Arus Malam di Sungai Brantas

Novel "Arus Malam di Sungai Brantas"

Andi duduk di tepi Sungai Brantas saat matahari mulai condong ke barat. Usianya sudah 38 tahun, kulitnya gelap terbakar matahari, otot lengannya menonjol karena bertahun-tahun mengayuh perahu dan melempar jala. Rambutnya agak panjang, selalu diikat ke belakang dengan tali rafia. Setiap sore, dia datang ke spot yang sama, dekat pohon waru tua yang akarnya menjuntai seperti jemari raksasa ke dalam air.

Dia bukan nelayan laut yang pergi malam-malam dengan kapal besar. Andi adalah pemancing ikan sungai. Orang desa bilang dia "orang yang bicara sama air". Karena Andi jarang bicara dengan manusia. Istrinya meninggal lima tahun lalu karena sakit ginjal yang tak tertolong. Sejak itu, Andi hidup sendiri di rumah panggung kecil warisan orang tuanya. Anaknya hanya satu, Rian, yang sekarang kuliah di kota dan jarang pulang.

Malam itu, angin sepoi membawa bau lumpur yang khas. Andi melempar pancingnya, umpannya cacing tanah yang masih hidup.

"Malam ini arusnya pelan," gumamnya sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara langkah di belakangnya. Sepatu kets menyentuh dedaunan kering.

"Maaf, Pak... ini spot pemancingan umum ya?"

Andi menoleh. Seorang perempuan berdiri di sana, umurnya mungkin 32-33 tahun. Rambutnya hitam lurus sebahu, memakai kaos longgar berwarna krem dan celana pendek jeans. Kulitnya putih, tapi ada sedikit kemerahan karena terbakar matahari. Matanya besar, agak sayu.

"Iya, Mbak. Umum. Tapi jarang ada yang datang malam-malam," jawab Andi pelan, suaranya dalam dan sedikit serak.

Perempuan itu tersenyum tipis. 

"Saya Sinta. Baru pindah ke desa ini. Rumah kontrakan dekat masjid. Bosan di rumah, jadi jalan-jalan. Boleh duduk di sini?"

Andi mengangguk. 

"Silakan. Tapi hati-hati, tanahnya licin."

Sinta duduk di batu besar di sebelah Andi. Dia membawa botol air mineral dan senter kecil.

Mereka diam cukup lama. Hanya suara jangkrik dan air mengalir yang terdengar.

" Bapak sering di sini?" tanya Sinta akhirnya.

"Setiap hari. Kadang dari sore sampai subuh," jawab Andi tanpa melihatnya. "Ikan lebih banyak makan malam hari."

Sinta menatap pancing yang diam tak bergerak. 

"Saya dulu takut air. Tapi setelah cerai, saya suka tempat sepi seperti ini. Tenang."

Andi melirik sekilas. "Cerai?"

"Iya. Suami saya selingkuh dengan rekan kerjanya. Lima tahun nikah, tapi kayaknya dia lebih cinta karirnya. Saya bosan di kota, jadi pindah ke sini. Cari ketenangan."

Andi mengangguk pelan. 

"Saya juga kehilangan istri. Lima tahun lalu. Sakit. Sekarang tinggal sendiri."

"Oh... maaf ya, Pak."

"Tidak apa. Sudah biasa."

Hening lagi. Kali ini lebih nyaman.

" Namanya Andi," kata Andi tiba-tiba. "Panggil saja Mas Andi."

"Mas Andi," ulang Sinta, tersenyum. 

"Saya suka bau sungai ini. Aneh ya? Orang kota biasanya benci bau lumpur."

Andi tertawa kecil, suara pertama yang keluar dari mulutnya malam itu. 

"Itu artinya Mbak sudah mulai cocok dengan desa."

Mereka mulai bicara panjang. Sinta bercerita tentang pekerjaannya sebagai editor lepas buku, bagaimana dia lelah dengan hiruk-pikuk Jakarta. Andi bercerita tentang sungai kapan banjir besar datang, ikan apa yang paling sulit ditangkap, kenangan masa kecilnya berenang di sini bersama teman-teman yang sekarang sudah merantau.

Jam menunjukkan pukul 21.30 ketika Sinta berkata, 

"Mas Andi, saya boleh ikut mancing besok sore?"

"Boleh. Tapi Mbak harus sabar. Mancing itu soal nunggu."

Sinta tersenyum lebar. "Saya pandai menunggu."

Keesokan sorenya, Sinta datang lagi. Kali ini membawa dua gelas kopi tubruk dan pisang goreng hangat.

"Buat Mas Andi," katanya sambil menyodorkan.

Andi terkejut. "Mbak ini... terlalu baik."

"Makan dulu. Baru mancing," kata Sinta sambil duduk lebih dekat dari kemarin.

Mereka makan sambil mengobrol. Sinta banyak bertanya tentang kehidupan Andi. Bagaimana rasanya hidup sendirian di desa. Apakah dia pernah kesepian.

" Kesepian itu sudah teman saya," jawab Andi sambil menatap air. 

"Tapi kadang... malam-malam, badan ini minta dipegang. Manusiawi kan?"

Sinta diam sejenak. Wajahnya sedikit merah. "Manusiawi sekali, Mas."

Malam semakin larut. Pancing Andi bergerak. Dia langsung berdiri dan memainkan reel-nya dengan ahli. Seekor ikan patin sedang sebesar lengan muncul ke permukaan, berkilat di bawah cahaya senter.

"Wow!" seru Sinta. "Hebat!"

Andi tersenyum bangga. Setelah melepaskan ikan itu ke keranjang, dia duduk lagi. Kali ini kakinya hampir bersentuhan dengan kaki Sinta.

"Mas Andi," kata Sinta pelan. "Boleh saya pegang tangan Mas?"

Andi menatapnya lama. Lalu mengangguk.

Tangan Sinta hangat, agak gemetar. Mereka saling genggam sambil mendengar suara sungai. Tak ada kata-kata untuk beberapa menit.

Dua minggu berlalu. Sinta datang hampir setiap sore. Mereka sudah saling cerita banyak hal. Sinta pernah bilang dia sudah lama tidak disentuh laki-laki. Andi mengaku sudah hampir enam tahun tidak menyentuh perempuan.

Suatu malam hujan deras turun. Mereka berlindung di bawah pohon waru yang daunnya lebat.

"Basah semua," kata Sinta sambil tertawa. Kaosnya menempel di tubuhnya, memperlihatkan lekuk dada yang indah.

Andi menatapnya. Nafasnya mulai berat.

"Sinta..."

"Ya, Mas?"

"Aku... ingin mencium kamu."

Selanjutnyaa.....

https://dramaranjang.blogspot.com/2026/05/arus-malam-di-sungai-brantas.html

Sinta tidak menjawab dengan kata. Dia mendekat, memeluk leher Andi, dan menciumnya duluan. Ciuman itu lembut pada awalnya, lalu semakin dalam. Lidah mereka bertemu, saling menari di antara hujan yang turun semakin deras.


Tangan Andi turun ke pinggang Sinta, meremas pelan. Sinta mendesah di dalam ciuman mereka.


"Mas... aku sudah basah sekali," bisik Sinta.


"Bukan karena hujan?" goda Andi.


Sinta menggeleng sambil tersenyum nakal. "Bukan."


Mereka pindah ke rumah panggung Andi yang tak jauh dari sungai. Rumah kecil itu sederhana, tapi bersih. Hanya ada satu kamar tidur dengan kasur kapuk.



posted under |
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda