Kehangatan Cinta Ibu Tiri - Rahasia di Balik Kabut Gunung
**Kehangatan Cinta Ibu Tiri**
**Part 2: Rahasia di Balik Kabut Gunung**
Malam itu setelah kejadian di rumah saat hujan deras, suasana di antara Reza dan Sinta berubah total. Mereka tidak lagi bisa bertatapan biasa.
Setiap kali ayah Reza, Pak Budi, berada di rumah, mereka berpura-pura seperti biasa ibu tiri dan anak tiri yang sopan. Tapi di balik pintu kamar, di dapur saat malam larut, atau ketika Pak Budi lembur, tatapan mereka saling mengunci penuh h4srat yang tertahan.
Dua minggu kemudian, Pak Budi mengusulkan liburan keluarga kecil ke gunung.
“Kita butuh refreshing. Kerjaanku makin padat, kalian berdua juga kelihatan stres,” katanya sambil tersenyum lelah. Sinta hanya mengangguk pelan, tapi Reza tahu arti tatapan sekilas yang Sinta berikan padanya. Ada api yang sama.
Mereka berangkat dengan mobil pribadi ke kawasan Puncak, menginap di sebuah villa mewah yang menghadap lembah dan gunung. Villa itu memiliki dua kamar tidur utama dan satu ruang tamu yang luas dengan perapian. Pak Budi memilih kamar utama, sementara Reza dan Sinta masing-masing mendapat kamar sendiri yang bersebelahan.
Hari pertama mereka trekking ringan ke air terjun kecil di dekat villa. Udara dingin gunung menusuk kulit, kabut tipis menyelimuti pepohonan pinus.
“Reza, jangan jauh-jauh ya,” kata Sinta sambil memegang lengan Reza pelan saat mereka berjalan di belakang Pak Budi. Jarinya menyelinap sebentar ke telapak tangan Reza, mer3masnya singkat sebelum dilepas lagi.
“Iya, Bu,” jawab Reza dengan suara rendah. “Tapi kalau Bu Sinta capek, bilang aja. Biar aku gendong.”
Sinta tertawa kecil, pipinya merona.
“Kamu ini… berani sekali sekarang.”
Pak Budi yang berjalan di depan menoleh. “Ada apa kalian berdua ketawa terus? Seru ya liburan bareng?”
“Seru banget, Pa,” jawab Reza cepat.
“Ibu Sinta lucu kalau lagi kedinginan gini.”
Sinta memukul pelan lengan Reza, tapi matanya penuh godaan.
Malam harinya, setelah makan malam di villa, Pak Budi kelelahan.
“Aku mau tidur duluan. Besok pagi kita naik ke puncak ya. Kalian berdua jangan begadang.”
Begitu pintu kamar Pak Budi tertutup, suasana langsung berubah tegang. Sinta dan Reza duduk di depan perapian, api kecil menyala hangat. Hanya ada suara kayu berderak dan angin gunung yang bertiup pelan di luar.
“Reza…” panggil Sinta pelan, suaranya hampir bergetar. Ia memakai sweater longgar berwarna krem dan celana training tipis. Rambutnya tergerai.
“Ya, Bu?” Reza mendekat, duduk tepat di sebelahnya. Paha mereka bersentuhan.
“Kita… nggak boleh lagi. Papa kamu ada di sini,” bisik Sinta, tapi tangannya justru meraih tangan Reza dan meletakkannya di atas pahanya sendiri.
Reza menelan ludah.
“Tapi Bu… aku nggak bisa berhenti mikirin Ibu. Setiap malam, aku ingat waktu itu… waktu hujan deras di rumah. Tubuh Ibu yang panas, suara Ibu yang…”
“Shh!” Sinta menutup mulut Reza dengan telapak tangannya. Matanya berkaca-kaca campuran takut dan bergairah.
“Kamu jahat. Bikin Ibu susah tidur terus.”
Mereka saling pandang lama. Api perapian memantulkan bayangan di wajah mereka.
“Aku cinta sama Ibu,” kata Reza tiba-tiba, suaranya serak.
“Bukan sebagai anak tiri. Aku cinta Ibu sebagai perempuan. Sejak lama.”
Sinta terdiam. Air matanya jatuh satu tetes. “Reza… Ibu juga. Tapi ini salah. Ibu sudah menikah sama papamu. Ibu yang ngurus kamu sejak kecil. Ini dosa besar.”
“Kalau dosa, kenapa rasanya sesweet ini, Bu?” Reza mendekatkan wajahnya. Hidung mereka hampir bersentuhan.
“Waktu Ibu peluk aku waktu hujan itu… Ibu nggak pura-pura. Ibu basah banget waktu itu.”
Sinta menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Napasnya memburu.
“Kamu… keterlaluan. Ngomongnya kasar sekali sekarang.”
“Karena Ibu yang ngajarin aku jadi kasar,” balas Reza sambil tersenyum nakal. Tangannya naik pelan di paha Sinta, meremas lembut.
“Atau Ibu mau aku berhenti?”
Sinta tidak menjawab dengan kata-kata. Ia malah mencium Reza dengan ganas. Lidah mereka saling menari, bunyi kecupan basah terdengar di ruangan yang sunyi. Tangan Sinta meremas rambut Reza, menariknya lebih dekat.
Mereka berciuman cukup lama sampai napas keduanya tersengal. Sinta menarik diri lebih dulu, dahinya bersandar di dahi Reza.
“Besok pagi kita naik gunung bareng Papa. Janji ya… kita jaga diri. Jangan sampai ketahuan,” pinta Sinta.
Reza mengangguk, tapi tangannya masih meremas paha Sinta.
“Janji, Bu. Tapi malam ini… boleh aku tidur peluk Ibu sebentar? Cuma peluk.”
Sinta ragu, tapi akhirnya mengangguk. Mereka pindah ke kamar Reza karena lebih jauh dari kamar utama. Di bawah selimut tebal, Sinta berbaring memunggungi Reza. Reza memeluknya dari belakang, tangannya memeluk perut Sinta yang rata, hidungnya menenggelam di leher Sinta yang wangi.
“Ibu wanginya enak banget,” bisik Reza sambil mengecup tengkuk Sinta.
“Reza… jangan godain Ibu lagi,” des4h Sinta, tapi ia justru mendorong bok0ngnya ke belakang, merasakan kej4ntanan Reza yang sudah mengeras.
Malam itu mereka hanya berpelukan erat, saling mencium leher dan bahu, tapi menahan diri karena takut Pak Budi terbangun. Hasrat mereka semakin membara.
**Keesokan paginya.**
Mereka naik ke puncak gunung dengan jeep sewaan. Udara semakin dingin, kabut semakin tebal. Pak Budi sibuk foto-foto pemandangan.
“Reza, bantu Ibu naik sini,” panggil Sinta saat melewati jalur batu yang agak curam.
Reza memegang pinggang Sinta dari belakang,
“hati-hati Bu,” katanya sambil tangannya sengaja merayap sedikit ke atas, hampir menyentuh bawah p4yud4ra Sinta.
Sinta menoleh dengan tatapan memperingatkan, tapi bibirnya tersenyum kecil.
Di puncak, angin kencang. Pak Budi duduk agak jauh untuk menikmati pemandangan sambil menelepon rekan kerja.
Sinta dan Reza berdiri di sisi tebing yang agak terpencil, kabut tebal menutupi mereka dari pandangan.
“Reza… aku takut,” kata Sinta tiba-tiba. “Takut jatuh cinta sama kamu terlalu dalam. Takut nanti nggak bisa berhenti.”
Reza memeluk Sinta dari belakang, dagunya bertumpu di bahu Sinta.
“Kalau jatuh, kita jatuh bareng, Bu. Aku nggak akan ninggalin Ibu. Papa… aku sayang Papa, tapi perasaan aku ke Ibu beda.”
Sinta memutar tubuhnya, memeluk Reza erat.
“Kamu tahu nggak, sejak pertama kali Ibu masuk rumah kalian, Ibu sudah suka sama kamu. Kamu anak yang baik, tampan, dan… semakin besar semakin menggoda.”
Mereka berciuman lagi di balik kabut tebal. Ciuman yang dalam, penuh emosi. Tangan Reza meremas b0kong Sinta dari luar celana jeans-nya.
“Malam ini… aku mau Ibu,” bisik Reza di telinga Sinta.
Sinta mengangguk pelan, napasnya bergetar. “Iya… tapi harus hati-hati.”
**Malam kedua di villa.**
Pak Budi lagi-lagi tidur lebih dulu karena kecapekan mendaki. Kali ini ia minum obat tidur karena pegal-pegal.
Reza dan Sinta sudah tidak tahan lagi.
Di kamar Reza, pintu dikunci. Lampu hanya dibiarkan temaram dari lampu tidur kecil.
Sinta berdiri di depan Reza. Dengan perlahan ia membuka sweater-nya, memperlihatkan br4 hitam berenda yang membungkus p4yud4ranya yang masih kencang meski usia 38 tahun.
“Reza… lihat Ibu,” kata Sinta dengan suara lembut tapi penuh gairah.
Reza mendekat, tangannya gemetar menyentuh pinggang Sinta yang ramping. “Bu… cantik banget. Aku nggak nyangka bisa lihat Ibu kayak gini lagi.”
Sinta membuka kaitan br4-nya sendiri. P4yudar4nya yang besar dan kenyal melompat keluar. Put1ngnya sudah mengeras karena dingin dan h4srat.
Reza langsung menunduk, menyu5u pada p4yud4ra kanan Sinta dengan rakus. Lidahnya berputar di put1ng, mengisap kuat.
“Acchh… Reza… pelan sayang… ahh…” des4h Sinta sambil memegang kepala Reza, menekannya lebih dalam.
Selanjutnya....
https://dramaranjang.blogspot.com/2026/06/kehangatan-cinta-ibu-tiri-rahasia-di.html
Tangan Reza turun, membuka resleting celana Sinta. Ia menurunkan celana training dan celana dalam sekaligus. Sinta sudah sangat basah. Cairannya menetes sedikit di paha dalamnya.
“Ibu… basah banget,” kata Reza sambil menyentuh klitoris Sinta dengan jari tengahnya, menggosok pelan.
“Karena kamu… dari tadi Ibu sudah kepengen,” jawab Sinta sambil mendesah. “Masukin jari kamu… dua…”
Reza memasukkan dua jarinya ke dalam vagina Sinta yang panas dan licin. Ia menggerakkan jarinya maju mundur sambil terus mengisap payudara Sinta bergantian.
“Ohh… Reza… enak… lebih cepat sayang…” Sinta menggoyang pinggulnya mengikuti irama jari Reza.
Tak lama, Sinta menarik Reza naik dan mendorongnya duduk di tepi ranjang. Ia berlutut di antara kaki Reza, membuka celana Reza dengan cepat. Kontol Reza sudah sangat keras, urat-uratnya menonjol, kepala merah mengkilap oleh precum.
Sinta memandangnya dengan mata penuh nafsu. “Besarmu… Ibu suka sekali.”
Ia langsung menjilat dari bawah sampai atas, lalu memasukkan seluruhnya ke dalam mulutnya. Kepalanya naik turun dengan ritme yang sempurna, lidahnya berputar di kepala kontol Reza.
“Bu… enak banget… ahh… Ibu jago ngisap,” erang Reza sambil memegang rambut Sinta.
Sinta melirik ke atas sambil terus mengisap, matanya basah karena terangsang. Ia mempercepat gerakan, tangannya memainkan zakar Reza yang basah oleh air liurnya.
Reza menarik Sinta naik ke ranjang. Ia membaringkan Sinta, membuka lebar kakinya. “Ibu… aku mau masuk.”
“Masuk sayang… pelan dulu ya… ahh!”
Reza mendorong kontolnya pelan masuk ke dalam vagina Sinta yang sangat basah. Rasanya sangat sempit dan panas. Ia mendorong sampai pangkal, lalu berhenti sebentar menikmati sensasinya.
“Reza… penuh… kontol kamu penuhin Ibu…” desah Sinta sambil memeluk leher Reza.
Reza mulai bergerak. Awalnya pelan, lalu semakin cepat. Suara benturan tubuh mereka dan cairan yang basah terdengar jelas di kamar.
“Plak… plak… plak…”
“Ibu… enak… aku cinta Ibu… ahh!” Reza memompa semakin kuat.
Sinta menggigit bahu Reza untuk menahan jeritannya. “Reza… lebih dalam… fuck Ibu lebih keras… Ibu mau cum…”
Reza menaikkan salah satu kaki Sinta ke bahunya, memasukkan lebih dalam. Ia menggoyang pinggulnya dengan cepat dan kuat.
Tak lama Sinta kejang-kejang. “Aku cum… Reza… ahhhhh!” Tubuhnya mengejang hebat, cairannya menyembur membasahi kontol Reza.
Reza terus memompa sampai ia juga mencapai puncak. “Bu… aku keluar… di dalam boleh?”
“Iya… isi Ibu… semuanya…” desah Sinta lemah.
Reza mendorong dalam-dalam dan meledak. Sperma panasnya menyembur deras ke dalam rahim Sinta. Mereka berdua mengejang bersama, saling peluk erat.
Napas mereka tersengal-sengal. Reza masih berada di dalam Sinta, kontolnya berdenyut pelan.
Sinta mencium kening Reza dengan lembut. “Ini rahasia kita ya, sayang. Apapun yang terjadi… Ibu cinta kamu.”
Reza tersenyum, mencium bibir Sinta dalam. “Selamanya, Bu.”
Di luar, angin gunung bertiup kencang, menutupi segala desahan dan rahasia yang baru saja mereka bagi di balik kabut tebal.