Gelora Asmara Bendahara Cantik
*Gelora Asmara Bendahara Cantik*
Malam sudah larut di ibu kota. Lampu-lampu gedung perkantoran di kawasan elit masih menyala terang, meski sebagian besar karyawan sudah pulang. Di lantai 18 gedung tinggi itu, Ruang Keuangan masih ramai suara ketikan keyboard dan hembusan AC yang dingin.
Sinta Pramesti, Bendahara Utama sebuah PT, duduk di kursinya dengan punggung tegak. Rambutnya yang hitam panjang diikat rapi menjadi kucir kuda, kacamata tipis bertengger di hidung mancungnya. Usianya 32 tahun, sudah menikah delapan tahun dengan Andi, seorang marketing manager di perusahaan lain. Dari luar, hidupnya tampak sempurna: jabatan tinggi, gaji puluhan juta, rumah di kawasan elite, dan seorang anak laki-laki berusia enam tahun bernama Rafi.
Tapi malam ini, seperti biasa, Sinta merasa hampa.
Ia menutup laptopnya pelan, menghela napas panjang. Layar ponselnya menyala. Pesan dari Andi: “Sayang, aku lembur lagi malam ini. Jangan tunggu, istirahat aja ya. Love you.”
Sinta tersenyum tipis, tapi senyum itu tak sampai ke matanya. “Lembur lagi,” gumamnya pelan. Sudah tiga bulan terakhir Andi sering lembur. Awalnya ia percaya. Tapi ketika ia menemukan lipstik di kerah kemeja suaminya minggu lalu, dan Andi hanya tertawa sambil bilang
“itu dari meeting klien cewek,” kepercayaan itu retak.
Ia bangkit, merapikan tumpukan dokumen anggaran tahunan yang harus ia selesaikan besok pagi. Pintu ruangannya diketuk pelan.
“Masuk,” kata Sinta.
Pak Budi Santoso, Direktur Utama perusahaan, melangkah masuk. Usianya 45 tahun, tinggi tegap, dengan rahang tegas dan mata tajam yang selalu membuat karyawan merasa dia bisa membaca pikiran mereka. Rambutnya sudah mulai beruban di pelipis, tapi justru membuatnya semakin berwibawa. Ia masih mengenakan kemeja putih lengan digulung sampai siku, dasi longgar.
“Masih di sini, Bu Sinta? Sudah jam 10 malam,” kata Budi dengan suara bariton yang dalam, tersenyum tipis.
Sinta agak kaget. Biasanya direktur utama jarang turun ke lantai keuangan malam-malam.
“Ya, Pak. Anggaran Q3 masih ada yang kurang cocok dengan proyeksi sales. Saya mau pastikan semuanya akurat sebelum rapat besok,” jawab Sinta sopan, tapi suaranya sedikit lelah.
Budi mendekat, berdiri di sebelah meja kerjanya. Aroma cologne mahalnya samar-samar tercium. “Anda terlalu perfeksionis. Itu bagus untuk perusahaan, tapi tidak bagus untuk kesehatan Anda. Duduklah.”
Sinta ragu sejenak, tapi akhirnya duduk kembali. Budi menarik kursi di depannya dan duduk santai.
“Kita sudah kerja bareng hampir tiga tahun ya, Bu Sinta,” kata Budi sambil menatapnya lekat. “Saya perhatikan, Anda selalu yang terakhir pulang. Suami Anda tidak keberatan?”
Pertanyaan itu terlalu pribadi. Sinta tersenyum kaku. “Andi juga sering lembur, Pak. Kami saling mengerti.”
Budi mengangguk pelan, tapi matanya seolah tak percaya. “Mengerti atau pura-pura mengerti? Kadang orang yang paling dekat justru paling tidak tahu apa yang kita rasakan.”
Sinta merasa ada yang aneh dengan nada suara atasannya. Selama ini Budi selalu profesional, tegas, dan sedikit dingin. Tapi malam ini ada kehangatan yang berbeda.
“Pak Budi sendiri? Ibu Rina tidak menunggu?” tanya Sinta balik, mencoba mengalihkan.
Budi tertawa pelan, suara tawanya rendah dan maskulin. “Rina? Kami sudah jarang bertemu. Dia lebih sibuk dengan sosialitanya, arisan, dan traveling ke Eropa. Anak-anak sudah kuliah di luar negeri. Rumah besar itu… kadang terasa kosong.”
Keheningan menggantung beberapa detik. Sinta merasa jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia tahu ini berbahaya. Budi adalah atasannya. Ia adalah ibu rumah tangga yang setia setidaknya dulu.
“Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud
“Tidak apa-apa,” potong Budi lembut. “Kadang enak juga punya orang yang bisa diajak bicara jujur. Anda tahu, Sinta… saya selalu kagum dengan cara Anda menangani keuangan. Detail, cerdas, dan punya naluri bisnis yang tajam. Banyak direktur keuangan laki-laki yang tidak sebaik Anda.”
Pujian itu membuat pipi Sinta sedikit memerah. “Terima kasih, Pak. Saya hanya melakukan tugas saya.”
Budi mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Bukan hanya tugas. Anda punya strategi. Saya lihat bagaimana Anda memotong anggaran marketing yang boros bulan lalu tanpa membuat tim sales memberontak. Itu butuh keahlian politik yang halus. Anda perempuan yang cerdas, Sinta. Dan cantik. Kombinasi yang jarang.”
Sinta menunduk, jari-jarinya memilin ujung blusnya. “Pak… ini sudah malam. Saya pulang dulu ya.”
Tapi Budi tidak langsung berdiri. Ia mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah grafik proyeksi. “Sebelum pulang, tolong lihat ini dulu. Saya ada ide untuk ekspansi ke Surabaya. Tapi butuh persetujuan keuangan yang matang. Besok rapat besar, tapi saya ingin diskusi pribadi dulu dengan Anda.”
Mereka akhirnya membahas bisnis selama hampir 40 menit. Dialog mengalir lancar. Budi mendengarkan setiap pendapat Sinta dengan serius, sesekali bertanya mendalam, dan memberikan pandangan strategis yang brilian. Sinta merasa dihargai sesuatu yang jarang ia dapatkan dari Andi akhir-akhir ini.
Ketika mereka selesai, Budi berdiri dan mengulurkan tangan. “Terima kasih, Sinta. Anda membuat saya yakin dengan rencana ini.”
Sinta menyambut jabat tangan itu. Tangan Budi hangat, kuat, dan agak lama memegangnya. “Sama-sama, Pak.”
Sebelum Sinta keluar ruangan, Budi berkata pelan,
“Kalau ada yang mengganggu pikiran Anda… kapan saja, pintu saya terbuka. Bukan hanya soal kerja.”
Sinta pulang dengan hati berdebar. Malam itu ia tidur dengan gelisah, mimpi tentang mata tajam Budi yang menatapnya.
---
Suatu hari, di ruang arsip lantai bawah yang jarang dipakai, mereka bertemu “secara kebetulan”. Budi menarik Sinta ke sudut gelap.
“Anda menghindari saya akhir-akhir ini,” bisik Budi, tubuhnya mendekat.
“Saya takut, Pak. Ini salah. Saya punya suami, anak…”
“Tapi Anda juga punya hati yang butuh disentuh,” jawab Budi. Tangannya menyentuh pipi Sinta lembut. “Saya jatuh cinta pada cara Anda berpikir, cara Anda bertahan, cara Anda tersenyum meski lelah.”
Ciuman pertama terjadi di sana. Ringan, ragu-ragu. Sinta mendorong pelan, tapi lalu balas. Rasa wine dan hasrat bercampur.
Tantangan semakin besar. Andi mulai curiga. Rekan kerja mulai bergosip pelan. Anggaran perusahaan ada masalah besar yang harus Sinta selesaikan, dan Budi adalah satu-satunya yang benar-benar mendukungnya.
“Strategi kita harus hati-hati,” kata Budi suatu malam di apartemen milik perusahaannya yang jarang dipakai. “Saya tidak mau Anda kehilangan apa pun. Tapi saya juga tidak bisa berhenti memikirkan Anda.”
Sinta duduk di sofa, kepalanya bersandar di dada Budi. “Ini gila. Tapi… saya merasa hidup lagi.”
Dialog mereka panjang, penuh janji, penuh perencanaan, penuh ketakutan, dan penuh gairah yang tertahan. berakhir dengan Sinta yang akhirnya memutuskan untuk melangkah lebih jauh. Besok malam, di apartemen itu, ia akan datang lagi. Kali ini, bukan hanya untuk bicara.
**
Sinta berdiri di depan pintu apartemen mewah di kawasan itu yang jarang diketahui orang. Jam menunjukkan pukul 20.30. Hujan deras mengguyur ibu kota malam itu, seolah langit ikut merestui atau menghukum apa yang akan terjadi. Tangan Sinta gemetar saat menekan bel. Cincin kawinnya masih melingkar di jari manis, terasa berat seperti rantai.
Pintu terbuka. Budi berdiri di sana, mengenakan kemeja hitam longgar dan celana rumah. Rambutnya sedikit acak, mata tajamnya langsung melunak saat melihat Sinta yang basah kuyup karena lari dari mobil ke lobby.
“Anda datang,” kata Budi pelan, suaranya dalam dan penuh kelegaan. Ia menarik Sinta masuk, lalu menutup pintu dengan pelan. “Saya kira Anda berubah pikiran.”
Sinta meletakkan tasnya di sofa, air hujan menetes dari ujung rambutnya. “Saya hampir berubah pikiran sepuluh kali di jalan, Pak. Tapi… saya di sini.”
Budi mendekat, mengambil handuk bersih dari rak dan dengan lembut menyeka rambut serta wajah Sinta. Gerakannya pelan, penuh perhatian.
“Kita tidak perlu buru-buru. Malam ini hanya kita. Andi?”
“Dia bilang lembur lagi sampai pagi,” jawab Sinta pahit.
“Rafi sedang di rumah neneknya.”
Budi mengangguk. Ia menuangkan segelas wine merah untuk Sinta, lalu untuk dirinya sendiri. Mereka duduk di sofa panjang yang empuk, cahaya lampu temaram hanya dari lampu meja.
“Sinta… saya tahu ini berat bagi Anda,” kata Budi sambil menatapnya lekat.
“Saya juga. Saya punya istri, reputasi, perusahaan ini. Tapi setiap kali melihat Anda di kantor, setiap strategi yang Anda susun dengan cerdas, setiap kali Anda menahan lelah demi pekerjaan… saya semakin tidak bisa menahan diri.”
Sinta menyesap wine-nya, tangannya masih dingin. “Pak Budi, ini perselingkuhan. Kalau ketahuan, saya yang paling rugi. Jabatan, keluarga, nama baik…”
Budi meletakkan gelasnya, lalu meraih tangan Sinta. “Itu tantangannya. Kita harus sangat hati-hati. Tidak ada pesan telpon di jam kantor kecuali urusan kerja. Pertemuan hanya di tempat seperti ini. Saya sudah siapkan apartemen ini hanya untuk kita berdua. Tidak ada CCTV yang tersambung ke kantor. Strategi saya sudah saya pikirkan lama.”
Ia mendekatkan wajahnya, napasnya hangat menyapu pipi Sinta.
“Tapi malam ini, lupakan strategi sebentar. Biarkan saya tunjukkan betapa saya menginginkan Anda.”
Ciuman pertama malam itu lebih dalam dari yang di ruang arsip. Budi mencium Sinta dengan perlahan, penuh penaklukan. Bibirnya hangat, lidahnya ahli menari, membuat Sinta mendesah pelan di antara ciuman. Tangan Sinta awalnya mendorong dada bidang Budi, tapi kemudian meremas kemejanya, menariknya lebih dekat.
“Anda mencium seperti perempuan yang sudah lama menahan rasa,” bisik Budi di telinga Sinta sambil menggigit pelan cuping telinganya. “Biarkan saya lepaskan itu semua.”
Sinta mengangguk, napasnya sudah tersengal. Budi membopongnya dengan mudah ke kamar tidur utama. Apartemen itu mewah tapi nyaman, tempat tidur king-size dengan seprai putih bersih. Ia menurunkan Sinta pelan, lalu mulai membuka kancing blus Sinta satu per satu sambil menciumi lehernya.
“Pak… Budi…” desah Sinta ketika tangan besar itu menyentuh kulit perutnya yang halus, naik ke p4yud4ranya yang masih tertutup bra hitam renda.
“Panggil nama saya saja malam ini,” gumam Budi. Ia melepas bra Sinta dengan satu tangan ahli, lalu menunduk, menciumi puncak p4yud4ra yang sudah mengeras. Lidahnya berputar lembut, sesekali mengisap pelan, membuat tubuh Sinta melengkung penuh kenikmatan.
Selanjutnya........
Full 👇
https://dramaranjang.blogspot.com/2026/06/gelora-asmara-bendahara-cantik.html
“Oh Tuhan…” erang Sinta. Tangannya meremas rambut Budi. Sudah bertahun-tahun ia tidak disentuh seintens ini. Andi selalu terburu-buru, mekanis.
Budi terus turun, menciumi perut rata Sinta, lalu melepas rok dan celana dalamnya dengan gerakan penuh hormat tapi penuh hasrat. Ia berlutut di depan Sinta, membuka pahanya lebar-lebar, lalu mencium bagian paling intimnya dengan rakus.
Sinta menjerit pelan, tangannya mencengkeram seprai. Lidah Budi lincah, menjilat, mengisap, memasukkan dua jari perlahan sambil terus merangsang titik sensitifnya. “Anda sangat basah, Sayang… enak sekali,” bisik Budi di antara kecupan.
Tubuh Sinta bergetar hebat saat gelombang pertama orgasme datang. Ia menjerit nama Budi, pinggulnya terangkat, cairan hangat membasahi mulut pria itu.
Budi bangkit, melepas pakaiannya sendiri. Tubuhnya terjaga untuk usia 45 tahun—dada bidang, perut rata dengan sedikit otot, dan kejantanannya sudah tegang sempurna, besar dan berdenyut.
Ia naik ke atas Sinta, mencium bibirnya lagi sambil menggesekkan ujung kejantanannya di pintu masuk yang sudah sangat licin.
“Masuk, Budi… saya mau Anda,” pinta Sinta dengan suara parau, matanya berkabut gairah.
Dengan satu dorongan pelan tapi kuat, Budi masuk sepenuhnya. Sinta mendesah panjang, merasakan terisi penuh. Budi bergerak ritmis, awalnya pelan, memberi waktu Sinta menyesuaikan, lalu semakin cepat dan dalam.
“Kamu sempit sekali… enak banget,” erang Budi di telinga Sinta sambil meremas payudaranya. Ia mengganti posisi, membalik Sinta jadi menungging, lalu masuk dari belakang dengan lebih dalam. Suara benturan tubuh mereka memenuhi kamar, bercampur erangan dan desahan.
Sinta mencapai klimaks kedua dengan hebat, tubuhnya kejang, dinding vaginanya meremas kejantanan Budi kuat-kuat. Budi tidak tahan lama, beberapa dorongan kuat lagi, lalu ia menyemburkan cairannya panas di dalam Sinta sambil mengerang nama perempuan itu.
Mereka ambruk bersama di tempat tidur, berkeringat, napas tersengal. Budi memeluk Sinta dari belakang, menciumi bahunya.
“Ini baru permulaan,” bisik Budi. “Kita akan atur semuanya. Saya akan lindungi Anda.”
Sinta membalik tubuhnya, menatap mata Budi. Ada air mata di sudut matanya—campuran bahagia, bersalah, dan hasrat yang baru bangkit. “Ini salah… tapi rasanya benar. Saya mau lagi, Budi.”
Malam itu mereka melakukannya dua kali lagi. Sekali di kamar mandi di bawah guyuran air hangat, Sinta berdiri dengan satu kaki terangkat sementara Budi menghunjamnya kuat dari depan. Kali terakhir di sofa ruang tamu, Sinta menunggangi Budi dengan liar, payudaranya bergoyang menggoda, hingga keduanya mencapai puncak hampir bersamaan.
Pukul 03.00 dini hari, Sinta berpakaian kembali. Budi mengantarnya sampai mobil di basement.
“Besok di kantor tetap biasa,” kata Budi sambil mencium keningnya. “Tapi malam Jumat depan, saya tunggu lagi di sini.”
Sinta mengangguk. Tantangan baru saja dimulai: menjaga rahasia, menghadapi rasa bersalah saat melihat Rafi dan Andi, tapi juga gairah baru yang membuatnya merasa hidup.
Ia pulang dengan tubuh pegal nikmat dan hati yang sudah terbelah sepenuhnya.
---
Hubungan terlarang mereka semakin dalam di minggu-minggu berikutnya. Di kantor, Budi tetap tegas sebagai direktur, tapi tatapannya ke Sinta selalu ada api tersembunyi. Sinta semakin mahir berpura-pura, tapi di balik meja kerjanya, ia sering basah hanya karena mengingat malam-malam di apartemen.
Tantangan semakin nyata ketika Andi mulai curiga dan ada audit internal yang mendekat. Tapi Budi selalu punya strategi: pertemuan rahasia, alasan bisnis, dan janji-janji manis di antara sesi bercinta yang semakin liar dan penuh variasi.