Sopir Pribadi yang Terlarang

Novel "Sopir Pribadi yang Terlarang"

Reza berusia 27 tahun. Sudah tiga tahun ia bekerja sebagai sopir online. Penghasilannya pas-pasan, tapi cukup untuk hidup sendiri setelah putus kuliah semester akhir karena biaya. Suatu hari, temannya yang bekerja di sebuah perusahaan properti mengirim pesan.

“Rez, ada lowongan sopir pribadi Bu Sinta. Gaji 8 juta plus bonus, fasilitas lengkap. Mau? Nyonya-nya orangnya baik, tapi demanding.”

Reza langsung mengiyakan. Besok paginya ia sudah datang ke rumah mewah. Rumah dua lantai bergaya modern dengan garasi luas.

Pintu depan terbuka. Seorang perempuan keluar. Usia sekitar 36 tahun, tinggi semampai, kulit sawo matang yang terawat, rambut hitam lurus sebahu. Wajahnya cantik tajam mata almond, bibir penuh, dan aura yang langsung terasa mahal. Ia memakai kemeja putih ketat dan rok pensil hitam yang menonjolkan pinggul lebar serta kaki jenjangnya.

“Kamu Reza?” suaranya lembut tapi tegas.

“Iya, Bu. Siap bekerja mulai hari ini.”

Bu Sinta tersenyum tipis. “Panggil saya Mbak Sinta saja. Ayo masuk, kita bicara dulu.”

Di ruang tamu yang mewah, mereka duduk berhadapan. Sinta menyilangkan kakinya, roknya naik sedikit memperlihatkan paha mulus.

“Aku cerai setahun lalu. Suami sibuk bisnis di luar negeri, jarang pulang. Aku butuh sopir yang bisa diandalkan, sopan, dan tidak banyak bicara soal privasi. Bisa?”

“Bisa, Mbak. Saya orangnya tertutup,” jawab Reza tenang.

“Bagus. Kerja mulai besok jam 6 pagi. Antar jemput kantor, kadang meeting malam, dan ke mana saja aku mau. Gaji di-transfer tanggal 1. Ada pertanyaan?”

Reza menggeleng. Matanya tak bisa lepas dari belahan dada Sinta yang samar terlihat dari kancing kemeja yang agak longgar.

“Kalau begitu, besok pakai seragam yang sudah disiapkan. Kamu boleh pakai kamar sopir di belakang.”

**

Dua minggu pertama berjalan profesional. Reza mengantar Sinta ke kantor di Tunjungan Plaza setiap pagi. Di mobil, mereka mulai banyak bicara.

“Reza, kamu pacaran?” tanya Sinta suatu pagi sambil melihat ponsel.

“Sudah putus Mbak, hampir setahun. Dia pilih kerja di Bali.”

Sinta tertawa kecil. “Pantas. Kamu ganteng, sopan, badan juga bagus. Pasti banyak yang ngejar.”

Reza tersipu di balik kaca spion. “Biasa saja, Mbak. Mbak Sinta sendiri? Maaf kalau lancang.”

Sinta menatap ke luar jendela. “Suami jarang pulang. Kadang aku merasa seperti janda hidup. Tapi ya, bisnis harus jalan. Kamu suka kerja sama aku?”

“Nyaman, Mbak. Mbak orangnya tegas tapi baik.”

Sinta tersenyum. “Kamu juga enak diajak ngobrol. Kebanyakan sopir sebelumnya cuma diam saja.”

Lambat laun, perjalanan mereka semakin panjang obrolannya. Sinta cerita tentang pernikahannya yang dingin, Reza cerita tentang mimpi membuka bengkel sendiri. Kadang Sinta membeli kopi atau makanan untuk Reza saat istirahat.

Suatu malam, setelah meeting sampai jam 11, Sinta keluar dari gedung dengan wajah lelah. Gaun hitam cocktail-nya ketat, memperlihatkan lekuk tubuh sempurna.

“Reza, pulang agak pelan ya. Kepala aku pusing,” katanya sambil duduk di belakang.

Di perjalanan, Sinta tiba-tiba bertanya, “Reza… kamu pernah suka sama perempuan yang lebih tua?”

Reza hampir tersedak. “Pernah, Mbak. Kenapa?”

“Gak apa-apa. Cuma penasaran.”

**

Sebulan kemudian, hubungan mereka semakin dekat. Sinta sering minta Reza masuk ke rumah saat ia butuh bantuan membawa barang atau memperbaiki sesuatu. Tubuh Reza yang atletis (dari olahraga rutin) membuat Sinta sering melirik diam-diam.

Suatu sore hujan deras. Sinta pulang lebih awal.

“Reza, mobilnya parkir di garasi saja. Kamu tunggu di dalam sampai hujan reda,” perintahnya.

Mereka duduk di ruang keluarga. Sinta sudah ganti baju rumah: tank top tipis dan celana pendek satin. Bra-nya tidak dipakai, putingnya samar terlihat.

“Reza, kamu minum apa? Wine? Aku butuh teman ngobrol malam ini,” katanya sambil menuang dua gelas.

Reza menerima. “Mbak kenapa? Kelihatan sedih.”

Sinta menghela napas panjang. “Suami aku telepon tadi. Bilang dia lagi sama klien di Singapura. Tapi aku tahu dia bohong. Suaranya… beda. Aku sudah dua tahun lebih nggak disentuh, Rez. Kamu bisa bayangin?”

Reza menelan ludah. “Mbak cantik sekali. Pasti banyak yang mau.”

Sinta mendekat di sofa. Paha mereka hampir bersentuhan. “Tapi aku nggak mau sembarang orang. Aku suka yang bisa dipercaya… seperti kamu.”

Tangan Sinta menyentuh lengan Reza. “Kamu suka aku nggak, Rez?”

Reza menatap matanya. “Suka, Mbak. Dari pertama ketemu. Tapi saya sopir Mbak…”

“Di rumah ini, kamu bukan cuma sopir,” bisik Sinta. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Reza pelan.

Selanjutnyaa....

https://dramaranjang.blogspot.com/2026/05/sopir-pribadi-yang-terlarang.html


*****

Reza membalas. Ciuman itu semakin dalam, lidah mereka saling bertaut. Tangan Reza naik ke pinggang Sinta, merasakan kulit hangatnya.


“Ahh… lama banget nggak ada yang cium aku gini,” desah Sinta di sela ciuman.


**Bab 4: Malam Pertama yang Panas**


Sinta menarik Reza ke kamar utamanya. Lampu redup. Ia berdiri di depan Reza dan melepas tank topnya perlahan. Payudaranya besar, kencang, dengan puting cokelat yang sudah mengeras.


“Sentuh, Rez…”


Reza meremas keduanya dengan lembut lalu kuat. Ia menunduk, menghisap puting Sinta bergantian. Sinta mendesah keras, tangannya meremas rambut Reza.


“Enak… lebih kuat, Rez… gigit pelan…”


Reza menurunkan celana pendek Sinta. Ia tidak memakai celana dalam. Vaginanya sudah basah mengkilap, rapi dicukur. Reza berlutut dan menjilatnya pelan. Lidahnya menari di klitoris yang membengkak.


“Aaahh!! Reza… jilatin lebih dalam… ahh ya Tuhan enak sekali!!”


Sinta menggoyang pinggulnya ke wajah Reza sambil mendesah. Tangannya menekan kepala Reza lebih dalam. Tak lama kemudian tubuhnya kejang, ia orgasme pertama dengan cairan yang membasahi mulut Reza.


Sinta mendorong Reza ke tempat tidur. Ia membuka celana Reza, matanya melebar melihat kontol Reza yang besar dan tegang.


“Gede banget… pantas badan kamu bagus,” katanya sambil tersenyum nakal.


Ia mengocok pelan lalu memasukkannya ke mulut. Mengisap dalam-dalam, lidahnya berputar di kepala kontol. Suara basah gluck-gluck memenuhi kamar.


“Uhh… Mbak Sinta… enak sekali,” erang Reza.


Setelah beberapa menit, Sinta naik ke atas. Ia memegang kontol Reza dan memasukkannya pelan ke dalam vaginanya yang sangat basah.


“Aaahhh… penuh sekali… besar banget, Rez!!” jeritnya.


Sinta mulai menggoyang pinggulnya naik turun. Payudaranya bergoyang indah di depan wajah Reza. Reza meremasnya sambil mendorong pinggul ke atas.


“Enak, Mbak… vaginanya sempit dan panas…”


“Fuck me harder, Rez! Aku mau kamu kasar malam ini!” desah Sinta.


Reza membalik posisi. Ia mengangkat kedua kaki Sinta ke bahunya dan menghunjam dalam-dalam dengan ritme cepat. Suara plok-plok basah terdengar keras.


“Ya… seperti itu!! Lebih dalam… hancurkan aku!!” Sinta menjerit kenikmatan.


Mereka berganti posisi berkali-kali—doggy style di tepi ranjang, standing fuck di depan cermin sehingga Sinta bisa melihat sendiri wajahnya yang mesum. Akhirnya Reza menyemburkan sperma panas ke dalam rahim Sinta saat Sinta orgasme hebat untuk kedua kalinya.


Mereka ambruk berpelukan, berkeringat.


**Bab 5: Hubungan Rahasia**


Sejak malam itu, hubungan mereka berubah. Di siang hari, Reza tetap sopir yang profesional. Tapi di mobil, Sinta sering meminta “istirahat” di tempat sepi.


“Parkir di basement mall ini, Rez. Aku basah dari tadi mikirin kamu,” bisik Sinta suatu siang.


Reza memarkir mobil di pojok gelap. Sinta naik ke depan, duduk di pangkuan Reza. Roknya disingsingkan, celana dalam ditarik ke samping. Ia menunggangi Reza di kursi sopir sambil berciuman liar.


“Pelan Rez… jangan sampai ada yang lihat… ahh enak!”


Dialog mereka selalu panas saat berduaan.


“Tiap hari aku pengen diginiin di mobil,” kata Sinta sambil menggoyang pinggulnya. “Kamu bikin aku ketagihan, Rez.”


Reza meremas payudaranya dari belakang. “Mbak Sinta yang bikin saya gila. Nyonya paling seksi yang pernah saya punya.”


Malam-malam di rumah pun semakin sering. Sinta suka bercinta di berbagai tempat: di dapur sambil masak, di kolam renang belakang saat malam, bahkan di meja kerjanya.


Suatu malam, setelah bercinta panjang, Sinta berbaring di dada Reza.


“Reza… aku jatuh cinta sama kamu. Bukan cuma nafsu. Kamu beda dari suami aku.”


Reza mencium keningnya. “Saya juga, Mbak. Tapi kita harus hati-hati.”


Sinta tersenyum. “Aku tahu. Tapi di rumah ini, kamu boleh lakukan apa saja sama aku.”


**Bab 6: Masa Depan yang Tak Pasti**


Hubungan mereka terus berlanjut selama berbulan-bulan. Sinta semakin terbuka, bahkan kadang menggoda Reza di depan orang lain dengan cara halus—sentuhan di paha saat meeting, bisikan nakal di telinga.


Reza mulai merasa ini bukan lagi sekadar hubungan terlarang. Ia ingin lebih. Tapi Sinta masih terikat status pernikahan di atas kertas.


“Kalau suami aku minta cerai resmi, kamu mau tetap sama aku?” tanya Sinta suatu malam setelah sesi bercinta yang melelahkan.


“Pasti, Mbak. Saya siap tanggung jawab.”


Sinta menciumnya dalam. “Kamu bukan cuma sopir pribadi aku lagi, Rez. Kamu sudah jadi milik aku sepenuhnya.”


Di kompleks mewah itu, tak ada yang tahu bahwa sopir pribadi yang sopan dan pendiam itu sebenarnya adalah kekasih rahasia Nyonya Sinta—yang setiap malam memuaskan hasratnya dengan penuh gairah.


---


**

posted under |
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda