Adik Tiriku Lebih Melegit Jepitannya
Novel "Adik Tiriku Lebih Melegit Jepitannya"
Setelah Ibuku meninggal dunia, di tahun pertama kepergiannya, Ayahku menikah lagi dengan seorang karyawan di perusahaan tempatku bekerja. Karena masalah yang saat itu tidak bisa mereka selesaikan, dari pernikahan itu mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Kami memang sering kali bertengkar karena hal sepele, tapi kami selalu pergi ke kampus bersama-sama. Terkadang, kami juga menghabiskan waktu bersama jika Ayah dan Ibu memiliki urusan kantor yang harus mereka selesaikan. Ayah sangat mempercayaiku untuk bisa menjaga Salsa, adik tiriku, karena kebetulan sekali tujuan kami searah.
Sesampainya di kampus, aku dan Salsa berpencar. Aku berjalan ke arah kelas. Setelah selesai, aku berencana pergi ke bioskop untuk menonton film sebelum kembali pulang ke rumah. Film hanya akan diputar 30 menit lagi. Kami memutuskan untuk makan sebelum akhirnya pulang. Saat itu sama sekali tidak ada sesuatu yang aneh, hingga pada pukul 11 malam hujan turun dengan sangat derasnya. Terdengar suara petir menggelegar dari segala arah.
Aku mencoba mencari sesuatu yang sekiranya bisa menghiburku, akan tetapi tiba-tiba listrik padam.
"Bang, gue takut banget nih," sahut Salsa dari arah kamar. Sudah kuduga, Salsa pasti ketakutan dengan suara petir itu.
"Salsa, gue boleh tidur di kamar lo dulu? Sumpah gue takut banget," pintanya.
"Gue mau turun ke bawah buat cek listrik dulu," kataku.
Saat melihatnya menggunakan kain yang cukup transparan, seketika tubuhku terasa panas. Baru kali ini aku menyadari bahwa ternyata adik tiriku sangat cantik.
"Udah, tidur aja di kamar gue. Gue nggak mau lo kenapa-napa," kataku berusaha menahan diri.
"Udah malem banget, besok ada kelas pagi, lo jangan bawel banget deh," sambungnya.
Tentu saja ada perasaan canggung ketika harus tidur di tempat tidur yang sama dengan Salsa, apalagi diiringi dengan suara petir yang sangat menggelegar. Meski sudah tertidur, sepertinya Salsa juga begitu terkejut dengan suara petir itu. Dengan spontan ia memelukku.
"Gue takut banget," bisiknya. Saat itu aku juga merasa sangat takut, meski rintik hujan masih turun dengan derasnya menambah suasana menjadi begitu mencekam. Namun, aku harus menenangkannya.
"Tenang, ada gue. Lo nggak usah takut. Gue cuma ngerasa dingin aja," kataku sambil kembali berbaring. Dan sejak saat itu, ketika tanpa sengaja ia menyentuh batang kejantananku, dia menyadari sesuatu.
"Bang... gue mau minta tolong boleh?" bisiknya dengan suara gemetar. Dia mulai merapatkan badannya dengan napas yang memburu. Dia mulai menggunakan tangannya untuk meraba. "Gue cuma bisa nonton video, tapi sekarang lo beneran di sini. Gue mau ngerasain," lanjutnya.
"Lo yakin?" tanyaku.
"Iya, gue pengen," jawabnya.
Salah satu nilai plusnya adalah kita berdua tidak bisa melihat ekspresi nikmat masing-masing. Celana dalamnya sudah mulai basah. Aku mulai menurunkan celana pendekku dan mulai menyentuh bagian sensitifnya.
"Gue enak, ngga?" tanyanya sambil terus mendesah.
Aku memasukkan tanganku melalui sela celana dalamnya dan mulai memainkannya. Terutama di bagian klitorisnya, aku mainkan satu jariku ke lubang m3meknya. Aku kocok m3meknya dengan perlahan, lalu kemudian lebih kencang. Saat ini Salsa mulai menggesekkan kedua payudaranya ke tubuhku.
"Aaahhhhh, rasanya nikmat sekali," desahnya. Ketakutan kami seketika hilang dan berubah menjadi rangsangan birahi. Salsa sudah sangat pandai melakukan apa yang kuinginkan. Naik turun tangannya terus mengocok batang kejantananku.
Sejauh ini aku hanya menilai Salsa sebagai anak yang polos. "Bang, lo pernah nggak ngew3?" tanya Salsa dengan napas yang memburu, sambil menggigit bibirku dengan liarnya..
Akupun kembali mengikuti apa yang ia inginkan. Kujelajahi lagi jari-jemariku di permukaan sensitifnya. Semakin lama semakin basah, desahannya membuatku semakin terbakar.
"Bang, gue pengen sesuatu... kita lanjutin," bisiknya.
Gue tidak mungkin menahan ini lebih lama lagi. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa ini adalah rahasia kami berdua. Salsa pun mulai menggesekkan tubuhnya, rasanya enak sekali. Lalu secara bergantian, ia menyelipkan batang kejantananku di tengah belahan dadanya dan dengan perlahan mengges3kkannya.
Selanjutnya...
https://dramaranjang.blogspot.com/2026/05/adik-tiriku-lebih-melegit-jepitannya.html
Salsa, yang sebelumnya kukenal sebagai bocah yang sangat polos, ternyata mampu memberikan kenikmatan yang luar biasa. Saat ini aku mulai menjilati permukaannya yang sudah sangat becek, kuhisap klitorisnya dengan sangat lembut. Aku juga sempat memasukkan lidahku ke dalam.
"Ssshhhh... ahhh... ssshhhh..." hanya itu yang dapat keluar dari bibir Salsa. Ia begitu menikmatinya hingga tanpa sadar ia mulai menggesek-gesekkan tubuhnya.
"Nikmat, Bang," ucapnya pelan. Karena aku tahu hal ini akan membuatnya merasa sangat sakit di awal, aku berinisiatif untuk menggerakkannya dengan perlahan. Meskipun kasihan melihatnya mengerang seperti itu, aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Seperti dipijat, namun ini lebih dari itu.
Secara teratur, Salsa mulai bisa merasakan kenikmatan itu. Rasa sakit yang sempat ia rasakan sepertinya sudah berubah menjadi kenikmatan luar biasa, seperti yang juga sedang kurasakan. Kami mendapati keringat yang saling bercucuran, juga wajah yang dipenuhi dengan kenikmatan. Selain itu, aku baru saja melihat tubuh seksi adikku itu yang ternyata sangat putih dan mulus.
"Luar biasa," desahku. Dan akhirnya, aku keluarkan seluruhnya di dalam, tak peduli apa yang akan terjadi nanti.
"Sayang, keluarkan... goyang terus," desahnya dengan begitu keras. Aku mulai merasakan sesuatu yang hangat membanjiri batang kejantananku, terlebih ketika denyutan di dalam sana meremasnya dengan kuat.
"Gimana, enak nggak? Lo ngga nyesel?" ucap Salsa.
"Enak banget. Sekarang gue bakalan tanggung jawab," jawabku.
Malam itu, kami tertidur dalam keadaan berpelukan. Dan yang lebih gilanya lagi, malam ini kami tidak akan melupakannya.