Gelora Asmara Hutang Mingguan

Novel "Gelora Asmara Hutang Mingguan"

Hujan gerimis masih turun pelan di gang sempit Perumahan Citra. Lampu jalan kuning redup menyinari motor Riko yang baru saja diparkir di depan kontrakan nomor 12. Jam sudah menunjukkan pukul 18.15.

Pintu terbuka sebelum Riko mengetuk.

Lina berdiri di ambang pintu memakai kaos oblong longgar berwarna hitam dan celana pendek rumah. Rambutnya acak-acakan, wajahnya tampak lelah.

"Masuklah, Mas Riko," kata Lina pelan.

Riko melangkah masuk, melepaskan jaket kulitnya yang basah, lalu duduk di sofa reyot. Ia mengeluarkan buku catatan kecilnya.

"Malam ini tanggal 23 lagi. Uangnya mana, Lin?" tanyanya langsung.

Lina berdiri di depannya, tangan memilin ujung kaos.

"Aku cuma bisa siapin Rp230 ribu, Mas. Kemarin gajian, tapi Arka sakit lagi. Obatnya habis Rp170 ribu. Aku benar-benar nggak sanggup..."

Riko menatapnya lama. Tatapannya turun ke dada Lina yang naik-turun karena napas gugup.

"Total hutang kamu sekarang Rp4,8 juta. Minggu ini jatuh tempo Rp650 ribu. Kamu selalu begini tiap minggu. Cerita dong, gimana ceritanya sampai kamu bisa terjerat segini dalam?"

Lina menggigit bibir, lalu perlahan duduk di samping Riko.

"Semua berawal dari suami aku, Mas... Namanya Dodi. Kami menikah tujuh tahun lalu. Awalnya biasa saja, dia mekanik di bengkel besar. Aku jualan makanan kecil di depan rumah. Hidup kami sederhana, tapi cukup. Sampai Arka lahir..."

Riko meletakkan tangannya di paha Lina, mengusap pelan.

"Lanjut," katanya lembut tapi tegas.

"Arka lahir prematur. Dokter sudah bilang ada masalah di jantungnya, tapi kami nggak langsung sadar seberapa parah. Dodi mulai berubah setelah itu. Sering pulang malam, marah-marah kecil. Katanya stress karena biaya rumah tangga. Aku diam saja, Mas... takut rumah tangga hancur."

Lina menunduk. Riko menariknya lebih dekat, tangannya merayap ke dalam kaos Lina, meremas p4yud4r4nya pelan.

"Ahh..." Lina mend3sah kecil. "Dua setengah tahun lalu, Dodi pergi begitu saja. Kabur sama perempuan lain yang katanya lebih muda. Dia bawa semua tabungan kami, bahkan perhiasan emas yang aku punya dari orang tua. Tinggal aku sama Arka yang waktu itu baru tiga tahun."

Riko mencium leher Lina pelan.

"Terus kamu pinjam uang?"

Lina mengangguk, napasnya mulai berat karena tangan Riko yang semakin berani.

"Iya... Enam bulan setelah Dodi pergi, Arka tiba-tiba kolaps di rumah. Aku panik setengah mati. Bawa ke rumah sakit, dokter bilang katup jantungnya bocor parah. Harus operasi segera. Biayanya Rp38 juta. Aku cuma punya Rp4 juta. Aku putus asa, Mas..."

Lina berhenti bicara saat Riko menarik kaosnya ke atas, membuka payudaranya.

"Buka celananya," perintah Riko.

Lina berdiri, menurunkan celana pendeknya hingga tel4nj4ng. Ia naik ke pangkuan Riko.

Selanjutnya.....

Full

https://dramaranjang.blogspot.com/2026/05/gelora-asmara-hutang-mingguan.html

Sambil Lina memasukkan batang Riko perlahan ke dalam tubuhnya, ia melanjutkan cerita dengan suara tersengal.

"Aaaahh... pelan dulu, Mas... Besar sekali..."


"Terus ceritanya," bisik Riko sambil memegang pinggul Lina.


"Aku dengar dari tetangga soal Bu Siti. Dia bilang Bu Siti suka nolong orang susah. Malam itu juga aku ketemu dia. Aku pinjam Rp25 juta. Dia kasih tanpa jaminan, cuma bunganya 8% per bulan. Aku setuju karena nggak ada pilihan lain. Operasi Arka berhasil... tapi setelah itu neraka baru dimulai."


Riko mulai menggerakkan pinggulnya dari bawah dengan pelan dan dalam.


Lina mendesah panjang. "Setiap bulan aku bayar, tapi gaji aku sebagai kasir minimarket cuma Rp2,3 juta. Kadang aku pinjam lagi ke Bu Siti buat bayar bunga yang lama. Hutangnya makin besar. Dua bulan lalu, Bu Siti bilang hutang aku sudah dijual ke bos kamu. Sekarang tiap minggu harus Rp650 ribu..."


Mereka bercinta dengan irama sedang. Riko sengaja tidak terburu-buru, mendengarkan cerita Lina di sela-sela desahan.


Setelah hampir satu jam, Riko menyemburkan cairannya di dalam tubuh Lina.


Saat Lina masih terbaring lemas di dadanya, Riko mengusap rambutnya.


"Besok malam aku datang lagi. Aku mau dengar lanjutan cerita kamu. Siapin yang lebih lengkap."


Lina hanya mengangguk lemah.


"Iya, Mas..."


---


**Bab 2 – Luka yang Terpendam**


Malam berikutnya, Riko datang lebih santai. Ia membawa sebungkus buah dan duduk lama di sofa sebelum menyentuh Lina.


Lina memakai daster tipis. Ia bersandar di dada Riko sambil bercerita lebih dalam.


"Dodi dulu orangnya baik, Mas... Rajin kerja. Tapi setelah Arka lahir, dia merasa terbebani. Katanya aku terlalu fokus ke anak, jarang perhatian ke dia. Aku coba perbaiki, tapi dia sudah sering menghilang malam-malam."


Riko mengusap paha Lina pelan.


"Kamu pernah cari dia setelah dia kabur?"


"Pernah, Mas. Aku datang ke bengkelnya. Orang sana bilang dia sudah pindah ke luar kota sama perempuan itu. Aku nangis seminggu penuh. Tapi Arka sakit, aku nggak boleh ambruk. Aku jual apa yang bisa dijual, tapi tetap kurang..."


Perlahan suasana memanas. Riko menidurkan Lina di sofa sambil terus mendengarkan ceritanya.


"Aku pernah kerja dua shift, Mas. Pagi di minimarket, malam bantu warung tetangga. Tapi tetap nggak cukup. Tiap kali ketemu Bu Siti, dia selalu bilang 'pinjam lagi saja, nanti diatur'. Aku bodoh karena percaya..."


Riko memasuki Lina dari belakang sambil berbisik, "Kamu kuat banget ternyata."


Lina mendesah, "Aku cuma bertahan buat Arka, Mas... Tapi sekarang, tiap kamu datang... aku merasa ada yang berbeda."


posted under |
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda