Penjual Jamu yang Menggoda

Novel "Penjual Jamu yang Menggoda"

Dimas, 29 tahun, bekerja sebagai editor video freelance di rumah di sebuah perumahan pinggiran . Setelah putus dengan pacar lama yang lebih memilih karir diluar kota, aku memilih hidup tenang. Pagi hari biasanya aku duduk di teras sambil minum kopi hitam, membuka laptop, dan sesekali menyapa tetangga yang lewat.

Suatu pagi sekitar pukul 07.30, aku mendengar suara khas yang sudah lama tidak kudengar.

“Jamu… jamu kunyit asam… jamu beras kencur… jamu cabe puyang… sehat dan segar!”

Seorang perempuan mendorong gerobak kayu kecil yang dicat hijau. Tubuhnya sedang tapi berlekuk sempurna. Usia sekitar 32 tahun, kulit sawo matang yang sehat, rambut hitam panjang diikat ponytail, dan wajahnya cantik alami dengan bibir tebal dan mata yang ramah. Blus batiknya agak ketat di bagian dada, memperlihatkan payudara yang penuh dan kencang. Rok panjang batiknya sedikit terangkat saat mendorong gerobak, memperlihatkan betis dan sedikit paha yang mulus.

Dia berhenti di depan pagar rumahku. “Mas, jamu pagi ini? Seger banget lho, buat stamina juga ada.”

Aku tersenyum dan mendekat. “Boleh. Yang mana yang paling enak Mbak?”

Dia tertawa kecil, suaranya lembut dan agak serak. 

“Semua enak, Mas. Tapi kalau buat cowok muda kayak Mas, aku rekomendasikan jamu cabe puyang campur madu. Bagus buat darah dan vitalitas.”

“Vitalitas?” godaku sambil tersenyum.

Dia mengedipkan mata. “Iya, Mas. Biar kuat seharian kerja. Namaku Sri, biasa lewat sini tiap Senin dan Kamis pagi.”

“Aku Dimas. Baru setahun tinggal sini. Mbak Sri dari mana?”

“Dari desa sebelah, Mas. Suami aku meninggal tiga tahun lalu. Anak satu sudah kuliah di Malang. Jadi aku jual jamu keliling biar tetap sibuk dan dapat uang saku,” ceritanya sambil menuang jamu ke gelas plastik.

Kami mengobrol cukup lama pagi itu. Sri cerita tentang susahnya jadi janda muda, tetangga yang suka gosip, dan betapa capeknya mendorong gerobak tiap hari.

“Kadang kaki aku pegel banget, Mas. Tapi ya mau gimana lagi,” katanya sambil mengusap keringat di lehernya. Keringat itu membuat blusnya agak menempel di kulit, semakin menonjolkan lekuk dadanya.

“Kalau capek, istirahat di sini aja Mbak. Rumah aku sepi,” tawarku.

Sri tersenyum malu. 

“Nanti gosipnya banyak, Mas. Tetangga sini suka ngawasin.”

Tapi sejak hari itu, Sri mulai sering berhenti lebih lama di rumahku.

Dua minggu kemudian, hubungan kami sudah akrab. Setiap Senin dan Kamis, Sri datang lebih pagi. Aku selalu menyiapkan kursi dan terkadang roti atau buah untuknya.

Suatu Kamis pagi yang panas, Sri datang dengan blus yang lebih tipis. Rambutnya agak basah karena mandi pagi.

“Mas Dimas, hari ini aku bawa jamu baru. Jamu sinom campur jahe. Bagus buat pencernaan dan awet muda,” katanya sambil duduk di teras.

Aku duduk di sebelahnya. “Mbak Sri sendiri sudah awet muda banget. Kelihatan seperti 25 tahunan.”

Sri tertawa sambil menutup mulut. 

“Ah, Mas bisa aja. Badan aku ini sudah melahirkan, agak berisi gini. Payudara juga sudah agak turun.”

Aku melirik diam-diam. 

“Kelihatan masih kencang kok, Mbak.”

Sri memandangku agak lama, pipinya sedikit merah. 

“Mas Dimas genit ya? Dulu suami aku juga suka muji badan aku. Tapi setelah dia meninggal… ya sudah tiga tahun lebih nggak ada yang sentuh.”

