak tidak bakalan sedih dan nangis lagi” ujar Paijo dengan lebih serius mengulangi ucapannya sambil mengusap-usap perut Sandra.

“Argg Joo. Geli!” pekik Sandra. 

Entah mengapa mendadak gairahnya mendadak ketika Paijo mengusap perutnya Meski itu hanya sebuah gerakan sederhana dan spontan namun berdampak sangat besar bagi Sandra. Menyambar bagaikan percikan api dari sebuah pematik di tengah galonan bensin.

“Iya buu. Maaf..” ujar Paijo menjauhkan kepalanya. Sandra senang melihat senyum Paijo. Setidaknya ia bisa sedikit meringankan beban anak itu.

Ugh! Tiba-tiba wajah Sandra berubah pucat. Rasa mual itu mulai datang lagi. Kali ini dorongan buat muntah begitu besar. Sandra bergegas menuju ke kamar mandi.

“Hoekss!!” seketika itu juga ia tak mampu menahan dorongan untuk muntah.

“Buu?”

Paijo tidak tinggal diam. Di ambilnya sebotol minyak angin miliknya dan didekatkannya ke hidung Sandra. Namun sepertinya itu saja tak cukup.

“Hoekkkk!!…Hoeeeeekkk!!…” serangan itu kembali. 

Sebenarnya Paijo sudah cukup berpengalaman dan tahu bagaimana mengatasi situasi seperti ini tatkala mantan istrinya tengah mengalami hal yang sama dulu. Ia ingat ia selalu memberikan pijatan di sekitar pundak Surti. Tetapi ia agak ragu buat menyentuh Sandra. Sehingga ia hanya berdiri saja dengan kebinggungan di situ.

“Hoeeeeeeekk!!….aduuhhh Joo..” rintih si cantik itu. 

Sudah lebih dua menit metabolisme alami yang amat mengganggu itu tak juga kunjung reda malahan semakin menjadi-jadi. Tak ada yang bisa ia muntahkan lagi namun dorongan itu tak terhentikan. Dan hal itu mulai menyakitkan. 

Lama-kelamaan wajah Sandra yang putih menjadi semakin pucat. Akhirnya Paijo tak tahan lagi melihat penderitaan wanita yang sedang mengandung anaknya itu.. Dengan tangan gemetar diraihnya pundak Sandra.

“Hhhhh…” Sandra merasakan kenyamanan ketika jemari Paijo menekan syaraf-syaraf pundaknya. Sedikit demi sedikit Sandra kembali bisa bernapas lega. Hampir lima menit Paijo melakukan hal itu. Setelah yakin rasa mual Sandra benar-benar mereda, Paijo membimbingnya kembali ke kamar. Kemudian ia bergegas ke pantry menyeduhkan teh hangat buat Sandra.

“Nah, ibu istirahat saja dulu. Saya mau keluar sebentar” katanya sambil menyerahkan cangkir teh kepada Sandra. Belum sempat Sandra bertanya ia sudah menghilang.

Lima belas menit Sandra duduk sendiri di kamar itu. Sesekali ia menyeruput teh seduhan Paijo bila rasa mual itu kembali muncul. Entah mengapa ia belum ingin kembali ke kamarnya sendiri. Tak lama kemudian Paijo muncul sambil membawa sebuah mangkuk.

“Aww….rujaaak!” pekik Sandra girang. Entah dari mana Paijo memperolehnya di saat seperti ini, namun memang ini yang ia idamkan saat ini. Dengan cepat ia rebut mangkuk tersebut dari tangan Paijo. Pertama sepotong kecil mangga muda langsung dicomotnya. Rasa asam kecut yang melanda lidahnya bercampur sedikit rasa pedas itu dengan cepat memunahkan rasa mualnya. Paijo sendiri jadi ikut-ikut memeramkan mata karena ia tahu rasa buah itu memang sangat asam.

“Kok kurang pedas, Jo?”

“Lho itu tadi sudah di kasih cabe tiga biji kok bu”

“Masih kurang! Tambahin cabenya, Joo”” rengek Sandra.

“Saya tidak mau ibu malah sakit perut.”

“Sedikiiiit saja Joo”

“Tidak boleh!” jawab Paijo dengan tegas. Baru kali ini Sandra merasakan Paijo bersikap seperti itu padanya. Tapi ia justru senang sekali dengan perhatian anak itu padanya. Mereka duduk bersisian di tepi ranjang. Paijo dengan sabarnya menunggui Sandra menyantap rujaknya.

“Joo..” panggil Sandra sambil meletakan mangkuk yang telah kosong di atas meja di samping tempat tidur.

“Ya buu?”

“Terima kasih ya karena sudah mau repot buat aku”

“He he ndak apa apa kok buu..lagian kan ibu hamil gara-gara saya” jawab Paijo tersenyum malu.

“Oya Jo, Aku mau menanyakan sesuatu padamu”

“Tanya soal apa bu?”

“Eng..Sewaktu Surti h4mil muda dulu apakah kalian …..melakukannya?”

“Melakukann apaa bu?”

“Uh em tidak jadi Jo. Sudah lupakan saja ” ujar Sandra merasa jengah sendiri.

“M..maksudd ibu n ng3nt0tt?” tanya Paijo hati-hati.

“he e ..” jawab Sandra lirih nyaris tak terdengar.

“Kenapa ibu tanyakan itu?”

“Soalnya aku sudahh tiga minggu tidak..” ujar Sandra sambil menggigit bibirnya sendiri. Sejak Paijo menyentuh lembut perutnya juga saat melakukan pemijatan tadi h4sratnya semakin tak terkendali.

“I.buu..lagi kepinginn yaa?”

“Tapi a..ku takutt keguguran, Jo”


“Eng..Sebenarnya sewaktu Surti sedang hamil muda dulu kami sering melakukannya ” ujar Paijo mencoba mengingat-ingat kejadian saat dengan Surti dulu.

“Benarkah?”

“Iya. Malahan hampir setiap hari. Mulanya saya yang takut bakal terjadi apa-apa dengan kandungannya tapi karena Surti yang minta jadi saya terpaksa nurutin. Eh bu sebentar lagi pak Didiet kan pulang berarti kan sudah ndak masalahkan?.”

“Dia pasti sudah capek buat itu”

“Kalau begitu saya antar ibu ke bandara sekarang. Saya yakin kita masih dapat tiket buat ibu ke kota S”

“Tidak usah Jo”

“Lho kenapa bu?, saya pikir pak Didiet pasti ngasih izin ke ibu. Mumpung ini masih agak sore”

“Kamu salah mengerti Jo. aku bukannya ingin suamiku atau Alfi yang melakukannya. Aku ingin ..kamu, Jo”

“Sayaa bu?!” Tanya Paijo keget.

Jantungnya berdetak cepat. Seketika itu juga gairahnya meninggi dan celana usangnya menjadi sesak. Ia memang rindu sekali pada wanita cantik ini. Namun ia mendadak teringat perkataan Nadine kepadanya tempo hari. Ia tak ingin melakukan kesalahan lagi. Sandra mengangguk mengiyakan. Wajahnya bersemu dadu karena rasa malu semakin membuat Paijo tak tahan memandangnya.

“Tapii..buu saya sudah janji sama kang Alfi tidak bakal ngeganggu ibu lagi. Kemarinpun saya sudah sekali lagi berbuat salah sewaktu nidurin bu Nadine. Saya takutt salah lagi….” ujar Paijo berusaha bertahan.

 Ia tak ingin gegabah dan menuruti hawa nafsunya. Dan ia tak yakin akan keinginan Sandra ini. Yang ia tahu Sandra hanya tidur dengannya dulu itu hanya karena ingin hamil.

Apalagi sekarang sudah ada Alfi yang ia akui tak bakal mampu ia tandingi.

“Tidak apa-apa, Joo… Soal Nadine, engkau justru telah menolong dia dan saat ini pun aku tengah mengalami hal yang sama. Apakah engkau tidak kasihan terhadap diriku. Aku tersiksa sekalii akhir-akhir ini… ” pinta Sandra sebelum Paijo sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Buuu?” Paijo masih kebinggungan buat memutuskan. Ia sungguh tak tahu di titik mana ia harus bertahan.

“Intimi aku malam inii, ya kang mas?”

Paijo terkejut sekali. Sandra memanggilnya dengan sebutan ‘Kang Mas’?!. Itu adalah panggilan Surti kepadanya selama ini. Sandra tak pernah melakukan ini padanya sebelum-sebelum ini.

“Di.a.jenggg…akuu…akuu ” jawab Paijo.

Sandra tersenyum mendengar Paijo balas memanggilnya dengan sebutan itu. Ia paham apa yang harus ia lakukan dalam situasi seperti ini. Sandra dapat melihat dengan jelas tonjolan besar pada celana Paijo. Ia mendekat ke arah pemuda kampung yang kebinggungan itu. Wajah nan cantik itu maju hingga hanya beberapa inchi dihadapan Paijo.

Sandra memejamkan matanya sementara bibirnya yang merah merekah itu sudah terbuka menunggu kedatangan bibir Paijo. Naluri Paijo akhirnya mengatakan bahwa ini adalah saatnya buat ia bertindak. Meski mulanya agak ragu, Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Sandra.. seraya sedikit memiringkan kepalanya… Dan…

Hal itu terjadi….

Bibir Sandra memagut liar bibir Paijo. Kenyatannya selama tiga minggu tak bers3tubuh dan hanya melakukan oral dengan Alfi dan Didiet tidaklah cukup buat meredam g4ir4hnya dan menjadikan dirinya benar-benar haus akan belaian. Yang v4gin4nya sangat butuhkan adalah kenikmatan langsung dari sebuah alat vital pria. Dan p3n1s Paijo yang sangat beruntung malam ini karena sebentar lagi bakal di lumat habis-habisan dan sp3rm4nya bakal di hisap sampai kering buat menuntaskan rasa dahaga v1g1nanya.

Kali ini ia tak lagi ragu buat melakukan hubungan int1m.

Bukankah sebelum ia menyadari tentang keh4milannya itu dari Lila, ia dan Alfi selalu berhubungan int1m di minggu-minggu awal keh4milannya dan hal itu tak menyebabkan permasalahan bagi janin pada kandungannya. Apalagi cuma melakukannya dengan Paijo. Ucapan Alfi ada benarnya. Titit Paijo memang tak bakalan bisa membentur r4himnya.

Paijo sendiri seakan masih tak percaya akan keberuntungan yang datang kepadanya saat ini. Ciuman dari Sandra telah menepis segala keragu-raguan hatinya. Ia sadar panggilan sayang yang diucapkan Sandra kepadanya hanyalah sebuah ungkapan rasa suka sesaat yang di dasari oleh nafsu bir4hi semata bukanlah sebuah rasa suka karena ada perasaan cinta seperti halnya Sandra terhadap Alfi. Sekalipun kini ia diberi hak yang sama dengan Alfi oleh Didiet untuk menikmati kemesraan dengan istrinya itu.

Dan Sandra sendiri saat ini suka rela ia intimi. Ataupun karena dialah yang telah berhasil menanamkan janin di r4him Sandra saat ini bukanlah Alfi. Namun semua itu tak dapat merubah perasaan Sandra. Sebab cinta sang bidadari itu memang hanya buat Alfi seorang. Tetapi Paijo sungguh bangga akan pencapaiannya saat ini. Seandainya saja dulunya ia lebih dahulu bertemu dengan Sandra ketimbang Alfi mungkin saja ceritanya akan menjadi lain. Perlahan Sandra menariknya naik ke atas tempat tidur tanpa melepas ciuman mereka.

Keduanya berdiri di atas lutut mereka. Wanita cantik itu mulai melepas satu persatu kancing kemeja lusuhnya. Setelah itu giliran celana pendeknya tertanggal. Napas Paijo semakin memburu ketika jemari halus Sandra mencengram gemas batang p3nisnya yang sudah kukuh bagai tonggak.

“Buka bajuku Kang mas” pinta Sandra tanpa melepas kontol Paijo dari genggamannya sambil sesekali melakukan gerakan kocokan.

Sementara tangan kirinya meraih belakang kepala Paijo dan menarik kepala Paijo buat kembali melakukan ciuman. Bukanlah perkara gampang buat Paijo mempereteli busana tanpa melihat. Di tengah g4irah yang membakar hasratnya saat ini jemarinya hanya bisa mengandalkan nalurinya agar pekerjaannya cepat selesai. Alhasil meski agak lama ia berhasil juga menanggalkan semuanya. Yang pertama menjadi sasarannya tentu saja p4yud4r4 indah Sandra.

“Ougchhhhh…”leguh Sandra ketika salah satu putting payudaranya berada dalam kemutan mulut Paijo. Tetapi sedetik kemudian ia langsung menolak kepala Paijo menjauh dari dadanya.

“Jenggg?” Tanya Paijo heran.

“Kangmas aku sudah tidak tahan lagiii…” rengek Sandra. Meski tak biasanya Sandra langsung main tembak seperti ini namun Paijo paham apa yang diinginkan calon ibu dari kedua anaknya itu

Ia mengangguk. Sandra sudah rebah terlentang. Paijo mengatur posisi tubuhnya. Ia masuk di antara ke dua paha m0nt0k nan putih istri Didiet itu. Ujung p3n1snya ia arahkan tepat ke sebuah bukit kecil itu berbentuk bagaikan kue serabi dengan saus lezat meleleh dari bagian tengahnya yang terbelah. Pada detik-detik penyatuan itu pandangannya bertemu dengan Sandra.

“Masukinn sekarangg kanggg mass..Ough!” rintih Sandra semakin tak sabaran sambil berusaha menarik pinggul Paijo ke arahnya.

posted under |
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda