Kehangatan Cinta Ibu Tiri - Kabut yang Semakin Tebal

 **Kehangatan Cinta Ibu Tiri**  

Part 3: Kabut yang Semakin Tebal

Setelah pulang dari liburan gunung, rumah besar di pinggir kota itu terasa semakin sempit bagi Reza dan Sinta. Api yang dinyalakan di villa kini membakar lebih ganas. Setiap malam, ketika Pak Budi tertidur atau sedang dinas luar kota, Reza dan Sinta semakin sering menyerah pada hasrat yang tak terbendung.

Pagi itu, Sinta berdiri di depan cermin kamar mandi utama. Wajahnya sedikit pucat. Ia merasa mual sejak bangun tidur. Tangan halusnya menyentuh perut rata yang masih tersembunyi di balik daster sutra tipis.

“Kenapa ya…” gumamnya pelan sambil mengusap perutnya.

Reza muncul dari belakang, memeluk pinggang Sinta erat. Dagunya bertumpu di bahu istrinya. 

“Bu… pagi. Kamu kenapa? Kelihatan pucat.”

Sinta menoleh, tersenyum lemah. 

“Nggak apa-apa, sayang. Mungkin kecapekan habis liburan.”

Reza mencium leher Sinta dari belakang, tangannya naik meremas pelan. 

“Tapi aku khawatir. Udah tiga hari ini Ibu sering mual pagi-pagi.”

Sinta menggigit bibir. Ia membalik tubuhnya dan memeluk leher Reza. “Reza… kamu ingat nggak, waktu di villa kita… kamu keluar di dalam berkali-kali?”

Reza tersenyum nakal, tangannya turun meremas bokong Sinta. 

“Ingat banget, Bu. Ibu yang minta ‘isi Ibu semuanya’ setiap malam.”

Sinta memukul dada Reza pelan, tapi matanya penuh kerinduan. 

“Kamu ini… Ibu serius. Ibu sama Papa sudah delapan tahun menikah, tapi nggak pernah hamil. Sekarang… setelah kita lakuin berkali-kali… Ibu mulai mual. Apa mungkin…”

Reza terdiam sejenak. Matanya melebar. “Bu… maksud Ibu… Ibu hamil anak aku?”

Sinta mengangguk pelan, suaranya bergetar. “Ibu belum tes, tapi… rasanya beda. Perut Ibu kayak ada yang bergejolak. Dan Ibu juga lebih sensitif.”

Reza langsung menunduk, mencium bibir Sinta dalam-dalam. Lidah mereka saling menari penuh g4irah. 

“Kalau benar… aku bahagia, Bu. Anak kita.”

“Tapi ini bahaya, Reza,” bisik Sinta di sela ciuman. 

“Kalau ketahuan Papa… rumah ini bisa hancur.”

“Kalau gitu kita harus lebih hati-hati,” jawab Reza sambil mengangkat Sinta ke atas meja wastafel. Daster Sinta tersingkap, memperlihatkan celana dalam hitam yang sudah basah. 

“Tapi sekarang… aku mau Ibu lagi.”

“Reza… Mbok Ijah lagi di bawah loh, nanti malam aja kau bapak kamu sudah tidur,” protes Sinta lemah, tapi kakinya justru terbuka lebih lebar.

---

Siang harinya, ketegangan semakin terasa.

Di ruang makan, Pak Budi sedang makan siang bersama mereka. Mbok Ijah, pembantu setia yang sudah bekerja 12 tahun, sibuk menyajikan makanan.

“Kok kamu pucat, Sin?” tanya Pak Budi khawatir sambil memegang tangan istrinya.

Sinta tersenyum gugup. 

“Biasa, Mas. Mungkin masuk angin dari gunung kemarin.”

Reza duduk di seberang, kakinya di bawah meja sengaja menggesek paha Sinta. Sinta melirik tajam, tapi tak bisa menahan senyum kecil.

Setelah Pak Budi berangkat ke kantor, Reza langsung menarik Sinta ke kamar tamu di lantai bawah.

“Reza… siang-siang gini…” protes Sinta, tapi ia sudah menyerah saat Reza mencium lehernya.

“Aku nggak tahan, Bu. Melihat Ibu di depan Papa tadi… aku cemburu. Ibu milik aku sekarang,” kata Reza sambil membuka kancing baju Sinta satu per satu.

Sinta mend3sah. “Kamu posesif sekali sekarang. Tapi Ibu suka… Ibu suka kalau kamu ngingin Ibu terus, tapi nanti malam yaa. .”

---

Dua hari kemudian, tanda kehamilan semakin jelas.

Sinta muntah-muntah di kamar mandi pagi-pagi. Reza memegangi rambutnya, mengusap punggungnya dengan sayang.

“Bu… kita beli test pack ya hari ini,” bisik Reza.

Malam harinya, setelah Pak Budi tidur, hasil test pack menunjukkan dua garis tebal.

Sinta duduk di tepi ranjang dengan air mata mengalir. 

“Reza… positif. Ibu hamil anak kamu.”

Reza memeluknya erat dari belakang. 

“Aku bakal tanggung jawab, Bu. Apapun yang terjadi.”

Sinta memutar tubuhnya. 

“Tapi kita harus tetap lakukan ini… Ibu sekarang semakin horny. Hamil kok malah pengen terus sama kamu.”

Reza tersenyum mesum. 

“Berarti anak kita bikin Ibu semakin panas.”

Suatu sore, saat Pak Budi sedang dinas ke Surabaya selama tiga hari, Reza dan Sinta bercinta di kamar utama kamar Pak Budi dan Sinta.

Mereka sengaja melakukannya di ranjang pernikahan. Sinta menunggang Reza dengan liar.

“Reza… ahh… milik kamu bikin Ibu gila… lebih dalam sayang!” teriak Sinta sambil menggoyang pinggulnya cepat.

Reza memegang pinggang Sinta, membantu gerakannya. 

“Ibu… pelacur aku yang cantik… hamil anak aku tapi masih ngingin milik aku terus!”

“Iya… Ibu pelacur Reza… hanya untuk kamu… ahhhhh cum lagi!”

Tepat saat mereka mencapai klim4ks bersama, pintu kamar terbuka pelan.

Mbok Ijah berdiri di ambang pintu dengan nampan teh di tangan. Matanya melebar melihat Sinta tel4njang bulat menunggang Reza, sementara sp3rm4 mengalir dari rahim Sinta yang masih terhubung dengan  Reza.

“Ya tuhan… Bu Sinta… Mas Reza…” bisik Mbok Ijah shock, nampan jatuh ke lantai.

Sinta langsung panik, berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut. Reza membeku.

Mbok Ijah mundur selangkah, wajahnya pucat. 

“Ini… ini sudah berapa lama? Bu Sinta… hamil ya? Kok perutnya…”

Ruangan hening sejenak, hanya terdengar napas tersengal Reza dan Sinta.

Sinta menangis. 

“Mbok… tolong… jangan bilang siapa-siapa. Ini… ini rumit.”

Mbok Ijah menutup pintu pelan, lalu berkata dengan suara gemetar tapi tegas:

“Mbok sudah lama curiga. Tapi ini… dosa besar. Kalian berdua… apa yang kalian lakukan ini bisa hancurkan semuanya.”

Reza turun dari ranjang, masih tel4njang. “Mbok Ijah… aku minta tolong. Aku cinta Ibu Sinta. Dan sekarang… Ibu hamil anak aku.”

Mbok Ijah terduduk di kursi dekat pintu, menggelengkan kepala. “Ya Tuhan… apa yang harus Mbok lakukan sekarang?”

**Bagaimana kelanjutan rahasia yang kini terbongkar ini?**

Full Selanjutnya.....

https://dramaranjang.blogspot.com/2026/06/kehangatan-cinta-ibu-tiri-kabut-yang.html

posted under |
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda