Sicantik di Pesta Party Mewah
Aku sedang berlibur di salah satu villa milik Papa yang berada jauh dari keramaian. Siang ini, aku baru saja pulang mengantar Papa dan Mama ke bandara. Mereka akan pergi berlibur. Kami memang tidak begitu dekat, tidak seperti yang beberapa orang katakan bahwa saudara kembar memiliki ikatan batin yang kuat.
"Kan kamu tahu Mama sama Papa mau pergi," ucapku pada Alexa.
"Ah, ada kamu. Lagian Mama sama Papa juga fine saja, aku nggak apa-apa," jawabnya santai.
Aku merasa ada yang tidak beres. "Makanya, cari kegiatan, jangan ganggu," tegasku.
"Terserah," jawabnya singkat.
Aku masuk ke kamar sendirian, kututup gorden kamarnya, dan kumatikan lampu kamarku. Siang itu, aku hanya ingin istirahat.
Namun, sesuatu yang sungguh sangat menggangguku. Meski kututup telingaku dengan bantal, suara musik itu tetap terdengar kencang. Aku membuka mata. Badanku terasa sangat berat. Entah sudah berapa lama aku tidur, tapi rasanya pusing sekali. Kepalaku berat dan seluruh tubuhku terasa sakit.
Pusing itu sedikit demi sedikit menghilang, tapi suara musik itu masih terdengar. Paling lama dua jam aku tidur. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Ini pasti kelakuannya Alexa! Ngapain juga malam-malam begini dia membuat kegaduhan?
Aku sebenarnya sangat lelah dengan tumpukan tugas kuliah yang selama ini menyita waktuku. Akan tetapi, Alexa malah menghancurkan ketenanganku saat ini. Musik yang diputar sangat keras.
Yang lebih anehnya lagi, di sana aku mendengar suara seseorang mendesah dan mengerang. Tidak! Sepertinya tidak hanya satu orang, tapi lebih dari itu. Mungkin 2 orang, 3 orang... 4 orang.
Kalau Alexa mengundang teman-temannya, aku harus pastikan bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang berani macam-macam. Aku keluar kamar dan melihat beberapa botol minuman berjejer di atas meja, lighting yang disetting persis seperti suasana di sebuah klub malam, juga musik yang diputar dengan kerasnya. Satu lagi yang membuat keringat dingin bercucuran di pelipis.
Apa yang mereka lakukan di sini? Dianggap sebagai apa aku di sini? Dan apa yang aku lihat?
Aku melihat pasangan pria dan wanita yang sedang bersetubuh dengan posisi doggy style. Tepat di atas meja besar itu, sepasang lainnya yang tengah dimabuk kenikmatan dengan saling menjilati kemaluannya secara bergantian. Dan yang lebih parah lagi, ada seorang pria yang tampan dengan hidung mancung dan bibir tipis berwarna merah muda. Dia sedang memuaskan dirinya sendiri, duduk dengan kedua kaki terbuka lebar. Aku bisa melihat batang penis itu dengan jelas.
Tiba-tiba, seorang wanita menghampiri pria itu, melumat batang yang kekar itu dari ujung hingga pangkalnya. Bersamaan dengan itu, jemari wanita itu bergerilya di permukaan kemaluannya. Lalu, salah satu jarinya mulai menusuk lubang kenikmatanku secara perlahan.
Apa yang sedang kulakukan? Tentu saja, saat itu aku hanya menggunakan sebuah kaus oblong dan celana pendek dengan resleting yang terbuka, mencoba sadar sebelum ada orang lainnya yang melihatku.
Kurasakan merinding di seluruh tubuhku, birahi yang semakin menjadi-jadi. Masih terbayang apa yang kulihat tadi, sesekali ku masukkan jari tengahku dan kembali kubayangkan adegan panas tersebut. Akan tetapi, semua perasaan itu hilang ketika aku dikagetkan dengan seseorang yang membuka pintu kamarku tiba-tiba.