Udara pagi terasa semakin panas. Aku berani bertanya, 

“Mbak nggak pernah mikir cari yang baru?”

Sri menghela napas. 

“Mikir sih, Mas. Tapi susah. Cowok di desa kebanyakan sudah nikah atau nggak serius. Aku takut cuma dimanfaatin. Lagian, aku juga punya anak yang harus dipikirkan.”

Kami mengobrol hampir satu jam. Sri cerita tentang masa mudanya dulu, bagaimana ia menikah muda, kehidupan pernikahan yang biasa-biasa saja, dan kesepian setelah suaminya tiada. Aku cerita tentang mantan pacarku yang cuek dan pekerjaanku yang fleksibel.

“Enak ya Mas kerja dari rumah. Bisa santai,” katanya.

“Iya, tapi kadang sepi juga. Nggak ada temen ngobrol.”

Sri tersenyum lembut. 

“Sekarang ada aku kan tiap Senin Kamis.”

Sebulan berlalu. Sri mulai datang tidak hanya pagi. Kadang sore ia mampir setelah keliling habis, dengan alasan “istirahat sebentar”.

Suatu sore hujan deras. Sri datang sambil basah kuyup. Blus batiknya menempel ketat di tubuh, bra hitamnya jelas terlihat.

“Mas… boleh numpang berteduh? Gerobak aku sudah aku taruh di warung depan.”

“Tentu, Mbak. Cepat masuk.”

Di ruang tamu, aku kasih handuk. Sri mengeringkan rambut dan tubuhnya. Gaun basah itu membuat bentuk tubuhnya sangat jelas.

Selanjutnya.......


“Mas Dimas… aku malu. Basah gini,” katanya sambil tertawa kecil.


“Kamu malah kelihatan lebih seksi, Mbak,” kataku spontan.


Sri berhenti mengeringkan rambut. Ia menatapku dalam. “Mas serius?”


Aku mengangguk. “Dari pertama lihat Mbak, aku sudah suka. Cantik, ramah, dan… menggoda.”


Sri mendekat. 

“Aku juga suka sama Mas. Tiap lewat sini, aku sengaja lama-lama. Aku tahu Mas sering ngeliatin aku dari teras.”

Tangan kami bersentuhan. Sri tidak menarik tangannya.

 “Mas… aku sudah lama nggak merasakan sentuhan pria. Kadang aku… ya gitu deh, sendirian di rumah mikirin Mas.”

Selanjutnya....

https://dramaranjang.blogspot.com/2026/05/penjual-jamu-yang-menggoda.html

Aku meraih pinggangnya dan mencium bibirnya pelan. Sri langsung membalas dengan penuh kerinduan. Ciuman kami semakin panas, lidah saling menari.


“Ahh… Mas Dimas… enak,” desahnya di sela ciuman.


**Bab 4: Ledakan Nafsu**


Kami berpindah ke kamar tidurku. Sri berdiri gemetar saat aku membuka blus batiknya satu per satu. Payudaranya yang besar dan berat terbebas. Putingnya cokelat gelap sudah mengeras.


“Sentuh aku, Mas…” pintanya parau.


Aku meremas payudaranya dengan rakus, menghisap putingnya bergantian. Sri mendesah keras, tangannya meremas rambutku.


“Lebih kuat, Mas… gigit… ahh ya Tuhan enak sekali!! Aku kangen banget rasanya…”


Aku menurunkan roknya. Sri hanya memakai celana dalam hitam sederhana yang sudah basah di tengah. Aku berlutut, menarik celana itu ke bawah, dan menjilat vaginanya yang sudah banjir.


“Aaahhh!! Mas… jilatin… lidah Mas panas… lebih dalam!!” Sri menggoyang pinggulnya ke wajahku sambil menjerit kenikmatan.


Setelah ia orgasme pertama dengan tubuh kejang, Sri mendorongku ke tempat tidur. Ia membuka celanaku dan memandang kontolku yang sudah tegak keras.


“Gede banget, Mas… tebel juga,” katanya sambil tersenyum lapar.


Sri mengisapnya dengan mahir. Mulutnya hangat, lidahnya lincah berputar di kepala kontol, sesekali menelan sampai tenggorokan. Suara gluck-gluck basah memenuhi kamar.


“Enak, Mbak… kamu pintar sekali,” erangku.


Sri naik ke atas. Ia memegang kontolku dan memasukkannya pelan ke dalam vaginanya yang sangat basah dan panas.


“Aaahhh… penuh sekali… besar banget!!” jeritnya sambil perlahan turun.


Sri mulai menggoyang pinggulnya naik turun. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang indah di depanku. Aku meremasnya sambil mendorong ke atas.


“Enak, Mas… kontol Mas pas banget… fuck aku lebih cepat!!”


Kami berganti posisi. Aku menggenjotnya dari belakang dengan keras. Suara plok-plok basah dan erangan Sri memenuhi ruangan.


“Kasar aja, Mas… aku suka kasar… hancurkan jamu seller kamu ini!!”


Kami bercinta hampir satu jam penuh. Akhirnya Sri orgasme hebat sambil menjerit, vaginanya berkontraksi kuat. Aku menyusul, menyemburkan sperma panas jauh ke dalam rahimnya.


Kami berpelukan berkeringat, napas tersengal.


**Bab 5: Hubungan Rahasia yang Panas**


Sejak hari itu, Sri bukan hanya penjual jamu. Setiap kali datang, kami selalu punya waktu “istirahat” di rumahku.


Suatu pagi, setelah puas bercinta di sofa ruang tamu, Sri berbaring di dadaku.


“Mas Dimas… aku jatuh cinta sama kamu. Awalnya cuma penasaran, tapi sekarang aku serius. Kamu bikin aku merasa hidup lagi,” katanya pelan.


“Aku juga, Sri. Kamu bukan cuma penjual jamu lagi buat aku.”


Sri sering bercerita panjang sambil kami berbaring telanjang. Tentang mimpi-mimpinya dulu, kesulitan membesarkan anak sendirian, dan betapa ia merasa cantik lagi saat bersamaku.


Kadang kami bercinta di tempat tak terduga. Suatu sore, Sri datang setelah hujan. Kami melakukannya di dapur sambil ia “membantu” aku memasak.


“Mas… masukin dari belakang sambil aku potong sayur yuk,” godanya sambil mengangkat roknya.


Aku memasukinya pelan sambil meremas payudaranya dari belakang. “Kamu emang liar, Sri.”


“Karena Mas Dimas yang bikin aku liar,” balasnya sambil mendesah.


Dialog kami selalu penuh gairah dan keintiman. Sri suka menceritakan fantasinya: ingin dicium di teras saat ada tetangga lewat (tapi tidak berani), ingin dicoba jamu khusus yang ia buat sendiri untuk stamina, dan ingin merasakan Dimas setiap hari.


**Bab 6: Ikatan yang Lebih Dalam**


Enam bulan berlalu. Hubungan kami semakin kuat. Sri masih jual jamu keliling, tapi ia selalu menyisihkan waktu khusus untukku. Kadang aku ikut menemaninya keliling dengan motor, lalu berhenti di tempat sepi untuk berciuman atau lebih.


Suatu malam, Sri menginap di rumahku (ia bilang ke tetangga ada urusan keluarga). Kami bercinta sepanjang malam di berbagai posisi: di kamar, di balkon, bahkan di lantai ruang tamu.


Setelah puas, Sri berbaring di pelukanku.


“Mas… aku mau bilang sesuatu. Aku nggak mau ini cuma hubungan rahasia selamanya. Aku ingin kita serius. Anakku sudah besar, dia pasti ngerti.”


Aku mencium keningnya. “Aku juga mau serius, Sri. Kamu sudah jadi bagian hidup aku. Penjual jamu yang cantik, kuat, dan paling seksi.”


Sri tersenyum bahagia. “Besok aku bawa jamu spesial lagi ya. Jamu buat yang mau kawin lari sama aku.”


Kami tertawa bersama.


Di perumahan pinggiran Surabaya itu, seorang penjual jamu keliling telah menemukan cinta dan kenikmatan yang lama hilang, sementara aku menemukan perempuan yang benar-benar membuat hidupku penuh warna.


---


**

posted under |
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda