Terjerat Nafsu Pembantu Baruku
Novel "Terjerat Nafsu Pembantu Baruku"
Beberapa waktu yang lalu, karena telah berulang kali dipanggil oleh anaknya di kampung, maka pembantu kami yang sudah tua, Mbok Iyem akhirnya pulang juga ke kampungnya dipelosok desa, tetapi sebelum pulang ia berjanji akan membantu kami untuk mencarikan seorang pembantu lain yang berasal dari kampungnya juga.
Jadi pada saat Mbok Iyem pulang kampung, tidak terjadi kekosongan pembantu di rumah kami. Hal ini penting bagi kami, karena kami berdua, suami isteri bekerja sehingga kami memerlukan seorang pembantu untuk beres-beres di rumah yang sangat besar dan mewah.
Pada hari yang telah ditentukan, maka datanglah seorang pembantu baru yang dijanjikan oleh Mbok Iyem, yaitu seorang gadis kampung yang telah lulus sekolah, berumur sekitar 20 tahun bernama Lastri. Sulastri bertubuh sedang dengan kulit bersih dan berambut panjang lurus juga cantik, yang dengan malu-malu memperkenalkan dirinya kepada kami, setelah menerima instruksi ini itu dari isteriku, Lastri pun mulai bersiap untuk kerja.
Memasuki hari Senin, secara kebetulan ku mendapat cuti kantor selama tiga hari, yang mana biasa saya pergunakan untuk beristirahat di rumah. Setelah isteriku berangkat kerja dikantor yang pulang jam 4 sore, akupun santai di rumah sambil baca koran dan mendengarkan radio, sedang Lastri sibuk membersihkan rumah sehabis mencuci pakaian.
Sedang asyik membaca koran, tiba-tiba dikejutkan oleh sapaannya,
“Maaf Pak.., Saya mau mengepel lantainya”. Ungkapan lastri
“Oh iya, pel aja.. tidak apa-apa”, kata ku sambil terus membaca.
Tidak tahu kenapa anehnya mataku reflek memperhatikan pembantu ini dengan lebih seksama, ternyata cantik juga pembantu baruku si Lastri yang sekarang sedang mengepel lantai ini.
Lastri sambil berjongkok dan sesekali merangkak sambil terus mengayunkan tangannya. Saat ia merangkak, terlihat pinggulnya yang besar dengan p4ntat yang membentuk bulat berg0yang ke kiri dan ke kanan dengan irama yang teratur, cel4na dalam yang dipakainya terbayang sangat jelas dari balik daster yang dipakainya. Saat ia berbalik untuk mengepel di bawah kakiku.
Sangat terlihat dari belahan dasternya dua buah bukit yang ranum, terbungkus oleh kut4ng ketat, yang kelihatannya sudah agak kekecilan. Tanpa terasa ku menggosok milikku, yang tiba-tiba menjadi tegang. Konsentrasi untuk membaca menjadi hilang.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Lastri bersiap-siap untuk membersihkan dirinya dan mengambil handuk serta masuk ke kamar mandi, begitu terdengar suara air yang terguyur di kamar mandi, segera cepat-cepat meloncat bangun dan berjalan cepat-cepat ke arah kamar mandi.
Dari sela-sela pintu kamar mandi terdapat celah yang bisa dipakai untuk mengintip ke dalam. Ternyata pemandangan di dalam kamar mandi begitu asyiknya.
Sulastri ternyata mempunyai badan yang bersih mulus dengan kedua p4yud4ranya yang ranum keras dengan put1ng yang mengarah ke atas berwarna merah muda, pinggulnya yang besar sangat seksi dengan bulu-bulu halus di atas kem4luannya.
Lastri sibuk menggosok-gosok badannya tanpa sadar ada mata yang sedang menikmati tubuhnya yang ranum. Dengan berdebar terus mengintip Lastri yang sesekali menunduk untuk menggosok kakinya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
Nafsu ku naik ke kepala, mulai mengelus batang milikku sampai super tegang.
“Aah, enaknya kalau bisa memeluk dan menancapkan ini kemiliknya”. Sambil berandai andai kotor.
Sedang asyik mengintip, teringat kalau di lemari ku masih ada menyimpan sebotol obat perangs4ng bermerek ‘Sp***h f**’ yang sangat mahal oleh-oleh teman dari luar negeri. Cepat-cepat ku ke kamar mengambil obat tersebut dan membawanya ke dapur, dan benar saja dugaanku bahwa Lastri memang sudah menyiapkan teh hangat bagi dirinya sendiri di situ.
Segera ku tuangkan obat per4ngsang itu ke dalam minuman Sulastri dan ku tambahkan gula sedikit agar dia tidak curiga.
Kembali duduk di kursi depan dan pura-pura membaca sambil membayangkan milik mulus Lastri sambil mengelus-elus rudal yang sudah tegang, ku benar-benar sudah bernafsu sekali untuk menggumbuli Lastri.
Sekitar setengah jam kemudian, ku mendengar erangan halus yang berasal dari kamar Sulastri,
“Heechh.., heehh... uchhh... exhmm” suara desisan lastri.
Segera menghampiri kamarnya dan pura-pura bertanya,
” Lastri.., ada apa dengan kamu..?”. Tanyaku ke lastri
Lastri sambil mengeluh menjawab.
“Aduuh Pak.., perut Saya.., hheehh”.
“Kenapa..?”, sambil bertanya saya segera saja masuk ke dalam kamarnya, Lastri kelihatan pucat dan keningnya berkeringat, sedang dalam posisi merangkak sambil memegang perutnya.
“Aduuh.., aduuh.., perut saya.., Pak”.
“Mari Saya tolong..”, kata saya,
sambil berdiri di belakangnya dan tunduk serta memegang perutnya dengan kedua tangan untuk mengangkatnya berdiri. Saat berdiri sambil memeluknya dari belakang, rudalku yang sudah tegang dari tadi menempel pada celah pantatnya.
Lastri agak kaget juga, tapi ternyata dia diam saja sambil terus mendesah.
“Ayo saya gosok perut kamu.., biar hangat”, kata ku sambil tangan kananku terus bergerak menggosok perutnya sedangkan tangan kiriku mengangkat dasternya dari bawah.
Ku memasukkan tangan kiri ke dalam daster itu dan berpura-pura akan menggosok perutnya juga tapi segera menurunkan tangan untuk menyibakkan celana dalamnya dan mulai meraba bulu-bulu halus yang bertebaran di sekitar gundukan sintal. Saat tangan saya menyentuhnya, Lastri menggelinjang keras dan mendesah panjang,
“aacch.., Paak.. aduhh pakk.. jangan... aduhh teruss pak”, seraya menekankan pantatnya yang ke pahaku yang sudah menanti dengan tidak sabar.
Tangan kananku pun mulai masuk ke dalam sela-sela kancing daster, naik terus ke atas dan menemukan p4yud4r4nya yang ranum, yang ternyata tidak terbungkus oleh kut4ngnya, segera saya meremas p4yud4ranya.
“Las,.., ayo ku gosok sambil tiduran”, kata saya.
“Hee.. Eeh... pakk.. aduhh... enak pakk.”, katanya mengerang kepedesan.
Ku tuntun Lastri ke tempat tidur dan membaringkannya dengan kedua kakinya tetap terjuntai di lantai. Secara cepat menyibak dasternya dan segera menarik turun hingga celana dalamnya terlepas.
“Aduuh.., Paak.. mau diapainn... aduhh enak”, katanya sambil menggerakkan pinggulnya.
“sst.. teruss lastri... Nanti akan sembuh,,”, kataku sambil menundukkan kepala dan mencium gundukan sintal yang berbulu tipis yang persis di depan mataku.
Selanjutnya....
https://dramaranjang.blogspot.com/2024/08/terjerat-nafsu-pembantu-baruku.html
“aarkkh..”, seru Lastri sambil membuka kakinya lebih lebar lagi dan kemudian secara cepat menutupnya lagi sehingga kepalaku terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Saya mulai menjilat memek nya, lidahku mulai menjalar ke kanan dan ke kiri menyibakkan kedua belah bibir m3mek Lastri sampai akhirnya saya menemukan historisnya. Kedua tangankupun secara gencar mulai bergerilya meremas kedua payudaranya sambil sesekali mempermainkan putingnya yang langsung mengeras.
“Paak..”, Lastri keenakan sambil mulai menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan bagaikan sangat kegelian, dan tiba-tiba dari v4ginanya memancar cairan, yang segera saya jilat habis.
“Las.., buka dulu yaa bajunya”, kata saya sambil berdiri dan dengan cepat mulai membuka celana dan kaosku. Sementara saya berdiri telanjang, p3nisku benar-benar tegang dan keras. Mata Lastri terbelalak memandang p3nisku yang besar dan berdiri.
“Paak.., Lastri takut”, katanya.
“sstt.., nggak apa-apa Las..”, kata saya sambil membantu Lastri membuka bajunya.
Karena kakinya masih menjuntai di pinggir tempat tidur, segera saya mengambil bantal dan mengganjal pantatnya sehingga v4gina Lastri sekarang menyembul dengan clit0risnya yang mengkilap karena jilatan lidahku. Segera saya arahkan penisku ke lubang vaginanya dan berusaha untuk menekannya masuk, sementara tanganku meremas payudaranya sedangkan mulutku mulai memagut bibirnya. Ternyata lubang v4gina Lastri sempit sekali, sehingga baru kepala p3nisku yang masuk, ia sudah menjerit kesakitan dan berusaha menggeliatkan badannya yang mungil.
Saya menahan geliatan badannya dan terus berusaha memasukkan seluruh penisku ke vaginanya yang sempit dengan menarik keluar masuk kepala penisku. Biarpun vagina Lastri telah basah oleh cairan yang keluar dari tubuhnya, saya tetap juga mengalami kesulitan untuk menembus pertahanan memek Lastri ini. Sambil memeluk tubuhnya, mulutku bergesar ke arah telinga Lastri, dan secara tiba-tiba saya menggigit cuping telinganya dengan agak keras. Secara refleks, Lastri kaget sekali, “Aduh..”, tetapi bersamaan dengan itu saya menekan penisku sekuat tenaga masuk ke dalam vaginanya. Lastri kaget dan terdiam, tetapi saya kembali memagut bibirnya dan menyedot lidahnya sambil mulai menaikkan pantatku sedikit sedikit Cerita Seks