Segera kutarik kembali tanganku dan dengan cepat kututup resleting celanaku. Kurapikan rambut dan pakaianku, lalu setelah itu aku beranjak dari tempat tidur.
"Masuk," ucapku gugup.
Seorang pria masuk, lalu ia berjalan menghampiri tempat tidurku dan menjatuhkan tubuhnya.
"Ngapain lo di sini?" tanyaku ketus. "Bukanya suara di luar gaduh, lo yang tadi..."
Pria ini terlihat begitu santai. Sementara aku yang berdiri tepat di hadapannya merasa canggung.
"Kenapa? Semua teman-teman lo berisik, sementara gue sendiri. Lo sendiri kenapa ngga ikutan?" tanyanya.
"Gue nggak tahu Alexa ngadain party," jawabku.
"Masa sih lo pernah kan ikut party?" ujarnya mengejek, membuatku kesal. "Nama gue Liam. Alexa lagi asyik party, sodara kembar lo itu kan memang hobi begini. Kenapa lo ke sini? Kayaknya lo tertantang?"
"Nggak, PD banget lo!" sahutku.
Liam menatapku tajam. "Lo cium bau alkohol ngga? Liam, gue bener-bener ngga kuat."
Tiba-tiba, hal mengejutkan terjadi. Liam memegang kedua tanganku. Tubuhnya tepat berada di atasku. "Gue sange, lo mau kan? Sementara temen-temen gue di sana sibuk, kita di sini aja."
Tak lama kemudian, aku bisa melihat dengan lebih jelas batang penis yang begitu besar dan panjang itu. Ia bergoyang di hadapanku.
"Sekarang lo bebas mau apain kontol gue. Anggap aja lo sedang mainan," ucapnya.
Mulai kusentuh bagian pangkalnya, lalu mulai kuraba sampai ke ujungnya. Cairan bening yang sempat kulihat tadi, kuberikan gerakan naik turun dengan perlahan, namun Liam memintanya untuk lebih cepat lagi. Ia tak henti meremas payudaraku. Kujilat sekelilingnya dengan sesekali mengecupnya.
Lalu ia mulai bermain-main dengan kemaluanku. Ia mulai membuka kedua kakiku. Tampak jelas seluruh bagian kemaluanku di hadapannya. Ia berbaring tepat di sela kakiku. Ia membukanya dengan perlahan, sesekali ia menjatuhkan air liurnya di sana sebagai pelumas. Lalu ia membuka belahan itu dengan lebih lebar lagi, dilumatnya seluruh permukaan kemaluanku. Aku mendesah hingga kujambak rambutnya dan menekannya ke arah bawah.
Ia mulai menekuk kedua kakiku hingga tampak lubang kemaluanku. Ia menerobos jalan lubang itu meski perlahan. Diameter yang besar membuat penuh isi lubang itu.
"Liam..." ucapku ketika Liam mulai menghentak.
Tangannya yang lain dengan lincahnya memainkan payudaraku. "Lo suka?"
"Genjot terus, sayang!" teriakku.
Dia terus memompa, hingga terdengar suara plok.. plok... yang begitu keras. Ia melakukannya dengan lebih cepat lagi dan terus lebih cepat, hingga akhirnya ia mengerang. Terasa denyutan yang sangat hebat dari batang penis yang super besar itu di dalamku.
Sesekali ia hentakkan pinggangnya untuk mencapai titik paling dalam. Dalam keadaan lemas, ia terus mengusap bulu kemaluanku. Saat ini, aku hanya bisa terkulai lemas di tempat tidur. Liam terlihat begitu menyukai kemaluanku, karena sejak tadi, tak hentinya ia terus menjilati. Walaupun terasa perih, aku mulai merasakan birahi untuk yang kedua kalinya. Apalagi setelah Liam menghisap kemaluanku dengan kerasnya.