Pijat Keliling Panggilan di Ujung Desa

Pijat Keliling Panggilan di Ujung Desa

Hujan deras mengguyur jalan tanah di pinggir desa. Sepeda motor butut milik Andi bergetar hebat saat roda depannya menghantam lubang-lubang genangan air. Tas besar berisi minyak pijat, handuk, dan alat-alat sederhananya tergantung di belakang, hampir jatuh berkali-kali.

“Br3ngs3k, malam begini masih ada yang pesen,” gumam Andi sambil mengusap wajahnya yang basah. Usianya 32 tahun, tubuhnya tegap karena bertahun-tahun mengangkat tangan dan menekan otot orang. Tapi hidupnya? Selalu di ujung tanduk. Tagihan kontrakan, hutang bengkel, dan ibunya yang sakit di kampung. Pijat keliling adalah satu-satunya cara bertahan.

HP-nya bergetar lagi. Nomor yang sama.

“Iya, Bu. Saya sudah dekat. Rumah Bu Rina yang di belakang balai desa, kan?” tanya Andi lewat earphone.

Suara wanita di seberang terdengar lelah tapi tegas. 

“Iya, Mas. Cepat ya. Punggung saya sudah tidak tahan. Suami saya baru meninggal tiga bulan lalu, dan saya harus urus sawah sendirian.”

Andi mengangguk meski tak terlihat. 

“Siap, Bu. Lima menit lagi.”

Rumah itu besar tapi terlihat sepi. Cat dindingnya mengelupas, halaman penuh genangan. Andi mengetuk pintu kayu yang berderit.

Pintu terbuka. Seorang wanita berusia sekitar 38 tahun berdiri di ambang. Rambutnya terurai basah karena baru mandi, daster tipis membalut tubuhnya yang masih kencang. Matanya sayu, ada lingkar hitam di bawahnya, tapi bibirnya tetap merah alami.

“Mas Andi?” tanyanya pelan.

“Iya, Bu Rina. Maaf hujan deras tadi.”

“Masuklah. Jangan basah-basahan.” Rina menutup pintu. Bau minyak kayu putih dan lilin aromaterapi langsung tercium. Ruang tamu sederhana, hanya ada sofa usang dan lampu temaram.

Andi meletakkan tasnya. 

“Biasanya di mana Bu pijatnya? Kamar atau di sini?”

Rina ragu sejenak. 

“Di kamar saja, Mas. Biar lebih nyaman. Punggung dan pinggang saya sakit sekali. Sudah tiga hari tidak bisa tidur.”

Mereka berjalan ke kamar tidur yang cukup luas. Tempat tidur besar dengan seprai putih, foto suami Rina masih terpajang di meja samping. Andi merasa ada yang berat di dada wanita itu.

“Bu Rina berbaring telungkup ya. Lepaskan daster atasnya kalau tidak nyaman, pakai handuk saja.”

Rina mengangguk. Dia membalikkan badan, melepas daster, dan hanya menyisakan bra hitam tipis serta handuk yang menutupi pinggulnya. Punggungnya mulus, tapi otot-ototnya tegang sekali.

Andi menuang minyak ke telapak tangannya, menggosoknya hangat. 

“Ini agak dingin dulu, Bu. Tarik napas dalam-dalam.”

Jari-jarinya mulai menekan punggung Rina. Wanita itu mengerang pelan.

“Aduh… pelan-pelan dulu, Mas. Sakit.”

“Maaf. Ini titik yang tegang. Bu Rina banyak angkat-angkat beras ya akhir-akhir ini?”

Rina tertawa kecil, suaranya serak. 

“Iya. Sawah harus dikelola. Anak saya baru kelas 3 SD, tidak bisa bantu banyak. Suami saya dulu yang urus semuanya… sekarang tinggal saya sendiri.”

Andi terus memijat, tangannya turun ke pinggang. 

“Bu Rina kuat sekali. Banyak wanita yang langsung menyerah.”

“Kuatkah? Kadang saya menangis sendiri di kamar ini, Mas. Malam-malam seperti ini, hujan deras, rumah sepi… rasanya ingin ada yang memeluk.”

Dialog itu menggantung di udara. Andi diam, fokus pada otot yang mengeras di bawah telapak tangannya. Tapi ia bisa merasakan getaran kecil di tubuh Rina.

Setelah lima belas menit, Rina berbalik telentang. Handuknya sedikit melorot, memperlihatkan pinggul yang lebar dan perut rata yang masih terawat.

“Mas Andi… pijat bagian depan juga boleh?” tanyanya pelan, mata mereka bertemu.

Andi menelan ludah. 

“Boleh, Bu. Tapi kalau ada yang tidak nyaman, bilang ya.”

Ia memijat bahu, lalu lengan, turun ke perut. Rina mulai bernapas lebih cepat. 

“Mas… tangan kamu hangat sekali. Berbeda dengan tukang pijat kemarin. Yang itu kasar, malah bikin tambah sakit.”

Andi tersenyum tipis. 

“Saya belajar dari pengalaman, Bu. Kadang pijat bukan hanya soal tekanan, tapi juga… perhatian.”

Rina menatapnya lama. 

“Kamu sudah menikah, Mas?”

“Belum. Sibuk keliling, Bu. Siapa yang mau sama tukang pijat miskin?”

“Jangan bilang gitu,” kata Rina lembut. Tangannya tiba-tiba menyentuh lengan Andi. 

“Kamu kelihatan bertanggung jawab. Saya lihat dari cara kamu memijat. Hati-hati… penuh perhatian.”

Suasana menjadi lebih panas. Hujan di luar semakin deras, petir sesekali menyambar. Andi merasakan denyut nadinya sendiri ikut cepat.

“Bu Rina, bagian paha boleh? Banyak ketegangan di sini.”

“Iya… pijat saja.”

Tangan Andi naik ke paha Rina. Kulitnya halus, hangat. Rina menggigit bibir bawahnya saat jari Andi mendekati bagian dalam paha.

“Mas Andi…” suaranya bergetar. 

“Sudah lama sekali saya tidak disentuh seperti ini.”

Andi berhenti sejenak. “Bu… ini pijat biasa, tapi kalau Bu Rina merasa tidak enak”

“Tidak,” potong Rina cepat. Matanya berkaca-kaca. 

“Saya lelah, Mas. Lelah jadi janda muda yang harus kuat di depan orang. Di belakang, saya hanya wanita biasa yang butuh… pelukan. Kehangatan.”

Drama mulai terbuka. Rina bercerita sambil Andi memijat.

“Suami saya meninggal karena kecelakaan motor. Katanya ada yang sengaja nabrak. Hutang di bank masih banyak. Ada tetangga yang mau bantu, tapi syaratnya… harus tidur dengan dia. Saya tolak. Sekarang mereka gosipkan saya macam-macam.”

Andi merasa marah. 

“Orang-orang begitu tidak punya hati, Bu. Bu Rina pantas dapat yang lebih baik.”

“Lebih baik seperti kamu?” tanya Rina tiba-tiba, suaranya rendah.

Andi terdiam. Tangan mereka saling bersentuhan. Rina menarik tangan Andi ke atas, mendekatkan ke dadanya.

“Sentuh saya, Mas. Bukan sebagai tukang pijat… tapi sebagai laki-laki.”

Andi merasakan tantangan besar dalam dirinya. Ia tukang pijat keliling yang biasa melihat tubuh perempuan, tapi jarang sekali ada yang seperti ini penuh emosi, penuh luka, dan sangat menggoda.

“Bu Rina… saya takut ini salah,” bisik Andi, tapi tangannya sudah bergerak pelan menyentuh pinggiran bra Rina.

Rina menggeleng. 

“Malam ini saya yang minta. Saya yang butuh. Kamu boleh pergi kalau tidak mau, tapi… saya harap kamu tidak pergi.”

Dialog mereka penuh kerapuhan.

“Apa yang Bu Rina rasakan sekarang?” tanya Andi sambil perlahan melepas kaitan br4.

“Takut… tapi juga basah,” jawab Rina jujur, wajahnya memerah. “Sudah lama sekali.”

Br4 terlepas. Dua gundukan sintal Rina muncul, puncaknya sudah mengeras karena dingin dan gairah. Andi menunduk, bibirnya menyentuh salah satu puncak itu. Rina mend3sah keras.

“Aaahh… Mas… lembut sekali.”


https://dramaranjang.blogspot.com/2026/06/pijat-keliling-panggilan-di-ujung-desa.html

Andi menghisap pelan, tangannya meremas yang satu lagi. Rina menggeliat, tangannya meraih kepala Andi, menekannya lebih dalam.


“Ya… seperti itu… jangan berhenti.”


Tangan Andi turun lagi, melewati perut, sampai ke handuk yang sudah longgar. Ia membuka handuk itu. Labia mayora Rina sudah basah mengkilap, siap menyambut.


“Masuklah, Mas,” pinta Rina dengan suara parau. “Saya ingin merasakan kamu sepenuhnya.”


Andi melepas celananya. Rudal beruratnya sudah tegak sempurna, berdenyut karena gairah yang tertahan sejak tadi. Rina memandangnya dengan mata lapar.


“Besaaar sekali… pelan-pelan ya.”


Andi naik ke atas tempat tidur. Ia mencium bibir Rina dalam-dalam, lidah mereka saling menari. Tangannya membelai gundukan sintal yang montok itu sambil ujung rudal beruratnya menggesek bibir labia mayora yang licin.


“Masuk, Mas… saya sudah tidak tahan.”


Dengan satu dorongan pelan, rudal berurat Andi menembus masuk ke dalam labia mayora Rina yang hangat dan sempit. Rina menjerit kecil, kuku-kukunya mencengkeram punggung Andi.


“Aaahhh! Penuh sekali… gerak, Mas… gerak!”


Andi mulai bergerak ritmis. Hujan di luar semakin deras, mengiringi desahan mereka.


“Bu Rina… enak sekali… kamu sangat basah dan hangat.”


“Ya… terus… lebih dalam! Saya milik kamu malam ini!”


Tubuh mereka saling bertautan. Andi mempercepat gerakan, tangannya meremas gundukan sintal Rina dengan penuh nafsu. Rina melengkungkan punggungnya, labia mayoranya mencengkeram rudal berurat Andi setiap kali dorongan.


“Mas… saya mau keluar… bareng ya…”


Mereka mencapai puncak bersama. Andi menyemburkan cairannya yang panas jauh ke dalam tubuh Rina sementara Rina bergetar hebat, jeritannya tertahan di leher Andi.


Mereka tergeletak lelah, pelukan hangat di tengah hujan yang tak kunjung reda.


Rina mencium pipi Andi pelan. “Terima kasih, Mas. Malam ini… kamu bukan hanya tukang pijat keliling buat saya.”


Andi tersenyum, meski tahu besok tantangan baru akan datang—gosip desa, hutang, dan perasaan yang mulai tumbuh.


Tapi untuk malam ini, mereka punya satu sama lain.


---

posted under |
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda